Bukankah cinta itu nggak pernah salah?
almost home
YOU ARE THE REASON
ojovivo

Discoholic 🪩
RMH

Origami Around

Jimmy Eat World

if i look back, i am lost
Noah Kahan
tumblr dot com
Fai_Ryy
official daine visual archive
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Product Placement
Today's Document
Monterey Bay Aquarium
d e v o n
Fieri Frames
Color Me Curious
🪼
seen from United States
seen from Brazil

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Bangladesh

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Iraq
seen from United Kingdom
seen from Mexico
seen from Israel
seen from United States
seen from Bulgaria
seen from United States
seen from Ukraine
seen from United States
seen from United States
seen from Iraq
seen from United States

seen from United States
@celahwaktu
Bukankah cinta itu nggak pernah salah?
Kamu tau kebiasaan baru favoritku menjelang tidur belakangan ini? Mengingatmu. Aku suka suaramu di telepon, aku suka tawamu, aku suka senyummu di foto yang selalu kamu kirim sekali lihat itu, aku suka candamu, aku suka semua hal yang kamu lakukan denganku. Aku selalu membaca ulang pesan-pesan yang saling kita kirimkan sedari jam delapan pagi hingga lima tiga puluh sore. Aku juga sesekali melihat folder cloud yang khusus kusiapkan untuk menyimpan fotomu. Aku gila dibuatmu, sayang.
Aku ingin kebersamaan ini tidak ada batasnya, tapi aku tau itu tidak mungkin. Aku adalah orang yang sangat terencana, tidak ada dalam kamusku hidup mengikuti arus. Akan tetapi, tidak untuk kali ini. Akan kubiarkan arus membawa kita ke mana pun dia mau sesuka hatinya. Tapi kamu tidak perlu cemas, sayang, aku tidak akan membiarkan kapal kecil kita ini jatuh tenggelam ke bawah sana. Sebisa mungkin akan tetap kukendalikan. Akan ku taklukkan lautan dan samudera denganmu.
Untuk sementara biarkanlah ku nikmati arus yang tenang ini, bersamamu.
Suatu saat nanti kita semua akan melupakan hal-hal yang sudah tidak relevan dengan kondisi kita saat ini, termasuk, kita akan melupakan masa kecil kita. Sekarang gue akui gue hanya bisa mengingat momen-momen tertentu di masa kecil dulu, termasuk ingatan gue tentang mama. Sebelum semua semakin memburuk, gue akan mengikatnya dengan tulisan. Gue akan buat hashtag #mesinwaktu untuk tulisan tentang masa kecil gue, dan semua ingatan tentang mama.
Pernah kepikiran nggak sih kalau suatu saat nanti orang terdekat lo menghadapi suatu kondisi darurat semacam serangan jantung, tapi pada saat itu lo nggak ngerti harus apa, harus gimana. Lo bingung, panik, dan karena ketidaktahuan lo itu, orang tersebut nggak terselamatkan jiwanya. Bayangin akan semenyesal apa lo nanti jika itu terjadi. Lo di sana, tapi lo nggak bisa berbuat banyak karena lo nggak paham.
Gue kepikiran ini udah setahunan sih, dan mulai kepikiran lagi sebulan lalu pas kolega yang pernah satu kantor kena serangan jantung saat olahraga. Gue harus ambil sertifikasi kegawatdaruratan, biar keberadaan gue bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan. Gue juga mau meng-encourage orang terdekat untuk care masalah begini, biar someday kalo gue, amit-amit, kenapa-napa, orang terdekat gue tau what to do.
Menjadi dewasa itu ternyata sekompleks ini ya. Hal macam begini yang dulu lo pikir, seharusnya, ditangani nakes beres, ternyata... enggak anjay. Lo nggak akan tau kapan dan di mana musibah akan terjadi, dan belum tentu juga saat itu terjadi ada nakes di sana. Kita berpacu dengan waktu, belum tentu orang yang terkena musibah di dekat kita punya cukup waktu untuk dibawa ke faskes terdekat. Jadi, orang yang seharusnya menolong ya kita-kita ini. Kita semua harus punya kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk menangani kegawatdaruratan.
