#35. Selamat Berderu, Jurang Baru?
Nada harapan, doa baik atau wishlist sudah berkeliaran sejagat sosmed, mungkin diantara kita juga melakukannya. Baik kok, tidak masalah, silahkan aja. Namun, sudahkah seiring dengan kesiapan dan keberanian untuk menghadapi babak baru dengan level ujian yang lain kisah? Pertanyaan besar yang patut tuntas dengan segera.
2023. Penuh kondisi yang membuat kita (masih) bertanya-tanya, rasa takut, sulit-melilit bahkan sebesar nama atau sebonafide apapun itu masih bisa runtuh seketika.
Deretan teguran bagi kita yang alpa tanpa dayaNya. Jika sampai hari ini kita masih sehat lantas lebih banyak jadi penonton dari dampak wabah yang menimpa sekitar kita, jelaslah sebuah anugerah berharga. Jika dibandingkan susah-gundah yang kita alami dalam melalui masa berat itu.
Masa dari mode bangkit bagi seluruh makhluk di semesta ini, ada yang mendahului kita dalam takdir usia di sisi lain alam sebaliknya. Tumbuh dengan tekad untuk menghidupi manusia walau kita sering merusaknya. Bertahan dengan rentanya semesta, masyaAllah.
2024. Sebuah awal baik untuk kita bermuhasabah dengan apa-apa yang kita lalui, entah dalam dan luar diri.
Dalam. Tentunya soal keseriusan untuk menjadi insan yang lebih berdaya iman. Benar sudah lebih dipertanyakan dibanding salah yang perlu ditindak tegas. Kondisi akhir zaman, sebuah realitas yang kita perlu sadari tak lantas buat kita gentar. Inilah sebuah tantangan nyata yang perlu kita kendalikan dan ditegakkan sesulit apapun itu. Hanya ada dua pilihan, berani lawan atau ikut arus?
Luar. Tak lain, menghadapi dunia yang tidak lagi ramah dengan insan yang berdaya iman. Musuhnya tidak lagi bernafas beda keyakinan, lebih menantang, saudara seiman. SubhanAllah.
Teringat dengan opini banyak tokoh ulama, salah satunya UAH yang mengatakan di salah satu ceramahnya:
"Seakan-akan Allah sedang menyeleksi kita siapa dari kita yang berdiri di atas hak dan mana dari kita yang berdiri di atas batil,” ungkapnya dalam kajian Shaf Muslimah yang diunggah di akun Youtube resminya, Kamis (7/12/2023). Ini menunjukkan bagaimana peristiwa internasional memiliki dampak spiritual dan moral yang dalam bagi individu.
Sebuah tragedi kemanusiaan yang kiranya memberi gambaran telak, hambatan semakin berbagai rupa, ada yang jelas, samar-samar tak sedikit berpura-pura untuk kepentingan yang entah apa bentuknya.
Jika hari ini masih dengan teguh prinsip bahwa beriman hanya dengan peribadatan semata, mulailah diperluaskan konteksnya. Kondisi semesta hari ini hingga perkara memilih pemimpin yang amanah dan takut kepada Allah, non-peribadatan, semua-semua adalah ibadah, lebih jauh, bentuk jihad yang perlu ditegakkan segera.
Inilah era dimana konteks beragama, beriman dan beribadah saatnya diperluas. Semua berhubungan dan saling berpengaruh peristiwa demi peristiwa, menghantam kenyamanan dalam beribadah, tak sedikit yang memainkan prinsip ajaran dalam kepentingan sesaat.
Sebagai pengingat, ada peristiwa besar yang perlu disambut dengan penuh gembira oleh kita insan yang berdaya iman:
Dalam sebuah hadits yang shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun”
Untuk memulai babak baru dengan penuh syukur dan bahagia, saatnya berikrar dengan sepenuh jiwa:
Apa-apa yang terhambat sebelumnya mungkin belum saatnya untuk kita panen sekarang. Butuh proses untuk menyemai sabar yang sepertinya belum cukup jadi bibit hasil. Tanda syukur adalah sebuah validasi sederhana soal diri kita telah mampu sadar akan nikmatNya yang betul-betul menghampiri. Tak semua mampu bersyukur, tak semua mampu bersabar, jadilah salah satunya yang berusaha.
Semangat mengarungi babak baru dengan penuh kesadaran diri untuk syukur dan sabar apapun kondisinya!
Selamat bertumbuh bersama semesta!
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin