Tolong jangan jadikan pertanyaan "kapan punya anak?" sebagai bahan basa-basi
Karena punya anak itu di luar kendali kami sebagai manusia
Tak semua pasangan beruntung diberi jalan mudah. Ada yang harus sedikit bersabar, ada yang berliku, ada yang menguras tenaga dan tentu saja banyak biaya.
Jalan yang sudah amat berat bisa jadi menyakitkan bagi mereka.
Jangan lagi ditambah dengan pertanyaan "kapan?"
Karena sungguh merekapun tak tahu jawabannya, tak tahu ujung dari perjuangannya.
Jangan menambah berat apa yang sudah berat.
Apalagi kalau mereka sudah mulai move on, menerima takdir dan menikmati hidup, kumohon jangan di rusak dengan pertanyaan kapan, apalagi ditambab kalimat-kalimat menyakitkan yang lain.
aku menghadiri sebuah seminar bagaimana seorang perempuan berdaya dalam sebuah keluarga. pemateri menyampaikan poin-poin penting yang membuat mataku berkaca-kaca.
"seorang perempuan telah mulia, sebab Tuhan yang memuliakan mereka. peran mereka kala menjadi seorang anak yang menjaga diri dengan baik, kala menjadi seorang istri yang berkhidmat kepada suami dengan penuh ikhlas, dan kala menjadi seorang ibu yang menyerahkan segalanya untuk mendidik anak-anak mereka. setiap perempuan telah mulia dan memang dimuliakan. meski dia belum menikah, ataupun belum memiliki keturunan kemuliaan itu tetap melekat kepada seorang perempuan."
mataku berkaca-kaca, dan aku baru menyadari seorang wanita yang duduk di sebelahku menangis. sampailah pada perkenalan dan obrolan ringan kami. rupanya beliaupun pernah Allaah uji dengan sebuah penantian buah hati yang cukup lama sekali. dan ujian keikhlasan lainnya, yaitu kehilangan. menuliskan kisah beliau saja membuat tanganku sedikit tremor dan mataku berkaca-kaca. ya Allaah, pada dimensi yang lain ujian seseorang bisa sedalam itu.
"13 tahun saya dan suami menunggu mba, di awal pernikahan kami sampai menginjak 10 tahun pernikahan kami semua upaya telah kami lakukan. saya bahkan nggak tahu sudah berapa juta telah kami habiskan untuk program hamil. tidak ada kista, miom, pcos atau apapun itu termasuk saluran tubapun tak ada masalah. bersih, sehat dan sayapun mengalami haid secara teratur setiap bulannya. suami juga sehat, tak ada masalah dalam pemeriksaan kesehatan dan kesuburannya.
menginjak pernikahan ke 11 saya sudah dititik lelah, doa saya sudah nggak minta anak lagi tapi lebih ke minta agar diberikan hati yang lapang dalam menerima segala ketetapan takdir Allaah. selama usia pernikahan ke 11 tahun saya dan suami hidup dalam tenang. istilahnya dikasih anak Alhamdulillah, enggak juga nggak apa-apa. sampai ditahap itu. sayapun mempersilahkan suami untuk menikah lagi jika memang suami menginginkan seorang anak. saya tak pernah keberatan jika beliau poligami.
sebab melihat seseorang yang kita cintai menutup rapat sedihnya, itu justru membuat saya menyalahkan diri saya sendiri. namun suami selalu meyakinkan saya, bahwa kebahagiaan itu tidak terletak pada dikasih anak atau enggak. kebahagiaan itu Allaah yang hadirkan pada hati kita.
saya berkunjung kerumah teman, kebetulan pula mereka juga pejuang garis dua, bedanya Allaah hadirkan seorang anak dipernikahan mereka yang ke 5 tahun. saya paling takut jika harus mengunjungi teman yang habis melahirkan, bukan karena iri atau tak ikut bahagia atas kebahagiaannya melainkan takut sekali jikalau mendengar komentar yang tidak diinginkan.
