Cerita pisang coklat meleber
(Makan pisang coklat meleber)
(coklatnya beneran meleber kemana-mana)
me: Uhuh, my life messed up

izzy's playlists!

⁂
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Xuebing Du

Origami Around

titsay
he wasn't even looking at me and he found me

❣ Chile in a Photography ❣
Fai_Ryy
No title available
tumblr dot com
cherry valley forever

Discoholic 🪩

pixel skylines
Stranger Things
official daine visual archive
Sade Olutola
One Nice Bug Per Day
hello vonnie
trying on a metaphor
seen from Malaysia

seen from Saudi Arabia
seen from Albania
seen from India
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Mexico

seen from Poland
seen from Bangladesh
seen from United States

seen from Netherlands
seen from Tunisia
seen from India
seen from Jordan
seen from Brazil
seen from Russia
seen from Malaysia

seen from Brazil

seen from United States
@dayaftersaturday
Cerita pisang coklat meleber
(Makan pisang coklat meleber)
(coklatnya beneran meleber kemana-mana)
me: Uhuh, my life messed up
Aku ingin menjadi hujan bersamamu
Ame
PERTANYAAN
Aku sedang melakukan sesuatu yang banyak dipertanyakan orang. Lo ngapain sih? skripsi aja belom beres ko mau ngelakuin hal yang macem-macem. Dan bahkan sesuatu yang diluar kebiasaan, sesuatu yang berusaha aku mulai. Wajar banyak orang bertanya. May be some people just doubt my capability to do something like starting movements. atau karena mereka sangat peduli padaku, khawatir temannya ini ga lulus-lulus.
Tidak jarang aku juga bertanya kepada diriku sendiri, what the hell am I doing? I don’t know either. I just following voices in my head. Sometimes i feel like an idiot. But what kind of idiot who follow the voice of their heart?
Tapi walau sering ada rasa ragu ketika menjalani ini semua, ada satu hal yang aku percayai. Lebih baik melakukan sesuatu walau hasilnya belum tentu berhasil daripada berhenti dan berusaha mengunci keinginan tersebut hingga pada suatu hari aku akan menyesal tidak melakukan hal tersebut.
Mungkin memang aku ini reckless and naive.But it’s alright. It’s me and I love myself for being a reckless naive girl.
NARCISSUS
Seperti juga aku: namamu siapa, bukan? pandangmu hening di permukaan telaga dan rindumu dalam tetapi jangan saja kita bercinta jangan saja aku mencapaimu dan kau padaku menjelma
atau tunggu sampai angin melepaskan selembar daun dan jatuh di telaga: pandangmu berpendar, bukan? cemaskah aku kalau nanti air hening kembali? cemaskah aku kalau gugur daun demi daun lagi?
Sapardi Djoko Damono, 1971
Musikalisasi puisi untuk orang-orang yang sudah lama tidak aku temui. Makasih untuk puisinya Pak Sapardi.
Matahari selalu peduli, membuatku khawatir
Ame
Matahari dan Bulan
Kepedulian matahari berwujud amarah dan kepedulian bulan berwujud kesedihan.
Matahari selalu marah yang berarti matahari selalu peduli. Tanpa marah, dia tidak akan menghasilkan api berwarna merah, kuning, dan biru. Matahari tidak akan mampu menerangi bumi hingga mendapat siang sampai 4,5,6, atau 12 jam dalam sehari. Matahari tidak akan mampu menghangatkan bumi, membuatnya nyaman untuk ditinggali. Tanpa matahari, bumi akan seperti bulan, selalu bersedih hati. Ketika matahari marah, manusia bisa menikmati langir biru dan merasakan keceriaan. Kepedulian matahari menghidupi bumi. Berterima kasihlah pada kemarahan matahari.
Bulan selalu sedih yang berarti bulan selalu peduli. Tanpa rasa sedih, dia tidak akan mampu meminjam cahaya matahari untuk menerangi malam. Bulan tidak akan mampu berada di sekitar bumi untuk terus mendampinginya hingga akhir. Bulan tidak akan mampu menjadi peneduh ketika matahari menjadi sangat terik. Tanpa bulan, bumi akan seperti matahari, selalu penuh amarah. Kepedulian bulan membuat bumi dapat beristirahat dengan tenang. Berterima kasihlah pada kesedihan bulan.
