Today's Document

tannertan36
Sade Olutola
YOU ARE THE REASON
Not today Justin
dirt enthusiast
Monterey Bay Aquarium
Peter Solarz
No title available

JVL

Andulka

No title available
ojovivo
Xuebing Du

pixel skylines
hello vonnie
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
we're not kids anymore.

Origami Around
Keni

seen from Australia

seen from France
seen from United Kingdom

seen from Türkiye

seen from Singapore

seen from Malaysia

seen from Bahrain
seen from Philippines

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from Indonesia
seen from Spain
seen from China

seen from France

seen from Japan
seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye

seen from Australia
seen from United States
@detindentist
DADAH TUMBLR!
Dengan berat hati dan rasa frustasi, akhirnya saya memutuskan ini…..
Dadah detindentist.tumblr.com *tisu mana tisu*
Setelah dicoba berulang-ulang-ulang-ulang kali, sampai mual dan jengkel, semua password email jaman dahulu kala yang saya jadikan email untuk tumblr ini telah saya coba, dan tidak ada yang cocok. Lupa selupa lupanya.
Email jaman SMP -yang masih alay itu- tidak bisa dibuka, sedangkan tumblr dengan SANGAT MENYEBALKAN tiba-tiba meminta untuk mengganti password via email yang terdaftar. Jahat sekali. Email alay itu – [email protected] terakhir saya buka tahun 2011 dan saya sudah coba segala jenis password yang kira-kira cocok. Nihil. Belum lagi nomer telepon yang saya daftarkan untuk email tersebut adalah nomer telepon jaman dahulu kala yang sudah hilang hangus.
Akun tumblr ini hanya bisa diakses dari aplikasi tumblr di hape saya. Kalau ada sesuatu yang terjadi pada hape ini --karena faktor nasib dan usia misalnya-- atau tidak sengaja kepencet logout, maka tertutuplah sudah semua akses menuju akun ini.
Karena frustasi dan adanya keinginan menulis kembali (ciileh) akhirnya diputuskan untuk bikin akun baru *meweek*
Di akun baru tersebut, saya kesepian. Tolong bantu temani saya 🙏 detinnitami.tumblr.com
Demikianlah akhir akun ini. . *tutup tirai*
Innalillahi wa innailaihi raajiuun..
Dia kakak kelas saya sewaktu SMA. Kami tidak saling kenal dekat, hanya sekedar tau karena sama-sama pernah mengurusi OSIS. Seingat saya, waktu SMA, kami hanya pernah sekali berbincang, itupun karena saya (dulunya) masuk tim olimpiade fisika, dan nama dia begitu eye catching buat saya. Tesla. Satuan Internasional untuk intensitas magnet.
Beberapa tahun kemudian, saya bertemu lagi dengan dia saat dia jadi pasien koas teman angkatan saya. Waktu itu tiba-tiba dia sapa saya. Saya balik sapa. Dia mengucapkan selamat atas pernikahan saya. Dia bilang dia kenal suami saya, karena sama-sama di FTTM, meski cukup jauh beda angkatan. Kami ngobrol tentang perminyakan yang waktu itu sedang jatuh-jatuhnya, karena sering diskusi dengan suami, sedikit-sedikit saya lumayan ngerti dengan beberapa istilah dan apa yang sedang terjadi dalam dunia perminyakan.
Di pertemuan berikutnya, dia saya dan teman koas saya yang merawatnya berbincang lagi, kali itu dia bertanya seputar pernikahan. Saya menceritakan pengalaman dan apa yang saya tahu tentang proses pernikahan sesuai anjuran agama. Di akhir perbincangan saya menasehati supaya segera menikah.
