Upaya Menghindari Model Dakwah yang Menimbulkan Kejenuhan: Hadits Riwayat Muslim Nomor 5047
Riska Nur Hasanah
NIM. 04020121062
Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Kelas A2
Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya
Abstrak
Tulisan ini mengkaji tentang upaya seorang da’i untuk menghindari model dakwah yang menimbulkan kejenuhan mad’u-nya. Hal tersebut berlandaskan pada Hadist Riwayat Muslim nomor 5047. Rumusan masalah dalam tulisan ini adalah bagaimana relevansi Hadits Riwayat Muslim nomor 5047 dengan upaya menghindari model dakwah yang menimbulkan kejenuhan. Pembahasan dalam tulisan ini berupa kandungan Hadits Riwayat Muslim nomor 5047 yang memuat upaya menghindari model berdakwah yang dapat menimbulkan kejenuhan mad’u. Di samping itu juga membahas mengenai relevansi Hadits Riwayat Muslim nomor 5047 dengan upaya menghindari model dakwah yang menimbulkan kejenuhan. Terdapat juga hadits-hadits serupa yang membahas upaya menghindari model dakwah yang menimbulkan kejenuhan. Selain itu juga terdapat komparasi Hadits Riwayat Muslim nomor 5047 dengan hadits-hadits yang serupa. Tulisan ini menghasilkan kesimpulan bahwa model dakwah dengan mengupayakan untuk menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan kejenuhan sangatlah dianjurkan untuk da’i dalam menyampaikan dakwahnya, dan hal tersebut memiliki relevansi dengan Hadits Riwayat Muslim nomor 5047.
Kata Kunci: Dakwah, Model Dakwah Tidak Jenuh, Hadits Riwayat Muslim Nomor 5047
Pendahuluan
Aktivitas dakwah sebagai upaya untuk mewujudkan ajaran Islam pada aspek kehidupan manusia merupakan kewajiban bagi seluruh umat Islam. Dakwah yang dilakukan setiap muslim haruslah berkesinambungan, yang mana bertujuan untuk mengubah perilaku manusia berdasarkan wawasan dan perilaku yang benar, yaitu membawa manusia untuk mengabdi kepada Allah semata. Islam merupakan agama dakwah, yang mana Islam tidak memusuhi dan tidak menindas unsur-unsur fitrah. Dakwah dalam definisi amar ma’ruf nahi munkar merupakan syarat mutlak untuk kesempurnaan dan keselamatan hidup dalam bermasyarakat. Hal tersebut merupakan fitrah manusia sebagai makhluk sosial.[1]
Dalam melakukan dakwah, haruslah memilih metode dan cara yang tepat agar dapat mencapai titik keberhasilan dalam berdakwah. Metode berasal dari bahasa Yunani yakni methodos, yang merupakan gabungan dari kata meta yang artinya melalui, mengikuti, sesudah, dan juga kata hodos yang artinya jalan, cara. Sedangkan dalam bahasa Jerman, metode berasal dari kata methodica yang artinya ajaran tentang metode. Selanjutnya, dalam bahasa Arab, metode disebut dengan thariq atau thariqah yang artinya jalan atau cara. Jadi, metode dakwah adalah suatu jalan, cara dan termasuk juga pola, strategi yang ditempuh seorang da’i dalam melaksanakan dakwah.[2]
Model dakwah yang tidak membuat jenuh dan bosan mad’u diperlukan da’i dengan tujuan pesan dakwah tersampaikan dengan baik. Terdapat hadits yang membahas tentang upaya menghindari model dakwah yang menimbulkan kejenuhan, yaitu Hadits Riwayat Muslim nomor 5047. Oleh karena itu, didapatkan rumusan masalah yaitu bagaimana relevansi Hadits Riwayat Muslim nomor 5047 dengan upaya menghindari model dakwah yang menimbulkan kejenuhan.