Kepedulian matahari dan bulan adalah sebuah paradoks. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan.
SENI ITU PENTING
Philippe: “Katakan padaku Driss, kenapa orang-orang tertarik pada seni?” Driss: “Aku tidak tahu, bisnis mungkin?” Philippe: “Tidak. Karena seni adalah satu-satunya yang tertinggal”
Begitulah kata Philippe kepada Driss dalam film Intouchables (2011). Filmnya bagus dan menyentuh, tapi bukan filmnya yang ingin aku bahas. Penggalan percakapan di atas yang membuat film ini berkesan bagiku. Jika sebelumnya aku membahas mengenai arti seni dan setiap manusia sebagai seniman, kali ini aku ingin menyampaikan betapa pentingnya seni bagi peradaban manusia.
Penciptaan karya seni berkaitan dengan kesanggupan akal. Akal menjadi sumber utama seni dengan tangan sebagai media. Bagaimana jika dibalik? Akal membutuhkan seni sebagai media ekspresi. Simbiosis mutualisme, akal dan seni. Akal akan punah tanpa seni dan seni akan pudar tanpa akal.
Selain itu, seperti kata Philippe, seni adalah satu-satunya yang tertinggal dari waktu yang terus melesat maju. Seni menjadi jejak kita kembali ketika tersesat dan kehilangan arah. Seni merupakan puzzle yang menyusun kita sekarang, yang dengan tepat merekam perkembangan akal kita. Katakanlah, seni itu penyusun identitas. Kalau seni itu tidak penting, kenapa Hitler rajin menjarah karya seni dari rumah-rumah orang Yahudi yang ditindasnya? Dia ingin meniadakan identitas orang Yahudi, membuat masa depan lupa akan keberadaan mereka di muka bumi ini.
Seni harus terlepas dari definisi orang kaya atau orang miskin. Atau definisi bagus atau jelek. Seni itu pada hakikatnya dinikmati oleh semua orang, semua kalangan. Hal terpenting dari seni adalah jejak identitas si pencipta di dalamnya.
KITA INI SENIMAN
Aku menyukai segala sesuatu yang berkaitan dengan seni dan budaya tradisional. Aku senang berfilosofi. Bagiku produktif adalah ketika aku menghasilkan sesuatu dari ide dan tanganku sendiri. Bisa jadi sebuah gambar, lagu, tulisan, atau yang lainnya (ada begitu banyak hal yang bisa dibuat). Dan saat-saat yang menyenangkan adalah ketika aku menikmati karya seni atau melakukan proses berkarya.
Seni /Se.ni/ kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi (luar biasa) sumber: www.kbbi.web.id
Dari definisi di atas, terbukti bahwa semua orang bisa membuat karya seni. Satu-satunya syarat untuk menjadi seorang seniman adalah kesanggupan akal. Aku rasa hal ini tidak sulit, semua orang sudah memiliki akal sejak kecil. Lantas kenapa banyak orang yang selalu bilang bahwa dia tidak memiliki bakat seni? Karena banyak orang belum menguji kesanggupan akal mereka untuk berkarya. Menjadi seniman tidak harus bisa membuat pameran tunggal di berbagai kota dan mendapat pujian dari banyak orang.
Sebuah karya seni itu tidak terbatas pada patung, lukisan, atau lagu. Tidak ada tercantum di definisinya. Yang terpenting adalah sesuatu yang bernilai tinggi. Dan perlu diingat, nilai tinggi itu subyektif. Sebuah kertas dengan tulisan tangan seseorang yang berbunyi “Selamat ulang tahun ya mi!” bernilai tinggi bagiku. Aku bisa mengingat bagaimana cara temanku itu menulis, bagian huruf mana yang bersudut aneh atau membulat sempurna.
Bagiku, sebuah karya seni yang bernilai tinggi adalah karya seni yang mengandung sentuhan pribadi di dalamnya, ada perasaan yang terlibat, ada pemikiran yang ingin disampaikan, ada kerja keras dan ketulusan pada setiap tahap proses pembuatannya.
Bagiku, setiap orang adalah seniman, yang membedakan adalah kesanggupan akal mereka untuk menciptakan sesuatu dan cara mereka mengekspresikannya. Einstein adalah seorang seniman yang menemukan relativitas pada ruang dan waktu, Alan Turing adalah seniman dan angka adalah instrumennya, Pramoedya Ananta Toer adalah seniman yang menciptakan indahnya berekspresi melalui kata.
