(Menurut Pengurus Barang-Barang Peninggalan Orang yang Sudah Meninggal)
Dikutip dari Buku Things Left Behind: Hal-hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada karya Kim Sae-Byoul, Jeon Ae Won, Anna Lee (Translator)
Biasakanlah merapikan barang untuk membangun ketertiban hidupmu
Ketika kita tidak membeerskan hal-hal di hidup kita adalah asama halnya dengan kita membiarkan hidup berantakan. Yang membuat kita bertahan hidup setiap hari adalah hal-hal sepele seperti mencuci piring, mengelap debu di perabotan, mengepel lantai, dan sebagainya.
2. Jika sulit disampaikan secara langsung, sampaikanlah lewat tulisan
Kalau kamu punya kesulitan dan hal-hal yang ingin kamu ceritakan tapi kamu tak punya keberanian, coba tuliskan seperti buku harian mungkin?
3. Simpanlah barang yang penting di tempat yang mudah ditemukan
4. Jangan rahasiakan jika kamu mempunyai penyakit
Kita perlu bijaksana untuk berbagi beban dengan keluarga.
5. Nikmatilah apa yang kita miliki
6. Jalanilah hidup bukan demi orang lain, tapi demi dirimu sendiri
Bila kita hidup dengan baik-baik, kita pasti bisa menolong orang lain.
7. Yang tersisa pada akhirnya adalah kenangan saling menghasihi dengan orang yang kita kasihi. Oleh karena itu, buatlah banyak kenangan yang indah.
Bertahun-tahun lalu, seseorang bertanya, "Ada nggak, hal yang benar-benar kamu nikmati tanpa harus terlalu berusaha?". Dewasa ini, aku sadar bahwa menulis selalu membuatku merasa hidup apa adanya, tanpa harus banyak mikir.
Dan #30HARIBERCERITA adalah salah satu jalannya. Ya, meski makin tambah tahun, aku makin perfeksionis aja rasanya buat bikin konsep dan desain, huft. Tapi beneran se-excited itu nunggu #30HARIBERCERITA tiap tahun hehe.
Hai, lama tak mengetik di halaman ini. Setelah sekian lama hidupku lebih banyak "membaca" daripada "menulis", aku hampir lupa kalau punya tu
Dari malam minggu yang aku tuliskan di cerita sebelumnya, kami juga membahas sesuatu yang menurutku membekas, dan layak dicatat di sini sebagai tulisan.
"Tau gak orang yang pake barang-barang branded itu gak sadar kalau mereka jadi brand ambassador tanpa dibayar" obrolannya tiba-tiba, lebih terdengar sebagai sebuah pernyataan, bukan pertanyaan.
"Hah?" aku berhenti mengaduk mie dokdok. "Kok bisa?"
Ia mulai bercerita bahwa seminggu lalu ia pergi ke luar kota, menghadiri sebuah acara festival buku, yang kalau aku sebutkan di sini pasti mayoritas orang akan mengenal acaranya. Ia akhirnya bertemu kembali dengan teman lamanya, ceritanya.
"Kamu inget, kan, temen yang aku ceritakan dia suka koleksi parfum branded?"
Aku mengangguk. Di beberapa kali kami mengobrol, ia memang menyebut temannya yang unik itu. Anggaplah ia memang sama dengan kami, hanya beda hobi. Aku suka buku, dan hobi menumpuk to be read e-book di aplikasi. Temanku suka baca buku, tapi ia hobi mengoleksi buku fisik. Nah, temannya temanku ini hobinya koleksi parfum. Parfum branded, yang jutaan, itu, lho.
Sebagai orang yang nggak relate sama hal itu, kami memandangnya unik. Beda aja gitu, dan kami terheran-heran.
"Kadang aku mikir aja gitu, apa ya yang mereka dapetin dari memakai barang branded?'
"Kepuasan, mungkin?" tebakku.
"Aku tuh pernah sampe cari tahu tentang ini, lho"
"Oh, ya?" Aku membenarkan posisi duduk, ini bakal menjadi bahasan serius, tebakku.
"Kamu tau kan barang branded gitu biasanya merknya besar, terpampang gede gitu logonya" Aku mengangguk setuju. Belakangan ini, apalagi semenjak aku mengenal dunia Idol, itu hal yang biasa untuk melihat kaos dengan harga puluhan juta.
"Tau gak itu biar apa?" Belum sempat menjawab, ia sudah melanjutkan penjelasan, "Biar dilhat, dong. Biar kelihatan jelas bahwa ini lho aku pake barang branded ini, aku pake merk ini, lihat, lihat" ia bercerita dengan penuh semangat. Aku terkekeh sambil memasukkan mie ke mulut.
