Hai moms and dads, kembali lagi di #SeninBersamaBuku ya. Masih dari buku yang sama dengan kisah sebelumnya, kali ini kita akan membahas bab tentang ibunda Urwah bin Zubair.
Ingatkah kita dengan nama Urwah bin Zubair? Jika belum ingat, membaca salah satu kisah familiar ini mungkin bisa mengingatkan ya…
Kala itu Urwah bin Zubair mengidap penyakit kanker kulit yang menjalar dari kaki hingga ke betis. Kanker itu membuat kakinya lama-kelamaan membusuk. Para tabib sudah kewalahan untuk mengobati sakitnya ini. Karena khawatir penyakitnya akan semakin meluas, maka para tabib menyarankan untuk mengamputasi saja kaki Urwah yang sakit. Urwah bin Zubair pun setuju untuk diamputasi.
Karena proses amputasi sangat menyakitkan, maka para tabib dengan lemah lembut menyarankan Urwah bin Zubair untuk meminum khamr agar tidak merasakan sakit saat diamputasi. Tapi Urwah menolaknya mentah-mentah. Begitupun saat tabib menawarkan untuk di bius, Urwah juga menolak. Lalu tabib menyuruh beberapa orang datang. Mereka diminta memegangi Urwah saat diamputasi. Tapi lagi-lagi Urwah menolak. Lalu ia mengatakan bahwa tabib boleh mengamputasinya saat ia sholat.
Akhirnya proses amputasi dilakukan saat ia sholat. Dipotonglah kakinya pada bagian lutut. Tak sedikitpun Urwah merintih, saking fokusnya ia pada sholatnya. Lalu setelah pengamputasian, para tabib mendidihkan minyak zaitun dan menyiramkan pada bagian yang terpotong. Seketika itu juga Urwah pun jatuh pingsan.
Itulah kisah yang sering kita dengar perihal Urwah bin Zubair. Ya, ia adalah salah seorang tabi'in yang istimewa. Urwah adalah salah satu dari tujuh fuqaha Madinah yang menjadi penasihat pribadi Umar bin Abdul Aziz saat menjabat sebagai gubernur Madinah. Ketujuh fuqaha itu dikenal sebagai orang yang baik ilmunya, zuhud, dan takwa.
Urwah bin Zubair adalah anak dari pasangan orang tua yang juga istimewa. Ayahnya adalah Zubair bin Awwam, pembela Rasulullah dan salah satu dari sepuluh orang yang mendapat kabar gembira akan masuk Surga. Sedangkan ibunya, wanita yang akan kita bahas hari ini, adalah shahabiah Asma’ binti Abu Bakar ash-Shidiq.
Kecerdasan, ketabahan, dan ketakwaan Urwah bin Zubair tentu tak lepas dari sosok yang mendidiknya sedari kecil, yaitu sang ibunda. Ibunda Urwah, yaitu Asma’ binti Abu Bakar adalah seorang shahabiyah yang kita kenal dengan julukan Dzatun Nithaqain atau pemilik dua ikat pinggang. Ia mendapat julukan itu saat Rasulullah akan berhijrah bersama Abu Bakar. keluarga Abu Bakar sedang menyiapkan bekal untuk perjalanan mereka berdua. Tapi mereka tidak memilki tali untuk mengikat kantong makanan. Maka Asma’ segera membelah ikat pinggangnya menjadi dua. Satu untuk dia pakai, dan satu untuk mengikat kantong makanan. Maka ia pun dijuluki pemilik dua ikat pinggang.
Kemudian Rasulullah dan Abu Bakar berangkat ke Gua Tsur dan bermalam selama tiga malam disana. Selama itu pula Asma’ selalu mengantar makanan untuk mereka.
Asma’ adalah perempuan yang sangat pemberani. Dikisahkan bahwa ia berani menghadapi Abu Jahal tanpa rasa takut. Suatu hari Abu Jahal mendatangi rumahnya dan mencari Abu Bakar.
“Demi Allah, aku tak tahu di mana dia,” kata Asma’.
Karena kesal, Abu Jahal langsung menampar pipi Asma’ keras-keras hingga antingnya terlepas, lalu pergi.
Kisah keberanian Asma’ juga di ceritakan bahwa ia adalah orang ke delapan belas yang masuk Islam di Mekkah. Ia hijrah ke Madinah dalam keadaan hamil sembilan bulan. Setibanya di Madinah, ia menjadi muhajir pertama yang melahirkan anaknya di Madinah. Anak itu adalah Abdullah bin Zubair, kakak dari Urwah bin Zubair.
Asma’ binti Abu Bakar juga dikenal sebagai perempuan yang penyantun dan dermawan. Suaminya, Zubair bin Awwam, mengakuinya sendiri dan mengatakan,
“Aku tak pernah melihat wanita yang lebih penyantun dari Aisyah dan Asma’. Namun sifat santun mereka sedikit berbeda. Kalau Aisyah, maka ia mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit, baru setelah terkumpul ia bagi-bagikan. Sedang Asma’ tak pernah menyimpan sesuatu untuk hari esok.”
Jadi Asma’ akan langsung menyedekahkan apa yang ia punya hari itu. Kedermawanan Asma’ juga dikisahkan saat ia menderita sakit, maka ia memerdekakan semua budak yang dimilikinya.
Asma’ binti Abu Bakar meninggal selang tak lama dari terbunuhnya kakak Urwah, yaitu Abdullah bin Zubair. Abdullah bin Zubair dibunuh dengan cara disalib di bukit Tsaniyyatul Wada’ oleh al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqif. Dikisahkan kala itu usia Asma’ telah mencapai 100 tahun, tubuhnya telah renta. Pada hari ketiga setelah dibunuh, jasad Abdullah bin zubair masih digantung di tiang penyaliban. Maka Asma’ mendatangi Hajjaj untuk mengambil jasad putranya. Tapi ia hanya diejek dan diusir oleh Hajjaj. Lalu Asma’ berdoa kepada Alloh agar diberi kesempetan untuk mengurus jenazah putranya itu. Maka Alloh pun mengabulkannya. Asma’ masih diberi kesempatan oleh Alloh untuk memandikan putranya, mengafaninya, memberinya wewangian, menyolatkannya dan menguburkannya.
Itulah sosok Asma’ binti Abu Bakar. Sosok luar biasa yang membentuk seorang Urwah bin Zubair pun menjadi seorang tabi'in yang baik ilmunya, zuhud terhadap dunia, penyantun, dan bertakwa. (dp)