namun teman saya ini berbeda, ia tahu betul rasanya menunggu. benar ya mba bahwasanya *manusia tidak akan pernah bisa saling memahami, jika mereka tidak merasakan penderitaan yang sama.*
teman saya tidak membahas tentang kehamilan, namun saya yang banyak bertanya kepadanya. sampai disatu obrolan ketika saya meminta tipsnya, dia mengatakan bahwa kuncinya adalah ikhlas. selain ikhlas ikhtiar dia hanya memperbanyak makan kecambah setiap hari. baik untuk suami dan dirinya sendiri. padahal dia tidak promil kedokter karena memang ia mengaku tak mampu secara ekonomi jika harus melakukannya.
sepulang dari rumahnya mendiskusikan dengan suami dan kami bersepakat untuk mencoba ikhtiar tersebut. atas izin Allaah mba, 2 bulan ikhtiar saya dan suami, Allaah izinkan saya hamil untuk pertama kalinya. betapa bahagianya saya terutama suami atas kabar baik ini. semua keluarga saya maupun suami menyambut bahagia berita ini.
namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama mba, saya keguguran di usia kandungan saya memasuki sembilan minggu. saya harus kuretase pula untuk pertama kalinya. saya menangis dan terus menangis. tak ada kekuatan bahkan untuk memasukkan sesuap nasi kemulut. kalau bukan karena pertolongan Allaah mungkin saya sudah jatuh pada depresi.
2 tahun seusai kuretase Allaah karuniakan kembali kabar baik itu, saya hamil kembali. dan anak saya sekarang berusia 4 tahun mba. saya bahagia dan bersyukur dilain sisi. namun jika melihat anak saya, sayapun menangis teringat suami. suami saya meninggal satu bulan setelah saya melahirkan. suami saya meninggal ketika covid.
kalau ingat itu saya selalu menangis dalam sholat saya. ketika kebahagiaan itu datang dan kami tunggu-tunggu. Allaah ambil salah satu titipannya. suami saya adalah orang yang paling bahagia ketika saya melahirkan mba, dia mengabarkan ke semua kerabatnya kalau istrinya ini benar-benar sehat dan bisa hamil.
tidak ada orang yang sebaik dia mba, ketika semua orang memberikan nasihat agar saya menikah lagi, hati saya tak pernah beranjak dari suami saya. suami saya orang baik sekali, saya takut jika saya menikah lagi tidak mendapatkan seseorang yang sebaik suami saya. saya takut malah tidak bahagia sebab banyak membandingkan.
jika melihat orang-orang yang pejuang garis dua, saya meyakini biasanya para suaminya adalah orang baik yang begitu baik memuliakan istrinya. itulah mengapa terkadang mereka pejuang garis dua tidak meletakkan kebahagiaan mereka pada memiliki anak atau tidak. sebab perekat keduanya bukanlah anak.
saya doakan mba Nisa dan suami Allaah karuniakan keturunan yang Sholih dan Sholihah. penyejuk untuk kalian berdua. saya tak ingin banyak memberikan tips ini dan itu. tapi semoga saja cerita saya ini ada kebaikan yang bisa diambil hikmahnya ya mba. saling mendoakan dalam kebaikan ya mba." ucap beliau sembari tak kuasa menahan airmatanya.
"aamiin Bu, semoga Allaah kuatkan ibu selalu ya. Allaah jaga ibu dan anak ibu selalu dalam kebaikan. doa-doa baik akan kembali kepada yang mendoakan. saya boleh izin cerita ibu ini untuk saya tulis kembali dan saya share di media sosial saya Bu? nama dan tempat saya rahasiakan.."
"dengan senang hati mba Nisa. semoga Allaah berkahi ya.."
setelah acara usai kami berpelukan dan kami berpisah..
"Pyungggggg" Beta ingatkan suami jika kesepakatan kita hampir berakhir. Setelah setahun pernikahan, kita harus semangat untuk mendapatkan momongan.
Semua yang terjadi pasti dengan usaha yang sudah kita lakukan dan izin Allah.
Bulan September beta sudah mulai mencari informasi dan beragam pengetahuan tentang Program hamil di Internet. Banyak cerita, banyak artikel yang merekomendasikan ini dan itu.
Yook wes!
