Secangkir Macchiato Dahlia
Aku adalah seorang anak tunggal dari kedua orang tua yang sangat menyayangiku. Namaku Dinda. Meskipun tunggal, sejak kecil aku sudah dibiasakan hidup mandiri. Bahkan sejak SMA aku sudah merantau jauh dari orang tua.
Pukul empat belas. Terik matahari terasa sangat menyengat di kota yang sebenarnya sejuk ini. Seorang gadis remaja melangkahkan kaki dengan riang menuju ke arahku. Namanya Dahlia. Rambutnya yang dikuncir kuda bergoyang-goyang penuh semangat, dan jangan lupakan sesungging senyum yang tak pernah lepas dari wajah ayunya.
“Dari tadi, ya? Maaf banget, angkotnya lama.” Katanya sambil menarik bangku di depanku dengan wajah menyesal.
“Baru setengah jam kok, Lia.” Jawabku singkat.
Dahlia yang biasa kupanggil Lia menyadari ketidakberesan di dalam diriku. Setelah memesan menu andalannya, ia memindahkan posisi duduknya di sebelahku. Seperti biasa, Dahlia lebih memilih diam dan memperhatikanku tiap kali aku terlihat memiliki masalah. Sangat berbeda dengan teman-temanku yang lain yang biasanya menghujaniku dengan ribuan pertanyaan. Bukannya menolong, orang-orang seperti itu justru membuatku semakin pusing. Terkecuali Dahlia. Dalam diamnya, mata Dahlia seolah berbicara dan mencoba menerka-nerka apa yang sedang terjadi padaku.
Dahlia tidak seperti gadis remaja pada umumnya. Di usianya yang baru menginjak enam belas tahun, ia tergolong dewasa dan cerdas. Aku bahkan tidak menemukan kelemahan Dahlia dalam pelajaran selain fisiknya yang tidak kuat untuk berolahraga. Perkenalanku dengannya yang belum genap satu tahun telah mengantarkan kami pada sebuah persahabatan yang hampir tak bisa dilepaskan. Aku pertama kali mengenalnya di hari pertama masuk SMA, tepatnya pada saat MOS. Kami disatukan di dalam gugus yang sama yaitu Gugus Merah. Sejak awal perkenalan, aku sudah yakin kami akan berteman baik.
Lima belas menit berlalu saat seorang pelayan mengantarkan pesanan. Selama lima belas menit juga belum ada pembicaraan berarti antara aku dan Dahlia. Ia masih terdiam membiarkanku asyik dengan pikiranku sendiri. Tentang Ibu, Bapak, juga Kalila.
“Jadi, kenapa, Neng?” Tanya Dahlia yang biasa memanggilku Neng.
“Udah dua hari ini Bapak gak nanya-nanya kabar aku. Kamu tahu, kan, Lia, biasanya setiap hari Bapak pasti nanya, lewat WhatsApp, atau telepon langsung.” Keluhku.
Dahlia memperhatikanku dengan serius sambil sesekali menganggukkan kepalanya.
“Gara-gara ada Kalila di rumah nih, Bapak sama Ibu jadi kayak gini. Udah berasa anak sendiri aja. Aku yang beneran anaknya malah kayak dilupain.” Lanjutku lagi.
Lagi-lagi Dahlia menganggukkan kepalanya.
“Sedih banget, Lia. Mereka kayak nggak ada perhatian lagi ke aku. Semua perhatian mereka sekarang tuh cuma Buat Kalila.” Air mataku perlahan menetes.
Dahlia terdiam. Ia menyesap Macchiatonya sambil terus memandangiku. Matanya seolah memaksaku untuk terus bercerita dan meluapkan kesedihanku, tapi aku balik terdiam. Hanya suara isakan kecil yang terdengar.
“Jangan nangis gitu, ah, Neng. Mungkin Bapak lagi sIbuk banget, makannya nggak sempat ngehuBungin kamu. Tapi Ibu mah setiap hari juga nanya, kan?” Dahlia mencoba menghiburku.
“Ibu sih emang setiap waktu juga ngehubungin aku. Tapi kan tetap aja beda, Sesibuk-sibuknya orang tua, mana ada sih yang nanya kabar anaknya aja gak sempat? Sibuk banget main sama Kalila kali, ya? Aku sedih banget, Lia.” Kataku pelan dalam isakan yang makin jelas terdengar.
