Setelah dinas yang lumayan panjang di Kupang, awalnya saya ingin melanjutkan perjalanan ke Rote sendirian. Sempat bertanya ke beberapa teman yang tinggal di daerah sana, mereka tidak menyarankan saya untuk pergi ke Rote karena angin kencang dan kerap kali hujan besar. Berbekal keinginan pergi sendirian ke suatu tempat, kemudian saya berpikir, daerah mana ya yang belum pernah saya kunjungi dan sepertinya seru untuk dijajaki sendirian? Sehabis membuka tiktok dan instagram, akhirnya saya menemukan jawabannya: Lombok! Saya belum pernah ke Lombok, dan di sana ada banyak sekali hal yang bisa saya eksplor; ada laut, gunung, goa, bukit, dan banyak lagi. Saya pikir, oke, solo trip kali ini saya pilih Lombok!
Saya merencanakan trip tersebut dengan super dadakan. Saya baru pesan hotel h-2, saya memutuskan mau ke mana saja juga di h-2 itu. Intinya, semakin darderdor semakin seru wkwkwkwkwkw.
Dari Kupang, saya berangkat jam 6 pagi dan sampai di Lombok jam 11 siang dengan transit sebentar di Surabaya. Dari bandara saya langsung berangkat ke Pelabuhan Bangsal karena saya langsung menginap 2 hari di Gili Trawangan. Sampai di pelabuhan, saya memilih menggunakan public boat seharga 23 ribu saja tapi sistem berangkatnya kayak angkot jaman dulu, harus nunggu penuh baru bisa jalan. Sempat menunggu kurang lebih 15 menit lalu menyebranglah saya ke Gili Trawangan. Cepet banget, cuma 20 menitan aja ternyata.
Sesampainya di Pelabuhan Gili saya langsung ditawari banyak hal oleh orang warlok sana; penginapan, sepeda, motor listrik, dan one day trip snorkeling ke Gili Air dan Gili Meno. Saya cuma tertarik untuk mencoba one day trip itu, jadilah saya berhenti dan mendaftarkan diri untuk kegiatan snorkeling tersebut buat keesokan harinya. Murah sekali, harganya 150 ribu aja untuk 20 peserta. Selesai mendaftar, saya jalan kaki ke penginapan. Tidak begitu jauh, hanya 10 menit dari Pelabuhan Bangsal. Saya pikir, ah itung-itung latihan sebelum saya naik bukit, jadi saya memutuskan untuk berjalan kaki saja selama di Gili Trawangan.
Setelah sampai di penginapan yang cukup unik karena kamar mandinya yang outdoor (saya iseng memilih yang outdoor karena belum pernah), saya mencoba berjalan-jalan ke sekitar untuk bekerja sembari menunggu sunset. Sampailah saya di sebuah restoran yang, menurut saya, overpriced buanget dan rasanya biasa aja tapi pemandangannya langsung menghadap ke laut. Jadinya saya kerja dan meeting dengan perasaan tidak begitu mumet karena laut yang biru ada di depan mata saya.
Saya selesai meeting jam 5 sore, dan baru saja saya mau pergi ke Sunset View Point, tiba-tiba hujan deras. Lama sekali. Gagal sudah rencana saya melihat sunset karena hujannya baru berhenti sekitar pukul 7 malam. Akhirnya saya hanya jalan-jalan biasa sambil mencari makan malam. Tapi, Gili ini memang agak unik, sepertinya sedikit sekali makanan dengan harga yang normal. Mungkin karena pengunjungnya kebanyakan bule, jadi rata-rata yang dijual hanya itu-itu saja. Akhirnya hari itu saya pulang ke penginapan tanpa makan malam.
Besok paginya, jam 9 pagi saya sudah standby di lokasi keberangkatan one day trip snorkeling ke Gili Air dan Gili Meno. Rombongan kami ada 20 orang, dan ketika duduk di kapal, saya berkenalan dengan Jamie dari New Zealand dan Okta dari Lampung yang juga sama-sama bepergian sendirian. Setelah itu saya berkenalan dengan 3 orang laki-laki yang ceritanya sedang road trip ke beberapa daerah, saya lupa namanya, tapi saya ingat satu orang yang berumur 19 tahun dipanggil Cipung wkwkwkwk.