Terakhir kali berkomunikasi di tanggal 13 Desember kemarin, saya mengupload instagram live story ketika mengantar suami dinas ke bandara seokarno hatta. Dia bilang enak ya kalau dinas ada yang antar. Dan -tentu saja- saya selalu memberi jawaban yang sama, menganjurkan supaya cepat menikah.
Ya, cuma itu sih waktu saya berkomunikasi dengan dia. Tapi, dari ngobrol itu saya tahu bahwa dia adalah tipe orang yang sangat ramah dan supel. Dia memiliki kemampuan interpersonal yang sangat baik. Orang yang tidak begitu dikenal bisa dia ajak berbincang seolah-olah sudah akrab. Suatu kemampuan yang selalu buat saya iri, karena dari dulu saya selalu berharap mempunyai kemampuan interpersonal diatas rata-rata. Tapi ternyata kemampuan tersebut adalah bakat alamiah yang tidak banyak orang miliki. First impression dia yang ramah meskipun hanya dua kali berbincang-bincang, membuat saya merasa sedih ketika mendengar berita dia hanyut oleh air bah di Aceh 28 Desember kemarin.
Semua yang bernyawa akan merasakan kematian. Semua makhluk akan kembali pada penciptanya. Yang berbeda bagi orang-orang yang ditinggalkan adalah kenangan. Kenangan semasa hidup seperti apa yang ingin kita buat untuk orang lain.
Sebaik-baik pengingat adalah kematian. Semoga Allah memberi ganjaran surga untuk orang-orang yang meninggal muda-mencari nafkah-hanyut tenggelam.
Selamat jalan Kang Tesla, terimakasih sudah memberi pelajaran tentang keramahan dan kemampuan interpersonal yang luar biasa, sebuah kemampuan yang selalu membuat saya iri pada pemiliknya.
Haaai mau nanyaaa.. Ada yg mengalami kesulitan log in via browser? Saya selalu dapat tampilan seperti ini kalau mau log in di laptop. Jadi cuma bisa akses tumblr via aplikasi. Masalahnya saya lupa password email yang saya daftarkan untuk tumblr apa 😭😭😭😭 itu email jaman SMP 💔💔💔 Ada yang mengalami hal yang sama??
Hmm yeah. Mari berambisi!
Suatu hari di suatu kelas mata kuliah yang membahas wirausaha klinik, dosen-yang juga dokter- bertanya siapa yang sudah pernah baca buku-buku karangan Robert Kiyosaki. Tentu saja teman-teman saya tidak ada yang angkat tangan, bahkan sebagian besar baru pertama kali mendengar nama si pengarang. Padahal buku-bukunya bisa jadi bacaan wajib bagi anak kuliahan ekonomi -atau apapun itu- tapi tidak bagi kami 😂 textbook saja dicampakan apalagi buku jenis itu. Lalu secara volunteer, saya mengangkat tangan. Ya, saya bilang saya pernah membacanya. Secara tidak diduga-duga saya disuruh berdiri di depan dan menceritakan salah satu isi buku tersebut.
Seringkali yang saya lakukan hanyalah membaca judul bukunya, ringkasan di cover belakangnya, dan mengingat ingat siapa penulisnya. Dan itu yang saya lakukan pada buku itu. Saat maju, saya hanya bilang “bukunya berjudul Rich Dad Poor Dad, tentang seseorang yang dibesarkan oleh dua ayah yang mengajarkan dua cara berbeda mendapatkan uang”
Kemudian saya duduk kembali dan tertawa. Saya hanya membaca 20halaman awal buku dan membaca review nya saja. Tapi itu membuat saya merasa keren –karena saya sudah membaca 20 halaman! Itu fantastis–karena teman yang lain kan tidak. Wkwk. Memang daya baca kami menyedihkan sekali.
Dan pagi ini saya baru saja mengkhatamkan satu buah novel, yang sejak 2 bulan lalu sering saya bawa menemani malam-malam saya begadang di RSHS. Sampai teman-teman saya hafal buku hijau berjudul The 100 year old man who climbed out of the window and disappeared itu adalah buku milik saya yang sering tertinggal dimana mana. Pertanyaan seperti “belum selesai juga bacanya?” adalah respon normal yang biasa saya terima.
