Bukankah di hari kamu menyatakan bahwa kamu mengimaniNya, itu artinya juga menerima takdirNya; suka atau tidak suka. Tetap diperkenankan bercerita lewat sujud-sujud yang lama, tapi usahakan berprasangka baik ya, Ra.
No title available
Three Goblin Art
tumblr dot com
$LAYYYTER
Keni

Andulka

Kiana Khansmith
Cosimo Galluzzi
noise dept.
Sade Olutola

No title available
🪼

Janaina Medeiros
I'd rather be in outer space 🛸
Mike Driver
Jules of Nature
KIROKAZE
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Origami Around
Cosmic Funnies

seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from Morocco
seen from Malaysia

seen from Morocco
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye

seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
@deiraside
Bukankah di hari kamu menyatakan bahwa kamu mengimaniNya, itu artinya juga menerima takdirNya; suka atau tidak suka. Tetap diperkenankan bercerita lewat sujud-sujud yang lama, tapi usahakan berprasangka baik ya, Ra.
memohon doa yang sama
bagaimana rasanya memohon doa yang sama selama sebulan penuh? bagaimana rasanya memohon doa yang sama selama setahun? sepuluh tahun? seumur hidup?
hingga kamu sadar. yang lebih penting bukanlah bilamana doamu dijawab iya sekarang. yang lebih penting adalah undangan Allah untukmu berdoa.
bagimu, memohon doa yang sama tidak masalah. yang penting Allah tetap mengundangmu untuk berdoa.
pada akhirnya, kamu jadi paham kenapa dulu banyak yang nggak jadi saat proses ta'aruf. kenapa dulu sering gagal. karena ternyata Allaah menyiapkan seseorang yang lebih sesuai, bukan cuma sesuai selera tapi sesuai arah hidup.
yang paling indah itu ketika kamu nggak merasa insecure di dekat dia. kamu nggak merasa kecil. kamu nggak merasa harus bersaing. kamu justru terus ingin bertumbuh bersamanya. kamu merasa cukup.
dia nggak cuma hadir sebagai pasangan, tapi juga sebagai partner bertumbuh. yang kalau kamu salah, dia mengingatkanmu dengan cara baik-baik. yang kalau kamu capek, dia temenin kamu tanpa merendahkan.
rupanya benar, selain "love should be fun" cinta itu juga harusnya tidak menghadirkan dosa. prinsipnya, kamu harus bahagia dulu dan berdamai dengan keadaan. jika sendiri aja kamu bisa bahagia, berarti kalo berpasangan harus lebih bahagia. bukan berarti tiap hari bersenang-senang terus, namanya hubungan pasti naik turun, tapi mostly kebahagianmu berlipat.
اللهم بارك
Ada kalanya, aku hanya butuh waktu untuk berdamai dengan realita yang tak selamanya mulus. Sering kali aku dipaksa menelan kecewa atau rasa lelah yang datang bertubi-tubi tanpa sempat bertanya kenapa.
Sama seperti tokoh-tokoh dalam sastra klasik yang sering kubaca, keindahan hidup sering kali muncul justru setelah melewati badai yang hebat. Barangkali memang begitu jalannya; manusia diciptakan berada dalam susah payah—laqad khalaqnal-insana fi kabad. Payah itulah yang sebenarnya sedang membentuk kedewasaanku, selapis demi selapis.
Namun, di tengah rasa lelah, aku sempat ragu: benarkah keindahan itu masih ada?
Dostoevsky pernah menulis bahwa "keindahan akan menyelamatkan dunia", dan keindahan yang dimaksud bukan sekadar apa yang tertangkap mata. Ia bukan sesuatu yang instan. Mungkin saja, ia adalah bentuk ketangguhan yang lahir dari sebuah perjuangan panjang yang hampir membuatku menyerah.
Jadi, iya. Keindahan itu memang ada. Ia sering kali bersembunyi di balik proses yang melelahkan, menunggu sampai waktunya tiba.
Dan perlahan, aku menyadarinya sebagai sebuah kemenangan kecil.
Bintang itu Namanya Hasna 'Athifa
Pernah nggak, ketemu orang yang non-blood relative tapi ternyata isi kepala dan cara kerjanya mirip bahkan banyak samanya? Dan somehow, ternyata dia bisa eksekusi banyak hal jauh lebih baik dari yang kita lakukan hari ini? Yang bikin kepikiran kalau orang ini adalah better version dari versi diri sendiri?
