Welcome to the other side of me
“Sometimes, we just have to find another side of ourselves.”
Pernyataan itu memang benar adanya. Terkadang, ada rasa jenuh dalam diri saya manakala saya tidak bisa mengekspresikan sebagian dari isi pikiran dan jiwa saya sendiri. Alasannya tak lain karena ketidakbebasan dalam diri. Mengapa saya katakan tidak bebas?
Saat ini, saya, anda, hidup dalam sebuah lingkaran tertentu. Tempat di mana anda tinggal, menjadi saya yang ini, saya yang itu, dengan embel-embel ini itu. Ada semacam label yang ditanamkan dalam diri kita sedari kecil. Keadaan yang sudah mengakar itulah yang kadang membuat saya tidak bebas. Terutama untuk hal pengekspresian diri.
Apa salahnya menunjukkan sisi diri yang sebenarnya?
Well, that is a good question. Harusnya kita jadi diri apa adanya, tak ada sebuah kedok tertentu dalam diri kita. Tapi, yang namanya hidup juga perlu sebuah citra yang mau tidak mau harus dijaga hingga seperti apa citra itu membentuk layaknya keinginan kita.
Di sini, saya hanya ingin menyampaikan sesuatu yang memang sulit untuk saya ungkap di dunia nyata. Dunia dengan sekat nama, identitas, jati diri, atau apalah itu. Saya hanya menginginkan hidup saya dalam cerita-cerita di blog ini menjadi hidup yang memang apa adanya diri saya, tanpa label. Saya ingin mengutarakan pendapat saya tanpa takut dikritisi. Saya ingin bercerita tentang mimpi saya tanpa takut dicela. Saya ingin berekspresi dengan kata-kata.
Ini adalah alter ego buatan saya. Sisi lain dari kehidupan saya yang biasanya hanya berkutat dengan lingkaran yang itu-itu saja. Semoga dengan adanya “identitas baru” yang saya buat, tanpa menghiraukan bagaimana saya sebelumnya menjalani kehidupan, saya bisa berekpresi lebih baik.
Welcome to the other side of me.
*Note: I use a fake name here. But, all the stories here are true that I experience it by myself*












