Sekitar dua tahun yang lalu, saya sempat melihat tayangan sebuah reality show yang menampilkan seorang wanita Jepang paruh baya membenahi rumah klien Amerikanya. Wanita itu bernama Marrie Kondo. Marrie melakukan pembenahan rumah dengan semula-mula mengumpulkan barang kliennya pada satu tempat, lalu menyisihkan barang-barang yang sudah tidak memberikan nilai kebahagian kepada pemiliknya, dan kemudian merapikan barang-barang yang tersisa ke dalam storage-storage dengan metode yang disebut Konmari. Reality show tersebut menarik minat saya untuk memperhatikannya paling tidak selama lima belas menit. Melihat reality show tersebut memberikan perasaan senang dan puas, mengingat kegiatan berbenah adalah salah satu favorit saya.
Hari itu informasi baru mengenai metode konmari yang berkaitan dengan gaya hidup minimalis saya dapatkan. Informasi tersebut saat itu menjadi semacam asupan validasi bagi saya terhadap kebiasaan berbenah saya yang mungkin cukup menjengkelkan untuk keluarga saya, yaitu senantiasa menyisihkan barang yang saya anggap tidak terpakai lagi untuk dibuang ke tempat sampah. Mungkin hampir tiga puluh persen barang di rumah sudah saya junk ke tempat sampah terhitung semenjak periode berbenah saya di masa SMA sampai dengan saat ini. Ayah saya merupakan seorang yang senang mengoleksi barang kenangan, sementara Ibu saya merupakan seorang yang senang mempersiapkan barang untuk berjaga-jaga di depan. Lalu saya adalah orang yang paling senang membuang barang yang saya kira sudah tidak digunakan lagi 😁. Maka terjadilah perang dunia setiap saya mensortir barang untuk dibuang setiap minggunya. Lalu adanya reality show ini memberikan pembenaran bagi saya terhadap tindakan saya yang menjengkelkan orang-orang dirumah, dengan kegirangan saya sampaikan informasi tersebut kepada penghuni rumah, walaupun tentu saja mereka belum bisa menerimanya 😁.
Sekian waktu berlalu, saya masih berbenah rumah seperti biasanya, namun saya mulai melupakan Marrie Kondo. Setahun kemudian saya dipertemukan kembali dengan konsep tersebut ketika saya melewati salah satu rak di Gramedia. “The Life-Changing Magic of Tdying Up” karya Marrie Kondo, membawa saya kembali mengingat informasi yang saya dapatkan setahun yang sebelumnya. Saya memutuskan untuk membeli buku tersebut, membacanya, dan kemudian mulai mencari tau tentang metode konmari dan gaya hidup minimalis itu sendiri dari sumber-sumber yang lain. Saat itu sudah mulai bermunculan akun Instagram, beberapa podcast di Spotify, serta channel Youtube yang khusus membahas tentang minimalism. Saya mulai memperhatikan sekitar. Saya dapatkan satu contoh dekat yang secara tidak langsung sudah menerapkan beberapa konsep minimalis dalam penataan rumah, yaitu Kakek saya. Saya sangat mengapresiasi betapa Kakek dan Nenek saya sangat selektif dalam menata rumahnya. Mereka membakar lemari kayu yang sudah rusak, menjual alat-alat bekas di tukang kara, serta hanya mempertahankan barang yang masih bernilai guna dan berkondisi baik. Jelas saja Kakek dan Nenek saya terlihat tidak harus repot-repot berbenah setiap hari, toh barang-barang sudah diletakkan pada tempat yang tepat, dan hanya terdapat barang yang diperlukan dan berkondisi baik saja di rumahnya. Semakin sedikit barang maka semakin sedikit jumlah tenaga dan waktu yang diperlukan untuk berbenah, semakin fokus dalam melakukan pemeliharaan dan perawatan.
Seiring berjalannya waktu, keluarga saya mulai tertular dengan metode berbenah yang saya gunakan. Dimulai dari Ibu saya yang mulai mengajak saya untuk melakukan decluttering terhadap pakaian yang sudah tidak terpakai. Sampai dengan Ayah saya yang sudah mulai bisa menerima cara berbenah saya meskipun harus mendeclutter barang-barang yang bernilai kenangan untuknya.
