Kalau kamu mengira aku menulis ini karena kamu, maka kamu benar. Ini memang untuk kamu. Hai, apakabar tuan sibuk? Jangan terlalu sibuk, kau tau kan aku tak suka kau terlalu sibuk? Tapi kau tetap saja sibuk. Semenjak pertemuan itu, bayangmu makin kerap muncul dalam benakku. Sekeras apapun aku mencoba menepisnya dengan mencoba sibuk sendiri. Lewat fotomu, aku menerka kehidupan apa yang kau jalani kini. Kau berkumpul dengan orang-orang hebat itu, rapat sampai malam, sibuk promosi buku, keluar kota tiap minggu. Nampaknya kau berhasil menjadi sibuk, sementara aku? Di setiap kesibukanku setengah mati aku cari waktu mengintip linimasa 'tuk cari tahu dibelahan bumi mana seorang "kamu" sedang bersembunyi. Sesekali melihat whatsapp untuk sekadar cari tahu jejakmu. Setengah jam yang lalu, 15 menit yang lalu, bahkan saat online, sama sekali kau tak menyapaku. Kau biarkan pesan yang ku kirim berparaf biru. Terbaca namun tak terbalas. Hei. Aku rindu. Bisakah kita bertemu? - drr sedang rindu kamu.