Jadi, akui saja. Kita semua adalah seniman dengan kapasitas kita masing-masing.
AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Sapardi Djoko Damono, 1989
Aku langsung suka dengan puisi ini ketika dibacakan oleh guruku waktu SMA.
EKSISTENSI
“Apa yang kamu lakukan selama ini? banyak orang yang harus kamu buat bangga padamu”
Aku selalu bertanya pada diriku sendiri, apakah semua yang aku lakukan sudah cukup membuat orang lain bangga padaku? dan aku merasa selalu kurang. Aku kurang gesit, aku kurang pintar, aku kurang rajin, aku kurang terbuka, aku kurang pengertian terhadap orang lain. Aku selalu merasa salah.
“Kamu suka gitu, kebanyakan minta maaf. Jadi kekurangan percaya diri”
Begitu kata temanku. Aku tidak menyalahkan pendapatnya. Perkataannya membuatku berpikir, apa yang selama ini aku lakukan?
Aku selalu mengukur diriku berdasarkan penilaian orang lain terhadapku. Dan salahnya, aku berusaha menjadi seseorang yang penting bagi orang lain. Aku berusaha untuk tidak dilupakan karena aku takut terlupakan. Semua akar permasalahan ini adalah tentang eksistensi. Aku berusaha eksis di kehidupan orang lain.
TETAPI AKU MALAH MENIADAKAN AKU PADA KEHIDUPANKU SENDIRI.
Aku terlalu berusaha keras untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain hingga aku lupa mengakui diriku sendiri.
Aku ada ketika aku sadar aku ada. Dan itulah intinya, aku lebih penting dari orang lain. Orang-orang yang harus aku banggakan masih bisa menunggu, aku harus bangga terhadap diriku sendiri terlebih dahulu. Penilaian orang lain tidak lebih penting dari penilaianku atas diriku sendiri. Seperti kata Elizabeth Gillbert dalam bukunya EAT, PRAY, LOVE yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih seperti ini:
“Ada bagian dalam diriku yang selalu ingin mendengar seorang laki-laki berkata padaku, “biarkan aku menjagamu untuk selamanya.” Dan aku tidak pernah mendengar perkataan itu. Setelah bertahun-tahun aku menunggu, aku menyerah untuk mencari orang tersebut dan mulai belajar mengatakan kalimat yang membesarkan hati ini kepada diriku sendiri, terutama di saat-saat sulit.”
Aku belajar bahwa hidup ini bukan hanya untuk diterima di masyarakat tetapi untuk menerima diri sendiri.
#Catatanlepas
Berapa banyak orang yang sudah aku temui sepanjang hidupku? Dari setiap pertemuan, apakah aku mengingat nama dan wajah masing-masing orang? Sering kali aku harus mengingat nama orang tersebut untuk menjalin hubungan yang baik dengan mereka.
Namun apa intinya? Kenapa kita harus bertemu dan menjalin hubungan yang baik dengan orang lain ketika ujung-ujungnya juga tidak akan saling sejalan? Malah kebanyakan kasus aku kehilangan diriku sendiri untuk berusaha menjalin hubungan yang baik tersebut. Apa gunanya?
Berikut adalah hasil analisisku:
Bergaul itu perlu. Seringnya, untuk membuktikan bahwa aku ada. Tetapi menurutku, berusaha mendefinisikan aku ada berdasarkan kemampuan orang lain untuk menyadari keberadaanku adalah sebuah kesalahan (setelah mengamati beberapa kasus yang aku alami). Dan dalam prosesnya, aku menarik diri dari dunia luar. Tetapi hidup sendiri juga rasanya tidak benar.
Manusia diciptakan dengan kemampuan komunikasi pada otaknya. Sedangkan komunikasi hanya terjadi jika ada tiga elemen dasar yaitu si sumber, pesan, dan si penerima. Jadi manusia tidak bisa hidup sendiri karena secara alami manusia butuh berkomunikasi yang melibatkan minimal dua orang (jelaslah! Lah otaknya aja punya bagian khusus yang bekerja untuk komunikasi).