"Dan itu, secara gak langsung bikin brand-nya makin terkenal, makin dllihat orang. Orang jadi penasaran kan itu brand apa? Terus orang bakal tanya kamu pake brand apa itu, dan dia bakal cerita..."
Aku memotong, "Itu yang aku maksud, mereka dapet kepuasan, mereka puas karena dipandang keren karena pake brand terkenal". Aku tersenyum, merasa sudah bisa menyimpulkan.
"Ada yang lebih diuntungkan dari itu!" Obrolan semakin antusias.
"Apa?"
"Brand itu lebih diuntungkan. Mereka jadi punya banyak brand ambassador yang tak perlu dibayar!"
"Dengan logo besar, nama brand jadi mudah dilihat, sama dengan iklan gratis. Dan setiap orang yang penasaran atau orang yang lihat, bisa jadi bakal tertarik, apalagi kalau tau bahwa brand itu terkenal"
"Bayangkan setiap konsumen yang beli barang itu, otomatis jadi brand ambassador yang tak dibayar. Mereka melakukan itu secara sukarela dan bahkan tanpa sadar"
Aku sedikit mulai merapikan meja, masih sambil menyimak obrolan antusiasnya.
"Gitu, aku jadi mikir aja wah keren ya, dari hal sekecil bikin logo brand yang gede, itu bisa mendatangkan manfaat yang selama ini gak kita paham"
Aku mengangguk setuju.
"Psikologi konsumen berarti di sini sedang dipermainkan, ya?" Aku 'sok-sok'-an menanggapi. Tahu apa sih anak MIPA tentang topik psikologi konsumen?
Tapi tak apa, obrolannya jadi seru. Dan, ya, beginilah banyaknya ilmu di dunia yang nggak kita tahu. Jadi kalau ada manusia yang merasa sombong karena tau satu hal, dia kurang nongkrong aja mungkin, kurang ngobrol.
Karena pada umumnya, semakin banyak kita mencari tau banyak hal, semakin kita akan sadar bahwa kita nggak paham apa-apa. Banyak hal yang belum kita ketahui.
Hai, lama tak mengetik di halaman ini. Setelah sekian lama hidupku lebih banyak "membaca" daripada "menulis", aku hampir lupa kalau punya tumblr.
Saking lamanya tak menulis, aku jadi sedikit kerepotan mau nulis mulai dari cerita apa: saking banyaknya yang terjadi. Dunia cepat banget, secepat buku di Ipusnas raib dipinjam orang, padahal baru 8 detik. Hehe.
Malam minggu kemarin, akhirnya seorang teman yang sudah sibuk dengan pekerjaannya menghubungiku,
"Mau makan keluar tidak?" itu pukul 5 sore.
Aku jawab, "Yuk". Padahal aku baru saja pulang berbelanja bulanan. Tapi selain karena tak punya lauk, aku juga tak punya gas. Ngomong-ngomong, elpiji memang sedang langka, katanya. Yasudah, aku bilang mumpung aku masih pakai baju "layak main", jadi mari makan setelah magrib.
Bukan kami kalau tidak riweuh. Karena masih punya sisa nasi, aku bawalah nasi itu dalam kotak. Aku juga membawa jeruk yang baru saja kubeli tadi siang. Tak lupa, satu liter air minum dalam botol tumbler, meskipun aku sudah berniat memesan es teh tawar di sana. Sedangkan dia membawa satu kotak biskuit rasa lemon, juga satu botol air minum ukuran satu liter. Sama.
Itu tidak salah. Aku memesan mie dokdok untuk dimakan bersama nasi, lengkap dengan dua buah kerupuk "rambak" yang kujadikan pelengkap makan. Sedih karena tukang gorengan di sana sudah tutup, mungkin sudah kehabisan jualan. Sedangkan temanku memilih memesan nasi goreng.
Yang salah adalah itu malam minggu. Kami lupa. Kami baru sadar ketika yang datang ke sini adalah pasangan semua. Wow, saatnya men-julid, menilai satu per satu pasangan. Kerjaan dua orang jomblo memang begitu, kan? Alih-alih iri, biasanya lebih seru mengomentari orang.
Aneh. Itu kesan pertama yang kami tangkap.
Ada sekitar 4 pasangan menduduki meja dekat kami, yang entah itu memang pacaran atau sebatas terjebak friendzone.
Eh, orang pacaran kalo makan bareng di malam minggu emang diem-dieman aja, ya? Malah pada main hape sendiri, ih.