Hal pertama yang beta lakukan adalah memperbaiki niat untuk segera punya momongan. Setelah niat sendiri, beta mengajak suami juga berniat hal yang sama.
Besoknya setelah ba'da ashar beta ke apotek untuk membeli vitamin (Folavit dan ever E). Minuman ini rutin Beta konsumsi setiap hari tanpa jeda selama bulan September berjalan.
Hari berlalu masih di bulan september seorang sahabat baik Beta di Jogja sebut saja namanya 'adek' memberikan kabar "Mba, Alhamdulillah aku udah hamil" Alhamdulillah, MasyaAllah, Tabarakallah, bahagia sekali Beta mendengar kabar itu. Saat bersamaan pun si adek berbagi kabar bahwa setelah menikah adek mengkonsumsi Energen kacang hijau dan Susu Prenagen esensis. Akhirnya!! adek menyarankan untuk Beta juga kalo bisa konsumsi minuman tersebut. Okayyy Beta ikuti. Karena kata penutup adek yang buat semangat
"mba Allah itu melihat segala usaha kita"
wuahhh, Jlebbb!! Ini tandanya mbaknya harus berusaha lebih dan berikhtiar sama Allah.
Energen kacang ijo dan Prenagen esensis pun jadi minuman wajib yang harus Beta konsumsi berdampingan dengan vitamin yang duluan Beta konsumsi. Setelah semua ini Beta sudah lakukan.
Beta juga lakukan satu hal yang menurut Beta penting, setelah selesai ba'da ashar hari itu, beta mengeluarkan dua lembar uang kertas. Satu untuk suami dan satunya untuk Beta. Beta minta untuk suami, sama-sama niatkan di uang yang dipegang masing-masing "kifarat mulut" untuk di bawa ke masjid saat matahari mulai ikut terbenam. Maknanya sih semoga segala salah perkataan yang disengaja atau tidak terucap diantara Beta dan suami pada dahulu kala tidak menjadi sebuah Boomerang untuk kita berdua di masa sekarang dan masa akan datang. Setelah berniat Beta dan suami ke masjid menaruh uang tersebut di kotak amal. Setelah selesai dari masjid, Beta meminta suami pulang dan Beta menuju ke tempat bibi.
Setiba di rumah bibi Beta meminta untuk bibi mengelus-elus perut Beta sesuai keahlian bibi "istilah orang daerah sini berobat kampung"..
Setiap proses Beta ikuti dengan baik, dengan 3x elusan perut selama 3 hari, di hari terakhir bibi memberikan Beta sebotol air yang sudah di doakan untuk diminum.
Dan hal terakhir yang penting harus dilakukan adalah selalu mengamalkan doa nabi Ibrahim saat santai maupun saat setelah sholat Fardhu dan Sunnah bersama dengan suami.
Setelah semua proses ini Beta lakukan, Beta hanya berharap Allah mengabulkan segala usaha Beta. Keyakinan Beta semakin bertambah untuk Allah menjawab segala usaha Beta dan setiap ikhtiar beta!
Qadarullah Allah ngejawabnya kontan "jlebbb"...
Bulan oktober 2021 adalah bulan penuh keberkahan dan kebahagian pasca 1st wedding anniversary, pejuang garis dua membuahkan hasil.
Terima kasih sudah menguatkanku malam ini. ditengah gerimis kecil, dalam rumah sambil menyantap makan malam, tiba-tiba Mas bilang :
" Kenapa harus mengeluh?"
" Alloh ndak sare, kalau belum waktunya ya belum. Yang penting kita usaha, doa, ikhtiar. Pikirannya jangan dipenuhi sama 'gek-gek-gek', ttp berpikir positif."
" Mungkin Alloh pingin kita siap dulu, menata semuanya dulu. yang penting jangan menyerah, kalau mau test ke dokter ya ayok itu namanya juga usaha, jangan kita nyerah gitu aja. Semua Hasilnya juga Alloh kan"
" kalau Alloh belum kasih, ya belum. Kalau Alloh mau ngasih ya bakalan ngasih. Kamu jangan capek-capek, jangan banyak begadang, jangan mblayang juga kesana kemari, dilerenke badannya. Paham sayang?"