Jadi tetap, menjalin hubungan yang baik itu perlu. Aku tidak bisa secara brutal menutup diri dari dunia luar hanya karena aku merasa tidak diterima. Justru aku harus mencari tahu siapakah orang-orang yang dapat menerimaku? Aku pun mengkategorikan orang-orang tersebut berdasarkan kesesuaian dan kenyamanan ketika aku bersama mereka:
Dalam hukum matematika, bilangan bulat terdiri dari bilangan bulat positif, netral, dan negatif. (asumsikan aku adalah bilangan bulat positif).
1. Bilangan bulat negatif: mereka adalah orang-orang yang tidak cocok denganku. Bukan berarti mereka salah atau memiliki perangai yang negatif. Mereka hanya memiliki perbedaan yang terlalu banyak denganku sehingga aku tidak bisa menjalin hubungan yang positif dengan mereka. Mereka adalah orang-orang yang paling jauh hubungannya denganku. Kalau pun kami bertemu, aku hanya bisa saling sapa dan berusaha menjaga suasana damai (yap, tidak masalah bertemu dengan orang yang berbeda pendapat. Toleransi itu perlu).
2. Bilangan bulat positif: mereka adalah orang-orang yang cocok denganku. Mereka memiliki notasi positif yang sama walau dalam angka yang berbeda. Ciri-ciri dari hubungan yang menghasilkan angka positif adalah keterbukaan dan keleluasaan. Kalau sudah merasa nyaman, aku tidak malu-malu lagi membuka diri menjadi orang yang sebenarnya aku.
3. Nol: angka nol adalah angka netral. Tipe orang-orang-orang ini merupakan orang yang aku senangi. Mereka orang yang tidak memaksaku untuk membuka diri tetapi juga tidak masalah jika aku tidak mau membuka diri. Mereka terlihat acuh tetapi sebenarnya mereka adalah orang-orang yang sibuk dengan kehidupannya sendiri atau tidak ambil pusing atas kehidupan orang lain. Mereka tahu siapa diri mereka sehingga tidak perlu mendefinisikan diri mereka dari kacamata orang lain. Pada kenyataannya, aku sangat ingin menjadi angka nol (tetapi tidak bisa).
Menurutku, menjalin hubungan dengan setiap kategori itu perlu. Untuk membuatku ada. Bukan berdasarkan sudut pandang orang lain melainkan untuk membuatku semakin mengerti diriku sendiri.
#Catatanlepas
Terdapat seorang perempuan. Dia bertemu seorang laki-laki. Mereka saling mengenal satu sama lain. Si laki-laki jatuh cinta dan akhirnya meminang si perempuan. Mereka pun menikah pada suatu hari yang cerah dengan restu dari kedua orang tua. Dan mereka hidup bahagia dengan sederhana.
Begitulah ilustrasi perjalanan pasangan yang menikah pada umumnya. Sesederhana itu. Jadi di bagian mananya yang terasa rumit? Menurutku dibagian perasaan. Sampai sekarang, aku masih belum mengerti tentang bagian perasaan tersebut. Seringkali aku tertipu.
Sebagai perempuan, aku sering membayangkan kehidupanku nanti ketika aku sudah menikah. Aku menginginkan suami yang ini, itu, banyak sekali. Tetapi pada kenyataannya, aku (pernah) menyukai laki-laki yang berbeda dari bayanganku. Jadi kenapa bisa begitu? Bagaimana perasaan bisa menentukan bahwa dialah laki-laki yang aku sukai? Bahkan aku tidak bisa menyukai (apalagi menikah) dengan sembarang laki-laki.
Kenapa aku biasa saja dengan si A tetapi merasa tertarik dengan si B? Apa yang membedakan mereka? Bahkan setelah beberapa kali suka (dan patah hati) kepada beberapa laki-laki, setiap laki-laki yang aku sukai berbeda-beda. Apa perasaanku berkembang dan berubah seiring dengan semakin bertambahnya usia? Mungkin. Tapi dari semuanya, tidak ada yang membuat perasaanku terasa benar. Belum ada yang membuatku merasa berada di tempat yang tepat, yang membuatku merasa tenang.
Akhirnya, aku mempercayakan penilaian tersebut pada perasaanku. Aku yakin, ketika aku menemukan sebuah hubungan yang tepat dengan laki-laki yang tepat, maka perasaanku akan berkata tepat. Dan ketika semuanya terasa tepat, perasaanku akan berevolusi. Bukan lagi hanya perasaan suka (yang sementara), aku akan siap untuk menghabiskan waktu selama 24 jam, 7 hari, 4 minggu, 12 bulan, dalam bertahun-tahun berikutnya bersama, tanpa (banyak) mengeluh.
