Tiga tahun terakhir, kedai kopi tumbuh bak jamur di musim hujan. Hampir di seluruh kota di Indonesia bermunculan kedai kopi. Di setiap pojok kota, ruko-ruko disulap menjadi kedai kopi. Banyak pengusaha yang membuka kedai kopi dalam bentuk gerobak kaki lima. Mereka menyeduh biji kopi arabika specialty dan fine robusta. Itu menandai terjadinya pergeseran budaya “ngopi” di tengah masyarakat.
Penggemar kopi mulai meninggalkan kopi instan komersial yang digunting (sachet), beralih ke kopi kelas premium. Penggemar kopi menikmati biji kopi segar sangrai dan harus digiling langsung sebelum seduh. Kini mereka mulai meninggalkan kopi sangrai hitam seperti arang. Bahkan kopi kini cita rasanya tak lagi pahit. Sebab, para pengusaha menyangrai biji kopi lebih muda (light to medium).
Adapun sepupu gue Dilla dan Alan sangat suka kopi. Setiap Lebaran atau liburan di Bandung, pasti mampir ke kedai kopi di Bandung. Gue puputeran berdua Dilla, naik angkot, belanja, beli buku, dan terakhir ngopi. Kadang kalau harus jaga rumah, bikin kopi di rumah.
Semenjak Alan jadi barista, kami punya tempat kabur. Selain mendatangi dan menjemput si gimbal akibat kerja shiftnya, gue menikmati pojokan Drezeel yang “dingin” atau hangatnya Alan “Sok Rit pesen, Alan yang buat.” “Mau apa, Rit? panas atau es?”, “Rit, tungguin atuh rit mau ikut makan ih. Ini sebentar lagi kapten sorenya dateng.”, “yang ini enak nih rit. manis kok”.
Senenglah aing godain maneh tiap dateng dengan menyapa antusias “Haaai Alaaaaan” wkwk dan ia balas sambil merengut, “Naon sih teriak – teriak?”.
Dulu banget dari jaman A Ryan dan A Iqbal masih anak kuliahan (sekarang udah pada jadi Bapak!) kita diajak ke Ngopi Doeloe di Buah Batu. Pernah juga Wild Grass di Ciumbuleuit atau hits anak muda murah meriah di Kopi Anjis di Jalan Bengawan. Nah, libur lebaran 2017 kemarin, gue, Dilla, Dimas, sampai mabok kopi ngikutin sang Barista, nyobain kopi di tiga tempat Dreezel Coffee di Cisangkuy, Armor kopi di Dago, dan satu lagi gue lupa. Gue suka, tapi tidak berlebihan. Jadi kadang gue memesan greentea atau coklat ketika perut tidak bersahabat.
Kalau di Bogor, sahabat gue Yusuf Canarisla aka Ucup penggila kopi wkwk. Mulai dari Kopi Serius di Solo, Maraca books and Coffee, Rumah Kopi Ranin dan Rumah Seduh di Bogor. Secara sosiologis profil penggemar kopi pun mulai berubah. Kopi kini tidak lagi identik dengan dunia pria dewasa. Pemuda, remaja, dan kaum perempuan kini ikut menggemari kopi. Kasus racun dalam secangkir kopi yang menewaskan peminumnya menjadi sorotan media massa lalu, justru semakin mengusik keingintahuan orang akan kopi.