Kemampuan membaca saya yang menyedihkan ini harus saya hibur sedikit dengan fakta bahwa (jika harus dikatakan) lebih baik dibanding tidak suka membaca.
Tapi ada hal yang lebih menyedihkan. Ketika saya selesai membaca buku, lalu menyimpannya kembali ke rak, beberapa bulan kemudian (ketika saya melihat buku itu lagi) kemungkinan saya akan menghabiskan beberapa detik untuk berusaha mengingat kembali isi buku yang pernah saya baca, lalu bertanya “ini buku tentang apa ya?” Lupa.
Apakah ini efek menyelesaikan buku yang terlalu lama? Atau ini adalah fenomena umum yang terjadi pada Anda juga?
Saya tidak suka novel fiksi imajinasi. Tentang monster atau alien atau vampir atau penyihir atau sepasang muda mudi jatuh cinta. Lebih baik tunggu filmnya dibuat. 2 jam selesai. Sebab kalau saya baca kemungkinan 2-4 bulan buku itu baru selesai.
Saya suka buku perjalanan sejarah. Meskipun saya tidak ahli mengingat. Tentu saja buku perjalanan sejarah yang dibuat dalam bentuk fiksi. Kalau buku asli sejarah, jangan tanya.
Banyak orang suka baca novel kemudian membandingkan novel itu dengan film yang dibuat (dan kemudian mereka kecewa karena filmnya tidak sebagus novelnya). Saya lebih suka baca tentang perjalanan orang ke suatu negara dan kemudian membandingkannya sendiri dengan… *ngarep* pengalaman saya ke negara itu hahaha.
Nah kan, harus banyak baca dan banyak berpergian. Kan Allah perintahkan bertebaranlah di muka bumi, hehe *salah tafsir* *yok! Mana koper manaaa*
-Pendahuluan- Banyak-banyak berdoa. Mau minta apa, berdoa. Minta sama Allah. Perbanyak, sering-sering. Gimana mau Allah kasih, kalau minta aja pelit. Berdoa aja jarang. Bersikap aja sombong. Akhir-akhir ini saya sedang diperlihatkan nikmat yang Allah kasih lewat orang lain. Membuat saya merasa sebenarnya saya hanyalah makhluk penuh kekurangan. Kekurangan paling besar adalah kurang bersyukur. Kurang lucu, kurang tinggi, kurang menarik sih itu hanyalah efek samping. -Studi kasus- Melihat satu buah akun milik seseorang, yang dengan sederhana memperlihatkan kehidupannya. Caption yang penuh pembelajaran, sharing kehidupan. Bukan sekedar quotes yang tidak relevan dengan postingan fotonya --seperti yang biasa kamu lakukan, ya kan? (?)-- rasanya adem. Lalu saya geram dengan diri sendiri. Seberapa tidak bermanfaatnya media sosial yang saya punya berbiji-biji itu. Saya -beberapa waktu lalu- hobi menulis panjang lebar. Tujuannya tentu saja bukan untuk pamer seolah-olah saya ini wanita sholehah lahir batin. Tujuannya hanyalah agar saya tetap ingat tentang suatu cerita kebaikan, maka saya tulis. Tapi kehidupan kampus saya yang begitu kekinian-gaul- dan anak muda sekali, kebiasaan itu memudar. Saya menjadi pribadi yang malah aneh melihat orang menulis panjang lebar -apalagi dengan bahasa puitis- membuat saya mengerutkan alis dan hati berucap "naon sih" ("apa sih") Sampai akhirnya saya membuka akun seseorang (yang semoga Allah memberkahi beliau dan keluarganya) --tuhkan ya Allah enak banget jadi orang yang didoain secara diam-diam karena perihal yang dia tidak tahu telah berbuat baik apa, padahal hanya menuliskan kebaikan, tapi efeknya bisa menggetarkan hati-- itulah keberkahan. -tinjauan pustaka- Keberkahan hidup. Banyak bersyukur. Adalah dua hal yang hadir karena sebab akibat. Sebab kita banyak bersyukur, akibatnya Allah beri keberkahan hidup. Meskipun saya banyak kekurangan, namun Allah senantiasa memberi kelebihan. Saatnya banyak berdoa. Allah tidak pernah pelit. Kita nya yang pelit berdoa. Dan bersabar. Sabar. Sabar.