Teks Hadits Riwayat Muslim Nomor 5047
Artinya: Shahih Muslim 5047: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki’ dan Abu Mu’awiyah. Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dan teks hadits miliknya, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Syaqiq berkata: Kami duduk di dekat pintu Abdullah seraya menantinya, lalu Yazid bin Mu’awiyah An Nakha’i melewati kami, kami berkata padanya: Beritahukan keberadaan kami padanya. Ia masuk, tidak lama kemudian Abdullah keluar lalu berkata: Aku telah diberitahu keberadaan kalian dan tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian kecuali karena aku tidak ingin membuat kalian jemu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengatur (penyampaian) nasehat bagi kami dalam beberapa hari karena khawatir kami jemu. Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al Asyuj telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris. Telah menceritakan kepada kami Minjab bin Al Harits At Taimi telah menceritakan kepada kami ibnu Mushir. Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Ali bin Khaysram keduanya berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Isa bin Yunus. Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan, semuanya dari Al A’masy dengan sanad ini dengan matan serupa. Minjab menambahkan dalam riwayatnya: Dari Ibnu Mushir. Al A’masy berkata: Telah menceritakan kepadaku Amru bin Murrah dari Syaqiq dari Abdullah sepertinya.
Kandungan Hadits Riwayat Muslim Nomor 5047
Hadits Riwayat Muslim nomor 5047 termuat dalam kitab Sifat Hari Kiamat, Surga, dan Neraka bab “Sederhana dalam Memberi Nasihat”. Dalam hadits tersebut mengandung inti bahwasannya sebagai seorang muslim yang memiliki kewajiban untuk berdakwah, sebaiknya mengindari penyampaian pesan yang berlebihan dan membuat jemu, jenuh, dan bosan. Penyampaian pesan dakwah hendaknya dilakukan dengan sederhana dan dengan metode yang menarik.
Relevansi Hadits Riwayat Muslim Nomor 5047 dengan Upaya Menghindari Model Dakwah yang Menimbulkan Kejenuhan
Hadits Riwayat Muslim nomor 5047 menjelaskan tentang menghindari penyampaian pesan dakwah yang dapat membuat jenuh mad’u yang menerimanya. Hal tersebut memiliki korelasi dengan upaya seorang da’i untuk menghindari model dakwah yang dapat menimbulkan kejenuhan mad’u. Penyampaian pesan dakwah dengan sederhana dan tidak berlebihan, tiap kata yang diucapkan da’i dapat menyejukkan hati, serta tiap ucapan yang tidak mengandung unsur caican dan makian merupakan model dakwah yang menarik. Hal tersebut dilakukan semata-mata agar tidak membuat jenuh para mad’u yang menerima pesan dakwah. Model dakwah dengan mengupayakan untuk tidak membuat mad’u jenuh haruslah diterapkan da’i dalam menyampaikan dakwahnya. Dengan demikian, memiliki peluang besar untuk mencapai keberhasilan dalam berdakwah.
Hadits yang Serupa dengan Hadits Riwayat Muslim no. 5047 mengenai Upaya Menghindari Metode Dakwah yang Menimbulkan Kejenuhan
1. Hadits Riwayat Bukhari Nomor 66
Artinya: Shahih Bukhari 66: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf berkata: telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dari Abu Wa’il dari Ibnu Mas’ud berkata: bahwa, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu memilah-milah hari yang tepat bagi kami untuk memberikan nasehat, karena khawatir rasa bosan akan menghinggapi kami.
2. Hadits Riwayat Muslim Nomor 5048
Artinya: Shahih Muslim 5048: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengkhabarkan kepada kami Jarir dari Manshur. Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar, teks hadits miliknya, telah menceritakan kepada kami Fudhail bin Iyadh dari Manshur dari Syaqiq Abu Wa’il berkata: Abdullah menyampaikan nasehat untuk kami setiap hari kamis lalu seseorang berkata padanya: Hai Abu Abdurrahman, kami menyukai penyampaianmu. Kami ingin kau menceritakan kepada kami setiap hari. Abdullah berkata: Tidak ada yang menghalangiku untuk menceritakan kepada kalian selain karena aku tidak ingin membuat kalian jemu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengatur (penyampaian) nasehat pada kami dalam beberapa hari karena tidak mau membuat kami jemu.