Itu dia. Itu yang aku bisa deskripsikan tentang manusia yang roomchatnya isinya 101 asbunnya yang harus diapresiasi; mulai dari soal skripsi, jodoh (dan jodoh-jodohin orang), visi masa depan, sampai kerjaan. Namanya Hasna Athifa, or else, dipanggilnya Tiput.
Long-short story, aku ketemu anak ini di Ibbas (dengan segala dramanya; oh wow aku juga bingung kenapa Ibbas selalu jadi awal mula ceritaku bersama manusia-manusia keren ini) sebagai kakak kelas dan adik kelas. Di masa-masa labil ini, aku ketemu dia dengan versinya yang berani nyoba banyak hal (regardless itu dibolehin sama 'amn atau enggak), keluyuran di pendopo dengan atasan mukena, dan versinya yang kalo buka suara tuh lantai 1-2 dengar semua. Sevokal itu, memang, tapi dia betulan kelihatan menikmati hidup dikelilingi teman-teman yang gak kalah uniknya. Ada satu quotes dari Tiput versi kelas 9 yang sampai hari ini aku inget ketika aku hari itu mampir ke asramanya,
"Ti, kita tuh harus jadi ash-shalihatu qanitaatu hafizhatu lil ghaibi bi maa hafizhallah,"
Oh, well. Aku tau sih, dia cuma mengutip QS An-Nisa : 34 dengan gaya slengean-nya itu. Aku juga tau pas itu dia bilang gitu karena lagi persiapan juziyah juz 5 (apa baru ziyadah ya? atau karena habis diingetin Ustadzah Uswah ya?) tapi obrolan (tidak) serius itu betulan membekas karena itu adalah titik awal dimana aku 'mencari' definisi perempuan yang shalihat, qanitat, dan hafizhat yang seharusnya.
Despite dulu aku (dan Dinda) suka banget jailin dia, tapi dari jaman SMP itu aku tau kalau Tiput was meant to be a star. Mungkin bukan yang paling terang, bukan juga yang paling besar, tapi yang bersinar paling lama; simply karena dia tau kapan harus berbagi dan kapan harus berhenti. Alih-alih menonjol kayak Sirius, self-less-nya Tiput yang bikin dia sering kali 'berbagi' sinar buat temen-temennya yang hilang arah. Tapi di lain hari, dia bisa jadi yang paling pertama untuk membatasi ketika teman-temannya nggak tau diri (no offense tapi temen dia kan emang ada yang kayak gitu!)
And here we are now. Tiput hari ini mungkin punya satu dua hal yang gak beda jauh dari Tiput yang kutemuin dulu, tapi yang aku tau, Tiput versi hari ini punya lebih banyak lagi yang bisa dibagi : ide, aspirasi, tawa, keresahan, semangat, pempek (no offense, gue suka banget pempeknya!) dan it suits her a lot. Aku seneng banget waktu Tiput nggak sungkan ngechat cuma buat bilang skrispsa-skripsi, cuma buat nanya kapan ketemu (padahal kalo ketemu bukannya ngerjain malah bahas yang lain). Aku seneng dia dikelilingi orang-orang baik, yang tumbuh dan menumbuhkan dan bikin dia semakin banyak refleksi - which is something I barely had during my undergrad era.
Dengan segala kemiripan kepribadian, pola perilaku, cara kepala bekerja dengan banyak interest disini dan disana, aku selalu bersyukur karena kenal dia dari seluruh umat manusia.
Jadi, aku cuma mau bilang :
Kalau suatu hari nanti dunia nggak cukup baik untuk dia; semoga selalu ada perpanjangan tangan dari Allah yang menguatkan dan memampukan semua yang dia usahakan. Kalau suatu hari ada fase yang melelahkan, semoga Tiput nggak lupa kalau dia boleh untuk minta bantuan, minta diingatkan kembali ke tujuan.
Yang melelahkan bukan pekerjaannya, tapi perasaan tidak dihargai di tempat yang seharusnya saling mendukung.
Aku tidak sedang lemah. Aku hanya mulai sadar, tidak semua tempat pantas untuk kuperjuangkan.
