Anies Baswedan dan Klaim “Saya”
Saya perhatikan Anies Baswedan ini tidak pernah menyebut dirinya di tiap pekerjaan Pemprov DKI. Padahal dia sanggup dan bisa saja mengaku-ngaku. Kemampuan dia menyusun narasi bisa jadi jauh lebih terselubung untuk menyisipkan “Saya”.
Ada dua aktor yang paling sering disebut olehnya. Pertama adalah Pemprov sebagai entitas eksekutif yang komunal. Pemprov berarti berisi seluruh jajaran di dalamnya, tidak hanya seorang Gubernur. Kedua, pekerja, baik dari jajaran pemprov atau jajaran di luar eksekutif yang terlibat. Pekerja, yang jumlahnya ribuan tapi tak mendapatkan panggung dibandingkan elit yang segelintiran. Anies, terlalu sering mengapresiasi aktor yang kedua.
Tidak pernah saya melihat atau mendengar seorang Anies menggunakan kata “Saya” untuk pekerjaan atau hasil tertentu–apalagi sampai mengklaim. Termasuk hari ini, dalam momen krusial di mana bisa saja dia mengklaim hasil kerja. Atau setidaknya berupaya menjadi jagoan sendirian dengan narasi-narasi halus metaforik. Tapi dia tidak lakukan. Saya kesal sendiri sebab rasanya ingin menampar bedebah yang gemar mengklaim sesuatu lalu memunculkan diri seolah hanya dia yang mampu melakukannya.
Dia tidak sempat menyatakan “Saya yang menyelesaikan Tahap I”. Tapi justru berterima kasih kepada seluruh gubernur yang terlibat. Dia tidak sempat selfie dan memamerkannya di sosial media. Tapi dia justru mengapresiasi para pekerja yang jarang diperhatikan oleh para penguasa.
Ketinggian akhlak seorang pemimpin itu tidak muncul dari jargon-jargon. Ketinggian akhlak itu muncul dari jiwa yang benar-benar bekerja untuk rakyat. Tanpa make up, tanpa kepalsuan.
Terima kasih karena mengajarkan saya dan kami cara mengapresiasi.
Sumber foto: klik.
Barakallah fiikum bapak Anies Baswedan, semoga banyak bermunculan pemimpin pemimpin yang tulus membangun Indonesia serta menyikapi hasilnya dengan akhlak yang santun.











