Bayangin aja, dari 100+ menteri dan wakil menteri kok tidak ada yang berani menegur atau meluruskan ide-ide kebijakan yang wangsit-based. Dari jajaran menteri dan wakil menteri itu kalo ga salah ada yang sudah doktor bahkan guru besar.

shark vs the universe
occasionally subtle

Love Begins
d e v o n

Discoholic 🪩

❣ Chile in a Photography ❣
Monterey Bay Aquarium
★
Lint Roller? I Barely Know Her
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
The Stonewall Inn
Doug Jones
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
art blog(derogatory)
hello vonnie

gracie abrams
Mike Driver

tannertan36

#extradirty
One Nice Bug Per Day
seen from Antigua & Barbuda
seen from Canada

seen from Singapore
seen from Russia
seen from Uruguay
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Colombia

seen from Malaysia
seen from Iraq

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Colombia
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Italy
@beningtirta
Bayangin aja, dari 100+ menteri dan wakil menteri kok tidak ada yang berani menegur atau meluruskan ide-ide kebijakan yang wangsit-based. Dari jajaran menteri dan wakil menteri itu kalo ga salah ada yang sudah doktor bahkan guru besar.
Cowok Bingung
Dalam kehidupan sehari-hari ini, istilah "cowok bingung" adalah satu label yang pantas ditempelkan pada lelaki yang... ah sudahlah.
Tidak enak memang didekati ama lawan jenis yang seperti orang bingung (soal arah hubungannya kemana). Sama halnya dengan mentorship beasiswa, mentor juga rasanya agak gimana gitu kalo mentee-nya kayak orang bingung.
Orang bingung bisa sangat menyebalkan. Seringnya gejala orang bingung ini nempel pada laki-laki, mungkin karena cara berpikirnya atau cara laki-laki merespon masalah.
Nah, buat yang risih karena terlihat seperti orang bingung atau saat ini sering berinteraksi dengan cowok bingung itu, ini ada beberapa saran dari saya yang pernah jadi cowok bingung pada masanya.
Pertama, ngobrol ke diri sendiri atau endapkan. Kedua, pecahkan... di-breakdown. Ketiga, komunikasikan.
Jika itu terkait jodoh, tentukan kriteria, rencana, dan timeline. Jika sudah ada target, cocokkan dulu dengan kriteria dan rencana. Jika "bisa nih kayaknya", cek timeline dan S&K dari orangtua. Jika masih lama kayaknya, komunikasikan. Jika dia mau menunggu, kasih breakdown rencana yang sudah terbayang.
Jika itu terkait rencana studi ke luar negeri, carilah bantuan konsultasi/mentorship setelah ngobrol dengan diri sendiri: mau jadi apa, maunya kapan, maunya dimana, dengan skema funding apa, dst. Lalu breakdown apa yang harus disiapkan, identifikasi jurusan yang relevan, dan cari tahu eligibility criteria-nya. Jika bingung, komunikasikan. Misalnya setelah tahu mau jadi apa tapi bingung soal jurusan yang cocok dari beberapa pilihan yang sudah teridentifikasi, atur jadwal sama mentor.
Mentorpun enak kalau mentee sudah tahu apa yang dia mau, sudah ngumpulin info, dan obrolan jadi lebih substansial karena bahannya sudah ada dan tinggal dikasih konteks dan saran.
Untuk semua orang bingung di luar sana, sesekali kebingungan itu wajar. Tapi jangan lama-lama bro. Jika kamu dalam suatu hubungan, jangan sampai bikin orang lain kesal karena kebingunganmu. Endapkan, pecahkan, dan komunikasikan.
Salam dari mantan cowok bingung pada masanya, haha.
