Kebingungan yang seringkali muncul atas segala pertanyaan kehidupan memaksa manusia untuk kembali kepada pencipta.
Sedih, kecewa, hancur, dan perasaan tidak berguna atas segala apa yang terjadi dalam perjalanan mencari, mempertahankan, mengorbankan, dan mengikhlaskan menjadi titik nadir manusia kembali dalam sujudnya.
Di lain waktu, air mata haru menjadi saksi bagaimana gigihnya merayu Sang Maha Pengasih lagi Penyayang. Tentang bagaimana kisah dramatis untuk menggenggam yang sudah dijuangkan sejak lama.
Momen itu bergilir. Menyempurnakanmu yang sudah tercipta sempurna, sebagai wujud seorang hamba.
Apapun momennya, pada akhirnya tetap tidak ada tempat bersandar dan bergantung paling nyaman selain Dia. Menujunya, lelahnya kaki bukan menjadi penghalang hati. Lelahnya jiwa bukan menjadi penghalang harap.
Begitulah iman, penyemangat hidup manusia yang penuh lika-liku. Dan begitulah Tuhan, alasan mengapa manusia selalu bisa bertahan.
May every new chapter be better than your last, Dewi.