Allah yang menjawab
hidup sebagai orang dewasa mengajarkanmu bahwa Allah yang paling Maha adalah Allah yang akhirnya menjawab semuanya.
segala pertanyaan yang muncul di benakmu: apa, ada apa, mengapa, bagaimana, kapan, di mana, bahkan siapa--Allah jawab satu per satu. mungkin tidak dengan jawaban yang paling enak untuk didengar. mungkin tidak dengan cara yang paling nyaman untuk diterima. tetapi kebenaran dari Allah selalu datang pada waktu yang paling tepat, saat diri kita sejatinya paling siap. iya, kebenaran itu milik Allah.
bukan waktu yang menunjukkan. bukan semesta yang membuktikan. cukuplah Allah yang menjawab.
ingatlah bahwa Allah yang menjawab semua pertanyaanmu juga adalah Allah yang menjawab semua doamu. serahkan semua pertanyaan kepada Allah sebagaimana kamu menyerahkan semua urusan kepada Allah. tugasmu tidaklah hanya berdoa, tetapi berdoa dengan penuh keyakinan. begitu kuatnya hingga doa itu terwujud dalam tindakanmu, perilakumu, kebiasaanmu, sikapmu, sifatmu.
Allah akan menjawab semuanya. saat jawaban itu datang, percayalah kamu sudah sangat siap, kamu sudah sangat mampu dan kuat karena Allah yang menyiapkan, memampukan, menguatkan.
Lebih baik berada dalam ketidaknyamanan agar terus bertumbuh dan berkembang. Barangkali ini carany untuk kit terus berkontribusi dan bermanfaat untuk orang lain🤍
Yang Retak Bukan Perasaan, Tapi Cara Kita Bicara..
Tidak semua konflik berakar dari kebencian. Sebagian justru tumbuh pelan dari kata-kata yang tak selesai, nada yang disalahartikan dan kelelahan yang tak sempat dijelaskan.
Sering kali kita mengira seseorang menjauh karena tak peduli, padahal mungkin ia hanya tak tahu bagaimana harus menjelaskan isi kepalanya atau kita merasa diserang, padahal yang datang hanyalah pesan yang gagal dipahami dengan utuh. Aku belajar bahwa banyak masalah membesar bukan karena niat buruk, melainkan karena komunikasi yang terpotong di tengah jalan. Kita mendengar untuk menjawab, bukan untuk mengerti. Kita bereaksi sebelum benar-benar memahami.
Andai lebih banyak ruang untuk bertanya? lebih sedikit asumsi dan lebih banyak keinginan untuk mendengar tanpa bersiap membela diri, mungkin tak semua hubungan harus retak.
Karena kadang, yang rusak bukan perasaannya melainkan cara kita menyampaikannya.
Barangkali tidak semua harus diselesaikan hari ini. Kadang, memahami perlahan sudah cukup untuk tidak saling menyakiti.
Kalaupun masih ada jarak, semoga suatu saat kita bisa belajar menjembataninya dengan pelan.
🍁🌼🌊
---TAKALAR KOTA || Selasa, 03 Februari 2026. Pukul: 14.43 WITA---
Semalam, aku melihatnya lagi di dalam mimpi.
Kami berada dalam sebuah bus yang sama, entah menuju ke mana? Aku tak bisa mendengar suaranya, namun kenangan yang tersimpan hadir seperti anak burung yang mengetuk jendela. Wajahnya samar seolah waktu tak pernah benar-benar berani menyentuhnya. Di antara kabut tidur yang pekat, aku hanya bisa menatapnya. Tak ada keberanian untuk memanggilnya, karena mimpi adalah wilayah rapuh yang mudah pecah oleh satu kata.
Jika mimpi adalah cara semesta mengirim kabar, biarlah kabar itu tentang keselamatanmu. Tentang pagi yang hangat yang masih kau temui dengan nafas lega, dengan degup jantung yang setia pada tubuhmu dan langkah-langkah kecil yang membawamu menjauh dari segala yang ingin melukaimu. Aku hanya ingin memastikan bahwa di suatu tempat, engkau baik-baik saja, dan itu sudah lebih dari segalanya.
Dear, the brightest star in the universe, stay happy and healthy ya :)
jika suatu hari nama kitalah yang diumumkan berpulang di masjid2 kampung di dekat rumah kita, sejauh mana manfaat yang kita tinggalkan? sebanyak apa kebaikan dan ketenangan yang kita hadirkan di hati orang? seperti apa kita akan dikenang?