Semenjak kakak sepupuku yang merupakan mamanya Kalila kembali bekerja, anaknya yang masih berusia dua tahun itu hampir setiap hari dititipkan di rumahku. Kalila memang sedang lucu-lucunya. Tak kupungkiri, aku pun sangat sayang padanya. Meskipun terkadang aku merasa tersisihkan karena Kalila lah yang lebih sering bersama Bapak dan Ibu. Hadirnya Kalila di keluarga kecilku juga membuat semua perhatian dan kasih sayang orang tuaku di rumah yang tadinya hanya milikku, kini terbagi bahkan hampir semuanya tercurahkan pada Kalila. Aku iri. Sangat iri.
“Gini, deh, Neng. Kamu tahu nggak, kenapa aku suka banget Macchiato?” Tanya Dahlia.
Aku menggeleng dan mulai menebak-nebak analogi apa lagi yang akan Dahlia katakan.
“Macchiato emang pahit banget, tapi masih banyak kopi-kopi lainnya yang jauh lebih pahit. Tinggal gimana cara kita supaya kopi-kopi itu nggak sepahit aslinya, dengan nambahin gula. Kita sendiri yang ngatur seberapa banyak gula yang mau kita campur ke dalam kopi. Got it?” Kata Dahlia tersenyum.
Aku terdiam. Mencoba mendalami analogi Macchiato Dahlia, lalu menggeleng.
“Aku tahu pasti sedih banget saat ada hal yang biasa terjadi tiba-tiba hilang, gak ada lagi. Aku juga pernah ngerasain kayak gitu. Ibarat Macchiato dan kopi-kopi yang lebih pahit lainnya, pahitnya kejadian yang aku alami belum ada apa-apanya dibanding kejadian-kejadian sedih lainnya di luar sana. Tinggal gimana aku, Macchiato itu mau dicampur gula jenis apa.” Jelas Dahlia.
“Terus?” Tanyaku masih tidak mengerti.
“Nah, dalam hal ini, aku coba ngelupain kesedihan-kesedihan aku dengan nyari kebahagiaan lain yang seharusnya aku dapat. Dari situ aku paham, aku harus cari solusi supaya Macchiato-Macchiato lain yang nanti bakal aku minum gak sepahit yang pernah aku minum sebelumnya. Ngerti belum, Neng?” Dahlia masih dengan sabar menjelaskan.
Aku mengangguk. “Jadi, aku harus gimana, Lia?”
Dahlia hanya tersenyum dan pamit pulang duluan karena ia harus les Bahasa Inggris. Aku termenung lagi memikirkan segala cara agar Bapak kembali menghubungi dan menanyakan keadaanku.
Ponselku berdering. Ibu menelepon.
“Assalamu’alaikum, Bu.” Sapaku sambil mengusap sisa air mata yang mulai mengering.
“Wa’alaikumsalam. Teteh lagi dimana?” Tanya Ibu.
“Di Kafe Moris, Bu. Tadi bareng Dahlia juga, tapi Lia barusan pulang.” Jawabku.
“Teteh suaranya kenapa? Habis nangis?” Tanya Ibu lagi.
Rupanya Ibu menyadari suaraku yang sedikit serak. Tangisku perlahan kembali terdengar. Aku bercerita pada Ibu sambil terus terisak dan berderai air mata. Tentang Bapak yang dua hari ini sama sekali tidak menghubungiku, juga tentang kecemburuanku pada Kalila. Aku sudah tidak peduli pada pelayan kafe yang terus memperhatikanku sejak Dahlia masih di sini.
“Teteh sayang, Kalila kan masih kecil. Masih dua tahun, masih butuh banyak perhatian dari orang-orang sekitar. Masak teteh cemburu sama ponakan sendiri? Teteh tetap anak kesayangan Ibu dan Bapak, gak ada yang lain.” Suara Ibu dari dalam telepon membuat tangisku semakin menjadi.
“Terus, kenapa Bapak gak nanya-nanya teteh, Bu?” Tanyaku penasaran.
“Kata siapa? Bapak tiap hari nanyain teteh kok ke Ibu. Tapi belakangan Bapak sedih, soalnya teteh gak pernah ngehubungin Bapak duluan. Berhubung udah kayak gini, coba deh, teteh chat Bapak. Kalau mau, telepon langsung aja.” Kata Ibu menjelaskan.
Glek. Aku menelan ludah. Sejak aku tinggal jauh dari orang tua, aku memang tidak pernah menghubungi orang tuaku lebih dulu, kecuali untuk meminta pulsa atau uang jajan. Air mataku yang sudah sempat berhenti menetes pun kembali terurai. Setelah mematikan telepon Ibu, kuambil tas dan pulang ke rumah.
