Biasanya saya menjadikan menulis adalah sebuah terapi untuk healing. Tapi tahun lalu saya mencoba salah satu medote healing yang lain, yaitu Metode Depth.
DEPTH (Deep Psych Tapping Technique) dirumuskan oleh Dra. yli Suliswidiawati, M. Psi.,. Metode ini telah digunakan untuk menangani kasus trauma masa lalu, fobia, kecemasan, sakit fisik berat yang berasal dari psikis, dll.
Allah memberikan Saya kesempatan untuk berkenalan dan merasakan secara langsung Depth ini melalui perantara Teh Fitri salah satu Therapist Depth yang dihadirkan oleh Teh Pepew di Program #NgajiRasa.
Saat tapping berlangsung rata-rata semua orang menangis dengan histeris, tapi saya malah engga bisa teriak, ataupun bergerak dan melanjutkan tapping mandiri karena tiba-tiba aja jari tangan kaku semua. saya engga mampu mengerakan jari dan tangan sendiri. Area dada, perut dan pinggang gemetaran. Hingga perlu dibantu oleh therapisnya untuk di tapping.
" Pasrahin teh, jangan pake logika, La hawla wala quwwata"
Seketika tangis saya tumpah. Ternyata benar apa-apa yang sulit dijangkau logika memang hanya bisa dipasrahkan menggunakan iman. Yang terbayang pertama kali justru bukan muka mamah papah, padahal yang mengikuti program Ngaji Rasa ini rata-rata yang memiliki luka pengasuhan.
Yang terbayang justru saat saya keluar dari ruangan rscm, dan beberapa episode kejadian dalam hidup. Kemudian saya diminta untuk memaaf kan kejadian apapun yang membuat saya sakit hati. Ketika therapist minta yang lain mengeluarkan semua kekesalan di hati terhadap org yg kita rasa sudah menyakiti lewat cacian dll, saya justru berdoa minta Allah membaikkan hubungan kami. Minta Allah mudahkan kami menjalani beberapa bagian dalam perjalanan hidup ini.
Setelah terapi selesai, 15 menit tangan dingin dan masih terasa kaku semua, jari masih engga bisa di buka. Masih dibantu therapist agar di buat rileks, Saya sempat bertanya pada therapistnya apa ini gejala stroke, tapi jawabannya masih sama, krn saya terlalu lama memendam, blm bisa memasrahkan.
Karena kunci keberhasilan dari terapi nya justru adalah kepasrahan kepada Allah. Semakin pasrah, akan semakin berdampak.
Dampaknya bukan ketika kita melupakan kejadiannya. tapi saat kita mengingat kejadiannya, sudah tak ada lagi luka yang terasa. Karena emosi negatif yang melekat pd kejadian tersebut sudah bisa dialirkan, kita sdh bisa menerima hal menyakitkan tersebut sebagai bagian dari perjalanan hidup dan bagian diri kita.
Katanya itulah keikhlasan sejati, keikhlasan yg berlandaskan emosi positif. Bukan keikhlasan palsu yang berlandaskan emosi negatif yang belum dialirkan dari bejana jiwa.
"Pakai iman, biar aman", katamu berusaha meyakini diri sendiri selama ini.
Terima kasih sudah berusaha memahami ketika tak semua hal mampu dijangkau oleh akal manusia, disitulah fungsi iman menjangkau apa yang tidak dijangkau oleh logika.
Maaf pernah salah memilih langkah, salah mengambil keputusan, hingga salah merespon keadaan.
Untuk beberapa hal yang masih belajar agar dita ikhlaskan, hal-hal yang menyemai sedih berkepanjangan. Barangkali memang harus dibiarkan. Menunggu waktu yang membuatnya menguap menyembuhkan.
Gapapa, kita belajar terus sama-sama. Karena menjadi ikhlas adalah proses yang tak kenal henti. Karena keikhlasan tak selalu tumbuh dari rasa ringan dalam melaksanakan perintah.
"Berangkatlah baik dalam keadaan ringan ataupun berat dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui" (QS attaubah: 41)
Mari tetap percaya pada kejutan semesta yang tak mungkin tanpa sengaja. Semua yang terjadi adalah rencana yang Maha Esa. Yakin sesuatu yang tak kalah mengagumkan akan muncul setelahnya.