Hujan (Bukan) Di Bulan Desember
HUJAN INI
Part I : Prolog
“Jangan menutup diri karena trauma”
Sebuah penggalan kalimat dari beberapa perbincangan yang telah lama terjadi itulah yang membuka semua kalimat pada artikel ini.
Pernah suatu ketika, hujan yang turun pada suatu hari di bulan Desember menyebabkan kekeringan selama beberapa tahun setelahnya.
Ia yang turun menghujam tanah kala itu tidaklah bisa dinikmati seperti biasanya. Rasa yang kala itu seolah berputar-putar di dalam sebuah ruang sempit menjadi penyebabnya.
Ada sekelumit kekecewaan saat terlontar sebuah kalimat dari bibir kecilnya. Sekelumit kekecewaan yang seolah berubah menjadi sebuah pembatas di hari-hari, hinga tahun-tahun berikutnya. Tapi layaknya sebuah nasihat orang tua, tidaklah bijak jika menyimpulkan sebuah hal hanya berdasarkan kekecewaan saja. Ada pelajaran berharga yang bisa diambil dari hujan di hari itu. Pelajaran yang dirasa sangat berharga sehingga batasan antara berkah dan kutukan menjadi terlalu samar.
Entah berkah yang dirasa karena mampu membuat seseorang menjadi lebih dewasa dalam berpikir, atau kutukan yang membuat seseorang menjadi terlalu berlebihan dalam mempertimbangkan sebuah hal.
Jika orang itu adalah diriku, maka akan aku lupakan semua itu. Melupakan sambil menikmati waktu yang terus berlalu. Ya, aku mampu menikmatinya karena semua hal berjalan persis seperti yang telah ku rencanakan.
Part II : Musim Panas
Waktu yang terus berlalu memang seringkali tidak disadari, sampai pada suatu hari yang cerah di pertengahan tahun yang sedang berjalan. Ada sebuah perjumpaan yang terjadi begitu saja. Perjumpaan yang setelah itu terasa sedikit pahit karena ternyata bukan dimaksudkan untuk dapat dilanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Bukan kami yang tak mau, tapi keadaan yang membuai angan kami sekaligus membius segala logika dalam alam bawah sadar.
Berbulan-bulan setelahnya, semua hal tampak berjalan seperti biasa. Banyak orang yang datang dan pergi begitu saja, namun sosoknya selalu mampu mengusik pikiranku. Akhirnya kuberanikan diriku untuk melawan keadaan. Kami pun mulai saling mendekat, hingga tak terasa angin musim panas yang mulai berhembus seolah membisikkan sebuah hal yang dahulu pernah kuabaikan.
Masih kuingat aroma musim panas saat itu. Gelak tawa yang selalu mengisi hari, tatapan mata yang selalu membuatku terkatup tak berdaya, serta paras sendu yang membuatku teduh telah menjadi teman setia dalam keseharianku. Sesaat terasa begitu menyenangkan. Hingga pada satu titik, akupun sampai pada sebuah kesimpulan bahwa inilah saatnya aku untuk bergerak maju meninggalkan momen hujan di bulan Desember itu.
Berjudi, mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan momen itu. Mengabaikan nasihat yang diberikan oleh orang-orang di sekitarku, aku mengambil langkah yang menurutku sedikit banyak memiliki resiko.
Di hari itu, komitmen telah dibuat bersama. Sebuah kesepakatan untuk sama-sama memperbaiki diri sembari menjalani semuanya bersama pula.
Musim panas kali itu tidak terasa menyengat.
Part III : Romansa
Hari dimana komitmen itu telah dibuat, kami sedang berbahagia. Kasmaran, seperti gambaran orang yang menjalani kisah asmara pada umumnya. Tidak ada yang sempurna, segala kekurangan yang ada pada diri kami masing-masing kami terima dengan lapang dada serta janji untuk memperbaikinya demi masa depan bersama.
Entah musim apa saat itu, aku sudah tidak mau mengingatnya.
Waktu yang berjalan terasa begitu lambat dan menyenangkan. Sedari dimulainya hari sampai ucapan mesra yang mengantar mata untuk terpejam selalu dijalani setiap harinya.
Musim hujan yang datang pun tidak membuatku kembali mengingat hujan di bulan Desember itu.