Ini yang pacaran kalo ketemu tuh gak mau bahas topik yang seru kah gitu? Teori Darwin mungkin? Black hole, pemilu raya, topik war di Twitter akhir-akhir ini, gak ada niatan gitu? Biar seru, astaga!
Kami bertatapan. Merasa bahwa kami hanya dua orang yang berisik di dunia ini. Aduh, apalagi kalau udah bahas buku, bahas idol kami di dunia musik, bahas teori-teori alam semesta, we are screaming and became the most enthusiastic humans in this universe!
Dimulai dari mengabsen kabar satu per satu 'bias' kami, berlanjut membahas musical video terbaru yang mereka rilis. Duar! Akhirnya sampai di bahasan terkait dengan alternative universe yang diangkat oleh idol kami ke dalam videonya. Sebuah kebetulan, kami berdua juga sama-sama suka baca buku. Makin jauh, deh, bahasannya.
Lihat! Mereka yang pacaran ternyata masih pada diem-dieman, astaga. Sejujurnya, peduli amat sih sama mereka, Tapi kami heran aja gitu. Apa mereka saking udah deketnya, jadi bisa komunikasi pakai batin, gitu? Bahasa kalbu mungkin, ya?
Dua jam itu bukan waktu yang sebentar untuk kami cukup mengamati satu per satu pasangan yang makan - selesai - ganti pasangan lain, tapi modenya tetap sama. Mode hening.
Heran, deh.
Pukul 8 malam, kami resmi pulang. Setelah puas merasa menjadi manusia paling berisik seisi tempat makan: gara-gara idola kami rilis video dan we are suddenly in fangirl-ing mode. Saat bayar di kasir, bahkan aku masih sempat bercerita tentang tragedi putusnya sendalku saat pulang belanja minggu lalu, yang membuatku berjalan 'nyeker' alias tanpa sendal sebelah. Dan kami tertawa.
Begitulah. Cerita unik dari malam minggu kami. Entah kami yang salah tempat atau memang kebetulan pasangan-pasangan yang kami temui adalah para introvert garis keras. Satu yang pasti, Ya Allah berikanlah kami pasangan yang sama serunya buat diajak ngobrol apa saja, biar kalau ketemu gak diem-dieman sunyi senyap scroll beranda medsos masing-masing, biar kalau dilihat orang tuh gak ada pencerita macam saya yang keheranan dan menjadikannya topik tulisan macam ini.
Salam,
dari kami para single yang naksir orang TV alias hidupnya cuma sekedar nge-heboh-in idola hehe.
bagian 1
Jalan-jalan tanggal 8 Juli 2023, hari Sabtu. Dengan 1001 unexpected-nya, jadi harus banget diabadikan lewat cerita. Tulis di sini
Welcome di puncak the unexpected hari ini. Saat kita keluar dari Luwes, lah kok banyak orang duduk di jalan. Ternyata ADA KARNAVAL DAN JALANNYA DITUTUP. Inilah the unexpected 6 yang kemudian membawa kita pada banyak the unexpecteds lainnya.
Nangis dan ketawa. Kita merasa sudah cukup update di sosial media, tapi kok bisa kita gak tau di Slamet Riyadi ada acara ginian. Jalan ditutup = bis gak bisa lewat = gojek grab juga gak bisa lewat. Kayaknya gara-gara kita berdua jarang buka Instagram haha.
Sampe jam 4-an tuh masih belum ditutup total tapi macet. Pesen Grab dan Gojek juga gak ada yang mau ambil karena macet. Mulai jam 4 ditutup total. Hampir pupus lah harapan kita makan Gacoan.
Gocar 1 nolak. Gocar 2, 3, dst kalo gak mahal, ya gak mau karena macet. Udah lah.
Akhirnya search masjid/mushola terdekat. Tapi kok pada harus nyebrang Slamet Riyadi semua. Padahal tuh jalan gak bisa dipake nyebrang karena yang karnaval udah pada lewat. Mana selesainya jam 17.40 menurut info di IG tuh.
*****
Akhirnya? Masuk ke Luwes lagi, titip belanja di lantai 1, lalu naik ke lantai 3 buat sholat. Baiklah, the unexpected 7: mari menunggu di sini sekalian sampe maghrib. Paling 1 jam-an dari 16.30 sampe 17.40 hmm tapi lama juga sih.
*****
The unexpected 8: hapeku sisa 32%, gak bawa charger, bawa powerbank, tapi gak bawa kabelnya. Padahal mungkin aja nanti butuh hapeku buat pulang semisal kita gak bisa naik bis. Buat order gojek, karena di aku lebih banyak vouchernya. Jadi, aku gak main hape biar irit baterai haha.
