Mending mati muda daripada jadi WNI
Seperti biasa, meskipun bukan mesin assembly line (kalau kata Hindia) tapi setiap hari kita tetep butuh cari duit. Sekarang, gak cuma buat menghidupkan diri sendiri, ada DPR yang harus gue nafkahin karena mereka banyak mau tapi sedikit kerja—ya sekalinya kerja juga gak bener.
Panas, polusi udara, galian yang gak tau selesainya kapan, transum penuh, belum lagi macet—jadi hambatan buat gue dan kawan-kawan semua. Setiap hari.
Tadi sore, Tuhan akhirnya menurunkan air surga-Nya. Membasahi ladang, menyeka semua debu di aspal, dan membersihkan udara dari emisi karbon yang mengepul. Meskipun begitu, jalanan tetap padat, sebagian orang kocar-kacir berteduh—di bawah flyover, di warung kopi, di halte, atau bahkan di dalam stasiun. Beberapa dari mereka memakai jas hujan, membuka payung, dan rela melepas alas kaki untuk menghindari basah.
Kaki-kaki mereka telanjang, menyentuh jalanan dengan berani tanpa ada kekhawatiran. Mungkin, mereka hanya punya satu pasang sepatu kerja. Mungkin, mereka tidak ada waktu untuk mencuci sepatunya jika basah. Atau mungkin, sepatu itu dipinjam dari kerabatnya.
Gue berdiri ikut menunggu hujan reda sambil membatin, "Anjing anjing, andai gue punya Mercy lengkap dengan driver. Bisa duduk tenang sampai rumah, gak usah takut sama air hujan." Pokoknya sekecil apapun kesengsaraan gue hari ini, semuanya ulah pemerintah.
Sepanjang jalan gue merutuk dengan seribu sumpah serapah sembari menarik gas, "Pemerintah bangsat, gue harus ujan-ujanan, besok masih harus tetep kerja, jalanan macet, gaji kecil, anjing lah," dan terus gue ulang hingga gue tiba di rumah.
Niat hati mau nafas sebentar dari cekikan pemerintah bodoh nan zolim, tapi ternyata hari ini, kawan-kawan gue dapet tindakan represif dari aparat.
"Polisi bangsat," nambah lagi subjek yang harus gue caci maki hari ini.
Penangkapan massa aksi, penyerangan tenda medis, penggunaan water canon, penembakkan gas air mata—semua dilakuin buat membubarkan kawan-kawan. Gak lama dari situ, ada berita kalau warga sipil kita meregang nyawa karena dilindas mobil rantis Brimob Polri.
Kepala gue pening, dada gue sesek, amarah gue udah sampe ke ubun-ubun denger berita kematian warga sipil. Rezim anjing, harus berapa nyawa yang dikorbankan demi keberlangsungan kekuasaan tiran? Harus sampai kapan massa aksi dihadang aparat bersenjata lengkap?
Pemerintah, presiden, polisi, bajingan semua. Gak ada keamanan buat warga sipil. Kalau gini caranya, gue mending mati muda daripada harus jadi WNI.
Mending mati muda daripada panjang umur tapi bayar pajak buat polisi pembunuh.
Mending mati muda daripada panjang umur tapi punya Dewan Perwakilan dongo.
Mending mati muda daripada panjang umur dipimpin presiden penculik, penjahat hak asasi manusia.













