Nasihat Teman Khayalan • Kau tahu? Setiap orang punya musibah dan kesalahannya sendiri-sendiri. Jika musibah atau kesalahan seseorang membuat kau merasa sadar dan lebih bersyukur akan berkah hidupmu itu adalah sangat baik.
Namun sering kali jika kau dengan teliti membedah dan mengupas lapisan-lapisan pikiran dan perasaanmu dalam memersepsikan situasi orang tersebut, kau akan menemukan dirimu merasa “lebih baik” dari orang tersebut, atau merasa caramu dan kondisi hidupmu menjadi “lebih benar” dari orang tersebut. Maka kemungkinan ada unsur ego yang tidak sehat di sana.
Coba kau bayangkan kejadian ini—dan aku yakin ini sering kau alami dalam hidupmu:
Seorang X memiliki kesuksesan finansial yang luar biasa, dan sering kali, tanpa disadari, melihat hal itu ada bagian diri kita yang gelisah, insecure, atau meragukan diri dan hidup sendiri. Dan bahkan merasakan “shame” atau rasa hina dan ketidakpantasan.
Kemudian ketika orang tersebut terjerat kasus, kita akan merasa sadar dan bersyukur bahwa hidup kita baik-baik saja meski sederhana. Itu adalah hal yang sehat.
Namun jika kita menelaah dan menyelami lebih dalam, ada bagian dari diri kita yang merasa “lebih baik” dari orang itu. Merasa cara kita dalam berjuang adalah “lebih benar”, merasa “lebih manusiawi” merasa “lebih jujur”, merasa “lebih halal”, merasa “lebih berpahala”. Sebuah situasi di mana yang tadinya terdapat perasaan kegelisahan, insecurity, dan keraguan tanpa disadari berubah menjadi merasa “lebih baik” dari orang tersebut.
Hal ini muncul dalam bentuk:
“Tak apa aku tak sekaya dia tapi aku lebih baik.”
“Untuk apa sekaya dia kalau ternyata dia tidak lebih baik daripada aku.”
“Untuk apa secantik dia kalau dia tidak lebih beriman daripada aku.”
“Aku tidak setampan/ atau secantik dia, tapi setidaknya aku lebih baik karena aku tidak menggunakan narkoba.”
Dan lain sebagainya. Baik itu hanya dalam batin, atau diucapkan secara lisan.
Selain itu hal tersebut juga sering kali kau proyeksikan dengan cara meninggalkan komentar menghakimi:
“Yahh kirain sultan, taunya penipu.”
“Cantik sih, tapi buatan.”
“Gapapa jelek dan sederhana, dari pada jelek dan kaya, eh taunya jelek dan maling.”
“Mba ga usah hijaban kalau hatinya kotor.”
“Cantik putih tapi pelakor. Cape deh.”
Itu semua adalah proyeksi dari ego kita yang merasa menang. Sebuah pencapaian ego di mana secara alam bawah sadar ego kita yang iri, yang tidak puas dengan diri dan hidup sendiri, akhirnya punya alasan untuk merasa puas. Yang alasan itu adalah kesalahan dan musibah orang lain.
Itu bukan kehebatan sejatj. Itu adalah ego ter-boost dengan menggunakan kesulitan orang lain.
Kau harus paham bahwa aku tidak membela kesalahan yang mereka buat, aku tidak membuatmu harus membela kesalahan mereka. Aku bahkan tidak menyinggung masalah empati. Bukan itu fokusnya. Fokus dari renungan kita ini adalah bahwa kau harus menyadari sering kali egomu menunggangi hal apa pun termasuk kesulitan dan proses penderitaan dan pembelajaran orang lain untuk menyuburkan “Keakuannya.”
Itu bukanlah kedamaian yang hakiki dan mandiri. Itu adalah ilusi. Lagipula itu membuatmu lalai dan takabur, kau sangat bisa melakukan kesalahan yang sama. Hati-hati. Ambil pelajarannya, ambil hikmahnya, namun tak perlu menghakimi. Itu bukan tugasmu.
Josh, My Imaginary Friend • @telusursejati