3. Hadits Riwayat Tirmidzi Nomor 2782
Artinya: Sunan Tirmidzi 2782: Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dari Abu Wa’il dari Abdullah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kami nasehat pada hari-hari (tertentu) karena khawatir kami jemu.” Abu Isa berkata: Hadits ini hasan shahih. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A’masy telah menceritakan kepadaku Syaqiq bin Salamah dari Abdullah bin Mas’ud seperti hadits di atas.
4. Hadits Riwayat Ahmad Nomor 3400
Artinya: Musnad Ahmad 3400: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, Sulaiman berkata: Aku mendengar Syaqiq berkata: Kami menunggu Abdullah bin Mas’ud keluar dari masjid, lalu Yazid bin Mu’awiyah yakni An Nakha’i datang kepada kami, ia berkata: Lalu ia berkata: Bolehkah aku pergi untuk melihat, bila ia masih berada di tempat itu, mudah-mudahan aku bisa membawa keluar menemui kamu. Lalu ia datang dan berdiri menemui kami seraya berkata: Sungguh aku diberitahu tempat kalian, namun aku tidak datang kepada kalian karena takut membuat kalian bosan. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering menyelangi nasehat dalam beberapa hari karena takut kami bosan.
Takhrij Hadits Riwayat Muslim Nomor 5047 beserta Komparasi dengan Hadits-hadits yang Serupa
1. Profil Sanad Hadits Riwayat Muslim Nomor 5047 dan Hadits-hadits Serupa
a. Profil Sanad Hadits Riwayat Muslim Nomor 5047
b. Profil Sanad Hadits Riwayat Bukhari Nomor 66
c. Profil Sanad Hadits Riwayat Muslim Nomor 5048
d. Profil Sanad Hadits Riwayat Tirmidzi Nomor 2782
e. Profil Sanad Hadits Riwayat Ahmad Nomor 3400
2. Komparasi Hadits Riwayat Muslim Nomor 5047 dengan Hadits-hadits yang Serupa
Kesimpulan
Model dakwah para da’i dengan mengupayakan untuk tidak membuat jemu mad’u yang mendengarkannya, merupakan metode yang tepat untuk dilakukan. Dengan melakukan model dakwah seperti itu, dapat menarik mad’u untuk menyerap pesan-pesan dakwah yang disampaikan. Selain itu, dengan menggunakan metode tersebut dapat dikatakan tidak monoton dan tidak membuat bosan mad’u. Hal tersebut dilakukan untuk menarik dan membangkitkan semangat mad’u dalam mengamalkan ajaran agama Islam. Dengan demikian, dapat tercipta kondisi yang kondusif dalam berdakwah dan juga dapat berpeluang untuk tercapai keberhasilan dalam berdakwah.
Daftar Pustaka
Alimuddin, Nurwahidah. “Konsep Dakwah dalam Islam.” Jurnal Hunafa 4, no. 1 (2007): 73-78.
Aliyudin. “Prinsip-prinsip Metode Dakwah Menurut Al-Qur’an.” Jurnal Ilmu Dakwah 4, no. 15 (2010): 1007-1022.
Catatan Kaki
[1] Nurwahidah Alimuddin, “Konsep Dakwah dalam Islam,” Jurnal Hunafa 4, no. 1 (2007): 73.
[2] Aliyudin, “Prinsip-prinsip Metode Dakwah Menurut Al-Qur’an,” Jurnal Ilmu Dakwah 4, no. 15 (2010): 1014.












