Aku mau sedikit cerita tentang pengalamanku. Jadi sebenernya aku dan suami lagi program hamil. Kami coba di RSCM klinik yasmin, dan coba daftar dengan dr. Gita Pratama. Beliau cukup terkenal dan sibuk jadi pasiennya sangat banyak. Dan jadwalnya sering bergeser. Akhirnya kami cek keseluruhan. Pengecekannya cukup detil, dan lumayan mahal hanya untuk pengecekan saja. Akhirnya kami diberikan treatment obat-obatan. Setelah treatment beberapa bulan, kami pikir hanya pakai obat berusaha berhasil. Tapi ternyata tidak. Saat kita sudah mulai memutuskan ayok, inseminasi aja. Tapi dokter malah curiga ada polip di rahimku. Karena hanya usg transvaginal saja tidak begitu terlihat jelas. Akhirnya kita segera eksekusi operasi pengangkatan polip di rahim (namanya histereskopi operatif). Awalnya dokter bilang untuk histereskopi, kita intip dulu. kalau kecil bisa kita langsung ambil. Kalau tidak, harus ada tindakan operasi dengan bius total di ruang operasi. Oke baik dok! Histereskopi itu tindakan yang dilakukan melalui vagina dengan kamera dan alat-alatnya. Sebelum tindakan diberi obat dari dubur. Dan harus tahan pipis dan poop. Untuk rasanya tidak ada yg sakit, hanya ngilu saat dengar alat seperti sesuatu untuk menahan agar vagina dapat terbuka lebar mungkin cocor bebek tapi entahlah karena aku hanya lihat monitor tidak bisa lihat ke bawah. Setelah melihat ada beberapa jumlah polip akhirnya selesai hanya intip saja. Ya waktunya operasi! Akhirnya dengan segala prosedur SOP dari RSnya harus ini itu. Harus pemeriksaan darah, cek thorax, ekg, konsul dokter abc. Akhirnya tiba di hari operasi. Waktu diantar ke ruang operasi saatnya aku ganti baju, ganti masker, pakai penutup kepala bedah, gak pegang handphone. Dan suami hanya bisa antar sampai ruang ganti. Sambil menunggu waktu operasi, aku dicek suhu, cek tensi, infus, dan berbaring layaknya orang sedang rawat inap. Masih ada setengah jam dapat kabar dr Gita masih ada pasien, dalam hatiku wah mau operasi kena geser jam juga yah. Bosan yang aku rasakan di ruang rawat operasi ini lumayan juga. Karena tidak ada handphone dan hiburannya. Akhirnya ya dengar tawa tiwi para perawat saja. Disaat waktu yang sudah ditentukan dr. Anatesi sudah siap, akhirnya ada bantuan dr. SpOg yang lain. Dan kemudian, aku didorong ke ruang operasi, waktu mau pindah tempat tidur aku kaget karena di kasur yang baru saja aku tempati aku seperti haid. Loh harusnya ini sudah hari ke 14 sudah tidak haid lagi, baru ingat oh iya 1-2 jam sebelum jadwal operasi aku harus masukkan 2 tablet obat ke dalam vagina. Waktu google obat itu memang itu sepertinya obat untuk aborsi. Oke gak jadi khawatir. Kemudian tidur lah aku di ruang operasi, baik bu kami beri obat bius ya. Diberilah obat yg disuntikkan di infus. Dan kemudian dr. Jaga bilang kami beri oksigen juga ya bu. Dan oksigen tersebut tidak dipasangkan, sudah seperti sinetron-sinetron gak lama menghirup asap asap dari alat yang ada di atas hidungku aku tak sadarkan diri, sampai terbangun lihat jam sudah lewat 1 jam dari aku masuk ke ruang operasi. Aku dengar suara suamiku dari ruang sebelah sedang berbicara dengan dr. Gita sepertinya diberikan obat dll deh. Kemudian hanya sadar mau bicara ke suster tapi mulut sulit keluar suara dan tertidur lagi. Sampai setengah jam terbangun lagi dengan perut bawah sedikit sakit, dan ulu hati sakit rasanya mual perih. Gak lama suster menghampiri tanya dan saya bilang mual perih suster juga mengatakan sudah memberikan obat maag dan obat pereda nyeri. Kemudian aku tertidur lagi, dan saat terbangun masih agak mual. Ditunggu 15 menit sampai bisa minum air putih, setelah tidak mual lagi aku lapar, bilang ke suster kalau sudah tidak mual boleh makan roti dulu ini untuk ganjal perut. Oke baik saat sudah membaik semua aku tidak terlalu ingin pip tapi aku bilang aja mau pip akhirnya ke toilet sekalian ganti baju dan tentunya aku sudah prepare pembalut. Yap! Benar aku seperti sedang haid. Oiya aku pakai metode ODC (one day care) jadi tidak rawat inap setelah operasi aku bisa pulang. Next in another post ya. Gak muat char nya 😂