.
aku cuman mau bilang, makasih ya Mas udah saling menguatkan gini. Sebenarnya aku memang sangat berharap kita dapat hadiah Setahun, tpi Apa boleh buat? Alloh belum mengasih hadiah indah sama kita kan ;)
.
Besok coba lagi, semangat ya sayang, maaf aku suka ngeluh ;))
Menurut gue, having a husband is a lovely. But having a baby is a miracle. Jadi dulu waktu masih bujang(?), gue sangat sadar kalo di lubuk hati terdalam gue jauh lebih takut susah punya anak dibandingkan susah ketemu jodoh.
Padahal kan, kalo belum ketemu jodoh gimana mo punya anak ya. Wkwkw. Pokoknya kek gtu laah. Ketakutan tiap orang kan beda-beda.
And here I am, hari ini resmi usia pernikahan 3 tahun dan belum dikaruniai anak. Hari ini juga hari ulang tahun gue, lho. Dan di hari ini pula gue mendapat kabar menggembirakan dan menyedihkan sekaligus.
Tapi untuk menceritakannya gabisa dipisah-pisah, antara mau denger yang sedihnya dulu atau yang senengnya dulu. Karena dalam satu kesatuan cerita. This will be a long story to read. If you're interested, prepare your eyes and fingers to keep scroll it down 😆
2 Maret 2021
Setelah tertunda karena pandemi, akhirnya kami memutuskan untuk mulai fokus program hamil. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk mulai di RS JIH yang lokasinya di sekitar pasar rebo. Sebelum kesini gue googling dulu tentang RS ini, dia ada nomor WA khusus untuk pendaftaran dan link yang harus diisi untuk pasien baru. Setelah daftar, kita langsung dikasih tau jam berapa harus datang. Jadi ga perlu menunggu lama.
Saat tiba pertama kali masuk RS nya, gue langsung shock.
"Kok rumah sakit bentukannya kaya rumah hantu gini dah?" 🤣
Tapi yaudahlah yaa..Bismillah.
Sebelum konsul ke dokter, ada suster yang menanyakan kondisi umum dan diminta untuk mengisi form tentang riwayat reproduksi kami. Kemudian kami menunggu kurang lebih 45 menit. Hingga suster memanggil nama gue
"Ibu Adriyani"
"Oh iya saya. Suami saya ikut masuk apa ngga?" Pertanyaan bodoh ga sih ini? Wkwkwk
Masuk ke ruangan, gue berhadapan dengan dr.Pritha K, SpOG. Dan ditanya-tanya kembali tentang isian form sebelumnya. Setelah itu, gue di USG. Menurut gue dr.Pritha sangat ramah dan bersedia menjelaskan dengan detail.
"Wah rahimnya ibu bentuknya ke belakang banget, retroflexi. Tapi gapapa kok"
"Ibu kondisi rahimnya bagus, ga ada keliatan apa-apa. Nah untuk ovariumnya kaya gini" dokternya sambil menggambarkan ilustrasi ke gue.
"Di ovarium ibu, sel telurnya banyak tapi kecil-kecil. Ini namanya PCO ya Bu" Oh gue udah menduga sih kalo gue kemungkinan PCO (Polycistic Ovary)
"Terus di ovarium kiri ada massa yang menutupi separuh ovarium Ibu" Deg! Hah apa nih? Benjolan ya maksudnya? Di ovarium? Astagfirullah.
Ini ilustrasi yang gue gambar lagi, karena dokternya gambar di form tes lab
"Ibu nanti kesini lagi ya tanggal 18 maret untuk tes" beliau sibuk melingkari jenis tes apa aja yang harus gue lakukan di lembaran daftar tes laboratorium.
"Dikurangi makan nasi putih sama ayam boiler. Minum rimpang-rimpangan. Olahraga rutin minimal 3x seminggu selama 30 menit. Berhubungan yang teratur" kertas berisi daftar hal-hal yang perlu dilakukan disorongkan ke gue. Terakhir dr.Pritha menutup konsultasi sambil mengucap salam.