Mungkin aku akan terus merindumu, mendoakanmu, memikirkanmu, mencintaimu, meneteskan air mata karenamu, bernyanyi, menulis, melukis tentangmu, membicarakanmu dengan bintang-bintang di langit malam, membayangkanmu, dan bahkan meringkuk depresi di sudut kamarku yang gelap pada malam-malamku merasa putus asa. Namun bagaimanapun, tetap tak akan kubiarkan diriku melakukan sesuatu untuk merebutmu darinya. Karena jika memang kau untukku, alam semesta akan mengatur kebersamaan kita tanpa perlu membuatmu melakukan pengkhianatan kepadanya. Tapi jika kau bukan untukku, oh sayang, tak apa. Toh selama ini siapapun yang aku cintai, aku cintai sendirian.
source: @telusursejati
Ada seseorang yang bukan milikku tapi tinggal di hatiku. Dia bukan takdirku tapi melekat di pikiranku. Selalu menemaniku bahkan saat tidak bersamaku.
Memasuki masa-masa di mana kelebihan makan karbo sedikit langsung berubah jadi lemak dan menumpuk di perut. Kayaknya usaha gue olahraga cardio di zona fat burning udah cukup oke, tapi giliran kebanyakan karbo sedikit dan gak dibakar optimal, langsung deh. Harus banget defisit kalori dan perbanyak protein. Kamu juga ya! Ini bukan buatku aja, tapi buatmu juga. Perkuat ototmu, naikkan imunmu. Bantu dengan perbanyak protein, kurangi karbo. Makan karbo secukupnya aja. Harus mulai care dengan kesehatanmu, before it's too late.
Satu dua minggu terakhir ini gue mulai sering scrolling medsos lagi. Gue terlalu banyak menyerap informasi yang sebenarnya enggak gue perlukan. Efeknya? Salah satunya adalah mundurnya jam tidur. Krusial sih ini. Karena ketika jam tidur gue mundur, otomatis di pagi hari berikutnya gue kesiangan. Yang harusnya gue bangun setengah lima pagi biar bisa menyiapkan segala sesuatunya dengan baik, gue jadi bangun hampir setengah enam dan hanya punya waktu sekitar dua puluh menit buat mandi solat sagala macam sebelum gue berangkat di 5.55.
Gue akui scrolling medsos itu menyenangkan. Sangat menyenangkan bahkan. Gue bisa kabur sejenak dari aktivitas gue yang lumayan padat, yang menyita tenaga dan pikiran. Rasanya sangat hepi sih. Gue kembali ke lingkaran setan di mana gue butuh dopamine buat kabur dari realita yang melelahkan, gue butuh supaya otak gue fresh dan nggak terlalu terbebani dengan beban rutinitas sehari-hari sehingga gue siap menghadapi hari berikutnya. Akan tetapi, hal itu membawa masalah baru kayak brainrot, berkurangnya waktu membaca, dan gue merasa agak bodoh sekarang.
Gue harus keluar dari lingkaran setan ini. Gue pernah survive, dan gue akan survive lagi untuk ke sekian kali. Gue menyadari gue kembali melakukan ini karna memang masanya aja. Gue baru pindah kantor dan, butuh penyesuaian aja. Adapt or die.
Gunung dan ilusi keindahan puncak
Kita seringkali menjadikan puncak sebagai tujuan utama saat hiking ke gunung. Kita selalu membayangkan bahwa di atas sana akan selalu lebih indah dibanding di bawah. Padahal kenyataannya tidaklah selalu demikian. Jika pemandangan yang dituju, bukankah sepanjang perjalanan juga sudah kita nikmati pemandangan yang tidak kalah indahnya dengan puncak tersebut? Bahkan kita dapat menikmatinya lebih lama dibandingkan dengan puncaknya itu sendiri.