Ya Allah.. Taun depan lulus. Aamiin. Aamiin.
Saya jadi phobia dengan malam. Karena malam berarti satu hari akan selesai. Satu hari selesai berarti satu hari terlewati, berganti hari. Waktu berjalan dengan cepat, terlalu cepat.. Saking cepatnya waktu berjalan, saya sering merasa kalau selama ini saya hanya diam di tempat. Melewatkan semua hal yang menarik dan penting. Dan menyesali semuanya di malam hari, --waktu yang saya bilang tadi-- satu hari akan selesai. Ini sudah terlalu lama. Dan saya berulang kali melewatkan momen berharga hanya karena alasan lelah. Lemah banget, ya Tuhan.. Saya kemudian membenci kesibukan. Karena kesibukan tidak begitu penting itu yang membuat waktu jadi berantakan. Ya minimalnya, saya harus keras sama seseorang yang bandel, siapa lagi kalau bukan diri siendiri. Saya jadi kepingin kasih tau, saya lagi mengejar sesuatu. Maka dari itu, saya mau tendang-tendangin agenda tidak begitu berguna itu (untuk saat ini). Jikalau tiba-tiba di hadapan kalian ada alien berwajah nyenggol nyenggol shireen sungkar versi hitam gendut dan pendek; sedang sibuk memperbaiki waktunya, itu mungkin saya.
32 jam melek.
Mencintai kasur akan menjadi sedemikian mendalam ketika waktu kita bersamanya mulai terusik. Seperti ketika malam-malam kita terganggu karena jadwal jaga di sebuah rumah sakit rujukan provinsi, rasa bersyukur kita akan kenikmatan kasur pribadi akan semakin meningkat. Terjaga selama 32 jam adalah sebuah rintangan besar bagi saya -sang pecinta tidur- yang tidak bisa "hidup" di dunia malam. Mengetahui realita seorang dokter yang menempuh dunia spesialis membuat saya ingin gigit baju; ya Tuhan mereka sungguh setrooong. masa masa dimana tidur di kasur pribadi dan nonton sambil selonjoran menghamburkan waktu, saat ini menjadi barang mewah bagi saya. Iya ini payah sekali. Baru juga jadi dek koas tapi kangen sama kasur sudah sebegini menggelikan. Ya tapi sebenarnya, tidak ada yang mengalahkan rasa kangen saya sama kamu. Orang yang hanya bisa saya temui akhir pekan. Yang minggu ini hanya punya waktu beberapa jam sebelum saya menjadi (sok) sibuk dengan jadwal jaga rumah sakit. Thank God kamu bukan residen. 4 minggu lagi. Lalu akhir pekan kita akan menjadi normal. 1 tahun lagi. Lalu setiap hari kita bisa ketemuan. Eh tapi, setelah ini kalau saya mau sekolah lagi, kamu jangan marah ☺️
Selamat datang di Turki ☺️
Electrical Problems
Ada saatnya ketika kita merasa benar-benar membutuhkan orang lain. Terutama setelah menikah. Iya. Saya hampir dibawa gila dengan semua masalah per-elektronik-an yang mendadak kompak jadi tulalit. Pompa air yang macet, Indosat IM3 yang ya-Allah- rewel koneksi hancur CS tidak bisa dihubungi, sound iPhone yang tiba-tiba error tidak ada suara sama sekali, baik musik, nada dering, bahkan suara orang yg menelepon, laptop lemot dan bervirus, printer ngadat, gas habis, galon isi ulang habis, internet wifi habis... Rasanya seperti... kecoa jungkir balik 😭gak bisa hapahapa. Seketika berubah menjadi wanita tidak berdaya yang hidupnya sangat bergantung pada sesuatu. Pada dia yang sangat diharapkan kepulangannya. Suami. Engineerku. Tukang-angkut-ku. Yang saya tinggal tidur aja sepertinya semua masalah itu selesai sudah. Ada saatnya, yang kita butuhkan hanya kepulangan teman hidup kita. *mewek* *edisi kangen suami*