"Londo ireng," katanya. Dia menunjuk-nunjuk wartawan, aktivis, pengamat, peneliti LSM... yang dia bilang bekerja untuk kepentingan negara lain. Dia lupa dia dikelilingi oleh para konglomerat yang tidak nasionalis. Nama mereka Indonesia tapi mereka menyedot sumber daya alam dan keuntungan dari negara ini untuk kepentingan pribadi. Mereka sudah berdekade mengumpulkan kekayaan untuk anak cucu mereka yang tumbuh dan menikmati hidup di negara lain.
Perjalanan bikin komunitas bapak-bapak di Yogyakarta. Alhamdulillah sudah bikin agenda ke-8 di hari Ahad kemarin yang kolaborasi sama Guru Bumi, salah satu penerbit buku anak yang bermarkas di daerah Sleman, Yogyakarta. Terlepas dari event kemarin, secara nggak langsung saya bisa mengamati kalau sebenarnya banyak banget keluarga yang baik, cuma enggak muncul di media sosial. Mereka semua adem ayem, fokus sama kerjaan, keluarga, dan aktivitas real-life nya. Banyak bapak-bapak di sini yang kalau kata anak-anak zaman sekarang, greenflag.
Setiap orang pasti punya kekurangan, jelas. Cuman, bapak-bapak ini kalau sharing soal rumah tangga. Fokusnya adalah gimana cara mereka biar bisa jadi bapak/suami yang bener. Nyelesaiin masalah-masalah internal sembari menghadapi tuntutan kebutuhan hidup keluarga.
Kemudian satu hal lagi. Ekspektasi kalau mau berkeluarga bener-bener harus bisa dijaga, misal nih : tidak semua orang yang abis nikah itu langsung punya rumah, mobil, kerjaan mapan gaji puluhan juta, langsung punya anak, pasangan sangat romantis, dsb. Enggak demikian, semua itu adalah proses. Dan bapak-bapak ini juga lagi pada berproses di wilayahnya masing-masing. Kesimpulannya kalau mau berkeluarga: tergantung gimana kita mau berproses sama orang yang kayak gimana. Ini yang harus kita pahami dengan baik. Dan di sini juga ikut menyaksikan dari cerita bapak-bapak ini, gimana mereka berproses selama beberapa tahun berumah tangga sama pasangannya. Gimana mulainya, tantangannya, dan penyelesaian masalahnya. Sekali lagi, manage your expectation.
Kualitas Dosen: Dari Local Maxima ke Global Maxima
Sudah ada shifting positif latar belakang pendidikan dosen khususnya bidang STEM.
15-20 tahun lalu masih umum dosen S1-S3 di dalam negeri, bahkan kuliah di tempat dia mengajar.
5-10 tahun ke belakang, a big chunk dosen muda adalah S1-S2 di dalam negeri, jadi dosen, lalu S3 ke luar negeri. Naik satu anak tangga. LPDP/beasiswa kementerian adalah key enabler-nya saat beasiswa lain jauh lebih kecil acceptance rate-nya.
Bagaimanapun, kita masih bisa melihat dosen sebagai pekerjaan yang punya seleksi alamiahnya. Biasanya, mengajar di kampus yang punya support system dan familarity dengan kota/kampusnya.
Support system berarti kota kelahiran, dimana orangtua tinggal, kota dimana pasangan berasal, atau tempat pasangan bekarir. Support system punya kaitan kuat dengan adaptasi finansial saat jadi pengajar baru di kampus. Pentingnya aspek ini semakin kuat bila kampusnya semakin kecil.
Ada juga aspek familiarity dengan kota atau kampusnya. Familiarity dengan kota berkaitan dengan kultur kesukuan atau seberapa tidak asing (mungkin pernah travelling). Familiarity dengan kampus berkaitan dengan personal contact di kampus tersebut sebagai jembatan untuk beradaptasi atau memang alumni.
Dua hal yang mempengaruhi seleksi alamiah kandidat dosen baru ini membuat kampus-kampus di daerah lebih lambat berkembang.
Dewasa ini, rekrutmen dosen mencari lulusan-lulusan S3. Sebuah shifting untuk naik satu anak tangga. Tapi, lagi-lagi, dua aspek di atas sudah mensortir kandidat.
Jika digali lebih dalam, gaji dosen dan skema rekrutmen yang harus mulai dari bawah despite jam terbang kandidat membuat kampus-kampus likely dapat warga lokal atau alumni kampusnya sendiri.
