Aku rindu kala itu, saat masih menjadi pemaaf yang paling ulung. Tidak ada isi kepala yang rumit, kecuali hanya tentang rasa kesal karena waktu bermain telah habis. Nyatanya, menjadi dewasa memang tak seindah dulu
Dalam pelukan ibu aku mengadu manja, menangis terisak dan meminta sebuah benda, itu di masa kecilku.
Dalam pelukan ibu, aku menipu rasa, berkata baik-baik saja, menutupi tangis dengan tawa, agar ibu tak ikut terluka, itu di masa kiniku.
Waktu kecil ayah sering memarahiku karena tak pandai membaca. Waktu kecil ibu sering memarahiku karena tak pandai menulis. Kini aku sudah bisa membaca dan menulis. Aku membaca diri di cermin dan menulis luka yang ayah dan ibu berikan semasa kecil.
Dengan sifatku yang acap kali menutup diri dan tidak suka diganggu, aku tidak perduli dengan tanggapan mereka terhadapku. Kata orang tuaku, aku harus belajar, dan Aku berpikir bahwa untuk menanggapi hal tadi sama saja dengan membuang-buang waktu.
Dulu, yang aku tahu semua orang itu sifatnya protagonis. Namun sekarang, sepertinya Aku lah si antagonis yang pertama kukenali.
Semakin dewasa semakin rumit terasa. Rasanya banyak hal yang menjadi pertimbangan ketika harus mengungkapkan rasa. Tak bisa seperti waktu kecil dulu yang dengan mudahnya kita tertawa lepas saat bahagia dan menangis dengan bebas tanpa mengkhawatirkan apa-apa.
Jika mesin waktu ada, aku ingin kembali ke usia delapan, saat ayah dan ibu masih saling cinta.
Aku rindu saat dimana aku pura-pura tertidur dan Ayah dengan sigapnya membopongku ke tempat tidur. Aku rindu saat dimana aku ingin makan ini itu dan Ibu dengan cekatannya membuatnya untukku.
@midnight-thought-and-daydreaming
Masa-masa dimana seluruh indera tajam merekam semua kenangan. Curangnya saat memori memutar itu semua hingga terasa sesak di dada.
Aku merasa bebas. Kerikil kehidupan tak membuatku lemah. Segala tantangan kulakukan penuh semangat. Kesulitan dihadapi tanpa ragu. Semua seakan menjadi masa indahku. Masa yang selalu kurindukan. Diriku di masa itu, hai?
Yang kurindukan hanya dulu, di mana aku belum mengerti apapun tentang dunia ini. Masa di saat semuanya terasa begitu seru, tanpa beban dan kekhawatiran.
Seringnya, masa kecil membuatku iri. Sebab mengenangnya, menjadikanku hanya ingin kembali ke masa-masa dulu; dunia yang penuh kepolosan.
Hei! Kamu pernah melewati hari dimana kamu ga begitu peduli apa yang akan mendatangimu atau apa yang akan melewatimu. Kamu hanya fokus pada bagaimana kamu jalani hari demi harinya dengan begitu 'hangat', tidakkah kamu ingin kembali menjadikan 'rumahmu' yang sekarang seperti 'rumahmu' yang dulu? Meskipun lingkupnya sempit tapi hangatnya menjalar sampai keseluruh sisi, itukan yang membuatmu senyum ketika mengingatnya?
Sedari kecil dirutinkan untuk selalu bangun dini hari karna mendampingi ibu dan melambaikan tangan serta memberikan harapan titipan saat turut menghantarkan ayah pergi mencari nafkah. Ah, mengingat itu semakin menggebu rindu di kalbu.
Memang benar hal yang pernah aku mimpikan semasa kecil ialah cepat-cepat menjadi dewasa. Dimana aku tak perlu repot memikirkan hal rumit. Tertawa lepas sana sini. Lucunya baru ini aku menyadari bahwa menjadi dewasa itu terkadang tak seindah waktu kecil.
Kenangan manis pada masa kecil tak dapat kulupakan, dimana belum banyak kehilangan serta kekecewaan. Perihal hidup, beban yang ada di kepala hanya sebatas pr matematika. Tidak seperti dewasa, yang perlu jatuh, bangun menghadapi kerasnya dunia.
Tak ada yang bisa ku ceritakan. Tak ada juga yang ingin aku kenang, meski mengendap dalam ingatan namun rasanya telah hilang.
Masa kecil kita sama. Lugu dan seenaknya.
Mungkin bedanya, hanya ada satu sayap yang membawaku mengangkasa.
@sitijubaedahputrimanguntur
Saat kita masih berseragam merah putih kamu berjanji akan selalu ada di sampingku sampai kapan pun ternyata, setelah kamu dewasa kamu melupakan segalanya; melupakan kenangan manis kita dulu.
Kala itu, aku berimajinasi seluas angkasa, merangkai setiap bait mimpi, menjelma menjadi pahlawan terhebat di muka bumi. Mengharapkan setiap angan tertuju pada sasaran. Indahnya kala itu, tanpa terpikir panjang terasa angan sampai pada tujuan. Detik ini aku tersadar, bahwa mimpiku tak seindah itu, rasaku tak mampu sampai dan harapku pupus setengah jalan.
Waktu itu, aku ingin kembali.
Ketika kita tidak mengenal rasa ragu dan apapun yang diinginkan terasa akan terwujud.
ketika aku berada di pangkuan ayah ibu,
Aku dimanjakannya, kasih sayang mereka ia taburkan untukku.
Aku nakal, mereka tetap sabar dan menasehatiku.
Merawat diriku, hingga bertumbuh,
Menjagaku tanpa kenal lelah,
Memelukku dengan kehangatan.
Aku rindu kebersamaan itu, andai saja momen itu bisa hadir kembali.
Tapi itu hanya sebuah angan, karna semesta lebih mencintai ayahku, aku pun harus mengikhlaskan kepergiannya.
Masa kecil. aku memutar netra lalu tenggelam dalam kubangan asa. Mereka menceritakan indahnya, dan aku ragu untuk menulis apa? Apa yang mesti kutulis, sedangkan masa kecil-ku abu tak memiliki warna untuk kulukis, tidak memiliki tawa untuk kuceritakan betapa indahnya. Aku manusia kecil yang sering menunduk pasrah di sudut itu, menutup mata karena takut tapi mencari celah untuk melihat karena penasaran. Serumit itu, aku kecil sering bertanya tentang apa, bagaimana dan mengapa? tapi tak seorang-pun berkenan tuk hadir apalagi selalu ada, menyediakan bahunya untuk aku bersandar dan bercerita. Aku kecil begitu kesepian, ruang kosong di hatiku masih hampa.