KEJUTAN-KEJUTAN UNTUK SUSANTI
Benar saja, seluruh panitia yang seharusnya bertugas mempersiapkan segala peralatan untuk final harus mangkir demi menyiapkan ritual itu. Nyajeni pitulasan. Tradisi ini dimulai sejak tahun 1950, oleh tetua di desanya. Nyajeni= memberi sesajen dan pitulasan= 17 agustus. Sederhananya, ritual ini merupakan usaha warga desa memohon keselamatan desa dengan cara memberi sesajen ke roh-roh penjaga desa di beberapa lokasi: 4 pemakaman umum, 2 sungai dan disetiap gerbang desa di 4 penjuru mata angin. Ritual ini khusus dilaksanakan sebelum 17 Agustus di setiap tahunnya dengan alasan bahwa tanggal tersebut adalah tanggal resmi bebasnya warga desa dari ancaman kejahatan manusia lain:penjajah. Oleh karena itu, butuh ritual ini untuk melindungi mereka dari berbagai ancaman non-manusia yang tidak kasat mata, bentuknya bisa apa saja: serangan hama, wabah penyakit, ilmu hitam, dan sebagainya.
Sesajen ini bukan perkara mudah. Sesajen tersebut berisi 10 jenis makanan, 7 jenis bunga, 3 jenis minuman berbeda warna serta tanah yang diambil dari tiap makam yang ada di desa. Sebelum diletakkan di tempat-tempat yang telah ditentukan, harus dilakukan upacara adat secara singkat. Seluruh pemuda harus hadir karena mereka lah yang akan menjadi generasi penerus yang menjaga desa. Tiap-tiap sesajen harus dibawa oleh pemuda-pemuda terbaik: sehat secara jasmani, rohani, paras rupawan serta berasal dari keluarga baik-baik. Celakanya, Bidin si finalis dan Mahmud si wakil ketua panitia terpilih menjadi si pembawa sesajen.
Semestinya, seiring bergantinya purnama, warga desa mulai mengerti dan memahami esensi dari tiap tradisi yang dilakukan. Yang tidak masuk akal akan ditinggalkan, yang masuk akal dan bermanfaat terus dijaga dan dilestarikan. Begitulah yang Susanti yakini. Namun, kenapa warga desa kembali mundur ke jaman dimana Tuhan belum dikenal dan batu-batu besar disembah?
Perubahan adalah suatu hal yang mutlak terjadi di dunia ini, Sus. Yang tidak mampu mengikuti perubahan akan tertinggal, lalu mati. Orang yang berpikiran terbuka dan terus maju akan mampu mengikuti perubahan, ia akan tetap hidup. Tidak ada yang namanya diam ditempat. Maju, atau perlahan punah. Itu saja pilihannya Sus.
Susanti teringat kembali dengan obrolannya tentang hal ini bersama Mas Bagus.
Kalau begini, desanya akan tetap tertinggal. Berpikiran sempit. Lalu punah tergilas perubahan zaman. Bagaimana bisa ia membiarkan hal ini terjadi?
Seharian penuh ia berpikir. Perlahan-lahan, keruwetan dikepalanya mulai pudar, memperlihatkan benang-benang lurus yang bermuara pada satu titik: Pak Tabri. Ia lah yang menyuruh seluruh pemuda menghidupkan tradisi ini kembali. Entah mantra apa yang ia katakan sehingga para pemuda desanya tak kuasa menolak. Ia yang tak rela tradisi lama untuk diganti dengan yang baru. Ia yang mengingatkan Susanti untuk waspada. Saat ini, baru Susanti menyadarinya, di waktu yang mungkin agak terlambat.
Tidak mudah mengubah sesuatu, atau memulai sesuau. Mencabut sesuatu yang berakar kuat memang tidak bisa hanya dengan dua tangan kecilnya saja. Dia butuh bantuan banyak orang. Kali ini, tidak bisa ia lakukan ini sendiri. Tidak bisa..