Tentu kita tidak bisa mendiskredit kualitas kandidat manapun, tapi pool of talent-nya sempit dan yang terpilih adalah the best dari pool yang tersedia (local maxima).
Di sisi lain, kompetisi sangat berbeda di luar negeri. The top of the cream candidates bahkan "picky" memilih kampus dimana dia memulai karirnya mempertimbangkan starting package, seberapa atraktif, baik dari segi salary, starting grants, ataupun fasilitas lain seperti "allowance" menghire postdoc dan PhD students.
Membuat starting package menarik adalah cara kampus/negara ingin mendapat kandidat terbaik (global maxima). Itupun masih belum tentu diambil oleh kandidat karena pertimbangan pribadi seperti living cost, sekolah anak, budaya, dll.
Kita masih menunggu gebrakan serius bagaimana pekerjaan dosen ini makin atraktif, termasuk untuk mengajar di kampus-kampus di daerah. Kondisi saat ini hanya membantu yang besar makin melesat. Yang kecil dapat hikmahnya.
Satu hal lain yang saya sadari, dari segi kualitas kompetisi itu seperti air. Dia akan mencari jalan. Tanpa intervensi, kampus seperti UI & ITB bisa expect kandidat terbaik jebolan luar negeri. Sedangkan, kampus di daerah bisa expect kandidat kedua-terbaik DAN punya support system dan familiarity. Atau orang-orang yang "terpaksa" pulang kampung.
Sebagai first generation di keluarga besar yang kuliah sampai S2 dan S3, juga ke luar negeri, saya menilai langkah saya tidak terlalu optimal karena minimnya referensi about do's and don'ts.
Saya ingat akhir 2016-awal 2017, saya mengirim email ke 30an dosen di luar negeri untuk memperkenalkan diri dan menanyakan apakah beliau sedang rekrut mahasiswa PhD. Waktu itu ijazah S2 saya dari The University of Manchester sudah keluar. Saya juga sudah siapkan CV.
Tapi, dari sebanyak itu hanya ±5 saja yang balas. Itupun, cuma satu yang beneran punya beasiswa/secara aktif merekrut mahasiswa, dari kampus Turki.
Saya juga pernah pakai dua pendekatan lain, yaitu daftar ke PhD vacancy yang diiklankan di website kampus dan nanya-nanya ke alumni kampus/grup riset inceran (kebetulan ada orang Indonesianya).
Pendekatan yang pertama ini mirip melamar kerja dan prosesnya cukup lama, waktu itu saya daftar untuk lowongan di kampus Swedia dan Jerman awal tahun 2017 untuk intake Sep/Okt di tahun yang sama. Sampai saya pegang offer dari dua kampus lain di bulan April, email saya lolos/nggaknya di tahap administrasi saja belum ada.
Pendekatan yang kedua itu butuh manuver tanya-tanya ke individu. Saya awalnya tanya masukan ke dosbing skripsi. Terus nemu nama orang Indonesia di salah satu paper yang saya baca. Saya juga tahu almamater S-1 saya (NTU) adalah pionir bidang halide perovskite photovoltaics (topik tesis S2 saya di Inggris). Dari korespondensi dengan dosbing dan peneliti orang Indonesia tersebut, info mengerucut untuk menghubungi dosen X (muridnya Michael Graetzel dan Anders Hagfeldt). Singkat cerita slot binaan mahasiswa PhD dosen X penuh (harus nunggu ada yang lulus baru bisa rekrut yang baru), lalu saya diminta hubungi dosen Y yang pernah postdoc di labnya Alan Heeger. Saya diterima jadi binaan dosen Y setelah wawancara dan melengkapi administrasi.
Setelah juga bekerja 2 tahun di kampus di Inggris (Newcastle University) dan membimbing indirectly dua mahasiswa lokal, belakangan saya bisa bilang bahwa:
- Umumnya beasiswa PhD itu diiklankan di portal kampus/website tertentu
- Hanya di beberapa negara saja dosen diberikan slot beasiswa untuk rekrut PhD dengan beasiswa dari kementerian pendidikannya (bukan dari funded project)