Kita hanya berusaha memenuhi ego untuk sampai ke atas sana, dan seringkali abai dengan proses menuju ke sana. Kalian tau, di atas sana nggak ada apa-apa, biasa aja. Akan sangat disayangkan jika kalian nggak menikmati dan mensyukuri pemandangan yang kalian lalui selama menuju ke puncak sana.
Nikmati prosesnya. Apapun itu.
Ya Allah, jagalah dia. Aku mencintainya.
Quote of the day
Day 1, 21 apr 22
First day of intensive writing.
Aku ingin bisa menulis dengan lancar, selancar pipisku sehabis sahur. Kebanyakan orang hebat di luar sana menuangkan isi pikirannya lewat tulisan. Sebagian lainnya menuangkan lewat bicara. Aku tak bisa terlalu banyak bicara, jadi kan kulatih kemampuan menulisku.
Aku ingin bisa menulis secara terstruktur. Tak peduli seberapa buruk tulisanku di awal, aku harus mencoba. Pernah suatu waktu membaca thread di twitter, bahwa menjadi perfeksionis tidak lebih baik dibanding menjadi orang yang belajar sambil berjalan. Ketika terpaksa melakukan kegiatan belajar sambil berjalan, mungkin kita merasa tidak sempurna di sana sini pada mulanya, tetapi tidak mengapa karena setidaknya kita membuat progres yang sewaktu-waktu bisa dievaluasi dan tentu diperbaiki. Jika dibandingkan dengan si perfeksionis, tentu menjadi pembelajar-sambil-berjalan mempunyai keunggulan dari segi pengalaman. Dari pengalaman kita bisa belajar untuk jadi lebih baik. Mungkin perfeksionis juga bisa belajar dari kegagalan orang lain, tetapi perfeksionis tidak mengalaminya secara langsung. Ini poin pentingnya, mengalami secara langsung! Tentu berbeda rasanya ketika kita melihat foto pemandangan dengan melihat pemandangan itu secara langsung, kan? Ada perasaan entah apa namanya, yang tidak bisa dirasakan oleh orang yang hanya melihat fotonya saja. Memang terkadang foto lebih indah dari realita, tapi justru di sana lah hal yang menarik. Ketika mengalami secara langsung kita jadi tau bahwa foto terkadang menipu.
Sama halnya dengan foto, terkadang teori tidak selalu sejalan dengan praktik di lapangan. Tidak semua orang bisa menyikapi dengan baik ketika menghadapi suatu masalah, sekalipun ia sudah mengetahui teori dan segala sesuatu seluk beluk untuk menghadapi masalah tersebut. Pembelajar-sambil-berjalan menurutku lebih unggul dalam hal ini. Ada hal-hal yang lebih terasah karena sudah mengalami banyak hal secara langsung, ada hal-hal yang akan menjadi lebih baik seiring pengalaman yang terus bertambah. Seharusnya pembelajar-sambil-berjalan jauh lebih unggul dibanding si perfeksionis. Entahlah, ini hanya opini tanpa riset dariku. Di luar sana pasti sudah ada penelitiannya.
Sayangnya, selama ini, akulah si perfeksionis itu.
Kamis, 3 Oktober 2019
Hari ini berjalan seperti biasa: gue di rumah seharian, leyeh-leyeh, aktivitas berjalan normal dan gue sehat wal afiat. Sampe tiba sore hari menjelang maghrib badan terasa nggak enak, kepala pusing dan kayak masuk angin gitu, terasa nggak enak deh pokoknya. Selepas shalat maghrib gue dan istri makan malam: mie ayam + pangsit rebus terbaik yang dibawain mertua. Untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu gue ngantuk banget habis makan mie ayam, entah memang karna mie nya enak atau laper sih. Tapi makan malam itu gak bisa hilangin rasa nggak enak badan gue, jadi lah selepas makan gue izin ke istri untuk tidur duluan di sofa sementara dia belajar untuk kuis besok.
