Let me follow the crowd whining how sucks this year is. Suddenly the idea of short life is not at all bad.
me

祝日 / Permanent Vacation
Alisa U Zemlji Chuda
KIROKAZE

@theartofmadeline
wallacepolsom
RMH
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
h

JVL

blake kathryn
🪼
occasionally subtle

⁂

Product Placement
Jules of Nature
he wasn't even looking at me and he found me
taylor price
Three Goblin Art
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Claire Keane
seen from Bangladesh

seen from Türkiye

seen from United States

seen from Singapore

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Singapore
seen from China

seen from United States

seen from United States

seen from Singapore
seen from Germany
seen from Sweden
seen from Chile
seen from Greece
@diamdibalik
Let me follow the crowd whining how sucks this year is. Suddenly the idea of short life is not at all bad.
me
I just want to be invisible. I cannot remember the exact moment when this wish started to pop into my mind. But I'm pretty sure it was years ago. I just want to be invisible. I feel like I'll never be able to cover myself enough. I wish I could, with millions of layer so that no one will ever notice my existence. But, even if it happens, you still recognize me. "Please, just go away," I begged you. "No way. I'm staying, and will eternally stay," you answered me with a sentence which I'm so familiar with.
It takes courage to say this sentence.
“I’m sorry, I was wrong.”
without a ‘but.’
Setelah 3 hari liputan di PN Jaksel...
Unpunctuality is a disease. And, it's contagious.
Day 54
The first day of snow!
God is amazing. He loves me with the highest standard of love. Then, He teaches me how to love, in theory, and also in practice. And, He creates you, to prove to me that loving someone is easy. And, it's safe because real love always protects. Love means no fear. Including fear of losing. And, that's exactly how I feel towards you. The best thing about this love is nothing else matters but surrender.
You are me.
:)
Jurnal Tesa #18: time spent with JSM is time well spent
Day 61
It’s 9.15 PM and I just arrived at my dorm. It has been a long yet meaningful day. Berawal dari pagi ini gua ikut prayer meeting lagi, yeahh! (akhirnya setelah 2 minggu terakhir selalu ada acara hari Sabtu). Prayer meeting asik banget... gua seumur-umur gak pernah sesemangat di sini ikutan prayer meeting hahaha. Ah, dan pagi ini dapet ayat Psalms 5:3. It mentioned exactly what has been fundamentally disappearing in me this whole time. Wait expectantly. Jeng jeng! Yah selama ini gua cuma wait impatiently hahaha ga mau menghadapi proses dan maksa ‘hasil akhirnya mana nih!’ Lalu akhirnya demotivasi tak berujung karena lagi-lagi I put my feet in the worldy promises. Kalau di benteng takeshi yang permainan nyebrangin sungai, terus pemainnya harus ngijek batu-batu bulat gitu, dan di antaranya ada batu-batu kopong yang kalu dipijak jeblos. Nah, worldy promises itu semacam batu-batu jeblos itu wkwkwkwk Jadi gua jeblos terus, lalu susah payah berenang ke pinggiran, tapi kemudian jeblos lagi di batu yang amblas itu wkwkwkwk. Emang dasar gua yang nggak mau belajar :)) Yah tapi Tuhan itu baik, gua diingetin lagi, kalau His promises itu sebenernya rahasia terbuka. Kalau ujian ya semacam open book. Everything is on the Bible.
Baik. Lanjut ke kisah hari ini. Pas banget setelah sekian lama nggak prayer meeting, gua cukup rindu makan siang sama temen-temen JSM. Dan, hari ini agak lain. Biasanya kami makan cuma di sekitar Sinchon tapi hari ini agak melipir dikit ke Gongdeok. Di Gongdeok ada Jokbal Alley yang terkenal dan kami makan di sana. Jokbal itu kaki babi. Tapi gua, P. Cindy, P. Alex dan Jungmin kurang suka si Jokbal, jadi kami makan Bossam (sebut saja babi kukus). Haduh enak banget, BABI memang terbaik!
Lalu kami balik ke gereja untuk latihan nyanyi. Ada di sekitar temen-temen JSM itu bener-bener delighful banget, hubungan-hubungan di dalamnya itu sehat dan membangun. Pernah nggak ngerasa seneng banget ngeliat orang lain berinteraksi? Maksudnya orang lain yang berinteraksi tapi lu yang seneng gitu karena energi positif (atau kadang mereka suka teasing each other dalam konteks bercanda) mereka dalam interaksi itu nular ke lu dan menusuk hati lu sampai ke yang paling dalam hahaha agak lebay. Tapi itu yang gua rasain. Salah satu alasan yang bakal bikin gua sedih dan berat banget ninggalin Seoul itu mereka. Sedih dan kadang suka cemas, pas balik ke Indonesia bisakah gua dapet komunitas yang seperti JSM? Gua berusaha percaya, pasti bisa! Jadi buat temen-temen yang baca doakan aku ya :)) *bentengtakeshi*