- Calon mahasiswa dengan beasiswa negara asal likely dapat warm welcome dari dosen di luar negeri layaknya an extra free team member, apalagi jika ada on going project/current interest yang overlapped dengan topik riset yang diusulkan calon mahasiswa
- Rekrutmen mahasiswa PhD berbasis project punya siklus waktunya sendiri yang bisa 6-9 bulan sehingga jangan resign dulu sambil lamar-lamar PhD, nah biasanya akhir tahun/awal tahun lagi banyak tuh lowongan diiklankan
- Sebar email saja (cold email) agak kurang efektif jika ingin nanyain ada lowongan/beasiswa nggak, tapi... respon dosennya akan berbeda kalau kita bilang kita mau lamar LPDP... karena ibaratnya bilang "I need you as PhD supervisor but I will try securing my own stipend/scholarship"
- Lowongan yang diiklankan itu mungkin sudah punya kandidat internal, jadi jangan berkecil hati kalau tidak diterima/tidak dipanggil wawancara karena proses rekrutmennya bisa jadi formalitas
- Dosen yang ngiklanin lowongan PhD bakal main aman (cari risiko paling kecil), jadi urutan prioritasnya: kandidat internal (alumni S2 kampus tersebut) > rekomendasi koleganya > alumni kampus yang dia familiar/ternama > mahasiswa dari dosen yang aktif publish di bidangnya (walaupun kampusnya kurang terkenal) > mahasiswa yang punya publikasi internasional (punya pengalaman riset dan nulis jurnal) > terakhir, mahasiswa dari kampus yang dia nggak pernah dengar dan tidak punya publikasi
- Ranking kampus seharusnya tidak jadi target utama karena ada aspek yang lebih penting membantu kita tenang dalam menyelesaikan PhD, misalnya aspek keuangan (stipend vs living cost), kultur riset (pilihan negara), karakter supervisor (senioritas dosen), resources (fasilitas dan ukuran grup riset), dan support system (bisa bawa keluarga ga, keluarga bisa nyaman ga, ada komunitas orang Indonesianya ga).
Dari catatan di atas saya melihat bahwa ada dua path yang bisa diusahakan yang mana butuh trik/langkah strategis yang berbeda:
1) beasiswa dari negara tujuan baik itu dari dana proyek/kementerian;
2) beasiswa yang dicari terpisah tapi dapat persetujuan dibimbing supervisor/LoA akan meningkatkan chance seperti LPDP, DAAD, dan beasiswa-beasiswa negara seperti di Swiss dan NZ.
Keduanya punya plus minusnya terkait pemilihan topik/supervisor/kampus/negara dan probablitas mendapatkannya tergantung starting point kita saat mendaftar.
***
Nah, sejak akhir 2021 saya sudah mulai membantu kawan-kawan yang tertarik lamar PhD ke luar negeri, baik yang bingung mulai darimana atau buat yang sudah melangkah banyak namun belum berbuah hasil. Awalnya, saya memberikan bantuan berupa konsultasi secara gratis sebagai bentuk syukur saya sudah diberi rezeki sekolah sejauh itu (S2 di UK, S3 di SG) sekaligus mengumpulkan jam terbang sebagai Pre-PhD Consultant.
Sekarang, saya sudah mengantongi 30+ jam/sesi konsultasi, membangun bahan/framework diskusi, dan menyiapkan banyak contoh untuk dibagi dalam sesi konsultasi "How To Make Strategic Moves in Applying for PhD" dimana saya menerima request jasa konsultasi dengan "thank you" fee, pay as you wish.
Success story sejauh ini "mengantarkan" teman-teman bisa kuliah PhD di Belgia, Australia, Jepang, dan Italia. Semoga akan ada kabar-kabar baik lainnya di tahun 2026.
Please reach out if you need some help in preparing your next move towards the PhD journey you dream about.
See you!
Satu-satunya orang yang harus terus menerus di-nasehati adalah diri sendiri.
Sebab sahabat dan musuh terdekat nyatanya bersemayam di tubuh yang sama.