Susanti pun menangis sedih. Sendiri didepan jendela kamarnya, ia menatap langit yang tiba-tiba mendung ditengah keringnya musim kemarau. Matahari bersembunyi malu-malu, memudarkan sinar-sinar harapan dalam hati Susanti. Dari pagi hingga siang tadi, ia sudah berusaha membujuk teman-temannya untuk menyelesaikan turnamen ini hingga akhir: tinggal 3 hari waktu tersisa sebelum jadwal final berlangsung: 16 Agustus 2005. Seandainya segalanya bisa ia lakukan sendiri, sudah pasti ia akan lakukan. Menghubungi juri, meminjam sound system, menyiapkan panggung, membeli kok baru, mengambil hadiah dari sponsor, menghubungi dan mengundang pihak pejabat kecamatan, menyewa kamera, mencetak piagaam, dan tetek bengek lainnya.
Sekawanan kambing berjalan melewati jalan disamping kamarnya, patuh ia berjalan lurus. Sedikit saja ia berbelok, si empunya kambing akan memukul kambing itu dengan bambu tipis panjang.
Apakah manusia juga seperti kambing-kambing itu?menurut untuk melakukan sesuatu karena takut dipecut? Bukan karena tahu bahwa hal itu adalah hal yang benar dan bermanfaat, sehingga ia harus melakukannya? Kembali ia bertanya pada dirinya sendiri.
“kenapa kamu melamun begitu, nduk?” kata-kata Ayahnya menyadarkannya dari pergulatan batin yang membuatnya beranjak sebentar dari dunia nyata.
“Susanti sedang memikirkan sesuatu, Pak. Menurut bapak, apakah manusia sama dengan kambing-kambing itu? Menurut karena takut dipecut? Semua hal dilakukan karena takut dihukum? Tanya Susanti serius.
“tidak sepenuhnya begitu, nak. Sekalipun dalam beberapa keadaan, kemungkinan itu bisa berlaku. Bedanya dengan kambing, manusia punya otak dan hati nurani. Mereka bukannya bergerak karena rasa takut. Sekalipun diancam, mereka akan tetap berpikir terlebih dahulu. Apakah ini adalah hal yang benar? Apakah hati nuraninya juga membenarkannya? Setelah mempertimbangkan hal itu, mereka kemudian memutuskan akan bertindak bagaimana. Lain halnya bila mereka berada dalam kondisi tidak berdaya. Sekalipun otak dan hati nuraninya berkata tidak, mereka terpaksa akan melakukannya. Mereka akan selamat dari ancaman, tetapi tidak dari perasaan menderita. Sedangkan kamu tahu? Penderitaan itu tidak bisa sembuh hanya dengan diabaikan, tetapi harus diobati. Berapa lama mereka akan mengabaikan penderitaan itu? Tidak ada yang tahu, nak. Oleh karena itu, cobalah jujur dengan pikiran dan nuranimu. Sejatinya, dengan begitu, kamu akan selamat, baik dari ancaman maupun dari perasaan menderita. Untuk melakukan hal itu, hanya satu syaratnya: berani dan mau menerima risiko.”
Susanti mendengarkan dengan seksama ceramah dari ayahnya barusan. Sedikit banyak ia merasa tergelitik. Apakah kini ia sudah berubah menjadi pengecut dan penakut?
“terima kasih, ayah.” Kata Susanti sambil tersenyum.
Dia segera berlari meninggalkan kamarnya menuju rumah kawannya yang menjengkelkan tetapi baik hati: Bidin.
“Din!!” teriak Susanti ketika mendapati Bidin tengah duduk santai didepan rumahnya.
“Oi Sus,” jawab bidin santai saja.
Bidin segera menggeser duduknya, menyisakan ruang agar Susanti bisa duduk. Akan tetapi, Susanti lebih suka berdiri.