Tidak ada yang begitu spesial kecuali melihat kura-kura yang sangat besar, foto di patung dasar laut yang terkenal itu tapi ketendang banyak orang karena rebutan foto, dan liat bayi penyu terus makan siang yang juga overpriced sama Okta dan 3 orang anak EO itu. Sorenya, kami berpisah dan saya lanjut melihat sunset ke Sunset View Point. Beda dari hari sebelumnya, hari itu cerah dan saya bisa melihat sunset dengan sangaaaat indah. Dengan pemandangan kuda dan berbagai macam manusia entah dari mana, saya bisa melihat matahari tenggelam dengan jelas dan menyaksikan langit berubah warna menjadi oranye kemerahan dan kekuningan. Bagus betul ya Allah.
Setelah itu saya janjian dengan Okta untuk makan sate rembiga. Nah, harganya cukup normal tetapi rasanya josssss. Akhirnya saya menemukan makanan enak di Gili Trawangan. Sehabis makan kita fota-foto sebentar dan masuk ke salah satu kafe yang musiknya ajeb2 wwkwkwkwkwkw (padahal semuanya mostly juga seperti itu). Saya kenalan sama Raden, sama om2 lawyer dan sama mas2 yang lagi S2 di Unram tapi keknya semangat betul ngajak saya diskusi pas tau kalau saya lulusan Kajian Gender. Saya nanggepin secukupnya aja karena males bangeeeeet, masa lagi liburan diajak diskusi teoritis? Sungguh bikin pening. Kami di situ cuma sampai jam 11 malam dan kami pamit pulang karena besok pagi harus sudah menyeberang kembali ke Lombok. Okta bilang dia mau nebeng saya untuk mengitari Lombok Tengah besok hari.
Esoknya, saya dan Okta janjian jam 9 pagi untuk menyeberang ke Lombok. Kami sampai kembali di Pelabuhan Bangsal pukul 10 pagi dan langsung ketemu sama si penyewa mobil. Saya memutuskan untuk menyewa mobil karena setelah saya cari tahu sepertinya akan lebih mudah dan aman kalau saya mengitari Lombok dengan mobil. Kata teman saya, Lombok sepi sekali kalau malam yang semakin memantapkan saya untuk menyewa mobil saja. Mobil yang saya sewa adalah Brio warna merah, masih mulus betullll, mesinnya juga uenak, rasanya pingin saya bawa kabur aja ke Jakarta huahahahaha.
Destinasi pertama saya setelah dari Bangsal adalah Gua Bangkong, waktu tempuhnya kurang lebih 2 jam dari Bangsal. Sesampainya di sana kami kenalan sama yang menjadi Guide kami untuk menyusuri Gua, namanya Petir tapi anaknya obsessed banget buat jadi anak Jakarta, setiap kalimat yang ia keluarkan pasti diakhiri dengan Anjayyyy~ sampe akhirnya kita manggil dia Anjay aja wkwkwkwkkw. Kami tunggu sekitar 20 menitan untuk bisa masuk ke Gua supaya dapat cahaya yang bagus untuk foto. Betul aja, pas kami masuk, selain baunya yang menyengat karena Gua tersebut dihuni oleh banyak sekali kelelawar, cahaya yang masuk ke Gua tersebut bagus buangeeet, macem foto-foto yang ada cahaya ilahinya gitu wkwkwkwk. Si anjay yang dengan semangat fotoin kita sampe kita puas. Setelah menutup pertemuan itu dengan dikenalin sama empunya Gua, kami pamit ke destinasi selanjutnya.
Setelah itu kami menuju ke Tanjung Aan dan Bukit Merese, keduanya sebelahan. Sampai di sana, rame sekaliiiiiiiiiiiiiii tapi Tanjung Aan airnya super biru sih dan mantap pemandangannya. Di Pantai hanya foto sebentar aja lalu kami menanjak ke Bukit Merese. Bener aja, sesampainya di Bukit isinya juga cuma lautan manusia. Kayak pasar. Dan sayangnya, gak ada sunset huhuhuhu. Jadinya kita duduk sampai sekitar jam 7 malam kemudian langsung pulang.
Dan valid sekali kayak yang teman saya bilang, Lombok kalau malam sepinya bukan maiiiiin. Gelap banget juga. Lucunya lagi, tidak ada tukang makanan di pinggiran jalan. Tidak seperti di Jakarta atau Bandung, rasanya orang-orang Lombok ni apa pada puasa ya kalau malam? Si Okta sudah naik asam lambungnya, hingga akhirnya kami menemukan sate di antah berantah. Yaudah, makan saja daripada kita mual karena dari pagi cuma makan roti aja sama kopi. Okta makan sate, nasi, dan ayam geprek karena pas sekali di depan tukang sate ada tukang ayam geprek. Saya cuma makan sate aja 15 tusuk pake lontong.