Keluar dari ruangan dokter gue mengamati daftar jenis tes yang ada di form. Sambil dalam hati berhitung biaya yang akan kami keluarkan. Gue merasa familiar dengan hampir semua tes yang dilingkari oleh dokternya. Sampai mata gue tertuju ke tes yang paling akhir, di baris yang paling bawah. Tes CA-125.
Sampai di rumah gue mulai browsing tentang tes CA-125. Dan hasilnya adalah sebagian besar merujuk untuk tes penanda tumor ovarium. Ini pasti buat tes untuk melihat benjolan yang ada di ovarium gue. Pantesan selama ini panggul gue suka nyeri.
Selama bermalam-malam gue habiskan waktu untuk baca-baca tentang artikel terkait benjolan di ovarium dan tes CA-125. Selama bermalam-malam itu juga gue nangis sesenggukan.
“Kamu kenapa?”
“Aku takut yang, kalo nanti hasilnya ternyata tumor gimana? Aku takut kalo dioperasi”
“Jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Sabar yang..”
“Aku sedih.. kasian kamu punya istri sakit-sakitan gini”
“Kamu jangan ngomong kaya gitu yang. Istighfar.. Astagfirullah..” kami menangis sambil berpelukan. “Kalo kamu ga siap sama hasil tesnya, kita ga usah tes aja”
“Ngga yang, aku harus tes untuk tau hasilnya”
Malam-malam berikutnya kecemasan soal tes mulai berkurang. Hasbunallah wa ni’mal wakiil, cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.
18 Maret 2021
Kami termasuk beruntung karena punya kesempatan untuk bekerja flexibel antara WFO dan WFH. Pas di hari ini gue WFH dan ada jadwal meeting zoom. Gue izin sama atasan untuk join cuma melalui hape karena mau ke RS.
Hari ini gue puasa 12 jam untuk diambil darahnya 2 ampul. Hasilnya nanti diambil sekalian saat konsul berikutnya, yaitu hari ke-1 sampai hari ke-3 haid periode berikutnya.
23 Maret 2021
Perut udah mulai keram-keram. Mual dan Migrain. Oh, udah mau haid nih!
29 Maret 2021
Ini adalah hari ke-36 siklus haid. Sudah hampir seminggu perut gue keram-keram, badan ga enak. Tapi haid ga kunjung datang.
“Udah mau mandeg kali” kata suami menggoda, berharap telat haid kali ini sudah positif hamil.
Dalam hati gue pun selalu berharap kalo telat haid itu berarti positif hamil. Sayangnya selama ini siklus haid gue kan memang sering mundur. Tapi demi memastikan apakah gue hamil atau ngga, dan demi kejadian yang lalu tidak terulang kembali. Akhirnya gue beranikan diri kembali untuk tespack.
Dan hasilnya
Kembali negatif, hehe.
To be honest, gue lega. Karena gue takut kejadian kaya dulu keulang. Perut keram tapi tespeknya dua garis samar. Gue semakin mengencangkan doa.
“Ya Allah, jika periode ini Kau beri aku rezeki hamil, tunjukkanlah, peliharalah kami, kuatkan kami. Namun jika belum, semoga Hamba segera haid ya Allah”
31 Maret 2021
Hari ini kebagian jadwal WFO. Perut masih keram-keram. Entah kenapa gue yakin kayanya hari ini bakalan haid. Gue sisipkan pembalut di dalam tas. Ternyata benar aja, jam 9 pas gue mau wudhu, gue udah haid. Alhamdulillah..
Setelah keluar dari kamar mandi, gue langsung menghubungi RS untuk jadwal konsul. Alhamdulillah gue bisa konsul jam 1 siang setelah ishoma. Akhirnya gue izin pulang cepet untuk ke RS.
Pas sampe RS ternyata masih banyak pasien yang belum ditangani, jadilah jadwal konsul gue molor. Sambil nunggu, kami ngambil hasil tes lab yang udah dilakukan di tanggal 18 Maret kemarin.
Dalam amplop ada sekitar 5 lembar. Gue buka satu per satu lembaran hasil lab.
Lembar pertama sampai ketiga masih aman. Hasil Pap Smear juga bagus, tidak ada tanda sel membahayakan di rahim gue. Alhamdulillah..
Lembar keempat, tes AMH.