Selang waktu setengah jam gue ngerasa gak nyaman tidur di sofa, dan akhirnya pindah lah gue ke kamar. Di situ badan gue terasa dingin, dingin banget, padahal seharian ini gue gak ngapa-ngapain, dan dari pagi tuh ya sehat-sehat aja gak ada gejala sakit. Gue tidur full pake selimut, alhamdulillah bisa tidur lumayan nyenyak. Badan keringetan banget, katanya sih pertanda "nggak enak badannya" mau pergi.
Inti cerita ini adalah kejadian saat gue tidur: mimpi. Di dalam mimipi gue ketemu sama almarhumah nyokap. Di sana gue berada dalam sebuah scene di mana mama belum meninggal. Mama masih sehat karna dalam mimpi itu beliau sempat bercanda-canda di atas motor dengan dedut keponakan gue. Kami kumpul di teras, ada gue, almarhumah nyokap, bokap, mbak icung, dedut, dan... kakaknya nyokap. Ada beberapa orang lagi sih, tapi gue lupa siapa aja. Di sana nyokap ketakutan karena kakaknya nyokap nunjukkin gelagat mencurigakan, datang ke rumah maksa nyokap untuk minum jamu darinya. Di sana gue bilang untuk gak usah takut, gue menyarankan gak usah diminum pas dia ngasih. Posisi kakaknya nyokap ada di dapur, sedang meracik jamu buatannya, sedangkan kami di teras rumah. Gue menegarkan nyokap untuk gak minum itu jamu posisinya pas di teras rumah, gue tegaskan lagi ke nyokap untuk mempermalukan kakaknya dengan menumpahkan jamu yang dibuat di depan mata kakaknya. Kayaknya kami sama-sama tau iktikad gak baik kakaknya nyokap, entah gue tau dari mana. Habis itu gue terbangun dengan keringat mengucur deras di sekujur tubuh. Kaget. Agak deg-degan. Pengin cerita ke istri tapi dia udah tertidur lelap, kelelahan habis baca materi untuk kuis besok.
Sebangunnya gue dari tidur hingga saat gue tulis cerita ini, gue masih inget mimpi itu, tapi seiring berjalan waktu agak tergerus detil ceritanya. Makanya sebelum hilang sama sekali gue tulis lah cerita ini. Yang jadi pertanyaan gue sampai sekarang adalah apakah di mimpi itu beneran nyokap? Apa yang hendak beliau sampaikan?
Yang gue takutin itu bukan nyokap melainkan jin. Takut banget jin itu menghasut gue untuk balas dendam or something ke kakaknya nyokap gue. Apapun itu sebenernya agak seneng sih bisa liat nyokap, rindu berat ya Allah. Banyak penyesalan dalam diri gue karna belum bisa jadi anak berbakti buat beliau. Ini mimpi ketiga gue ketemu nyokap, pertama gue sekolah di luar negeri, kedua jalan-jalan keluarga, dan ini yang ketiga. Semoga mama baik-baik aja di sana. Semoga Allah mengampuni segala dosa yang telah mama perbuat semasa hidup, baik yang disengaja atau tidak. Semoga Allah lapangkan kubur mama, terima segala amal dan ibadah mama selama hidup, serta menjadikan amal ibadah itu sebagai penerang dalam kubur. Semoga Allah jauhkan mama dari siksa kubur, menempatkan mama di tempat terbaik di sisi-Nya, menempatkan mama di surga-Nya. Wahai dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sampaikan salamku untuk mama. Aku sayang mama. Sampaikan juga maafku untuknya, maaf belum banyak yang bisa aku lakukan untuknya, terutama di masa akhir hidupnya.
---------------------
Me now:
Gue lupa banget pernah mengalami kejadian mimpi ini, untung ditulis. Iseng-iseng buka notes lama, nemu tulisan ini. Sepertinya menarik untuk dipost.
Awal Februari 2024 gue nulis target ini untuk direalisasikan di bulan berjalan, minimal tahun berjalan. Banyak dari rencana itu yang terealisasi, kecuali di bagian belajar bahasa inggris dan cari-cari kampus. Entah kenapa memulai yang satu ini sulit banget, pada saat itu. Sekarang gue baru paham kenapa gue sulit banget memulai belajar: gue enggan. Gue masih punya tanggungan. Gue masih mau menyimpan kesempatan kuliah andai sewaktu-waktu tempat kerja gue dipindah ke antah-berantah. Akan tetapi, tulisan kali ini bukan tentang studi.