Planga plongo liatin anak-anak main dan berakhir malah ghibahin Namjoon, as always hehe. Daripada ghibahin temen, kan? Gara-gara beliau sekilas lewat timeline juga, jadi deh kepikiran sesuatu buat dibahas sama mba Han. Mau bahas sidang, tapi males mikir. 🙏
Penampakan kita berdua beneran kayak musafir yang abis perjalanan jauh gitu haha. Numpang berhenti di mushola. Padahal kita cuma kejebak karnaval.
*****
Magrib juga di sana. Keluar jam 17.30-an dan... kenapa sih malah mampir beli ikat rambut. Haha the unexpected 9. Jadi ketemu adek BT21 lagi. Mba Han beli gantungan kunci. Aku kenapa ya ikut-ikutan beli ikat rambut juga?
Padahal cash kita udah tinggal dikit. Tapi, PD!
Ini pas mau turun tangga, mau mirror selfie tapi udahlah kita mah gak bakat 'selfie-selfie'-an. Liatin sepatu aja karena sepatu kita pink lucu haha.
*****
Akhirnya, pulang tetep naik bis karena gocar mahal. Tapi ampun, dah. Nunggu bisnya lama. Udah hopeless. Masa di papan informasi, tulisannya bis datang sekitar 18.22 padahal itu baru 18.00. Nangis aja udah, lapar juga. Gocar mahal.
Seperti biasa sambat, terus setelah beberapa detik sambat, ada bis dateng. Haha emang harus ngeluh dulu, ya? 😭
Di sini kita udah bagi peran. Aku masuk bis duluan bawa 2 jinjingan belanja. Mba Han bagian yang bayar bis. Tap kartu sama scan QR haha sungguh suatu pembagian jobdesk yang ok.
*****
Sampailah kita di..... Gacoan!
Mama, aku lapar. 😂😂😂
Tapi nih, ya. Ngakak banget orang tuh malah mingguan pada rapi, wangi, pada niat jalan-jalan. Kita ke Gacoan bawa tentengan tas belanja setelah seharian keliling Solo dari jam 1 siang. Ngakak, untung PD. 😌
Namanya juga orang lapar. Kirain tuh pangsit bakal habis. The unexpected 10 ternyata mba Hana total dapet 7 pangsit haha.
Nah, pangsit sama udang rambutannya kan dateng duluan sebelum Mie-nya. Jadi makan itu dulu pake tisu karena belum dapet sumpit. Udah kayak makan gorengan. Maaf, lapar banget.
Tau gak the unexpected 11 apa?
Pernah liat orang makan mie gacoan pake sendok dan garpu? Ya, cuma teman saya. Bawa sendok dan garpu dari kost, jadi "maaf, ya, aku mau mode makan sambil kelaparan". Mau ketawa tapi udah capek ketawa.
Emang kalau udah niat jalan-jalan, kita bakal se-niat ini. Kangen makan bertiga sama Wien, tapi Wien lagi sibuk. It's okay.
*****
The unexpected 12: gara-gara kekenyangan, pangsit mba Han sisa 2, udang rambutanku sisa 2 juga. Kita bungkuslah pakai tisu. Kita plastikin dan bawa ke kost.
Serius, random banget. Tapi kan sayang udah dibeli, tapi ini perut udah gak muat. Untung mba Han bawa 2 kresek kecil buat ngebungkus ini harta karun. Selamat. 🙏😭
*****
Urus-urus perhutangan dan per-duit-an dulu besti. Biasalah, kan kalo abis jalan sama temen pasti saling pinjam uang haha.
Akhirnya, memutuskan order gocar aja biar gak ribet. O iya, kabar hape aku udah tinggal 15%, udah merah dan mau sekarat. Tapi tetep nyoba order gocar karena murah cuma 11.500 aja.
The unexpected 13: gak dapet dapet mobil. Sedih banget. Sekian menit berlalu dengan mencoba beberapa kali cancel dan order ulang, sampe hapeku sisa 10% haha tetep aja gak dapet-dapet. Kayaknya lagi banyak yang order Gocar.
Udah, hapeku udah nyerah. Udah mau 8% bentar lagi wassalam. Jadi pake hape mba Han. Itu jam 19.00 an mungkin ya. Dapetlah yang 12.500 tapi tetep gak ada mobil yang nyangkut.
Udah nyoba berkali-kali order. Tetep aja.
Dan kali ini, ngeluh gak memunculkan solusi seperti biasanya huhuu mungkin jatah keberuntungan kita hari itu udah abis 😭
Akhirnya....