Oh ini indikatornya PCO, hasil lab gue 4,7. Sementara nilai rujukan maksimal 4,6. Okelah, ga terlalu jauh selisihnya, insya Allah bisa diperbaiki.
Lembar terakhir, adalah lembar yang paling gue takuti. Hasil tes CA-125.
Nilai rujukannya adalah dibawah 35. Sementara hasil tes lab gue adalah 75. Astagfirullah, langsung lemes gue. Mana perut keram karena haid dan belum makan siang karena buru-buru ke RS. Astagfirullah..
Kami diskusi tentang hasil lab. Menimbang-nimbang kemungkinan terburuk dan solusi apa yang bisa kami pilih. Kalo misalnya disuruh operas gimana. Apa perlu cari second opinion ke dokter lain. Atau fokus minum herbal-herbal kunyit putih dulu, dll.
Jam 14.30 akhirnya nama gue dipanggil untuk konsul!
Dokter Pritha menanyakan hasil lab. Beliau mengambil berkas salinannya, gue diminta untuk melihat indikator yang sama di berkas asli. Dokter Pritha sangat telaten membaca satu persatu hasil lab dan menjelaskan ke gue. Sampai di indikator terakhir, yaitu hasil tes CA-125.
“Ibu hasil tesnya tinggi ya, melebihi batas rujukan. Ibu mengalami endometriosis. Kalo haid, suka nyeri kan?”
“I..iya dok..” gue menjawab sambil meyakinkan diri bahwa gue ga kena tumor.
“Hmm.. itu petanda tumor ganas atau bukan ya, Dok?” gue memberanikan diri untuk bertanya
“Oh bukan. Kalo tumor itu, nilai hasil tesnya ribuan Bu..”
“Alhamdulillah ya Allah..” gue mengucapkan lafal hamdalah sayup-sayup di dalam masker 2 lapis. Kalo sampe terdengar, mungkin bisa dianggap tolol sama dokternya karena mengucap hamdalah saat didiagnosa endometriosis.
“Ini kita perbaiki satu persatu ya Bu..dietnya juga tetap dijalani. Harus sabar. Jadi ibu saya kasih pil KB untuk mengontrol endometriosisnya ya, selama 3 bulan. Setelah ini ibu tes HSG”
Banyak banget sebenernya yang dijelasin sama dokternya. Sampe beliau bilang “Ibu kalo bingung nanti WA aja yaa”.
Kemudian konsul kali ini gue yang mengucap salam untuk pamitan keluar dari ruangan. Di luar ruangan, gue langsung bilang suami
“Alhamdulillah yaaang bukan tumor, ya Allah. Alhamdulillah ‘cuma’ endometriosis”
Gue berkaca-kaca dan sebenernya suami gue juga terlihat berkaca-kaca walaupun sambil misuh-misuh bilang “udah ah kamu jangan nangis!”
Kami keluar dari RS dengan perasaan lega di hati dan merasa kosong di dompet pada waktu yang sama, hehehe. Insya Allah rejeki mah ada aja ye kaan..
Epilog
Salah satu yang bikin gue seneng konsul di RS yang mirip rumah hantu ini adalah dokternya yang ga judgemental. Dokter Pritha ga bilang :
“Wah kondisi kamu kaya gini mah, susah hamil nih” atau
“Persentase kamu bisa punya anak sekian persen”
Dengan begitu gue ga sibuk memikirkan hasil akhir dari semua ini. Karena tugas kami sebagai insan ya berikhtiar semampunya dan beribadah sebaik-baiknya. Karena takdir apapun juga ada dalam genggaman-Nya.
Jadi, hari ini gue resmi :
Ulang tahun pernikahan yang ke-3
Memasuki usia kepala 3
Pejuang dua garis!
Mohon doanya ya gais, semoga tes HSG nya lancar dan hasilnya baik. Treatment pengobatan kami berjalan dengan baik. Kami diberikan semangat dan kesabaran menjalani segala ikhtiar ini.
A lot of people said ‘Efforts never betray the result’ but it may does.
Gue pun diingatkan sama teman :
Mari kita gantungkan harapan kita hanya ke Allah, jangan pernah bergantung pada yang lain bahkan pada ikhtiar yang kita jalani.