Saat ini saya dan suami menempati rumah tinggal yang berbeda dengan orang tua. Saat melakukan pindahan pertama kali, kami harus membeli beberapa barang baru dan memanfaatkan barang yang sudah ada untuk ditempatkan di rumah kami. Kami menerapkan konsep minimalis dalam proses pengisian barang-barang rumah. Dimulai dari membuat daftar barang-barang yang akan menempati rumah, kami benar-benar memastikan bahwa barang tersebut pasti memiliki fungsi penting dan pasti akan digunakan serta memiliki spesifikasi sesuai dengan yang kami butuhkan. Selain daripada itu, kami memastikan apakah barang-barang tersebut bisa ditempatkan dengan rapi di storage-storage yang tersedia, serta memastikan layout penempatan barang besar dan barang elektronik agar terlihat nyaman dipandang. Dalam melakukan pembelian barang, kami memastikan bahwa kami tidak memiliki barang dengan fungsi serupa. Serta memastikan spesifikasi barang sesuai dengan kebutuhan, tidak berlebih dan tidak berkurang. Dengan melakukan proses tersebut, kami merasa mendapatkan banyak manfaat. Dimulai dari barang yang dimiliki seluruhnya diberdayakan dalam aktivitas sehari-hari, meminimalisir ongkos pembelian, serta kemudahan dalam penataan dan perawatan.
Saya sangat bersyukur saat ini saya jadi memiliki banyak waktu luang dikarenakan saya hanya memerlukan sedikit waktu untuk menata rumah dalam sehari. Saya hanya perlu meluangkan waktu lima belas menit untuk membersihkan dapur setelah memasak, waktu sepuluh menit merapikan tempat tidur di pagi hari, waktu lima menit untuk merapikan ruang ganti, serta lima belas menit untuk menyapu dan mengepel rumah. Hal ini adalah keuntungan yang saya terima dari menerapkan konsep minimalis di rumah. Begitupun suami saya menjadi lebih mudah dalam menemukan barang-barangnya karena kami sudah menentukan semenjak awal penempatan barang di storage berdasarkan dengan kategorinya.
Dalam proses selanjutnya, saya perlu konsisten dalam menjalankan konsep minimalis di rumah. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah, menyeleksi pembelian barang-barang di kemudian hari. Saya perlu memastikan urgensitas barang, serta memikirkan dimana harus menyimpan barang-barang tersebut. Proses pemikiran minimalis ini sangat membantu saya dan suami untuk mencegah keinginan impulsif untuk membeli sesuatu, serta membantu kami dalam mengkontrol pengeluaran.
Penerapan gaya hidup minimalis tidak terbatas hanya pada penataan rumah saja. Jauh daripada itu, saya mendapatkan bahwa gaya hidup minimalis dapat diterapkan dalam proses pemikiran, pemilihan gaya hidup, pergaulan sehari-hari, penggunaan sosial media, konsumsi informasi, serta perencanaan keuangan keluarga. Konsep minimalis membawa kita kepada penyederhanaan kehidupan. Melatih kita untuk memilah hal-hal yang diperlukan dengan yang tidak, hal-hal yang memberikan kebahagian dengan yang tidak. Mengajak kita untuk menjalankan hidup dengan sederhana dan berfokus kepada hal-hal yang memberikan rasa bahagia untuk kehidupan kita. Berlatih untuk melepaskan hal-hal yang sudah tidak berguna dan memberikan dampak ketidaknyamanan dalam kehidupan, serta berlatih mengelola diri terhadap keinginan-keinginan impulsif yang kebanyakan didorong oleh keinginan untuk mengikuti tren. Hal ini jauh memberikan saya kebebasan, dan mengurangi beban dalam berkehidupan, serta memberikan saya waktu lebih banyak untuk mempererat hubungan dengan keluarga dan pasangan terkasih.