Sewaktu menulis target itu kondisi kesehatan gue masih belum bisa dibilang baik, bahkan lo bisa sebut gue penyakitan. Pada saat itu posisinya gue masih belum aktif berolahraga. Gue adalah pelanggan tetap dan paling setia fisioterapi sejak tahun 2021. Sebulan itu bisa 2-3 kali ke sana, sangat menguras dompet. Gue sangat kebingungan harus memutus mata rantai penyakitan itu dari mana, sampai akhirnya setelah menulis target itu gue serius mencari cara dari berbagai sumber, dan hasilnya merujuk ke satu hal yang sama: gue harus bergerak! Literally bergerak, banyak berolahraga, kurangi duduk, kurangi berdiam diri dalam waktu lama.
Mulai saat itu gue memanifestasikan diri gue menjadi seorang yang sehat bugar dan nggak sakit-sakit lagi. Hal itu gue wujudkan dengan... memulai. Ya, hanya memulai. Sesimpel itu. Gue mulai dengan memaksa diri gue berangkat ke kantor tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi, dan gue putuskan untuk naik kereta. Di kepala gue pada saat itu, naik kereta tuh sangat-sangat tidak nyaman karena harus berdesakkan, panas, berkeringat, nggak ada ruang privasi, pokoknya kereta itu opsi paling terakhir yang akan gue gunakan untuk perjalanan ke kantor.
Setelah dijalani, ternyata nggak seburuk itu. Justru banyak benefit yang gue dapat. Pertama, penyebab gue sakit saraf kejepit salah satunya adalah naik motor dalam jarak yang jauh dan durasi yang lama, dilakukan bertahun-tahun. Bayangin, 3 tahun gue pulang pergi naik motor ke kantor. Dengan naik kereta, gue terhindar dari sumber utama sakit pinggang gue. Kedua, dengan naik kereta gue dipaksa untuk lebih banyak bergerak. Daily step gue meningkat dari yang biasanya cuma 2-3 ribu, saat naik kereta naik jadi 7-8 ribu. Ketiga, dari kebiasaan banyak bergerak di tiap harinya, kesehatan gue meningkat, dan olahraga yang bisa gue lakukan lebih banyak. Pada saat itu gue memutuskan jadi runner. Gue bikin movement di kantor dengan nama xxx (nama kantor) bergerak, sampai gue buat sendiri design jerseynya. Proses gue untuk bisa lari itu nggak secepat itu ya, agak lama, karna harus menyesuaikan dengan kondisi tubuh. Awalnya gue mulai dari berjalan selama 30 menit beberapa kali. Setelah dirasa nggak ada keluhan berarti, gue naikin jadi 1 jam. Setelah itu meningkat jadi jalan cepat 30 menit, jalam cepat 1 jam, berlari lambat 30 menit, berlari lambat 1 jam, sampai akhirnya gue bisa beneran berlari dan ikut event-event besar.
Keputusan untuk naik kereta adalah keputusan terbaik gue selama 2024. Karena itu sangat mengubah kehidupan gue, dan kesehatan gue. April mulai naik kereta, juni mulai lari, agustus langsung naik gunung merbabu, setelahnya masih aktif di trekking, ikut event lari, berenang, latihan otot. Banyak ya. Gue juga jadi lebih care ke kesehatan, lebih care ke apa yang gue makan, gue juga jadi jarang sakit, pokoknya semua hal meningkat, overall.
Poin gue di sini adalah lo boleh tulis semua hal yang lo rencanakan ke depan, tapi rencana itu akan cuma jadi catatan masa lalu aja kalo lo nggak laksanakan.