Angin yang berhembus kala itu memang terasa begitu sejuk, begitu menenangkan.
Untuk pertama kali dalam beberapa tahun, setiap rintik hujan yang turun membahasahi tanah terasa begitu damai untuk dinikmati. Bahkan ada satu momen di saat hujan yang sampai sekarang masih mengundang senyum jika pikiran ini mau memanggil kembali ingatan akannya.
Seakan sudah mulai terbiasa, Hari-hari di musim hujan ini pun terus berjalan seperti apa adanya.
Tidak butuh waktu lama untuk membuatku berpikir bahwa “inilah orangnya”. Target pun telah disusun, sembari berpikir bahwa sosok ini harus bisa kujaga baik-baik sampai tiba waktunya untuk kami melangkah ke fase hidup selanjutnya.
Part IV : Pengulangan
Langit sore itu memang sedang cerah. Kilau cahaya yang bergerak perlahan menghilang menyibak kerai yang mulai kusam di jendela.
Momen seperti itu sungguh gemilang, andaikan tangismu tidak jatuh pada saat itu juga.
Tatapan kosongku juga seakan menghiasi pekatnya suasana sore itu. Tidak ada pekak suara yang melengking ataupun kerasnya sumpah serapah pada saat itu. Sesaat hanya ada kesunyian yang menyesakkan, seolah kami sedang berpikir keras mencari cara untuk bisa menipu realita.
Namun semakin keras kami berpikir, semakin membisu pula mulut kami.
Tak seorang pun yang menginginkan momen seperti itu. Namun apa daya, yang terjadi sudah terjadi. Tidak ada kekuatan apapun untuk mengubahnya. Kesalahan telah dibuat, hanya tersisa dua pilihan bagi yang menghadapinya, memaafkan dan mengabaikannya, atau meninggalkannya.
Andai hujan di bulan Desember tahun itu tidak pernah terjadi, mungkin pilihan pertama lah yang akan kuputuskan. Tetapi paradoks waktu juga berbicara pada saat itu. Andaikan hujan di bulan Desember tahun itu tidak terjadi, mungkin perjumpaan di musim panas itu tidak akan terjadi. Dan jika hujan di bulan Desember tahun itu tidak terjadi, tidak pula akan ada pelajaran yang dapat diambil darinya.
Baik atau buruk, hujan di bulan Desember itu membawaku melintasi sebuah perjalanan hingga tiba ke momen ini.
Part V : Selesai
Hari itu memang hujan masih tampak malu-malu untuk turun, namun derasnya air mata dari sepasang kelopak mata yang tampak sendu masih jelas terpaku di ingatanku. Ah, andaikan bukan kesalahan seperti ini yang tampak ke permukaan, mungkin aku masih bisa memaafkannya sambil berlalu. Keputusan pun sudah bulat dibuat, memohon seperti apapun tak akan bisa membalikkan keadaan. Hanya harapan untuk jauh lebih baik di jalan masing-masing pada yang akan datang yang bisa dibuat.
Seperti yang sudah kubilang sebelumnya…
Hujan kali itu, rasanya seperti hujan di bulan Desember. Hujan dimana sepasang mata hanya bisa menatap kosong di kejauhan, tanpa ada yang bisa dilakukan untuk bergerak mengubah keadaan.
Hanya saja ini bukan bulan Desember.
Last Part : Epilog
Hampir satu minggu berlalu, sampai sekarang ada satu lagu yang terputar saat menyambut derasnya hujan yang turun dan menyapa lewat bilur-bilur yang tak sempurna yang mengalir membasahi jendela.
Everything that i could do it for you Every thought will ever make you mine It’s alright, it’s alright
Every move that i could see it coming Every push just gonna kill me twice You can try, you can try
Don’t say you’re sorry, that i just don’t believe Don’t you say anything, i’m gonna set you free
Everything i do it to make you smile But i always make you cry I don’t know what i’d do if you walk away Everything i do it to make you laugh But i can never make you mine Now i know what i’d do Everything
Hujan yang turun di bulan sebelum Desember ini pun akan membawa kenangan baru.
Mungkin sesaat, mungkin juga selamanya.
Yang jelas, aku memang tidak pernah suka hujan di bulan Desember.