Wahai saudaraku, jika aku berpulang tolong maafkan khilaf yang pernah aku lakukan sadar atau tidak sadar. Aku adalah saudarimu yang tidak luput dari celah kesalahan. Barangkali saat di dunia aku terlupa menyampaikannya secara langsung. Maafkan aku!
Wahai saudaraku, jika aku berpulang tolong doakan aku. Jangan berkomentar "alfatihah" di kolom media sosialku tapi cukup kirimkan aku doa yang ikhlas dari lubuk hatimu karena itulah yang benar2 akan sampai kepadaku dan meringankanku. pun, jika sewaktu2 kau mengingatku, berkenankah kau juga mengirimkan doa kembali?
Wahai saudaraku, jika aku pernah berhutang dan terlupa membayarnya, mohon tagihlah dengan lembut pada keluargaku. InsyaAllah mereka pasti berkenan menyelesaikannya dengan sangat baik.
Wahai saudaraku, jika ada aibku tolong tutupilah dan biarkan itu jadi pelajaran bagimu untuk tidak mencontoh sedemikian rupa.
semoga ini jadi tabungan amal baikmu disisi-Nya. Sampai ketemu saudaraku, jika kelak kau pun berpulang dan tidak menemuiku di Surga mohon tariklah aku dan ajak aku bertetangga disana. Semoga ada banyak hal baik yang kita lakukan bersama sehingga kau punya alasan menyebutku dihadapan Tuhan.
—semoga Allah izinkan kita memupuk amal ketika di bumi ya kawan-kawan agar kita berpulang dengan persiapan matang.
jika suatu hari nama kitalah yang diumumkan berpulang di masjid2 kampung di dekat rumah kita, sejauh mana manfaat yang kita tinggalkan? sebanyak apa kebaikan dan ketenangan yang kita hadirkan di hati orang? seperti apa kita akan dikenang?
Wahai saudaraku, jika aku berpulang tolong maafkan khilaf yang pernah aku lakukan sadar atau tidak sadar. Aku adalah saudarimu yang tidak luput dari celah kesalahan. Barangkali saat di dunia aku terlupa menyampaikannya secara langsung. Maafkan aku!
Wahai saudaraku, jika aku berpulang tolong doakan aku. Jangan berkomentar "alfatihah" di kolom media sosialku tapi cukup kirimkan aku doa yang ikhlas dari lubuk hatimu karena itulah yang benar2 akan sampai kepadaku dan meringankanku. pun, jika sewaktu2 kau mengingatku, berkenankah kau juga mengirimkan doa kembali?
Wahai saudaraku, jika aku pernah berhutang dan terlupa membayarnya, mohon tagihlah dengan lembut pada keluargaku. InsyaAllah mereka pasti berkenan menyelesaikannya dengan sangat baik.
Wahai saudaraku, jika ada aibku tolong tutupilah dan biarkan itu jadi pelajaran bagimu untuk tidak mencontoh sedemikian rupa.
semoga ini jadi tabungan amal baikmu disisi-Nya. Sampai ketemu saudaraku, jika kelak kau pun berpulang dan tidak menemuiku di Surga mohon tariklah aku dan ajak aku bertetangga disana. Semoga ada banyak hal baik yang kita lakukan bersama sehingga kau punya alasan menyebutku dihadapan Tuhan.
—semoga Allah izinkan kita memupuk amal ketika di bumi ya kawan-kawan agar kita berpulang dengan persiapan matang.
Words that Meant to be for You, Sasa.
to be very honest, i was a bit reluctant to perpetuate my friends on my personal writing list but i still did even tho this one would never been on reach. and today, i personally write for one of my best companion toward my self-growth journey.
we used to call her sasa. kita nggak sedeket itu pas masa sekolah karena beda sekolah (gimana sih?) tapi ya gak tau deh kenapa aku lebih punya koneksi sama temen-temen yang SMA di Ibbas dibanding temen-temen SMP yang notabene satu SMP. pernah lah jadi bahan omongan, tapi yaudah sih.... mau gimana lagi, frekuensinya lebih 'sama' wkwkwkwkw. ya intinya I barely know her selain ketua OSIA yang keren dan pinter banget, tidak baperan, befriend with anyone. baru sekitar beberapa saat habis lulus, we attend the same university and the friendship (if I deserve call it friendship) began there.
