Tanggal 5 Maret kemarin, kebetulan saya kedhapuk untuk menggelar wayang kancil di Balai Budaya Minomartani. Sebuah event regular sebulan sekali, dalam rangka mengenang dan menghormati alamrhum Ki Ledjar Subroto, salah satu maestro wayang kancil.
Untuk kali ini saya mengangkat lakon: Kancil Mbangun Kahyangan. Lakon ini pada awalnya saya buat untuk sekedar menambah khasanah cerita wayang kancil. Namun ternyata dalam perkembangannya, lakon ini mendapat respon positif dari salah satu story teller di Jogja, Pak Bagong Soebarjo, yang menawarkan diri untuk mengisi wayangan ini, dan saya dhapuk menjadi Kyai Semar. Pada saat pementasan, ketika Pak Bagong bermain, terjadi dialog yang cukup dalam, mengkritisi wayang kancil dan perkembangannya.
Pak Bagong Soebardjo sebagai Kyai Semar
Di sisi lain, saya menghadirkan tokoh kartun Spongebob, Patrick, dan Doraemon. pada awalnya ide ini hadir untuk memecah kebekuan sanggit wayang kancil, namun pada akhirnya justru tokoh-tokoh ini bisa menjadi benang merah dalam cerita. Sinopsis dasar yang saya bangun di awal akhirnya berkembang secara organik, mengakomodir proses kreatif para personil yang terlibat di dalamnya. Greget dari pengiring pementasan kelompok karawitan Gangsa Kukila juga turut mewarnai gaya pergelaran wayang kancil ini. Menjadi pergelaran yang serasa lebih “ngenomi”.
Demikianlah sejatinya, proses kreatif itu seperti air. Sebuah cerita yang pada awalnya dimaksudkan untuk mengangkat heroisme tokoh utama, namun justru berkembang menjadi pergelaran yang menyajikan otokritik bagi si tokoh itu sendiri. Seperti apa pergelarannya? Silakan simak melalui link ini:
Selamat menonton. terimakasih.
Pondok Aren, 12 Maret 2018
Wayang Kancil Sebagai Media Oto Kritik Tanggal 5 Maret kemarin, kebetulan saya kedhapuk untuk menggelar wayang kancil di Balai Budaya Minomartani. Sebuah event regular sebulan sekali, dalam rangka mengenang dan menghormati alamrhum Ki Ledjar Subroto, salah satu maestro wayang kancil.