“Din, sudah siap untuk final nanti?” tanya Susanti.
“Lah, emang turnamennya tetep lanjut, Sus? Kan tanggal 16 nya harus nyajeni pitulasan. Kapan tandingnya, Sus?”
“ yeee.. ditanya malah balik nanya! Udah siap atau belum, Din? Santai ya sepertinya Din, siap kalah ya?” ledek Susanti.
“Bidin tidak akan menyerah untuk kalah, ingat itu!” tersulut rupanya Bidin mendengar ledekan Susanti.
“Bagus Din, memang begitu sebaiknya. Ingat Din, apa yang sudah kita mulai, harus kita selesaikan sebaik kita bisa. Selangkah lagi untuk menjadi juara, sayang sekali kalau mundur. Lebih dekat ke kemenangan daripada menyerah dan balik badan bukan?” ucap Susanti sambil tersenyum.
“ pertandingan 3 hari lagi kan? Aku akan berlatih dengan keras. Permisi Sus, silahkan kalau mau duduk menonton. Aku mau latihan dulu” ucap Bidin seraya berdiri.
Ia segera masuk kerumah dan mengambil raket dan koknya. Ia pun memukul-mukul koknya kearah tembok. Ia berusaha sebaik mungkin untuk bisa memberikan pukulan yang kuat. Sedikit kebahagiaan menjalar dalam hati Susanti : dia masih punya harapan!
Segera setelah itu, Susanti menemui teman-teman panitia yang lain. Sebagian besar masih bersemangat untuk menyelesaikan turnamen ini hingga tuntas. Sebagian kecil juga bersemangat, tetapi juga takut.
“bukankah kita sudah sama-sama bertekad untuk melakukan yang terbaik untuk desa kita ini? Memberikan ruang untuk para pemuda bisa ikut berpartisipasi, membangun sejarah baru, dan memajukan desa?” ucap Susanti pada Mahmud.
“aku ngerti, Sus. Tetapi, bagaimana dengan ritual yang akan dilakukan dihari yang sama? Aku ditugaskan untuk membawa salah satu sesajen. Bagaimana jadinya kalau aku harus menyiapkan perlengkapan untuk babak final? Bisa bisa....”
“bisa-bisa apa, Mud?” tanya Susanti penasaran.
“bisa bisa, keselamatan kita terancam Sus. Begitu kata Pak Tabri.” Akhrinya Mahmud menjawab, setelah menarik napas panjang.
“Mahmud bin Karim, keselamatan itu ada pada kuasa Tuhan. Kita hanya ditugaskan untuk menjaga diri baik-baik dan senantiasa waspada. Tidak ada orang yang bisa mengetahui rahasia hari esok. Bisa saja besok tiba-tiba hujan lebat, sekalipun saat ini kita ditengah-tengah terik kemarau. Atau bisa saja esok kita meninggal, terserempet truk pasir atau kecebur galian sumur didekat swawah Pak Haji Somad. Kamu bisa memastikan? Pak kades bisa memastikan? Atau Presiden bisa memastikan? Tidak ada yang bisa, Mud. Jangan berpegang pada prasangka yang rapuh dan belum tentu benar itu Mud, bahaya. Kita bisa jadi penakut dan pengecut” Ucap Susanti.
Ia hanya berusaha menyatakan isi hatinya, entah Mahmud sungguh-sungguh paham maksudnya atau tidak, ia pun tidak tahu.
“kamu mirip pak ustadz saja Sus. Hahahaha.. tapi apa yang kamu bilang ada benarnya juga.” Jawab Mahmud setelah mendengarkan penjelasan Susanti.
“kamu ngerti maksudku, Mud?” tanya Susanti
“entahlah Sus, aku juga tidak yakin. Tapi, yang pasti, kamu menyingkirkan sedikit kekhawatiranku, Sus. Begini saja, aku akan meyiapkan teknis untuk final 3 hari lagi, kamu ketemu sama Pak kades ya, sekarang. Bilang kalau kita akan tetap mengadakan final turnamen ini.”
