Pernahkah kamu merasa terjerat dalam ikatan yang tampak tak bisa terurai? Atau pernahkah kamu menjejakkan kakimu baik sengaja atau tidak di lumpur hidup? Yang mana semakin kamu bergerak, justru tenggelam yang semakin dekat didapat. Malam ini ia kembali hening. Duduk, bersandar di bangku kursi yang tampak mulai usang. Kepalanya ditengadah menatap langit kamar. Lampu utama kamarnya pun sengaja dimatikan. Hanya diterangi lampu meja sebagai penerang gulita hatinya saat ini. Entah karena penat yang sudah terlalu banyak mendera, refleks dipejamkan matanya. Nafasnya sedikit melemah, dan badannya pun seolah lunglai. Ada apa gerangan wahai pecinta malam? Adakah kau baik baik saja? Dalam gelap ia menerawang, merayap seperti laba laba yang menjalin benang. Namun, ia bukan laba laba. Hingga hanya alur kusut yang bisa ia rasakan saat itu. Dicobanya menyusuri jalan setapak dalam pikirnya. Meraba raba dinding hati terdalam, berharap ada tombol keluar otomatis dari kegelapan jiwa yang sedang ia dera. Tapi sekali lagi, tidak ada tanda tanda hidup yang bisa membawanya keluar. kerlip cahaya kunang kunang pun enggan bersinar untuknya. Bahkan udara seolah ikut menipis. akibatnya sesak mulai menyusupi rongga dada. Ia yang semula berlari, mulai berjalan, lalu pelan hingga akhirnya hanya bisa merangkak dalam gelap. Hawa dingin mulai menyelimut. Oksigen yang terbakar jauh menyusut. Otot otot disekitar tubuhnya mulai lemah. Hingga sekarang, ia hanya bisa bersandar, tak mampu lagi bergerak. Dalam segenap kelemahan diri ini, bibirnya pelan mengucap kata. "Tuhan, tolong aku.."