"Udahlah nge-bis aja, yuk, mumpung masih sore"
*****
Dengan pembagian jobdesk yang sama: aku masuk duluan bawa tentengan belanja yang banyak, mba Han yang bayar bis. Semuanya berjalan lancar haha sampe bisa turun di halte Kantor Kecamatan.
Dah lah, ngakak banget. Liat orang malam minggu pada cantik main sama teman/pacarnya, kita nenteng tas belanjaan pulang malam.
"Kayak abis pulang jualan"
"Dapet berapa uang kita hari ini, mba?"
"Gini banget ditinggal wamil"
😭😭😭😭😭 Ok silakan ketawa dulu. Kita juga ketawa sampe berkali-kali berhenti di jalan Surya.
*****
"Siapa sih yang ngide malam minggu-an di jalan?"
"Nggak gitu, ini gara-gara karnaval"
"Bawa air dari kost seliter aja sampe habis"
Hape aku udah wassalam btw. Udah 5% dan nggak hidup. Haha.
*****
"aku tahu kesimpulan trip kita hari ini!"
"apa?"
"caption postingan terakhirnya Namjoon"
"Oh HAHAHHAA"
*****
Gotta expect the unexpected. Padahal expect kita: belanja sampe asar, asar di gacoan, makan sore, pulang dengan tenang. Pulang pergi naik bis dengan lancar gak ada drama-drama lain. Tapi yaudahlah, lucu aja buat dikenang.
Gitu deh, sebenarnya cuma 7 jam ya di luar. Tapi ceritanya jadi sebanyak ini. Sekian, deh.
*****
Minggu pagi, sebuah notif percakapan grup,
[9/7 05.32] : Apkaah kalian pgn cfd an
[9/7 05.42] : Ya Allah capek ternyata gara2 kemarin ke luar🤣
Jalan-jalan tanggal 8 Juli 2023, hari Sabtu. Dengan 1001 unexpected-nya, jadi harus banget diabadikan lewat cerita. Tulis di sini juga, ah.
Spoiler kesimpulan dulu: that rkive was right.
Dimulai dari hari Selasanya,
"Eh, belanja, yuk"
"Makan gacoan, yuk"
"Tapi naik bis aja, yuk"
"Ayoooo"
"Kapan? Jangan pas hari kerja"
"Sabtu aja, gimana. Mumpung libur"
"Ayo. Biar Minggu bisa istirahat"
"Biar Senin nggak kaget ketemu manusia"
Ya, introvert life memang begitu.
Jadi Jum'at tuh aku pulang cepet, mba Hana juga. Kita ketemuan di kantin sehat, ngelist daftar belanja sambil dengerin 'Snow On the Beach' nya Taylor Swift; request-an aku haha.
*****
Hari Sabtu pagi aku beres-beres doang dan main hape. Kita janjian berangkat jam 1 aja.
Mendekati jam 1, kita mulai janjian dan memikirkan taktik naik bis: belajar cara-cara naik bis, memastikan bisa pakai QRIS karena aku tak punya kartu, lihat ongkos gojek dll siapa tau kemungkinan terburuk kita butuh gojek aja 🤝
Jam 1 kita ketemuan di Ara Catering. Terus nunggu bis depan Dishub Surakarta.
The unexpected 1: outfit kita samaan blackpink haha. Aneh, tapi lucu aja. 😂🙂🙃
Serius ini nunggu bisnya lumayan lama. Mana panasnya lumayan terasa. Barulah ngeluh dulu, sambat dulu, sekian detik kemudian bisnya muncul. Emang harus gitu, ya? Kadang mengeluh membawa kita pada solusi.
*****
Turun setelah halte Tiong Ting buat ganti bis ke yang merah nomor 1. Serius ini jalanan kemarin agak sepi sih. Gak tau ya orang-orang pada ke mana, atau karena siang hari jadi gak banyak yang berkeliaran di jalan.
*****
The unexpected 2: abis turun di halte deket Sami Luwes, malah kepikiran mampir Gramedia. Dah, emang random banget kita.
"Eh, mumpung ke luar, mampir Gramedia, yuk"
"Yaudah berarti jangan belanja dulu biar gak bawa barang"
Akhirnya jalan lagi muter balik ke lampu merah buat nyebrang. Haha.
The unexpected 3: Gramedia bukan bau buku, tapi bau kue. Haha ini gatau kenapa pokoknya sejak awal masuk tuh kecium banget wangi aroma kue. Nah, kirain kita aja yang salah penciuman, ternyata ibu-ibu depan kita juga bergumam bau kue.
Di Gramedia cuma liat-liat aja. Liat buku resep makanan, buat nyari ide katanya. Eh, aku malah kangen makanan rumah ini: Sorabi Oncom, Molen, Jalabria.