“kenapa harus sekarang, Mud?” Susanti agak heran dengan instruksi Mahmud ini.
“sudah, nurut saja. Sana berangkat.” Mahmud bangkit dari kursi, diikuti Susanti.
Susanti menuju kantor kepala desa, mahmud beanjak menuju rumah rekan-rekan panitia lainnya. Akhirnya Susanti berjalan dengan perasaan lega karena sekalipun berbeda arah, sejatinya kali ini mereka memiliki tujuan yang sama.
Susanti agak heran karena waktu sudah agak sore tetapi kantor desa masih terlihat ramai.
Tumben-tumbenan begini ramai. Apakah ada rapat mendadak? Gumam Susanti dalam hati.
Tanpa menunggu lama, Susanti segera mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya: rupa-rupanya sedang diadakan diskusi mengenai pelaksanaan ritual nyajeni pitulasan.
“karena Samsul masih belum sehat, maka pembawa sajen utama akan digantikan oleh anak saya. Dia akan pulang kesini besok, bagaimana menurut Pak Kades?’ tanya Pak Tabri.
“terserah Pak Tabri saja.” Jawab Pak Kades singkat.
“baik kalau begitu, persiapan lainnya sudah akan siap barang satu dua hari lagi.” Jawab Pak Tabri, sebelum akhirnya berhenti bicara menyadari ada gadis berdiri mematung diambang pintu, hendak mengetuk pintu tapi ragu, takut mengganggu.
“sepertinya ada tamu Pak Kades?” ucap Pak Tabri dengan nada sinis yang terlalu kentara.
“Oh nak Susanti.. mari silahkan masuk. Ada perlu apa?’ ucap Pak kades seraya mempersilahkan Susanti untuk masuk.
Susanti sejenak merasa ragu. Haruskah ia menunggu hinggga diskusi selesai, baru menyampaikan maksudnya? Atau sekarang saja? Semua yang hadir nampak tertegun menunggu jawabannya. Setelah berdoa sejenak, akhirnya ia memberanikan diri.
“jadi begini Pak kades, saya mewakili panitia turnamen bulu tangkis ingin menyampaikan informasi sekaligus meminta izin untuk menyelenggarakan final turnamen bulu tangkis sesuai jadwal, yakni tanggal 16 Agustus, atau tepatnya 3 hari lagi. Berkaitan dengan hal ini, saya ingin meminta izin juga untuk bisa mengundang Pak camat atau jajarannya untuk bisa hadir pada prosesei penutupan sekaligus penyerahan hadiah kepada pemenang.”
Susanti mencoba menerangkan dengan perlahan-lahan, tetapi tetap saja seluruh hadirin yang ada terlihat tercengang mendengar penjelasannya, termasuk Pak kades. Terkecuali Pak Tabri, ia justru tertawa kecil mendengar penjelasan Susanti.
“sebentar Sus.. di tanggal yang sama, kami akan melaksanakan ritual nyajeni pitulasan. Tradisi yang sempat dilupakan begitu saja beberapa tahun ini. Rasa-rasanya, melihat kondisi saat ini, kita perlu kembali melaksanakannya. Betul begitu, bapak-bapak?” tanya Pak Tabri sambil melayangkan pandangan pada semua hadirin yang ada.
Hadirin yang ada nampak ragu, mereka diam agak lama, sebelum akhirnya mengangguk pelan.
“saya juga sudah mendengar hal itu, Pak Tabri. Sekali lagi, saya hanya minta izin kepada Pak Kades untuk melaksanakan kegiatan turnamen bulu tangkis sesuai jadwal. Tidak ada sangkut pautnya dengan rencana kegiatan bapak.” Jawab Susanti tenang.