Aku langsung mengirim chat melalui WhatsApp ke Bapak. Aku ceritakan kekesalanku dan meminta maaf. Selang beberapa menit, Bapak menelepon dan kami berbaikan setelah tangisku kembali keluar.
Malamnya, aku dapat kabar dari Niko yang juga merupakan saudara jauh Dahlia bahwa Dahlia masuk rumah sakit. Niko bilang penyakitnya kambuh. Aku tahu Dahlia mengidap suatu penyakit, tapi aku tak tahu pasti apa yang dideritanya. Kata Niko, Dahlia harus dirawat setidaknya sepuluh hari.
Aku tersentak. Senin besok sudah mulai Ujian Kenaikan Kelas, itu berarti Dahlia tidak bisa ikut UKK. Aku juga tidak bisa menemui Dahlia di rumah sakit karena sudah larut malam dan tidak ada kendaraan untuk menuju ke sana. Sepanjang malam aku hanya berdo’a agar Allah memberikan keajaiban untuk Dahlia sehingga ia dapat mengikuti UKK esok hari.
Besoknya, Bukan kabar baik yang kudengar. Aku justru mendapat kabar bahwa Dahlia harus dibawa ke rumah sakit di Batam karena rumah sakit di sini tidak sanggup menangani penyakitnya. Kata pihak rumah sakit, kandung kemih Dahlia bermasalah.
Aku semakin sedih. Ocehan Dahlia tentang analogi Macchiato-nya terus terngiang di telingaku. Dahlia akan pergi menjalani perawatan di Batam sampai benar-benar pulih. Aku akan kehilangan seorang sahabat yang paling kusayang untuk waktu yang tak bisa ditentukan. Aku bahkan tak sempat bertemu Dahlia sebelum ia dibawa ke Batam, karena Dahlia dan keluarganya pergi di pagi hari pada hari pertama UKK di sekolahku.
Hari berganti Bulan. Tak terasa sudah empat belas bulan berlalu sejak aku dan Dahlia tidak saling bertemu. Meskipun terpisah oleh jarak yang jauh, kami masih sering berkomunikasi melalui media sosial. Aku tahu perkembangan kesehatan Dahlia, Dahlia pun tahu keadaan teman-teman dan sekolahku.
Sebuah kabar dari Dahlia mengejutkanku. Ia berkata bahwa dirinya sudah benar-benar sehat dan akan kembali ke kotaku. Ia juga berjanji padaku, dirinya akan kembali bersekolah di SMA-ku dengan status adik kelas, karena selama di Batam ia terfokus penuh pada pengobatan dan tidak bersekolah. Aku sangat gembira.
Sehari sebelum hari bahagia itu, aku mendapat telepon dari Niko. Aku yang mengira ia akan memberitahu Dahlia sudah di rumahnya langsung mengangkat ponselku.
“Din, Dahlia udah nggak ada.” Katanya langsung tanpa menyapa terlebih dahulu.
“Apaan, sih? Dahlia bilang besok dia pulang, kok.” Kataku yang masih mengira ia hanya bercanda.
“Dahlia nggak pulang besok, Din. Dia pulang hari ini.” Jelas Niko menekankan kata pulang.
“SERIUS??? Ko, kamu bercanda, kan?” Tanyaku panik dengan tangis tertahan.
“Ngapain sih, orang udah nggak ada dibercandain. Nanti siang jenazahnya datang, kalau mau ikut ke pemakaman, sore nanti ke rumah aja. Udah, gak usah sedih. Dahlia pasti gak mau liat kamu sedih.” Kata Niko menghiburku.
Tanpa ba-bi-bu lagi, aku langsung menuju rumah Dahlia. Ternyata benar, rumah berbendera kuning itu sudah dipenuhi orang. Padahal hari masih siang, jenazah Dahlia bahkan belum sampai di sini. Ah, Dahlia. Begitu banyak orang yang merasa kehilanganmu. Seketika, aku teringat analogi Macchiato Dahlia. Benar, aku harus mencari gula sebanyak mungkin agar Machhiato milikku ini tidak terasa pahit.
Belakangan aku tahu, penyakit yang diderita Dahlia adalah sistitis atau radang kandung kemih yang sudah sangat akut. Sampai jumpa lagi di lain tempat, Dahlia. Terima kasih atas secangkir Macchiato yang takkan pernah habis kuminum, mungkin sampai nanti kita bertemu kembali.