Juga mengomentari buku paket anak SD yang sekarang sistem Tematik. Memang jiwa-jiwa julid kami ini tidak bisa ditahan. Jadi mending julid-in buku aja, daripada julid-in hidup orang.
Ketemu buku-buku yang gak asing juga. Tangerine Green, Funicula Funiculi, buku yang covernya mirip Funicula Funiculi, dll. Satu yang gak nemu: buku "BTS: Beyond The Story". Padahal kalau ada, mau numpang baca buku sampelnya sampe selesai, deh. 😔
Padahal itu buku gak dijual bebas juga sih haha.
*****
Yaudah, akhirnya beneran nih ke tujuan utama: BELANJA.
Memasuki the unexpected 4. Di part ini, istighfar aja, deh. Kok jadi banyak banget, ya, belanjaan kita. Tapi emang kalo belanja bulanan gini kita gak akan keluar lagi selama sebulan. Nggak jajan lagi, dan jadi sering masak. Jadi belanjanya sekalian.
Ini belanja lama banget, deh. Satu jam setengah mungkin, ya. Hmmm. Kan jadi mikir, ini kita emang gak ribet bawanya nanti naik bis? Mana sampe beli telur segala dahlah haha kita ketawa aja dulu.
*****
Ok. Ini part khusus bagian nge-fangirl. Haha.
Ketemu adek-adek BT21. Haha. Kayaknya tiap keluar weekend selalu ketemu sih. Tapi sekarang ketemu banyak. Dulu cuma di snack Maitos, sekarang nemu di produk susu, parfum, buku, kotak pensil, paper bag, sampe kipas dan gantungan. Apa lagi ya, lupa saking nemu banyak tapi gak kefoto semua.
Jadi judulnya hari ini "absen nama adek-adek"
"Ini siapa?"
"Chimmy, Tata, Koya, RJ"
"Aku cuma tau Shooky"
"Ih Chimmy lucuuuuuuuu"
"Ya ampun Tata gemesin dah"
*****
Selama belanja gak banyak the unexpected yang terjadi. Tapi.... pas mau pulang, kenapa ya malah diajak mampir rak parfum. Jadi lah lama banget milih parfum sampe indra penciuman tidak berfungsi gara-gara mencium banyak sampel tester. Ketawa sih. 😂
The unexpected 5: aku check out 1 parfum yang collab BT21 karena wanginya enak. Ibu, anakmu mau mulai jadi perempuan. Beli parfum, liat! 😆
*****
Welcome di puncak the unexpected hari ini. Saat kita keluar dari Luwes, lah kok banyak orang duduk di jalan. Ternyata ADA KARNAVAL DAN JALANNYA DITUTUP. Inilah the unexpected 6 yang kemudian membawa kita pada banyak the unexpecteds lainnya.
.........
Tapi, sayang sekali tumblr ini satu kali posting cerita maksimal 10 gambar, jadi nanti dilanjut bagian 2
bagian 2
Welcome di puncak the unexpected hari ini. Saat kita keluar dari Luwes, lah kok banyak orang duduk di jalan. Ternyata ADA KARNAV
Jadi inget rumah hmmm. Jadi di rumahku punya peternakan kambing, dan setegar-tegarnya bapakku, kalau tiap Idul Adha bakal gak banyak bicara, gak semangat makan kayak hari-hari biasanya, pokoknya kesedihannya gak bisa ditutupi sih.
Aku, ibu, dan denina? Ya jelas, sudah pasti sih lebih pengen nangis pas liat kambing-kambing itu diangkut satu per satu sejak kemarinnya. Adikku si anak tengah aja yang tegar, tapi ntar dia murungnya abis Idul Adha bubaran, sampe 7 hari kedepan tuh sedihnya.
Melihat puluhan kolom kandang yang biasanya penuh, tiba-tiba kosong gitu aja. biasanya rame sahut-sahutan minta rumput, sekarang udah berakhir jadi sate. Huwaa. Apalagi kalo kambingnya yang beneran bibit sendiri, dirawat dari kecil, disusu-in SGM tiap pagi siang sore pake dot bayi, disuntikin vitamin tiap minggu, ditangisin pas dia sakit. dah lah kalo dibayangin sedih, tapi ya di situlah letak makna berkurbannya, ya.
Apalagi ibu yang ngurusi sehari-hari, suka gak tegaan gitu. Karena dari kecil ngasih susu dengan sebegitu lucunya tuh anak-anak domba.
Si Lucu
The cutest ever! Masih dalam edisi foto-foto zaman dulu, cuma seneng aja kalo mereka makannya rakus gini padahal ini difoto jam 11 malam.