Lalu muncul lagi pertanyaan? Seperti apa ‘perasaan yang tepat’ itu? Aku juga tidak tahu karena aku belum menemukannya. Tetapi bayanganku sih, ‘perasaan yang tepat’ itu ketika semuanya terasa sederhana. Sesederhana kami bersama.
Sudah cukup dengan gambaran laki-laki (so sweet) dari drama korea, atau laki-laki (macho) dari film action, atau laki-laki (pintar) dari tv series detektif terkenal. Jika memang mereka memiliki gambaran seperti di atas, maka itu adalah bonus(ngarep).
#Catatanlepas
Pertama kali mencoba makan melon. Pertama kali memakai baju sendiri. Pertama kali berjalan. Pertama kali merasakan hujan. pertama kali memegang pensil. Segala sesuatu yang kita lakukan sehari-hari selalu ada pertama kali kita melakukannya. Dari semua pertama kali, apa kejadian/emosi yang pertama kali kalian ingat? Ingatan purba yang sekarang sudah sedikit terlupakan.
Pada suatu malam, ketika aku tidak bisa tidur, aku berusaha mengingat kejadian dan emosi yang pertama kali aku ingat. Kejadian penting itu selalu ada, bahkan ketika aku belajar jalan (tapi aku tidak bisa mengingat bagaimana aku belajar berjalan atau perjuanganku untuk berjalan waktu itu). Tapi akan ada kejadian penting yang pertama kali aku ingat.
Saat itu, aku berumur kurang lebih tiga tahun dan adikku masih seorang bayi yang suka menangis kencang. Saat itu masih pagi (aku rasa), ketika adikku sedang tidur pulas di kamar orang tuaku. Ibuku sedang mencuci (atau memasak?) di belakang sehingga hanya ada aku dan adikku di dalam kamar. Aku terus memperhatikannya tidur. Dan tiba-tiba aku merasakan emosi yang kuat, keinginanku untuk membuatnya terbangun dan bermain denganku. Saat itu aku tidak tahu nama perasaan yang aku alami (dan ternyata aku gemas melihat adikku yang botak lucu). Lalu aku mencubit tangannya hingga dia terbangun dan menangis. Aku merasa senang melihat dia terbangun.
Dan aku lupa kejadian setelah itu. Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa mengingat kejadian tersebut sampai sekarang, dan hanya dibagian ketika aku mencubit adikku. Hipotesisku sih bahwa emosi yang aku rasakan saat itu begitu kuat (rasa gemas) sehingga aku mencari pemuasan terhadap emosiku tersebut (dengan mencubit adikku) dan rasa lega setelah aku bisa mengeluarkan emosi tersebut.
Jadi kejadian atau emosi apa yang pertama kali kalian ingat?
[LIWET]
Nasi liwet adalah nasi khas yang men-Indonesia (atau mungkin hanya men-jawa), terbuat dari beras yang dinanak dengan santan, ikan teri, daun salam, sereh, lada, bawang merah, cabe rawit, dan bumbu perasa (Resep chef liwet andalan anak bengkel).
ARLiwet adalah acara jurusan dimana kami makan nasi liwet bareng. Prosesi acaranya sederhana, [1] masak nasi liwet dengan menggunakan rice cooker pinjaman dari orang-orang sejurusan, [2] sambil nunggu nasi matang, biasanya kami mengobrol (apa pun bisa jadi bahan obrolan), atau bisa juga bermain musik (tergantung dari preferensi aktivitas masing-masing) [3] Nasi matang, maka daun pisang pun digelar berjajar sebagai pengganti piring (bahkan tidak jarang menggunakan TRASHBAG!) [4] Para manusia yang kelaparan pun berjajar disekeliling daun pisang untuk bersiap makan dengan syarat duduk setengah (posisi duduk yang mudah berdiri) atau jongkok [5] Berdo’a bersama (dipimpin oleh siapa pun yang bersedia tapi biasanya ketua himpunan mahasiswa) [6] Aba-aba, dan makan bersama pun dimulai [7] setelah beberapa saat, orang-orang yang sedang makan disuruh berdiri dan bergantian dengan orang lain yang belum sempat makan liwet [8] lalu bergantian lagi [9] bergantian lagi sampai nasi liwet habis.
