Bersyukur dengan apa yang di dapatkan sekarang, toh rezeki itu juga banyak bentuknya. tanpa kita sadari rezeki itu selalu mengiringi kita dimanapun dan kapanpun.
Jadi Jangan lupa bersyukur.
Sade Olutola

Product Placement
Show & Tell
trying on a metaphor
d e v o n
Peter Solarz

Andulka

blake kathryn
tumblr dot com

shark vs the universe
KIROKAZE

@theartofmadeline

No title available
Xuebing Du
cherry valley forever
Mike Driver
RMH

PR's Tumblrdome
Alisa U Zemlji Chuda

pixel skylines
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Sweden

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Argentina
seen from South Korea

seen from Canada

seen from United States
seen from Brazil
seen from Germany

seen from Sri Lanka

seen from Malaysia

seen from Mexico

seen from Germany

seen from United States

seen from Germany
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
@chiopyo
Bersyukur dengan apa yang di dapatkan sekarang, toh rezeki itu juga banyak bentuknya. tanpa kita sadari rezeki itu selalu mengiringi kita dimanapun dan kapanpun.
Jadi Jangan lupa bersyukur.
Aku pikir aku itu payah dan tidak berguna, tidak seperti orang lain yang lebih sukses dan banyak hal yang dapat ia capai. ternyata hal yang aku pikirkan itu salah. aku hanya kurang bersyukur dengan apa yang aku miliki sekarang.
Menikah itu nambah masalah
Menuju lima tahun pernikahan, tau-tau sudah mau berempat. Begitu cepat sekali waktu berlalu.
Dulu sebelum menikah, ada begitu banyak sekali kekhawatiran sehingga bisa mikir beribu kali untuk memutuskan menikah.
Memang benar kata seorang kawan "menikah itu nambah masalah"
Tapi ketenangannya juga bertambah, keberkahannya bertambah, rasa syukurnya bertambah dan kebahagiaannya pun bertambah.
Kadang bingung, waktu masih sendiri keresahannya banyak banget. Kok setelah menikah engga tau mau meresahkan apa lagi.
Mikirnya makin sederhana; jalani, jalani, jalani. Udah cuma gitu aja.
Yang mencukupi Allah, kenapa jadi kita yang bingung.
Satu ditambah satu logika manusia jawabannya dua. Tapi matematikanya Allah, jawabannya tak terhingga.
Memang benar, banyak tidak masuk akalnya. Tau-tau ada, tau-tau cukup, tau-tau bisa, tau-tau mampu melewatinya.
Kalau ada yang bilang menikah itu melelahkan, iya memang engga salah. Betul melelahkan.
Tapi ketika sudah sampai di rumah, capeknya hilang dan lupa sama lelahnya.
Menikah itu menjalani kesadaran.
Sadar sama-sama saling membutuhkan. Sadar sama-sama punya kekurangan. Sadar sama-sama punya kesalahan.
Kuncinya, jangan keluar jalur.
Ibarat melakukan sebuah perjalanan. Jika suami itu sopir, fokus dan pegang kendali. Karena penumpang di belakang engga peduli ngantuknya kamu.
Mereka cuma mau tau sampai di tujuan. Melencengnya kamu sana sini, membahayakan mereka.
Kamu ke luar jalur, celaka mereka.
Begitupun penumpang, tetap tenang. Jangan melompat atau pindah kendaraan lain, karena ada kendaraan yang lebih bagus.
Karena percuma sopir sampai di tujuan sendiri.
Dan belum tentu juga dengan pindah kendaraan yang lebih bagus, bisa bikin kamu lebih cepat sampai di tujuanmu.
Iya kalau sampai, kalau malah tersesat?
Karena tujuannya dari menikah ya cuma satu, yaitu membawa pernikahanmu selamat.
—ibnufir
Kamu juga perlu untuk di bahagiakan tidak melulu tentang orang lain.
Kita tidak bisa menyenangkan semua orang, pasti akan selalu ada orang yang tidak suka dengan kita. Tapi apakah kita harus memikirkannya? Ku rasa tidak, yang harus kita lakukan adalah terus berbuat baik dan bahagiakan orang yang memang patut untuk di bahagiakan.
Jangan khawatir aku baik-baik saja, setelah kau tinggalkan luka yang teramat dalam.
Kok ada yaa orang-orang yang lempar batu sembunyi tangan. Lain kali kepalanya coba dilempar pake batu biar tau rasa. Goblok banget dah, entar orang lain lagi yang disalahin. Yang ngelempar siapa yang kena salahnya siapa.
Dari titik 0 kita berangkat dan di titik 0 pula kita akan kembali.
Tulisan yang paling bagus itu adalah tulis yang memang dari hatimu maka akan sampai pula ke hati yang membacanya.
Tiap kali selalu minta perhatian dan harus seperti ini itu, tapi diri sendiri hanya bisa menuntut tidak mau merubah sesuatu, bagaimana semuanya bisa berjalan dengan seimbang dan beriringan jika satu dengan yang lain hanya saling menuntut.
Tak semua yang kita rasakan perlu di luapkan bukan? Ada yang perlu diungkapkan, ada pula yang perlu disembunyikan. Ada yang boleh orang lain tau, ada pula yang harus kita sendiri yang tau.
Mungkin aku terlalu mengada-ada menganggap diriku sebagai korban yang kau sakiti dan menganggap dirimu seperti penjahat yang teramat kejamnya.
Mungkin di posisi mu yang menjadi korban adalah kamu dan aku yang menjadi penjahatnya.
Mungkin di setiap sisi, kita menganggap diri kita sebagai korban dan orang lain sebagai penjahatnya.
Ingin rasanya aku memperbaiki semuanya seperti tidak terjadi apa-apa, berbincang seperti biasa-biasa saja, dan tertawa bersama, tapi kita malah memilih jalan seperti seseorang tak saling kenal.
Mungkin memang seharusnya seperti ini yaaa, kita yang tak saling sapa, berbicara dan saling kontak.
Selamat atas pernikahanmu semoga kamu hidup bahagia dengan pasanganmu. sekarang kita tau, kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Kita memang dijodohkan untuk bertemu tapi tidak berjodoh untuk hidup bersama. Memang itu jalan yang memang harus di tempuh, mungkin memang sudah takdirnya, bukan begitu? Sekali lagi selamat yaaaa.
Dari aku yang dulu pernahmengisi hari-harimu.
Apa yang ingin kamu buktikan? Kekayaan yang kamu miliki atau sebuah hal yang kamu dapatkan dengan susah payah.
Bukan masalah dengan apa yang hari ini kau pilih, lebih jauh dari itu, semua akan kembali pada daya tahan kita terhadap berbagai guncangan yang mungkin muncul di tengah jalan.
Smua pilihan yang kita ambil, baik itu sesuai dengan rencana ataupun tidak, akan selalu ada masalah dan situasi pelik di dalamnya.
Saat itu datang, aku harap kita semua bisa bertahan, jangan pernah hancur kala diterpa ombak. Jangan pernah kehilangan tujuan kala kabut mengaburkan pandangan.
-Cakralawa
Mereka bilang kamu tak berguna, tapi bagiku kamu itu segalanya.
Merasa salah dalam memilih adalah hal yang wajar dialami oleh manusia. Karena dalam hidup, manusia di kelilingi oleh berbagai pilihan yang akan bermuara di tempat yang berbeda.
Tetapi ketika penyesalan itu kian berlarut, sudah seharusnya kita berpikir, “Apakah rencana manusia lebih baik daripada rencana Tuhan yang sudah menuntun kita ke jalan ini?”
-Cakrawala