Suami saya pulang malam. Saya berencana untuk cemberut. Ditambah paginya pasien cancel, jadi gagal produktif.
R : heeei.. Marah ya?
D : .....
R : tadi ada pertemuan dulu habis magrib orangnya baru bisa
D : ......
R : pasiennya cancel ya? hari ini di rumah aja jadinya?
D : iya
R : pantesan..... Nastar nya abis setengah toples.
(((Nastarnya abis setengah toples)))
gak jadi ngambek.
Gagap Sosial
Semenjak menikah, tentu saja status seseorang resmi berubah. Saat ini saya adalah seorang istri, meskipun belum menjadi ibu, saya tetaplah ibu rumah tangga. Tinggal di sebuah rumah yang dibeli berdasarkan surat nikah suami dan istri. Di suatu wilayah, menetap sebagai penduduk, menjadi anggota masyarakat.
Bagi saya, seseorang yang tidak begitu pandai bergaul, kesulitan terbesar saya adalah membaur menjadi bagian dari masyarakat atas nama keluarga sendiri, bukan lagi ikut orang tua. Sebelumnya, saya memimpikan tinggal di perumahan baru yang notabene diisi oleh pasangan-pasangan baru. Sayangnya, perumahan baru yang diisi pasangan-pasangan baru biasanya terletak di luar lingkaran kota Bandung (read: kabupaten / bandung coret). Perumahan di kota Bandung biasanya sudah dihuni oleh orang-orang generasi terdahulu. Termasuk disini. Mayoritas adalah ibu-ibu yang anaknya sudah besar-besar. Ini menjadi tantangan besar buat saya untuk bisa membaur, lepas di kancah sosial bertetangga.
Buat saya, ini adalah keterampilan tersendiri. Keterampilan yang tidak dimiliki oleh semua orang, terutama anak muda saat ini. Tidak banyak anak muda yang mudah bergaul dengan orang yang jauh lebih tua dari dirinya.
Saya masih terus belajar. Memiliki tetangga yang baik adalah kenikmatan luar biasa, tapi bagaimana bisa didapat jika kita tidak membuka diri. Jika tidak ada kegiatan, setiap weekend saya berusaha mengajak suami untuk keliling berkenalan dengan bapak ibu tetangga kami.
Kadang masih sulit percaya. Rasanya baru kemarin saya masih cengengesan teriak-teriak selfie selfie nongkrong sana sini dengan teman sebaya. Sekarang, saya harus belajar pelajaran kehidupan baru. Bahwa saya adalah seorang ibu rumah tangga, sudah saatnya menjadi “ibu-ibu” bagian dari masyarakat.
Semua orang akan menghadapi hal ini. Sebagian orang memilih menutup pintu, menjadikan rumah hanya sebagai tempat singgah. sebagian lain memilih untuk menyambung silaturahim, menjadikan rumah sebagai basis tempat bertumbuh.
Tidak pernah terbayang jika harus hidup seperti orang-orang kaya yang pintu rumahnya tinggi-tinggi tidak saling kenal dengan tetangga. Tidak hidup sosialnya.
Awalnya berat, karena berhadapan dengan para senior, tapi keterampilan ini tetap harus diasah. Berpisah dari orang tua, agar mandiri bermasyarakat. Semangat bagi para newly wed. Kalian memutuskan menikah, membangun keluarga sendiri. Jadi, bertanggung jawablah
#notetomyself
Kekhawatiran itu seperti kursi goyang, memberikan sesuatu untuk dilakukan dan difikirkan, namun tidak membawa kemanapun.