dari semua manusia yang pernah papasan sama hidupku, kayaknya sasa deh yang punya konsistensi against my intrusive words with her logical mind. maksudnya kayak, ketika satu dunia kayak iyain asbunanku, sasa yang reminder aku buat 'lebih pake logika' dibanding perasaan. and something i need to mention, sasa has been credited as my anchor for the last few years yang kayaknya kalo gak ada dia, kayaknya hari ini aku masih belum bisa apa-apa.
she's beyond mesmerizing and sometimes i had to admit kalo aku kadang gak paham cara mikirnya yang kelewat dewasa itu but that was a good signs because every impulsive kid need her mature friend. jadi, aku mau bilang, semoga sasa tau kalo aku banyak banget bersyukurnya karena dikenali sebagai teman dia, saksi dia jatuh cinta, saksi hidupnya yang nano-nano up and downs dengan segala printilan dan kejutannya.
JUJUR YA. pas dia sidang terus nunggu wisuda tuh aku kayak, haaaaah emang boleh secepet itu???? hiks cuma karena beda batch masuk kampus kenapa rasanya tetep cepet ya? terbesit ada rasa khawatir kalo sasa udah gak di jogja, tapi sasa will always be sasa yang bilang kalo pun dia leaving jogja for good, dia bakal tetep jadi sasa yang aku kenal walaupun terpisah jaraknya.
my dearest sasa,
i am immeasureably grateful to have been granted a place in your life these past years, during which i have witnessed the unwavering dilligence, sincerity, and ardent passion you poured into your life and your scholarly pursuits. thank you for your constant presence, and for allowing me to stand by your side, even though i may never have been the closest among those who cherish you.
now, upon the occasion of your birthday (and graduation day), i hold the firm conviction that the future shall embrace you with a brilliance befitting your worth. and perhaps, as naday once reminded you, the days ahead appear dreadful only because they are unfamiliar; neither because you are unworthy nor incapable. therefore, i shall keep your name in my longest prayers : may Allah guide you in every step you take and every trail you track; may He cause the world to rest lightly upon your heart, and may He allow life to treat you with gentleness and grace.
—see you on another side of the world, sasa. semoga kita bisa triple date di jepang atau belahan dunia manapun yang Allah tuliskan buat kita, ya.
"Jika sampai kepadamu sesuatu yang kamu benci dari saudaramu, maka carilah untuknya satu udzur hingga tujuh puluh udzur. Jika kamu menemukannya, maka (terimalah). Jika tidak, maka katakanlah: ‘Barangkali ia memiliki udzur yang tidak aku ketahui." -Syu‘ab al-Īmān oleh Al-Bayhaqi.
50 posts!
"Urip kok isine mung golek LoA karo travelling. Mbok dieling-eling, Gusti Allah ngersakne hambane travelling dewean opo kaliyan mahrom e?"
Ujaran Paduka Ayahanda melihat life-plan anaknya tidak jauh dari LoA, sekolah master, sekolah profesi, kerja, jadi auntie keren, jadi kakak keren, sekolah doktoral, jadi senior dan junior yang easy-going.
Sabar itu seperti menanam benih di tanah yang terlihat tandus. Tak ada suara, tak ada gerak, tak ada tanda-tanda. Hanya keheningan. Lalu tiba-tiba, pada suatu waktu yang tidak kita duga, Allah menumbuhkan tunas kecil, tanda bahwa usaha diam dan panjang itu ternyata sedang diperhatikan-Nya.
Pada akhirnya, semuanya akan kembali. Namun kitalah yang menentukan bagaimana kita kembali.
Hidup ini memang selalu memutar. Luka akan pulang, bahagia pun akan kembali. Tapi bagaimana bentuk diri kita ketika semua itu kembali, lebih matang atau lebih patah, kitalah yang memilih.
Maka ketika hidup terasa berat, jangan hanya fokus pada sakitnya. Fokuslah pada dirimu yang sedang dibentuk. Karena bisa jadi, Allah tidak sedang menunda apa yang engkau minta; Ia sedang menyiapkan engkau agar pantas menerimanya.
Kadang Allah tidak langsung memberi, bukan karena Ia tidak sayang, tetapi karena Ia ingin menghadiahkan sesuatu yang tidak akan kita sia-siakan nanti.
@jndmmsyhd
Baru aktif lagi nulis di tumblr, insyaallah bakal banyak hal yang saya tulis setiap harinya :')