Karena sebagai insan memang tugas kita hanya mengikhtiarkan apa-apa yang membuahkan hasil, dan hasil akhirnya mari kita serahkan sepenuhnya pada Allah. Allah pasti menghitung dan menilai setiap proses dan jerih payah yang kita lalui. Sehingga tentu kami berharap semoga ikhtiar kami membuahkan hasil di waktu yang tepat bagi-Nya, Aamiin..
Hari ini ceritanya aku ke salah satu laboratorium klinik swasta di kota Solo. Aku berencana buat tes HSG atas saran dari dokter kandungan yang kudatangi sebulan yang lalu.
Sebelum tes, aku udah banyak baca review soal HSG. Tentang prosesnya, biayanya, komplikasinya, efek yang terjadi setelahnya. Kalau dari review yang kubaca sih saat HSG kita akan merasa perut kram, mual, bahkan sampai ada yang pingsan. Setelah prosesnya selesai pun akan ada kemungkinan keluar flek selama 2-3 hari. Ngeri ya? Aku sempat takut juga. Tapi berbekal keinginan yang kuat untuk segera menghadirkan adiknya Alif, aku pun tetap menjalani tes HSG itu.
Ah iya, aku berangkat ke lab sendirian. Si mas kemana? Ya jelas dia masih sekolah, wong aku ke labnya jam 8 pagi. Lumayan nekat sih. Karena dari review yang kubaca seharusnya aku didampingi keluarga kalau-kalau terjadi hal yang tidak diinginkan. Tapi bukan Nisa namanya kalau nggak nekat. Toh juga disana nanti pasti dikasih analgetik kan?
Sampai di lab pukul 8 pagi, aku diambil darah dulu buat tes darah rutin. Hasil dari tes darah rutin ini lah yang menentukan apakah aku boleh dilakukan HSG. Pukul 10 hasil keluar, aman. Aku pun diminta untuk ke ruang HSG pukul 11.
Di dalam ruang HSG ada dua orang, satu dokter radiologi dan satu (sepertinya) asistennya. Alhamdulillah keduanya perempuan. Aku diminta untuk minum analgetik dulu, melepas bawahan, buang air kecil, lalu berbaring di atas meja tempat dilakukan foto XRay. Saat foto awal ini, everything is ok. Ya iya, kan cuma difoto doang, malih!
Setelah foto pertama dengan posisi supinasi ini selesai, si dokter radiologi datang mendekat. Jeng jeng, aku mulai deg-degan. Beliau minta aku untuk posisi litotomi. Aku nggak berani lihat ataupun banyak nanya apa yang akan beliau lakukan. Aku pasrah, udah kepalang tanggung ini. Beberapa menit kemudian beliau memasukkan spekulum ke dalam vagina. Ini bukan pertama kali sih karena aku pernah dikuret sebelumnya. Tapi tetep aja sakitnya bukan main, cyin. Beliau sampai gemes karena badanku nggak bisa diem hahaha. Ya maaf dok, kan sakit ya.
Ternyata penderitaan belum usai saudara-saudara. Setelah spekulum terfiksasi, beliau memasukkan kateter sampai ke dalam rahimku. Kemudian spekulum pun dilepas. Lalu beliau memberi aba-aba sebelum memasukkan cairan kontras. Kata beliau perutku akan terasa mulas. Baik, aku iya iya aja sih karena aku udah nggak bisa berpikir lagi. Ketika cairan kontras mulai masuk, beuh rasanya perutku mulas sekali. Seperti belum buang air besar seminggu. Agak sedikit mual juga. Si dokter radiologi melakukannya dengan cepat, beliau segera memposisikan aku menjadi supinasi kembali lalu mengambil foto lagi. Aku cuma bisa merem, bergerak pun aku tak mampu. Pasrah.
