THE JOURNEY: #DUA Suatu Ketika Dalam Pencarian Visa
Throwback: 16 Januari 2016. Beberapa hari setelah sampai Jakarta.
Tulisan ini akhirnya saya buat pukul 22.24 WIB, diantara mata yang sudah mulai berat dan badan yang berantakan. Hari ini adalah jadwal untuk menjalankan agenda utama saya ke Ibukota Jakarta dan jika (mungkin) beberapa team sebelum saya dapat menjalankan misi pengumpulan dokumen VISA dengan aman, nyaman, dan terkendali, team saya kali ini memang harus menjalani serangkaian dramatic moment layaknya di film-film hollywood.
Dramatic moment ini di mulai ketika saya mempertanyakan Bank Statement dari penyelenggara program di UK yang hanya ter update sampai tanggal 15 Desember dengan total saldo lebih kurang 15.000 Poundsterling. Berkali-kali saya yang dibantu oleh mentor Jakarta membuka tutup kalkulator di handphone. Saldo yang tertera hanya bernilai 340.000.000 jika di kurs kan ke rupiah. Sangat tidak cukup bila digunakan untuk menjalankan event internasional dengan jumlah peserta 24 orang dari 5 negara. Tapi akhirnya hal ini kami timbun dalam tawa-tawa lain dan ke-rempongan mengurus berkas yang lain.
BOM SARINAH: Diantara itu semua, hari kamis tanggal 14 Januari 2016 yang seharusnya menjadi hari untuk melengkapi semua dokumen pengajuan visa, pada akhirnya bisa dengan mudah gagal karena ada serangan BOM di Sarinah Thamrin, Jakarta Pusat. Ini adalah kali pertama saya merasakan bagaimana nyawa terancam. Saya dan ketiga teman yang lain sedang dalam perjalanan menuju Jakarta Pusat untuk mengajukan sejumlah proposal kegiatan ke beberapa kementerian. Ketika sudah sampai Ring 1, kami di kagetkan oleh percakapan telfon mas Bayu dengan teman wartawan bahwa sedang terjadi serangan bom di wilayah Sarinah Thamrin. Pada awalnya saya mencoba tenang, tapi kondisi berubah ketika HP saya juga mulai ramai oleh pesan di grup WA. Secara cepat saya sadar meski di dalam mobil, tapi nasib serba tidak pasti. Berita yang beredar waktu itu pun sangat membingungkan. Selang 5 menit, beberapa panggilan masuk ke handphone saya, mas Bayu dan mas Adam. Mereka semua ingin memastikan bahwa kami dalam kondisi yang baik-baik saja karena memang lokasi terakhir kami hanya berjarak kurang dari 1 kilometer dari Serangan Bom.
Ya, kami memang baik-baik saja. Tapi tidak memungkiri jika ketakutan mulai datang. Meski saya sudah diajari berkali kali untuk tidak panik dan tidak mudah menerima informasi dengan begitu saja, untuk kasus ini otak saya secara otomatis memprogram untuk takut dan tanganpun menjadi dingin. Saya tahu ketiga teman cowok ini juga merasakan ketakutan, tapi cowok adalah makhluk ajaib yang bisa tetap calm down dan cool disaat-saat genting seperti ini.
Dalam kondisi serba tidak pasti, kami memutuskan pulang ke Bumi Harapan Permai di wilayah Jakarta Timur untuk menenangkan diri dan menenangkan perut yang sudah mulai tidak tenang sejak pagi. Akhirnya, kami baru bisa keluar rumah pukul 7 malam untuk melanjutkan misi melengkapi dokumen yang kurang.
Malam itu Jakarta masih mencengkam, masih berduka, masih serba was-was. Siaran TV berkali kali menampilkan konferensi pers dari POLRI yang menerangkan bahwa kondisi stabil. Nyatanya, hal tersebut masih belum bisa membuat otak saya kehilangan rasa takutnya. Sekitar jam 7 malam kami memutuskan keluar untuk melengkapi dokumen tersebut namun ternyata di Jakarta tidak mudah menemukan percetakan. Kami menuju daerah Tebet, beberapa kali memutari jalanan tapi tidak bisa menjumpai tempat print. Sekali kami menemukan tempat print dengan kualitas sangat apa adanya dan mahal, kami terheran-heran karena selembar kertas hasil print dihargai 1000 rupiah. Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba cari tempat lain, namun saya malah terjebak di tempat print yang lebih mengenaskan. Harganya 2000/lembar, 100 kali lipat daripada harga print di dekat kos.
