Berdamai dengan ketetapan.
Manusia selalu merancang rencana hidup; plan A, plan B dan plan C. Semua sudah dirangkai dengan banyak kemungkinan dan rencana cadangan.
Namun, satu yang sering lupa; berserah diri atas semua rencana itu kepada Sang pencipta—bahwa semua rencana itu selalu berpotensi tertunda, gagal, tergantikan, atau berantakan sama sekali.
Ketika pena-pena telah di angkat dan lembaran-lembaran catatan takdir telah mengering. Beberapa hal akan jauh melesat terjadi di luar perkiraanmu. Beberapa harapan seketika mati ditelan kenyataan.
Ketetapan Allah seringkali di luar seluruh rencana dan harapan hati. Kesedihan, kekecewaan dan amarah pun bercampur jadi satu yang semua akumulasi perasaan tersebut mengantarkan hati pada satu pertanyaan; kenapa harus aku yang mengalami ujian ini, ya Allah?
Ya, karena bagi Allah hanya kau yang mampu untuk melaluinya. Tidak orang lain, tidak siapapun, tapi hanya kau yang bisa.
Ketika pahitnya kenyataan merudungmu dengan kesedihan dan kekecewaan, maka hanyalah Allah tempat kembali, selalu Allah.
Kembali kepada Allah dengan membawa sabar dan melaksanakan sholat—adalah jalan meminta pertolongan kepada-Nya yang Maha kuasa.
Allah yang menghadirkan ujian itu ke dalam kehidupanmu, maka hanya dengan petunjuk-Nya, seorang hamba dapat bertahan dan melalui ujian itu.
Setiap ketetapan entah manis atau pahit, selalu membawa mutiara hikmah untuk menguatkan iman. Dan jalan untuk menemukan mutiara itu adalah dengan menjalani ujian yang diberikan-Nya dengan penuh sabar, taqwa dan kepasrahan.
Kelak, ketika penghujung ujian itu menuju titik akhir, sebelum berganti dengan ujian kehidupan yang lain (yang mungkin jauh lebih pelik atau lapang dilalui). Maka rangkaian tanya (mengapa aku yang diuji) akan menemukan jawaban, jawaban yang ditemukan setiap hati pun akan berbeda-beda;
Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat. (QS. Al-Baqarah: 269)
Apapun ketetapan yang pernah atau kini tak sesuai harapan, semoga Allah tuntun hatimu dan hatiku untuk berdamai dan menjalani ketetapan itu dengan ikhlas. Semoga Allah, senantiasa meridhoi. Aamiin ya Rabb...🌜
Kontemplasi, 10 Juni 2022 06.17