“tidak ada sangkut pautnya bagaimana? Jelas-jelas berhubungan! Para pemuda akan mengikuti upacara adat dan membawa sesajen ke berbagai lokasi yang sudah ditetapkan. Bagaimana bisa harus ikut menyaksikan turnamen bulu tangkis juga? Tidak masuk akal!” Pak Tabri mulai naik pitam.
“tentu saja masuk akal Pak. Jadwal acara turnamen bulu tangkis sendiri sudah ditentukan, dan disahkan pula oleh Pak kades. Saya tidak menghalang-halangi rencana bapak. Silahkan bapak melakukan yang Bapak rencanakan juga. Mengenai para pemuda, bukankah sudah sepatutnya kita membiarkan mereka bebas memilih yang dimau? 60 tahun Indonesia merdeka, demokrasi sudah lama dijunjung juga Pak, rupanya.” Jawab Susanti mencoba tetap terlihat santai.
“kamu coba mendikte orang tua? Dasar tidak sopan!” hardik Pak Tabri.
Pak kades dan para hadirin yang menyaksikan peristiwa tersebut hanya diam mematung. Sebelum perdebatan semakin memanas, Pak kades segera memberi isyarat pada Susanti untuk mengikutinya menuju ruang kerja kepala desa.
“silahkan duduk, nak” Pak kades mempersilahkan Susanti duduk di kursi diseberang mejanya.
“oh iya Pak, sebelumnya saya ingin meminta maaf soal kejadian Bang Samsul tempo hari. Bagaimana keadaannya saat ini Pak? Semoga sudah pulih ya pak..” Ucap Susanti. Ia sedikit lega, akhirnya datang juga kesempatan untuk berbicara langsung dengan Pak Kades.
“tidak apa-apa, Sus. Memang bukan salah kamu. Ngomong-ngomong, soal final bulu tangkis, laksanakan saja sesuai rencana awal. Kerahkan pemuda-pemuda untuk membantu kamu dan panitia lainnya. Saya akan sampaikan ke Pak Tabri untuk mengganti Bidin dan Mahmud sebagai pembawa sesajen.”
Susanti berteriak gembira dalam hatinya! Semesta mendukung! Bahkan sebelum terucap permohonannya pada Pak kades. Lampu hijau sudah menyala, kini sudah saatnya ia melaju. Segera setelah berterima kasih pada Pak kades, ia beranjak pergi. Sekalipun lriikan tajam dari Pak Tabri tidak berhenti mengikutinya hingga ia keluar dari gerbang kantor kepala desa, ia kini tidak peduli. Kali ini Susanti sadar betul, ia tidak ingin mengalahkan siapa-siapa. Ia hanya ingin melakukan yang terbaik hingga tuntas.
Mendengar berita ini, Mahmud semakin bersemangat. Ratusan brosur segera dicetak, siap di tempelkan di segala penjuru desa. Poster Bidin dan Imam terpampang dimana-mana, mereka tersenyum lebar sambil memegang erat raket ditangan kanannya. Selepas maghrib, disiarkan pula dari setiap mushala tentang final bulu tangkis ini. Mendekati waktu final, Bidin dan Imam makin giat berlatih. Tak jarang, banyak warga desa yang menonton mereka berlatih, sambil menimbang-nimbang siapa kandidat juara terkuat yang pantas mereka dukung. Dibalik semakin meriahnya antusias warga, susanti tetap was-was. Ia takut akan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin saja masih betah mengikutinya dan tiba-tiba muncul sebagai kejutan tak diharapkan. Akan tetapi, kali ini ia menjadi lebih siap dan berani. Segala persiapan mulai dari logistik, keamanan, kesehatan, konsumsi, hingg humas dan publikasi sudah ia pastikan aman.