Si Jagoan
Si jagoan yang gagah tapi nyebelin tapi paling disayang hehe. Soalnya tanduk dia gede banget, aku paling takut kalo ngasih dia makan. apalagi kalo udah kelaparan bakal loncat-loncat sampe mau rubuh tuh kandangnya deh, Ah, rasanya kuingin kabur saja. Biar bapak yang giliran ngasih dia makan, tapi kalo sore jadwalnya aku jadi gak bisa nolak. Kangen banget sih rutinitas rumah kayak gitu, meski capek tapi ngerasa hidup ada maknanya.
Si Ganteng
Si ganteng karena dia putih hehe (yah bulu shaming). Penurut banget tapi makannya agak manja, dia pemilih, cuma mau rumput jenis tertentu aja. Bikin pusing orang yang nyari pakan, bikin pusing orang yang ngasih makan juga, kudu milihin rumput hadeuh. jadi… skip, bukan tipe saya, bye! Tapi tetep nangis sih pas dia dijual, gak tega dia seganteng itu mau dijadiin sate ya Allah. Padahal kayaknya udah 7 tahunan berternak, tapi tetep aja ada rasa gak teganya hehe.
Ucapan Terima Kasih
Yah intinya mau say good bye ke sayang-sayangnya aku semuanya, 5 unit kandang yang aku udah gak tau nama-namanya siapa aja huhu. Saking udah 2 tahun gak pulang ke rumah jadi gak bisa kenalan sama mereka satu per satu. Kambing kamu dinamain? YES. Itu penting buat pencatatan bisnis eaaa. makasih sudah mengorbankan diri buat jadi uang kuliah dan uang makan saya yah [penulis merasa ingin menangis, tolong]. Mereka sebentar lagi akan menjadi sate seperti yang dibuat abang Seokjin di bawah ini, hiks.
Pasar Domba
O iya, jadi inget dulu pas SMA selalu nolak kalo bapak ngajak ke pasar domba, karena salting gak sih ntar di sana aku ngapain huhu mana pasti isinya bapak-bapak semua. tapi sekarang pengen banget ikut haha semoga ntar berkesempatan bisa ikut kalo dah pulang ke rumah. Sekian cerita idul adha dari pov yang punya peternakan~
Sekian yaaaa....
O iya, genre tulisan ini memang random banget, ya: slice of life + religi + mellow-dramatic + imaginative. Emang ini tulisan gak terkonsep dah lah mau suka-suka dulu. Tuh, sampe foto Seokjin aja masuk cerita ini.
Welcome to the era of returning home to Eid holidays with gifts: multiple bundles of lab testing datasets, and make sure the software is installed on your PC, not a lab PC. A pack of sample boxes, just in case they're kept in the lab, you'll forget where you put them when you get back next week; so just keep it in your room. supervisor advises to "please, you can rethink your formula" yeah, happy holidays everyone! See you again.
As a mother usually does when she hears that her daughter has been sick for the past two days:
"Makanya jangan minum es terus"
"Iya, Bu!" pretend to be a good daughter.
the day after tomorrow,
"are you better?"
"yes i try"
"what do you eat?"
"es buah"
"HEHHHHH"
Lucu banget tiba-tiba tadi siang ditelpon sodara, nanyain ibuku (dikira aku di rumah, mereka gatau aku gak pulkam), nah terus akhirnya ngobrol dikit dan kuladenin kan…
Anaknya beliau di bawah 1 tahun dari aku, berarti adek sepupu. terus karena aku lihat profil bibiku itu foto bayi, akhirnya aku basa-basi tanya:
"Oh itu putrinya dek A, ya?" (A = nama sepupuku yang emang udah nikah setahun lalu)
"Iya" jawab bibiku.
"Berapa umurnya, bi?" tanyaku masih basa-basi.
"Tiga bulan"
"Oalah tiga bulan yaa" jawabku.
"Sama sih, punyaku juga juga tiga bulan" gumamku pelan, tapi ke sana kayaknya kedengeran.
"Hah? apanya?" tanya bibiku.
"Eh nggak, bi, maksudnya sama kayak penelitianku, BARU 3 BULAN JUGA PENELITIANKU" ketawa banget.
Beliau ketawa, udah pengen kututup aja telponnya karena ketawa sendiri melihat fenomena di sekeliling ini. Gak mau tau pokoknya saya belum mau merasa tua, rasanya masih bocil, kok tiba-tiba temen sepermainan pas kecil ternyata sekarang udah jadi ibu. Terharu tapi ketawa sendiri melihat realita.
