Being Introverted Person
“Yaya habis dari mana?” “Nyari makan siang.” “Sendiri?” “Iya.” “Yaelah males banget oy kenapa nggak ngajak-ngajak siapa gitu kek?” Terus saya mikir “Emang harus gitu, ya?” Wkwk.
Atau
“Yaya ke toilet sendiri?” “Iya.” “Lah biasanya cewek-cewek kalau ke toilet rame-rame gitu.” Terus saya bingung “Lah sendiri aja praktis ngapain rame-rame.” Wk.
Atau
“Mbak Yay udah nonton film ini belom?” “Duh aku nggak biasa nonton film. Di bioskop apalagi.” Alasannya, pusing karena rame.
Atau
Orang-orang lebih suka bepergian rame-rame dengan kawan-kawan. Saya lebih suka ngajak satu orang yang menurut saya dekat dan pergi ke suatu tempat. Sampai-sampai saya dapat cap orang termager di kantor karena jarang keluar makan siang atau hal-hal lainnya.
Ada banyak hal yang bagi orang lain menyenangkan jika bisa dikerjakan bersama-sama dengan banyak teman, tapi bagi saya lebih menyenangkan dikerjakan sendiri. Seperti misalnya, pergi ke toko buku, belanja bulanan, ke perpustakaan, ke kajian sendiri, bahkan ke mall sendiri meski jarang sekali.
Ada yang pusing melihat banyaknya notif media sosial sehingga harus segera dibaca agar tidak menumpuk. Sementara saya justru pusing jika harus membacanya segera (sehingga akhirnya tidak dibaca sampai menumpuk beribu-ribu wkwk).
Dulu, dulu sekali ketika SMA, saya sering mampir ke salah satu masjid favorit sepulang sekolah. Bukan buat sholat (karena biasanya sudah sholat di masjid sekolah sebelum pulang) tapi untuk menulis diary wkwkwk. Berlama-lama di sana sambil ngeliatin langit, kadang sampai sore. Atau, kalau sedang galau, kadang sampai galaunya hilang. Sebenernya nggak ngapa-ngapain juga di sana, cuma diam melihat orang hilir mudik, memperhatikan sekitar, kadang ketawa-ketawa kecil sendiri kalau ada interaksi yang lucu dari beberapa orang yang diperhatikan. Tapi, dengan begitu aja, saya sudah merasa ngapa-ngapain, merasa cukup, merasa lengkap. Kebiasaan ini terbawa hingga kuliah, hingga sekarang.
Kebanyakan introvert adalah pembaca situasi yang ulung, pemerhati yang detail. Jadi, hati-hatilah. Jangan kaget ketika dia mengingat hal-hal kecil yang kamu sendiri lupa. Bisa jadi baginya itu hal yang berharga. Dia diam, tapi diam-diam memperhatikan. Diam-diam mempelajari, Diam-diam mengenali.
Orang-orang sering tidak percaya bahwa saya seorang introvert karena berani bicara, terlihat spontan dan bukan seorang yang pemalu. Bagi mereka, introvert pasti pemalu, tidak spontan, anti sosial dan sering dianggap aneh karena pemikirannya yang berbeda.
Mereka tidak tahu, menjadi introvert tidak selalu identik dengan sifat-sifat itu, meski ada juga yang iya. Menjadi introvert artinya kamu mengambil energi dari kesendirian (asik). Jika orang-orang ekstrovert lebih bersemangat saat berkumpul dengan banyak orang, pandai basa-basi, mengambil energi dari sekitar, dan lelah jika sendiri (halah), maka para introvert sebaliknya: lelah jika terlalu ramai, tidak pandai basa-basi, dan bersemangat jika dikelilingi dengan sedikit orang yang dianggapnya berharga (kayak kamu, misalnya #loh).
Introvert dan ekstrovert bagai langit dan bumi. Dua hal yang jauh berbeda. Tapi, ada yang akan membingungkanmu, sebab ada juga introvert yang bisa berpura-pura menjadi ekstrovert di saat yang memang sangat dibutuhkan meskipun setelahnya energinya akan terkuras bukan main. Biasanya setelahnya ia akan menarik diri, bersembunyi sampai energinya kembali. Kayak tau banget ya. Wkwk. Pernah soalnya :P
Seperti halnya seorang manusia dengan manusia lainnya yang tidak pernah sama. Seorang introvert dengan introvert yang lain juga demikian. Tidak ada introvert yang persis sama di dunia ini, sebab introvert sendiri terbagi menjadi beberapa cabang lagi serta berkembang sesuai dengan lingkungan termpatnya berinteraksi. Kadang, sesama introvert-pun masih harus berusaha memahami.
Jadi, kalau ketemu teman yang introvert, coba kenali mereka dengan baik. Sebab kebanyakan introvert adalah pemikir dan perasa yang dalam, mengenali mereka bisa jadi akan membawamu pada perjalanan yang membuka banyak hal menyenangkan. #halllahhh
Sekian tulisan tidak penting ini. Keep calm and be mysterious. Oiya, jangan lupa juga “Stay classy.” - Agung Hapsah Wk.
Makan siang sendiri itu ga aneh. Sepakat!
Ko rasanya aku merasa seperti ini, udah ga terlalu suka keramaian dan jalan2 rame2 gtu.. udahnya energi pasti abis 😅 padahal dlu di tes aku ekstrovert.. manusia bisa berubah-uabh gtu ya









