Aku menyadari bahwa dalam sebuah hubungan, wajar jika ada perbedaan antara masing-masing pelaku di dalamnya. Yang jadi masalah adalah tak jarang perbedaan itu membuat satu konflik dalam satu hubungan yang bisa jadi bom waktu jika lama dipendam. Dan… itu yang aku rasakan sekarang.
Di bulan kedua menjalani hubungan dengan Mas Yusuf, aku di hadapkan dengan perbedaan yang membuatku cukup merasa kesusahan untuk beradaptasi. Perbedaan tersebut adalah perbedaan pola pertemananku dengan Mas Yusuf yang ternyata membuat masalah di hubungan kami. Penyebabnya adalah karena aku cukup berat menerima perbedaan ini.
Lantas, apa yang menjadi penyebabnya?
Untuk menjawab pertanyaan ini, rupanya aku cukup kesulitan untuk mencari jawabannya. Entah karena aku belum sepenuhnya paham dengan apa yang aku rasakan, atau aku belum menerima perasaanku sendiri. Yang jelas, aku kerap merasa berat jika harus merelakan Mas Yusuf pergi dengan teman-temannya.
Jawaban terbaru adalah soal kedekatan antara laki-laki dan perempuan.
Pertemanan Mas Yusuf dengan teman satu angkatannya ternyata cukup cair di mataku. Dia bisa berboncengan dengan teman perempuannya, menginap bersama dalam satu villa antara laki-laki dan perempuan, hingga pergi sampai larut malam ramai-ramai dengan teman perempuan.
Jika menggunakan sudut pandang Rara 5 tahun lalu, rasanya peristiwa tersebut adalah hal yang biasa. Aku bahkan pernah tiduran di lapangan sekolah dengan teman laki-laki dan perempuanku sembari melihat bintang dan saling bercerita. Tapi…. Mengapa di usia 24 ini, rasanya aku kesulitan mentolerir pola pertemanan serupa yang dialami oleh pasanganku?
Jika menelisik soal perasaan cemburu, rasanya terlalu dangkal jika aku melabeli perasaan ini sebagai perasaan cemburu. Aku sama sekali tidak merasa cemburu, apalagi kehilangan. Aku hanya merasa aneh dan mempertanyakan peristiwa tersebut. Semacam satu hal tidak biasa yang harus aku terima.
Hipotesis awalku untuk merespon peristiwa ini adalah karena aku tidak merasakan apa yang Mas Yusuf rasakan. Semenjak lulus SMA, hubungan pertemananku dengan laki-laki memang cukup terbatas. Alasannya karena aku menceburkan diri dalam satu lingkungan yang cukup punya aturan soal hubungan antara laki-laki dan perempuan. Paling mentok adalah nginep bersama untuk acara organisasi atau sengaja rihlah bersama. Sisanya, aku tidak pernah bersahabat intens dengan laki-laki yang mengharuskan kami kesana-kemari.
Mungkin hubungan terdekatku adalah dengan Soma, tapi karena kami jauh, kami jadi tidak sering bersama. Sesekali kami pernah main bersama. Tapi bisa dihitung jari dalam waktu satu tahun.
Jika aku menelisik ke dalam pengalamanku ke belakang, sepertinya perasaanku yang berat ini adalah karena tingkat ‘flexibilitas’ku dengan laki-laki cukup menurun dalam beberapa tahun terakhir. Puncak fleksible-ku berteman dengan laki-laki adalah masa SMA dan awal kuliah, saat aku bisa pergi ke mana saja dengan teman laki-laki tanpa peduli jarak dan waktu. Sekarang, rasanya cukup aneh dengan hal tersebut.
Well, hipotesis ini mungkin bisa terbantahkan atau bisa jadi berubah lain waktu. Mungkin aku bisa menemukan hal lain yang menjadi penyebab ‘perasaanku berat’ menerima perbedaan ini. Yang perlu aku sadari adalah bahwa perasaan ini normal dan aku memvalidasi perasaanku sendiri.
Beberapa hari lalu rasanya aku sering berbenturan dengan perasaanku karena aku merasa keberatan namun aku tidak ingin Mas Yusuf terbebani dengan apa yang aku rasakan. Sekarang, rasanya aku cukup bisa menerima perasaan ini dan aku lega bisa mengutarakannya dengan Mas Yusuf (meskipun kami belum menemukan solusi jalan tengahnya).
Meski demikian, kami cukup bersyukur bisa menemui konflik ini. Akhirnya setelah kami merasakan bahagia jatuh cinta di bulan pertama, di bulan kedua ini kami menemukan konflik yang sudah kami wanti-wanti sejak lama. Lebih menarik lagi karena dalam konflik ini kami bisa saling terbuka dan berusaha untuk mencari solusi bersama.
Setidaknya sari konflik ini aku dan Mas Yusuf belajar bahwa hubungan ini tidak akan terlepas dari perbedaan. Benar kata orang bahwa menikah adalah menyatukan dua kepala yang berbeda. Ku pikir, ini adalah titik awal kami belajar tentang proses penyatuan tersebut, sekalipun kami belum menikah. Selanjutnya, kami perlu bersiap menghadapi banyak perbedaan yang mungkin akan kami alami hingga 5 tahun ke depan.
So, Mas Yusuf, let’s fasten the seat bealt, cause we’re gonna face many conflicts and problems ahead! Cheers!!!!!!