Selalu percaya kalau pertemuan seseorang itu memang ada makna dan rejekinya sendiri. Termasuk malam ini, saya dipertemukan dengan seseorang, ditengah situasi kereta yang akan kami tumpangi mengalami mogok karena banjir di Kebayoran.
Awalnya seperti biasa, saya kalau sendiri ditengah keramaian selalu lebih memilih denger lagu atau baca minimal main HP, saya cenderung malas berinteraksi. Lebih milih melamun daripada so akrab bukan pada tempatnya (belakangan kesadaran kalo saya introvet makin menjadi) Tapi kali ini habis pipis dan shalat (magrib dan isya) saya duduk di kursi bersama dua ibu-ibu, tadinya saya udah males banget ngobrol jadi saya ambil hedset, “mbak mau kemana?” Saya simpan buku dan headset dan terlibat obrolan dengan dua ibu yang ternyata adik kaka. Yang satu berkacamata berambut pendek, yang satu berkerudung panjang.
Bercerita kuliah (dikira saya masih kuliah) serius ini mah aslina dikira masih kuliah, lalu ngobrol kerjaan, berakhir di memutuskan akan naik kendaraan online kalau kereta gak jalan-jalan. Tapi alhamdulilah akhirnya kereta jalan, di stasiun sudimara ibu yang pakai kacamata turun. Tinggalan kami berdua, obrolan pun bergulir macem-macem, ngobrolin betapa takutnya kami naik kereta malam kalau isi keretanya penuh sesak seperti ini.
Sampai pada obrolan, entah gimana awalnya tiba-tiba ngobrol tentang pasangan. Dan ternyata beliau (saya lupa namanya) belum berkeluarga, sama seperti saya. Akhirnya kami berkelekar tentang impian pasangan hidup, keresahan-keresahan tentang Jodoh dari Allah.
Jujur, beberapa minggu ini saya memang sedang labil dengan situasi “Jomblo” bosa jadi karena bulan ulang tahun saya, atau karena baru dapat kabar penolakan dari si Ibu (Ibunya dia). Cerita sedikit... si pangeran saya yang katanya sudah menyayangi saya, yang katanya sudah tidak memganggap saya sahabat lagi, tapi pengen jadiin saya teman hidup. Tapi lagi-lagi harus terganjal karena setelah hasil risetnya ternyata menyatakan kalau Ibunya tidak merestui, saya sih percaya-percaya aja dan lagi pula kalau itu benar saya yakin dia akan berjuang untuk saya. Tapi sejauh ini sih belum ada titik perjuangan yang dia tunjukan, jadi saya sih ya tinggal ikhlas aja. Itu lah sepenggal ceritanya, so... itu jelas bikin otak gak bisa konsentrasi dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap seluruh ritme kehidupan saya. Itu semua saya ceritakan pada si ibu yang baru ketemu ini, entah lah saya tiba-tiba merasa punya tempat untuk menumpahkan isi otak saya yang sudah penuh. Well... akhirnya dia pun bercerita, ya..... ada kekosongan disana, kami kosong kami merindukan semacam belaian lembut atau sapaan atau obrolan hangat dan pelindung disaat kami gusar.
Yups... ini lah cara Allah memberikan solusi dari masalah, saya merasa kegusaran jodoh ini adalah masalah yang harus saya cari obatnya, malam ini akhirnya ketemu obatnya, saya merasa belum apa-apa, kekecewaan saya, kegusaran saya, kemudian seketika mendapat ketenangan dan merasa Ibu ini aja anteng dan tetap istiqomah menjalani hidup. Subhanalllah saya merasa getir, dalam perjalan kerumah saya menangis tersedu.
Itulah tuhan tidak akan pernah mempertemukan kita dengan apapun, tempat, kejadian, orang, semesta mendukung dan memberikan sebuah makna diakhir.
Mungkin saya gak terlalu peka sama situasi sekeliling, teman-teman saya, orang serumah, orang disamping saya, orang yang tak henti mendoakan saya. Kadang saya tak mengindahkan mereka, misal saat mereka bercerita saya terkadang malah sibuk tanpa mendengarkan, dia sedang ingin chat dengan saya saya malah males-malesan chat, atau saya tega membangunkan orang dipagi hari, atau saya jahat sudah menggunjingkan dia, meminjam sesuatu milik orang lain tanpa bilang, membuat sesuatu tindakan tanpa memikirkan apakan orang disamping terganggu. Maaf ya..... semoga apa yang membuat kamu tidak suka, atau membuat saya tidak suka, tidak lantas membuat kita sakit hati. Karena percayalah perhatian kecil bisa melunturkan kebencian yang teramat besar sekalipun.
Itulah makna Allah mempertemukan kita dengan cara dan waktu yang berbeda. Itu agar kita peka terhadap orang disekitar kita, bisa jadi mereka menjadi obat dari semua penyakit dalam diri.