Hingga akhirnya tibalah di hari-H. Seluruh warga sudah memadati lapangan bulu tangkis dan panggung kecil yang ada di sampingnya. Tamu-tamu penting nampak hadir pula: pejabat kecamatan, Pak kades, serta para sponsor yang terdiri atas Pak Hambali, Pak Jamhuri dan Pak Haji Naim. Setelah memberikan sambutan dan membuka acara final secara resmi, pejabat kecamatan segera pulang, disusul dengan Pak kades tak lama kemudian. Dan akhirnya, datang juga saat yang ditunggu-tunggu: Bidin dan Imam memasuki lapangan pertandingan.
Pertandingan berlangsung seru dan panas. Masing-masing bermain ngotot dan tak pernah lelah mengejar laju kok. Berkali-kali smash keras dilayangkan oleh kedua belah pihak, membuat penonton mendadak menahan napas. Pertandingan berjalan alot, hingga butuh rubber set untuk bisa menentukan siapa juaranya. Setelah hampir 90 menit berjibaku, keluarlah Bidin sebagai juaranya. Skor yang diraih cukup berbeda tipis, yakni 18-21, 21-19, 22-20. Penonton bersorak sorai, Bidin loncat-loncat kegirangan, imam tertunduk lesu. Penyerahan hadiah dilakukan oleh Susanti sendiri. Sebelum turun panggung, Bidin diberi kesempatan untuk berbicara singkat. Dia tampak gugup setelah menerima mikrofon dari Mahmud. Setelah menyeka keringat dan menarik napas dalam, barulah akhirnya ia berbicara.
“Assalamu’alaikum semuanya. Sebelumnya, saya ingin mengucap syukur dan terima kasih kepada Allah SWT, kedua orang tua, jajaran pengurus desa, penitia turnamen bulu tangkis serta para penonton sekalian. Alhamdulillah, saya bisa menjadi juara 1 pada turnamen pertama ini. Tapi, sejatinya saudar-saudaraku sekalian, kali ini kita semua adalah juara 1. Akhirnya, kita bisa melaksanakan tradisi baru di desa ini, semua orang dari segala umur antusias dan menikmatinya dengan riang gembira. Akhirnya kita bisa berhasil mengikuti perkembangan zaman sedikit demi sedikit. Cukup lokasi desa kita saja yang terpelosok, jangan pikiran kita ikut-ikutan terpelosok juga. Saya sangat bangga menjadi bagian dari sedikit pembaruan ini. Kalian juga harus bangga. Sekian dari saya Wassalamu’alaikum.” Seluruh penonton bertepuk tangan, sementara Susanti justru melongo. Darimana Bidin mendapatkan kata-kata seperti itu? Biasanya selalu ngawur saja bicaranya.
Dalam perjalanan menuju kantor desa untuk mengembalikan berbagai peralatan yang dipinjam, Susanti bertemu dengan seseorang yang tidak ia duga: Mas Bagus. Kenapa ia ada disini? Bukankah ia seharusnya tengah kuliah di ibukota? Apakah dia punya kerabat yang tinggal disini. Belum habis rasa terkejutnya, Mas Bagus yang menyadari kehadiran Susanti segera menghampirinya.
“Sus, apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu.. bagaimana kabarmu?’ tanya Mas Bagus sambil tersenyum lebar.
Sapaan singkat Mas Bagus membuatnya tertegun tak percaya. Antara senang, kaget dan juga terpesona. Setelah dua tahun di kota, Mas Bagus tampak lebih gagah, membuat Susanti semakin kepincut, meskipun mati-matian ia tahan perasaannya kuat-kuat.
“Aku...” jawab Susanti lirih.
Belum sempat meneruskan jawabannya, suara Pak Tabri menghancurkan momen ajaib ini bagi Susanti.
“Ayo Gus, segera ambil perlengkapannya. Kamu bawa sesajen utamanya dan langsung ke barisan paling depan. Jangan lambat. Kita harus segera menaruhnya di lokasi-lokasi masing-masing. Jangan lupa kasih tau ibumu untuk segera kesini, dia ada di warung sebelah untuk memetik bunga dan mengambil pelepah pisang.” Perintah Pak Tabri.