Frekuensi acara ARLiwet ini sering kali tidak terjadwal secara jelas, tetapi ketika dirasa sudah lama kegiatan tersebut tidak dilakukan, maka akan ada yang berinisiatif untuk mengadakan acara tersebut. Dan sistem pengerjaannya pun tidak ribet, siapa yang sukarela maka boleh menbantu. Tidak ada paksaan dan sistem organisasi yang rumit.
ARLiwet sangat bermanfaat untuk mengatasi rasa lapar ketika dompet tipis (kasus yang seringkali menimpa mahasiswa ketika akhir bulan). Tapi dibalik makan massal yang mungkin bisa mengganggu kesehatan pencernaan kami, ARLiwet lebih dari sekedar acara makan bareng. ARLiwet mendobrak batas yang membuat kami bisa berbaur satu sama lain. Dari yang paling tua sampai yang paling muda, semuanya makan dari jajaran daun pisang di lantai. Dari yang bayar SPPnya mahal sampai dengan yang beasiswa, semuanya makan dengan menu yang sama, nasi liwet.
ARLiwet lebih dari sekedar makan bersama tapi prosesi sederhana yang mampu mengumpulkan orang-orang dalam satu tempat untuk saling mengenal satu sama lain.
[GERBANG]
Pada Malam hari yang sudah sangat sepi.
“Eh, gerbang kosan udah dikunci nih. Mana digembok lagi. Gue takut ngebukanya sendiri. Kalian mau nungguin gue ga disini? nemenin gue buka gerbang bentar”
Begitulah kira-kira permintaanku pada kedua temanku, Nuha dan Imam. Kami sering pergi ke kampus dan nongkrong disana sampai larut malam. Ketika pulang pun, sejalan Bara hanya kami yang berisik. Sampai di depan gerbang kosan, aku meminta mereka menemaniku membuka pintu gerbang kosan. Aku takut karena [1] jalan sepi sehingga aku berimajinasi jika aku disana sendirian sambil mengutak-atik kunci gembok, maka akan ada yang menculikku dari belakang [2] dari gerbang kosan menuju bangunan kosan harus melalui lorong gelap dan aku selalu curiga ada pencuri kejam sedang menantiku di ujung sana [3] hal-hal berbau mistis yang membuatku merinding.
Walhasil, setiap kami dari kampus, mereka akan berdiri di depan gerbang dan menemaniku membuka gembok sampai aku masuk dan mengunci gembok kembali. Setelah itu, kami akan berdadah ria sambil bilang ‘hati-hati ya kalian!’. Dan mereka melakukannya tanpa harus selalu diminta olehku. Mereka sudah mengerti bahwa aku takut. Mereka membuatku merasa aman. Dan mereka membuatku tidak takut meminta pertolongan ketika di sisi lain aku tidak mau merepotkan orang lain.
They’re my precious bestfriends!
[KENTUT]
Kentut itu kebutuhan. Seperti makan, tidur, dan buang air. Bahasa kerennya kentut sih flatulensi. Di beberapa negara, kentut dianggap lebih sopan secara normatif dibanding bersendawa sedangkan di Indonesia kebalikannya.
Alkisah, ada seorang perempuan bernama Iis. Dia sering sekali kentut karena berbagai macam sebab (berdasarkan literatur, penyebab kentut itu ada banyak). Aku sih maklum, kentut itu manusiawi. Aku juga suka kentut (tapi jarang bunyi kecuali di kamar mandi. Haha). Aku percaya bahwa orang yang kentut dan secara terang-terangan mengakui kentutnya itu maka orang tersebut adalah orang yang tidak suka berpura-pura dan apa adanya. Aku menemukan beberapa orang seperti Iis di tempat aku kuliah. tetapi ada satu cerita yang membuat kentut Iis lebih berkesan.
Pada suatu hari, aku dan Iis sedang berdiri berdekatan (aku lupa aktivitas yang sedang kami lakukan).
“Mi!” panggil Iis sehingga aku yang sedang melihat ke arah lain pun menoleh kepadanya. Lalu tiba-tiba dia menyodorkan gengaman tangannya ke depan hidungku dan menbuka kepalannya. Tidak ada satu benda pun yang aku lihat keluar dari tangannya. Oh tidak! dia sedang ‘menghadiahkan’ kentutnya untukku.