Iya sih segala sesuatu milik Allah, apalagi yang bisa dibeli lagi, pasti dibilangnya "yaudah beli lagi aja, gitu doang" atau "kuganti, ya?".
Tapi ini masalahnya pemberian ibu wei, paham gak sih seberapa buat beberapa orang tuh harganya gak bisa diganti apapun. Bahkan kalaupun itu barang kecil, how do you know how price it is?
-
Jadi makin trust issue buat minjemin apapun ke orang, apalagi barang-barang yang dibawain dari rumah, kayak ihh kok beberapa orang segampang itu ya bilang "yaudah aku ganti aja, ya?" yaa woi kenapa gak kamu beli aja tadi gak usah minjem aku, abis ilang aja mau diganti.
Bukan masalah bendanya, tapi masalahnya aku lagi gak mau sebel sama orang, tapi kalau udah sakit hati sembuhnya bisa lama.
Contoh kecil, dulu minjemin jarik bawaan dari rumah ke anak-anak FILM 2022 buat pentas malam puncak, gak balik dong. Udah ditanyain, eh koor-nya yang dulu ngePC malah ngilang, anak-anaknya juga gaada yang tau.
Jadilah meski FILM seseru apapun, tetep ada rasa sakit tiap inget kayak "bagaimanapun disini pernah bikin aku kehilangan sesuatu yang berharga, hilang sia-sia"
-
Aku orangnya emang collecting things banget, bukan masalah bendanya, tapi tentang siapa yang ngasih, ada kenangan apa dibaliknya.
Ah, udah jadi badmood, gapapa bentar lagi juga pisahan sama orang-orang di rantau, jadi kenangan yang buruk-buruk bakal kita tinggalkan sebentar lagi.
-
Gabaik tau bentar lagi Idul Fitri harusnya menebar persaudaraan, naa. Iya, benar. Tapi Ibuku adalah manusia pertama segalanya dibanding manusia siapapun di dunia ini. Jadi kayaknya wajar deh kalo ada yang ngusik.
hampir kehilangan sisir pemberian Ibu haha untuk gak jadi karena sisirnya balik, kok, abis itu.
Sekarang kalau nelpon orang rumah isi percakapannya ibu nyebutin list temen-temen/sepupu/tetangga seumuranku yang nikah di bulan tersebut.
Mereka salah sih, ngundangnya ke Ibu (lewat omongan atau kartu undangan) yaa ibu nggak kenal lah, jadi aku gak pernah kondangan. Misal di bulan Syawal ini ada 4 orang. Ibu mana mau mau wakilin aku, dan gak ada yang ngundang lewat PC, karena kontakku privat banget jarang yang punya (bangga dikit), yang punya cuma beberapa kenalan SMA yang itupun terseleksi bergilir setiap waktu. Wow gak tuh?
Jadi siapa yang sampe umur 22,5 tahun belum pernah kondangan sama sekali ke temen/sepupu seumur? Saya.
Selain karena belum pernah pulang kampung juga, jadi aman sudah menganggap aku jadi orang Solo kali ya hmm.
👧 "aku sekarang udah punya cita-cita, diajarin ibu guru"
👩 "apa?"
👧 "jadi astronot"
👩 "emang mau ngapain?"
👧 "mau ke Saturnus, ke planet-planet"
👧 "terus foto-foto yang bagus"
👩 "terus buat apa fotonya?"
👧 "buat foto profil"
NANGIS. Tidak bisa berkata-kata, dah lah, capek banget ngedidik anak di zaman sekarang.
-
Kayaknya gara-gara dia tau film-film Jakchie Chan lebih dulu daripada kartun Upin Ipin, lebih dulu dikasih tontonan CGI daripada tontonan Nusa Rara, lebih dulu nonton Interstellar sama aku dibanding dia nonton Shaun The Sheep sendirian (lebih tepatnya dia ikutan kita nonton sih).
Ya, kami keluarga tanpa TV sejak punya rumah sampai sekarang. Dan hanya ada 1 ponsel di rumah. Sampe balita lebih banyak dididik main dengan alam saja. Jadi si bungsu ini baru dibolehin nonton kartun sejak dia umur 8 tahun kemarin; pertama kalinya dia kenal Upin Ipin
👧 "kak, Upin Ipin tuh seru yaa"
👩 "gatau, kakak gak pernah nonton sama sekali" [plot twist emang]
Sebelumnya dia gak pernah kita kenalkan hape, jadi cuma nyuri-nyuri pandang ikut nonton aja kalo kita nonton. Tapi gak nyangka juga dong kepikiran punya cita-cita astronot buat foto profil.