Apakah sudah selesai? Weit, ternyata belum saudara-saudara. Setelah foto dengan posisi supinasi selesai, beliau memposisikan aku dengan posisi LLD (ini bisa digoogling ya). Intinya aku dimiringkan ke kiri. Lalu ternyata beliau memasukkan cairan kontras lagi. Astaga mulas yang tadi aja belum hilang, ini ditambah lagi. Mau nangis aja huhuhu. Tapi untungnya beliau melakukan semuanya dengan kilat. Setelah selesai foto dengan posisi LLD, beliau segera melepaskan kateterku. Alhamdulillah. Aku lega. Rasanya seperti berhasil buang air besar setelah seminggu sembelit.
Si asisten memintaku untuk bersih-bersih dan diusahakan untuk buang air kecil agar cairan kontrasnya ikut keluar. Ia sempat menanyakan apakah masih terasa nyeri. Dengan percaya diri aku bilang tidak. Tapi aku tetap diberi bekal analgetik kalau-kalau sampai di rumah terasa nyeri. Dia juga menjelaskan bahwa akan ada flek selama 2-3 hari. Setelah mengangguk tanda mengerti, aku pun kembali ke rumah.
Sampai di rumah pukul 12 siang, aku berniat untuk rebahan sebentar. Tapi eh nggak tahunya aku ketiduran. Sekitar pukul 2 siang aku terbangun karena perutku tiba-tiba terasa kram. Susah sekali untuk berganti posisi. Apalagi saat aku batuk atau bersin, astaga sakitnya. Ternyata efek analgetik yang kuminum di sana tadi mulai hilang. Untung aku masih punya analgetik cadangan yang tadi dibawakan pulang dari lab. Huhuhu begitulah anak muda, jangan takabur bilang kalau nggak sakit.
Sampai tulisan ini dibuat, pukul 1 pagi, aku masih rebahan di kasur. Meski sudah tidak separah tadi siang, tapi perutku masih kram. Rasanya masih susah buat gerak. Semoga saja besok pagi kram dan fleknya sudah hilang.
Untuk para pejuang dua garis, mari kita berpegangan tangan.
I’m so excited to share with you what came in the mail the other day! It’s Faye’s very own Promil Four #NurtureTheGift Photobook featuring her simple creations since she was younger. I actually feel bad that most of her photos when she was younger got corrupted in my old phone. I don’t have much aside from those posted on social media. That’s why having these photos printed now is really special to us.
Wow, look at this! Isn’t it pretty?
I believe that parents are every child’s number one fan. No matter how big or small their achievements are, us parents will always be proud and happy for what they have accomplished. My eldest daughter, Faye, has shown interest in styling since the age of 3. And by styling, I mean styling her dolls. This all started when she used playdoh to make dresses for her little dolls. She was also able to make dresses out of the tissue, deflated balloons, handkerchiefs, ponytail, paper, and adhesive tapes ⎯ talk about recycled fashion! I think she has an inclination to become a fashion designer one day.
And as parents, it is our responsibility to nurture their gift. We should encourage them by praising and giving positive reinforcements because our words matter to them the most. We should also provide more avenues for them to discover and cultivate their gift. In our case, we allow her to experiment with her dolls. This might not look good for some, because it means “messing with the doll” somehow. But for us, this only means endless opportunities. She can alter their dresses and even change the character from what it really is. The possibilities are all up to her. And finally, aside from these, proper nutrition plays a very important role in her growth and mental development. With all these factors together, I think we are helping our children to shine and be able to use their gifts.
Showing here some of Faye’s creations when she was younger.
Now let me show you some of the photos. This makes me feel all-mushy and warm inside. What a very meaningful memento this would be to look back to when she is older. I guess she really grew and improved throughout these years. She can make more complicated designs now, headpieces and shoes included. ☺ That’s why we promise, her daddy and I, that we will continue supporting her. We will continue to provide more avenues for her to learn and grow. We will support her passion for the arts and styling by giving her the materials so she can explore more. I really appreciate this Promil #NurtureTheGift Photobook for reminding us how much Faye has improved.
Would you like to have your child’s very own #NurtureTheGift Photobook? You may check the mechanics at http://facebook.com/bellapowermoms or you may also visit Promil Four’s website to register. Just visit http://promilnurturethegift.com.ph/stg-home and follow the instructions. It’s very easy to do and I’m sure that this is something that you and your kid will treasure for a lifetime. :)