Karena malam itu saya menginap di Lombok Timur sementara Okta menginap di Mataram, akhirnya kami berpisah di tengah. Namun, seperti yang sudah kami ekspektasikan, sulit sekali transportasi umum di Lombok kalau malam. Gojek tidak ada, opang tidak ada, dan akhirnya Okta harus bertanya kesana kemari untuk menebeng orang yang akan ke Mataram. Untung saja ada, dan Okta membayar dengan harga seperti di Gojek. Orangnya mau, saya melanjutkan perjalanan ke Lombok Timur sendirian.
Saya sampai di penginapan jam 10 malam dan langsung istirahat. Esoknya, jam 7 pagi saya sudah berangkat karena saya akan ke Sembalun dan mendaki Bukit Anak Dara! Sudah siap-siap selama di perjalanan karena teman saya bilang, perjalanan ke Sembalun sangat memanjakan mata. Bener aja, setelah melewati hutan-hutan, jalan kecil, saya melihat pemandangan yang… subhanallah betul. Saya melihat Gunung Rinjani dan bukit-bukitnya di sepanjang jalan. Ada beberapa momen saya menitikkan air mata, karena… aduh indah sekali pemandangan ini. Allah baikkkk banget sama saya. Walaupun jalurnya metal banget berkelok-kelok menanjak dan menurun, tapi worth it dengan pemandangan seindah itu.
Pendakian saya hari itu ditemani oleh Ferdi, yang saya kenal dari instagram karena rekomendasi dari orang di tiktok (bingung kan, sama wkwkwkwk). Intinya, Ferdi ini warlok Sembalun yang tinggal di kaki gunung Rinjani. Saya kenalan dan saya jemput dia di depan gangnya.
Lalu, Ferdi menemani saya menanjak. Kayanya Ferdi juga cape menemani saya karena kemampuan mendaki saya yang sudah semakin jompo wkakakakak. Terakhir saya naik gunung tuh tahun 2017, setelah itu saya tidak pernah mendaki yang serumit itu lagi. Anak Dara ini Bukit, tapi treknya WOWWWW benar-benar WOWWW bonusnya sedikit sekali dan kebanyakan tanjakan semua. Di tengah jalan kami bertemu 2 anak SMK yang lagi bolos sekolah (keren kan bolosnya naik bukit) dan sempet minta makan sama rombongan kakak-kakak yang lagi nanjak juga dari Lombok Tengah. Saya sampai di Pos 2 yakni Tanjakan Cinta dengan waktu tempuh 2,5 jam. Lagi-lagi yang saya lihat di depan mata benar-benar tidak mengecewakan. Sepanjang menanjak itu, selain mengeluh dan bertanya kapan sampai, saya juga kerap kali mengagumi ciptaan Tuhan.
Ferdi bertanya apakah mau melanjutkan ke puncak? Tapi sepertinya kabut semakin tebal jadinya kami tidak melanjutkan ke puncak dan langsung turun saja. Di perjalanan itu saya tahu Ferdi, si warlok nyentrik berambut pink yang berusia 23 tahun itu hidup sendirian. Ditinggal orangtua. Tanpa saudara. Rasanya kayak cerita di film tapi ya memang cerita di film kan diambil dari kisah nyata. Ferdi hanya salah satunya aja yang kebetulan saya temui. Setelah turun selama 1,5 jam, saya diajak Ferdi nongkrong di Balenta Kopi dengan pemandangan Gunung Rinjani. Kami cerita-cerita, lalu saya pamit pulang.
Hari itu saya pulang ke hotel pukul 6 sore dan langsung istirahat. Besoknya saya tidak melakukan apa-apa karena langsung pulang ke Jakarta.
Highlight dari Solo Trip saya kali ini adalah, senang sekali saya bertemu manusia-manusia unik nan seru setiap harinya. Senang sekali bisa mengisi penuh baterai ekstrovert saya. Senang sekali bisa ke tempat-tempat baru, mendengarkan cerita baru, memikirkan hal-hal baru, dan punya pengalaman baru dengan semakin mengenal diri saya.
Sepertinya saya akan terus melakukan Solo Trip ini setiap tahunnya. Cant wait!