“Ih Iis jorok!” seruku sambil menjauhkan hidungku dari tangannya yang terbuka lebar. Dia hanya terkekeh meilhat wajahku yang mengernyit. Aku memang tidak mencium bau apa pun yang tidak sedap (hidungku tidak sensitif), tapi aku heran dengan kelakuan Iis yang bangga ‘menghadiahkan’ kentutnya kepada orang disaat orang lain justru banyak yang menyembunyikan kentut mereka.
Bagaimana pun, dia adalah Iis yang saya kenal. Tanda cintanya berupa kentut yang dikemas dalam genggaman tangannya. Haha
[MACET]
Dua tahun lalu, tepatnya ketika kami semester empat, 48,69 sedang mengadakan fieldtrip mata kuliah ke Kebun Raya Cibodas, kaki gunung Gede-Pangrango. Hari itu adalah hari yang cerah dan panas (dan harusnya hari libur pula). Fieldtrip semacam ini memang selalu dilaksanakan pada hari libur (baca: weekend), pertimbangannya karena kalau mengambil hari kerja biasa maka akan mengambil jatah waktu mata kuliah lain.
Kami berjalan dari satu koleksi tanaman ke koleksi tanaman lain sambil berusaha menulis nama latin tanaman yang ada pada label di dekatnya, sampai beratus-ratus. Lalu tibalah saatnya kami pulang. Tanpa bisa dihindari, kami pun terjebak macet karena kalau weekend jalan di puncak melakukan sistem buka-tutup. Cemilan sudah habis (dibagi-bagi) dimakan, air mineral tinggal seperempat botol, dan rasa kantuk yang diharapkan datang selama macet pun tidak kunjung datang sehingga bosan rasanya duduk di dalam bis dan melihat pemandangan yang itu-itu aja. Beberapa yang bosannya sudah akut turun dari bus untuk mencari toilet atau membeli jajanan di sekitar jalan raya.
Orang-orang di dalam bus pun tidak mau mati gaya, segerombolan manusia yang duduk di bagian belakang bercanda dengan suara lantang hingga terdengar ke tempat dudukku yang ada di tengah. Mereka berkomentar tentang kejadian di luar yang terlihat dari dalam bus. Aku lupa seperti apa percakapannya, yang jelas melibat tukang basreng, dua orang anak kecil yang bermain sepeda di halaman rumah, dan pembeli tukang basreng. Mendengar mereka berkomentar, aku pun ikut tertawa dari kursi tengah.
Setelah lama menunggu, akhirnya bus pun bisa jalan kembali. Kami dengan lega akhirnya merasakan roda berputar di bawah kami. Sedang asyik-asyiknya menikmati pemandangan di luar jendela, tiba-tiba salah seorang teman kami berteriak:
“Pak, bentar Pak! Itu Bapak dosennya ketinggalan!” (Saya lupa kata-kata percisnya, tetapi kira-kira seperti inilah pesannya)
Tapi bus tetap jalan hingga beberapa orang dari kami juga mulai berteriak, takut pak sopir tidak mendengar suara kami yang di belakang. Bus tidak bisa berhenti karena takut dimarahin oleh para sopir kendaraan lainnya (maklum, kalo udah macet, maunya marah-marah mulu). Bus berjalan pelan agar Pak Dosen bisa berlari dan mengejar bus. Aku duduk di dekat jendela waktu itu jadi aku bisa melihat perjuangan Bapak dosen untuk bisa naik bus. Jika aku bayangkan, adegannya seperti film Kuch Kuch Hota Hai ketika Shahrukh Khan ngejar Kajol yang udah naek kereta menuju antah berantah.
Kasihan sebenarnya, kaki Bapak Dosen sedang sakit jadi dia larinya juga terpincang-pincang. Tapi akhirnya beliau berhasil naik bus dengan nafas putus-putus. Rupa-rupanya Bapak Dosen kebelet dan sedang cari toilet waktu itu (atau sehabis dari toilet? aku juga tidak tahu. haha). Aku sempat heran, emang itu orang di depan tidak sadar kalau Bapak Dosen pergi? (maafkan para murid-muridmu ini, Pak).
Tapi cerita ini akhirnya Happy Ending, semua orang sampai di rumah masing-masing dengan selamat.