Jika dalam keadaan tersulit lo, tugas lo hanya "bertahan" karna pada akhirnya semua akan baik-baik saja dan lo pasti bisa melewati itu semua entah itu gimana caranya. Maka, untuk hal-hal yang lo rencanakan di masa depan, tugas lo hanya tinggal "menuliskan rencana itu sebaik-baiknya dan memulai" aja. Entah sebingung apapun cara lo memulainya, gimana langkahnya, tulis dan mulai aja, bro. Karena pada akhirnya lo akan menemukan.
Menurut gue kenapa atasan itu digaji lebih besar daripada bawahannya, itu tidak lain adalah untuk berpikir. Ya, mereka harus menggunakan otaknya lebih keras dibanding anak buahnya. Jika pada akhirnya justru yang berpikir keras adalah kami para bawahan, lalu untuk apa kalian ada?
Gue sangat menyayangkan banyaknya pemimpin yang tidak terlalu kompeten di era ini. Mereka abai akan tugas utama, mereka tidak paham, dan tidak berusaha untuk memahami apa-apa saja yang seharusnya mereka lakukan. Bahkan untuk menentukan arah saja kebanyakan dari mereka ini tidak mampu, padahal ini tugas utama mereka.
Sebagian dari kalian merasa sangat hebat hingga masukan dari kami pun tidak kalian dengar, padahal? Kalian tidak sehebat itu, kerja kalian nol besar. Yes, I'm pointing at you! All-of-you. Pemimpin itu tidak boleh hanya sekadar memindahkan tanggung jawab kepada bawahan. Bukan seperti itu cara kerjanya hei! Kalian harus ikut terlibat dalam setiap tugas yang kalian berikan kepada kami, kalian itu harus hadir. Bukan hanya bagi-bagi pekerjaan di awal, lalu menghilang, dan jika ada kesalahan di kemudian hari kalian justru menyalahkan kami. Padahal satu-satunya pihak yang patut disalahkan adalah kalian sendiri.
Untuk drama perkantoran ini, gue udah bukan di tahap yang berusaha memahami kenapa kalian berperilaku seperti sekarang ini, kayak "oh wajar bapak ini begini, kan dia blabla", enggak. Gue udah di tahap yang, "ah bodo amat apa alasan lo berperilaku begitu. Lo salah. Lo nggak becus!"
Hffffffffft. Gue butuh kopi.
Have you ever met your green person?
A green person is someone you meet by chance but stay with by choice. They're the one you can share anything with, without fear of judgment.
Their presence feels like home, and you know losing them would feel like losing a part of yourself. You just hope they never leave.
Source: @5peech
Pagi ini gue servis motor, terus makan indomie di seberang bengkelnya. Pas makan, ada seseorang yang kayaknya sih jawara atau preman gitu ya, datang makan di warung tempat gue makan indomie. Dia datang sama temannya, mereka berdua ngobrol. Si jawara ini kepalanya dibalut perban. Kalau dengar dari ceritanya sih dia ini habis berantem 1 vs 8, dan dia kalah. Dia dirawat selama 5 hari di RS.
Kaum mereka ini kalo survive setelah berantem, atau masuk penjara, mereka nggak jera sama sekali. Mereka justru bangga, dan menjadikan pengalaman itu sebagai experience baru buat dibanggakan ke orang-orang.
"Gue nih kemaren 1 lawan 8, wajar gue kalah. Orang gue gak pake (quote and quote) isian"
"Gue nih kemaren masuk penjara. Lo harusnya takut sama gue."
"Ah masuk penjara doang mah kecil buat gue."
Manusia macam gini berbahaya banget sih buat orang lain. Dan mereka nggak sadar kalo mereka berbahaya.
Kenapa sdm indonesia begini ya. Apa yang salah? Gue pernah deeptalk masalah ini dengan teman-teman di kantor. Kami genk yang sampai di kantor sebelum jam 7 pagi randomly ngobrol ngalor-ngidul bahas mulai dari atasan nggak berkualitas, agama, sdm, sampai ke kemiskinan di indonesia. Aneh, padahal masih pagi. Tongkrongan normal bahas topik begini di malam hari. Someday kalo gue senggang, dan gue masih ingat isi obrolannya, gue tulis deh.