Mari suarakan di platform apapun yang kita punya.
Penulis, karyawan, dan mahasiswa (pencari kerja di masa depan) harusnya peduli karena perubahan sistemik ini diperlukan bagi semua pembayar pajak.
Turun ke jalan atau bergerak dengan jari tangan itu pilihan.
Tapi mengedukasi orang-orang sekitar kita dan saling jaga ada keharusan.
Sampai tuntutan kita dikerjakan, suarakan!
We are now in an injury time.
We are demanding the elected leaders to listen and make systemic change.
https://bijakmemantau.id/tuntutan-178
#resetindonesia
Sudah tiga minggu saya di Bandung.
Sudah biasa sarapan di pinggir jalan, nasi uduk pakai telor balado atau bubur ayam 13k. Lalu siang makan nasi padang 18k. Malamnya makan nasi goreng 15k atau indomie telor 10k.
Di saat yang sama, saya perlahan menurunkan gaya hidup, terutama dalam order makan online dan ke kafe.
Point Coffee 25k (no) vs kopi susu botolan 5k-9k (yes!)
Seporsi mie blabla di kafe 65k (no) vs makan 2 porsi di warung tenda 42k (yes!)
Gaya hidup ini emang variabel yang bisa ditekan atau bisa juga dibiarkan.
Keinget dulu waktu di Inggris, pengen banget ada abang tukang bubur ayam pagi-pagi atau akang batagor/bakso sore-sore lewat depan rumah. Nah! Ini dia, nikmatilah.
Mungkin juga udah umurnya. Akan tiba saatnya kamu tidak lagi penasaran. Akan tiba saatnya kamu bisa mengatakan dalam hati "toh sama saja kenyangnya". Di level berikutnya, kita akan meniatkan makan banyak di rumah sebelum ke mall biar ga jajan atau menahan ga beli ini itu saat di mall dan nanti cari makan di warteg atau beli minum di minimarket/warung tenda di luar.
Great appreciation to my wife @syofarahals for her big heart to adjust quickly to the culinary life "we wished for when we were abroad".
Bye upper middle class life style!
If you, for some reason, still have a subscription to the Atlantic, cancel it
Buah ilmu adalah adab dan empati.
Mungkin ilmu kehidupan, bukan teori di kelas atau buku-buku.
Ilmu kehidupan dapatnya di luar, lalu dibawa ke dalam. Maka muncul rasa untuk menakar (adab dan empati).
Susah ya konsisten itu... konsisten menulis catatan refleksi harian, konsisten olahraga ringan, konsisten mengurangi porsi makan malam, konsisten tidak minum kopi setelah jam tertentu, konsisten menjauhkan hp dari kasur setelah jam tertentu, konsisten tidak buka sosmed di prime time pagi, dan konsisten nutupin tab-tab yang udah selesai dibaca/udah ga diperlukan lagi di browser laptop. Konsisten ini jadi lebih susah saat sedang stres atau kurang tidur. Mungkin semua konsistensi ini perlu dimulai dari meditasi (sholat, berdzikir, dan berdoa) dan mengurangi screen time di hp. Good night!
Satu hal yang kentara 3 minggu di Indonesia (Jakarta) setelah 2 tahun di Inggris adalah gua jadi gampang sakit. Mohon info kalo ada pengalaman serupa, misalnya pulang studi di LN. Apa kualitas lingkungan (misalnya udara) di Jakarta jadi sangat rusak dibandingkan 2-3 tahun lalu ya?
Investasi terbaik masa muda :
Investasi diri dan waktu.
(c)Quraners
One Singaporean reported me so I spent 3 hours and 30 mins in a interrogation room I planned a day trip for my parents and younger sister t
Our Singapore trip was cut half shorter. But we were grateful because we still managed to visit Masjid Sultan and Mustafa Center. My mom tried the ferry and my sister got her passport used for the first time! And of course we brought home lots of chocolates!
Bersyukur itu kunci terbukanya jalan dan hati. Berdoa itu kompasnya. Sholat itu tali kendali layar kapal mengarungi lautan pilihan dan kejadian.