Dokumen kelengkapan termasuk bank statement UK yang akhirnya tercetak ini saya teliti lagi karena takut jika kurang. Dan saya menemukan keganjilan, ada sebuah tulisan di Bank stateent tersebut “page 01 of 02”. Jadiii, memang masih ada halaman kedua yang seharusnya kami dapatkan. Mentor kami akhirnya menghubungi officer di UK untuk mendapatkan keterangan. Perbedaan zona waktu 7 jam antara UK-Indonesia yang akhirnya membuat semua orang menjadi khawatir dan menambah level ketakutan meningkat tajam.
Keesokan harinya, masih ada drama salah seorang teman yang lama di kamar mandi dan membuAt ketir-ketir kami akan telat masuk VFS.GLOBAL. Di dalam mobil, mentor kami terus memberikan informasi terkait pengumpulan dokumen, tapi arahan tersebut hanya masuk sampai di otak bagian depan. Bagian lain sudah terpenuhi rasa takut akan telat. Di lain kondisi, Mbak Kania yang sudah datang di TKP terlebih dahulu tidak hentinya menelfonku.
Singkat cerita kami telah berhasil mengumpulkan dokumen yang sudah kami persiapkan dan tidak lupa menunggu selembar bank statement keramat dari UK. Atmosfer di VFS ini membuat otakku merasakan UK semakin dekat. Dimana-mana terdapat bendera UK, poster sherlock holmes dan quote-quote lain yang menjelaskan UK, seperti “Great culture, Great sport, Great food, Great Britain”. Dalam hati saya berkata, “Ah! Welcome to Great Britain Dhika! One step closer dan kamu akan segera merasakan Winter di UK”.
Dalam penantian super lama ini, kami sudah menghabiskan waktu untuk keliling Mal Ambassador. Ada yang unik, ketika saya yang sudah terbiasa dengan Mal di Jawa Timur (Malang,Madiun dll) harus merasakan Mal Jakarta dengan budaya yang berbeda. Penjual yang biasa saya temui selalu menggunakan kata “silakan mbak”, “nyari apa mbak, dilihat dulu” namun ketika masuk Mal Jakarta yang saya temui adalah kata-kata “boleh” “boleh” dan setiap penjual melontarkan kata-kata itu.
Deadline yang kami dapatkan dari pihak VFS adalah pukul 15.00. Kami masih menunggu e-mail dari UK sementara permasalahan masih tetap sama, London dan Jakarta selisih 7 jam. Karena lama tidak mendapatkan kabar, akhirnya mentor kami mencoba untuk menghubungi pihak UK sekali lagi hingga membuat kami lama menunggu dengan was-was. Sudah hampir jam 15.00 namun masih tetap belum ada respon. Jantung sudah mulai berdetak dalam ritme yang tidak wajar, kaki sudah kaku, mata mau terbuka rasanya susah. Hingga akhirnya jam 15.00 sudah lewat. Iya, lewat, dan masih tidak ada tanda-tanda email masuk. Rasanya UK tiba-tiba menjauh. Dada menjadi sesak, nafasku serasa berhenti, suara musik hiphop di speaker Mal Kuningan sama sekali tidak menarik, mas Bayu dan mas Adam yang sebelumnya terlihat cool akhirnya keleleran dan raut muka takut muncul dari wajah mereka.
Hingga akhirnya kiriman foto masuk, hati rasanya campur aduk. Kami lari naik turun escalator untuk mendapatkan internet access dan print data tersebut. Ini rasanya seperti kami diburu bom waktu. Kami masuk Vfs lagi dengan wajah sok manis, berpura-pura kami tidak punya masalah. Akhirnya kami bisa masuk dan mengumpulkan data tersebut, pukul 15.27. Kami masuk dan keluar dengan lega. Rasanya luar biasa, seperti ada misi yang sangat penting dan akhirnya terselesaikan.
Terimakasih Tuhan, semoga Great Britain will be the greatest place to find love and faith.
Internet acces di vfs.global: Rp. 11.000,00/15menit
Print: Rp.2000.00 per lembar hitam putih.
Foto copy perlembar Rp.500,00 atau ada juga yang Rp.1.500,00
Akte lahir, Ijazah terakhir, KK, PASPORT, SURAT KETERANGAN MAHASISWA, Bank Statement (dari pihak sponsor dan bank pribadi dengan minimal transaksi 3 bulan), Letter of Sponsorship dari penyelenggara program, Jadwal selama di UK, foto copy KTP dan KTM. Foto untuk VISA (bisa di dapakan di depan vfs.global dengan harga 45.000,00 (dapat 4 foto))
Pembuatan visa 15 hari kerja.