Pagi itu dia bangun lebih pagi, dia lalu berlari ke kamar Marc untuk membangunkannya kemudian turun menuju dapur. Di dapur sudah ada ibu yang sedang memasak, "selamat pagi Jean, kau bangun pagi sekali", Jean lalu mendekat ke ibu untuk memastikan penciumannya, "kau suka wanginya Jean? Ini adalah menu kalkun panggang yang Julia ajarkan padaku", Jean bisa melihat senyum Ibu yang memudar, Ibu selalu begitu saat mengingat suaminya, "ini adalah menu kesukaannya saat Thanksgiving, dia selalu bangun pagi lalu berdiri disebelahku untuk mencium aroma kalkun panggang ini". Marc yang tidak biasa bangun sepagi ini memasuki dapur dengan gontai, dari baunya, Marc tau itu adalah kalkun panggang kesukaan ayahnya, tapi kelopak matanya masih enggan untuk membuka jadi dia lebih memilih melanjutkan tidur di meja makan.
Menjelang malam hari, Julia datang. Sejak putranya meninggal, dia selalu menyempatkan diri merayakan Thanksgiving bersama menantu dan cucunya. Saat Julia datang dia memeluk semuanya, termasuk Jean, walau bau parfum yang dipakai Julia terlalu menyengat untuk Jean, tapi pelukan Julia selalu hangat untuknya, dan Jean sangat nyaman dengan kehangatan itu.
Jean tidak suka musim dingin, dia tidak bisa bermain diluar seperti saat musim lainnya, saat musim dingin Jean hanya bisa bermain di dalam rumah bersama Marc atau mendengarkan Ibu membacakannya cerita di dekat perapian. Marc tidak suka dibacakan cerita oleh ibu, dia lebih suka ayahnya yang membacakannya, ayahnya adalah pendongeng yang baik, dia bahkan sering membuat Marc dan ibu tertawa terpingkal-pingkal dengan cerita lucunya dan ia tidak ingin posisi pendongeng itu diambil alih oleh ibunya, Marc hanya ingin mendengarkan cerita dari ayahnya.
Sebaliknya, musim panas adalah musim kesukaan Jean, dia bisa menghabiskan waktu seharian bermain di taman bersama Marc dan June, tetangga mereka. Permainan favoritnya adalah bermain bola, Jean bisa berlarian mengejar lalu menggiringnya atau merebut bola yang digiring June, "Jean sangat pandai bermain bola, aku yakin dia akan menjadi pemain sepak bola yang hebat", lalu Marc dan June tertawa, tapi Jean terlalu sibuk dengan bolanya.
Saat musim panas seperti ini, ibu juga biasa mengajak mereka bertiga ke pantai, saat ibu berjemur, mereka bertiga bermain frisbee, Jean sangat senang berlarian di atas pasir.
Tahun itu adalah tahun pertama Marc masuk sekolah, dan pagi itu ibu sangat sibuk menyiapkan bekal, sedangkan Jean menemani Marc yang mengemasi buku dan alat tulis ke dalam tas. Jean tau Marc sangat enggan pergi ke sekolah, dia ingin seharian bermain bersama Jean. Jean sangat bersemangat mengantar Marc ke sekolah, sedangkan di kursi depan, Marc terlihat cemberut dan gelisah, "kau akan baik-baik saja Marc, kau akan bertemu banyak teman dan akan ada banyak permainan di sekolahmu", bukan hanya ingin bermain seharian bersama Jean, Marc cemberut karena sedih, "sekolah itu sangat menyenangkan Marc, dan ayah berjanji akan mengantarmu setiap hari ke sekolah", Marc teringat janji ayahnya saat mengiming-iminginya untuk bersekolah.
Setelah beberapa hari, Marc tampak selalu bersemangat setiap berangkat sekolah, dan setelah beberapa hari itu pula setelah mengantarkan Marc ke sekolah bersama ibu, Jean lebih sering mendapati ibu melamun di dekat jendela, terkadang ia tersenyum dan tak jarang ia menyeka air matanya. Jean juga sering mendapati ibu yang tidur dengan memeluk foto keluarga dimana ibu menggendong Marc yang masih bayi dan ada ayah di sana merangkul ibu sambil tersenyum, mereka tampak bahagia.
Waktu cepat berlalu, Marc sudah saatnya berkuliah, dia mendapat beasiswa di Inggris. "Kau jaga ibu ya Jean, aku akan menepati janjiku kepada ayah, untuk melihat dunia, untuk menjadi seorang teknisi yang handal, dulu aku berjanji pada ayah untuk membantunya memperbaiki mobilnya yang rusak dan setelah itu kami akan berkeliling dunia dengan mobil itu" Marc bercerita dengan semangat, tentu saja semangatnya pudar saat dia harus berpamitan dengan ibunya yang mulai menua, "jaga kesehatan ya bu, aku akan telfon ibu setiap malam", Ibu hanya tersenyum, lalu Marc memeluk ibunya. "Ayahmu pasti bangga padamu" kata Ibu sambil berkaca-kaca.
Pada awal semester, Marc menepati janjinya menelpon setiap malam, namun pada pertengahan semester ada hal-hal yang tidak diantisipasinya, perbedaan waktu yang cukup jauh antara Cambridge dan Laramie dan tugas yang menumpuk membuat jadwal menelfon ibunya bolong-bolong dan lama-kelamaan Marc hanya menelfon ibunya saat akhir pekan.
Ternyata kesepian juga berbahaya bagi kesehatan. Absennya Marc menelfonnya setiap malam membuat May kesepian dan sakit-sakitan. Pada musim dingin tahun kedua May ditinggalkan anaknya, dia sakit parah, dia hanya menghabiskan waktunya seharian di atas kasur, malam itu dia memeluk Jean yang menemani dikamarnya. "malam musim dingin seperti ini mengingatkanku saat aku menemukanmu Jean, saat itu aku baru selesai mengurus surat kematian suamiku, dan aku menemukanmu meringkuk di depan toko roti yang sudah tutup, lalu aku menamaimu Jean, karena seperti dia, kau selalu membawa senyum bagi keluarga ini", air matanya mulai mengalir. Jean ingat saat dia digendong May masuk kerumahmya, dia sangat malu, dia menemuka Marc yang sedang bermain sendiri di dekat perapian, begitu melihat Jean, Marc langsung tersenyum dan berlari untuk memeluknya.
"Jean..jeanary, tidakkah kau bangga melihat Marc tumbuh dewasa dan pandai? Dia tumbuh untuk membanggakan ayahnya", pelukan May semakin erat, dan air matanya mengalir semakin deras. May benar, Jean merasa bangga, Jean dan Marc sudah melakukan yang terbaik untuk menepati janjinya. Dalam benak Jean, ia berharap ia bisa menangis seperti manusia, ia berharap ia bisa memeluk istrinya.