Tanpa babibu, Mas Bagus segera berlari melaksanakan perintahnya. Susanti menjadi semakin tertegun. Kaget bukan kepalang. Jadi selama ini, Mas Bagus adalah anak Pak Tabri? Kenapa ia bisa tidak tahu? Selama ini ia kira Mas Bagus adalah warga di kelurahan dekat SMA nya, karena ia bilang tinggal disana. Mas Bagus yang amat ia kagumi karena opini-opininya yang selalu berorientasi ke masa depan dan rasional itu, kenapa justru menjadi pembawa sesajen utama?
“Dia memang anak Pak Tabri, Sus. Hanya, dia memang dititipkan dirumah Pakdenya sejak SMP, di pusat kabupaten. Tentu saja agar ia bisa mendapat pendidikan terbaik dan hidup di lingkungan yang serba ada. Bukan seperti disini, terpelosok dan apa-apa susah.” Begitu jawab Bidin saat Susanti bertanya tentang hal itu.
Bahkan Bidin saja tahu. Kenapa aku tidak tahu ya, selama ini? Begitu kata hati Susanti, gelisah tak tahu harus bagaimana.
“oiya Sus, setahuku, dia akan dicalonkan menjadi kepala desa di pemilu desa 2 tahun mendatang. Sebelum itu, dia akan dijodohkan dengan gadis pujaan di desa ini: Julaiha. Sesuai dengan tradisi desa kita, Sus. Bakal kepala desa akan menyunting kembang desa untuk bisa menjadi pendampingnya. Padahal, aku berniat untuk mendekati Julaiha, Sus. Belum apa-apa, aku sudah patah hati duluan.” Enteng saja Bidin membeberkan hal itu pada Susanti.
Oh Tuhan. Kejutan apa lagi ini? Susanti tidak habis pikir. Bagaimana bisa Mas Bagus, orang yang teramat ia kagumi akan segala pemikirannya, orang yang berhasil mencuri hatinya, menjadi orang yang berkebalikan dalam sekejap? Ia lah yang sudah meniupkan api semnagat dalam jiwa Susanti untuk melakukan perubahan di desanya. Ia lah yang meyakinkan Susanti bahwa mereka harus mengikuti perubahan agar tidak mati. Mengapa tiba-tiba ia jilat kembali seluruh perkataannya dan menjadi budak tradisi kuno? Bukankah dia sudah menempuh pendidikan tinggi di ibukota? Kenapa ia tidak bertambah maju nalarnya?
Susanti kecewa. Ia kecewa atas harapannya sendiri yang terlalu tinggi terhadap Mas Bagus. Ia benci untuk mengakui bahwa ekspektasi nya terlalu tinggi terhadap pemuda itu. Apakah akhirnya ia jatuh dalam rayuan kekuasaan? Kenapa begitu mudahnya ia berpaling dari apa yang ia yakini? Susanti masih tidak habis pikir.
“Nduk, dalamnya hati manusia itu, tidak ada yang tahu.” Susanti teringat atas ucapan ayahnya suatu hari.
Dengan berat hati, Susanti pun bertekad bahwa Mas Bagus harus ia hapus dari hati dan pikirannya. Sama seperti tradisi kuno yang tidak relevan dan tidak ada manfaatnya. Persaannya terhadap Mas Bagus harus segera ia punahkan. Buat apa kepincut pada pria yang tidak teguh pendiriannya? Tidak berguna.
Setelah menangis setiap malam hampir selama 1 minggu, Susanti akhirnya yakin bahwa dia sudah bisa benar-benar ikhlas. Patah hatinya akan segera sembuh.
Akan kujelajahi dunia, dan akan kubuat desa ini bangun dari kebodohannya. Begitu tekadnya kuat dalam hati.