Awalnya hari ini gua berencana untuk belajar di asrama. Tapi, akhir-akhir ini gua merasa sumpek banget di asrama. Salah satu dilema musim dingin itu, kadang kamar jadi pengap banget karena heater udah dinyalain. Sedangkan kalu buka jendela terlalu dingin. Ditambah lagi temen sekamar gua agak kurang rapih, dan kalau udah akhir minggu kaya gini dia pasti clubbing. Pulang pagi sekitar jam 10 dan langsung tidur. Jadilah kamar kami sleep mode, a.k.a curtain ditutup, gelap dan semakin sumpek. Oh dan yang menguji kesebarannya adalah bau alkohol. Bahkan tadi pas gua balik udah malam, seisi kamara masih bau. Tapi gua berusaha sabar aja tinggal 5 minggu lagi. Gua menghindari adanya perdebatan yang berlarut dan menghasilkan kecanggungan hahaha (pengalaman semester lalu).
Akhirnya, gua memutuskan stay out sampe malam, dan membatalkan rencana belajar tersebut hahaha gua memilih hari ini mau santai-santai aja. Jadi, gua memutuskan ke Aladdin. Tempat ini ajaib banget pokoknya. Mereka nyediain sudut buat pengunjung duduk dan baca buku di sana, sampe tokonya tutup juga boleh. Gua duduk di sana dan baca buku yang gua bawa sendiri, jadi sebenernya secara teknis gua bukan kustomer Aladdin wkwkwk. Gua lagi baca the Catcher in the Rye, novelnya J. D. Salinger. Setelah gua beli buku ini beberapa minggu lalu, gua ngecek ulasan di goodreads dan menemukan bahwa banyak banget yang benci sama tokoh utamanya. Gak tau kenapa gua malah suka banget, I feel him, asli! Atau memang gua yang freak kaya si Holden dan selera humor gua serenyah crepes. Tapi baru baca 3/4, jadi penilaian gua mungkin masih bisa berubah.
Hari ini ditutup dengan waffle di BeansBins yang gua beli dengan kupon GSM terakhir di bulan ini. Pengeluaran yang nggak terlalu penting sebenernya 15,000 won untuk waffle. Tapi.... ya sudahlah udah masuk perut. Haduh, self-control dimana self-control?!?
Sekian! gua sudahi kisah hari ini di sini. Sebagai info gua nulis ini di asrama dan ditemani bau alkohol yang masih melayang-layang di udara :’( HAAAAAAAAH!
Dormitory, 17 November 2018 [10:35 PM]
Jurnal Tesa #17: the unrealistic autumn
Day 65
Time feels unreal. But, do you know what is more unreal than time? Autumn. I remember the question ‘when was the last time you did something for the first time?’ And this year, I can answer so many things. One of those things was gathering autumn leaves. Ah, and also taking pictures of my shoes, like this:
Okay, back to what I said before. Autumn is unreal. It was that beautiful until I started to think that I was not in the real world. I am not exaggerating. If you think I am exaggerating, it means you never experience autumn before. Or, you never experience autumn in Korea before. Or, you never... Okay forget it, you are not me, so you won’t be able to see like I see, to feel like I feel and to think like I think. That is my opinion. And, yours is yours. I won’t resist. Hahahaha now I am arguing with myself, who’s going to keep up with this blog anyway.
In autumn, what makes it unreal is everytime you walk you are surrounded by green, yellow, orange and red. Nothing can beat the autumn sky. Especially when the weather forecast shows that it will be a sunny day, which means a perfect day to grab my camera and go out. It is crazy how all the colors collide in my eyes. The tree and the sky create colors that I cannot describe. It is just lovely. Sometimes, it leaves me speechless.
Autumn is unreal like time. It is an illusion. It passed just like that. Within a blink of eyes, my first autumn was over. And it prepared the way for winter. It prepared my way home. Autumn teaches me not to be greedy. It teaches me that beautiful things are not supposed to stay for a long time, or they will lose their charm. All good things are meant to stay just for a while. Therefore, they give the power to people who look forward to their next coming.
So yeah, I think my whole life in South Korea is just like an Autumn. I need to come home so I can go again. I need to face the reality so I can make up my mind and be sure. I need to finish my responsibility so that the next destination won’t be an escape (again). I will go back in around two months. I don’t want to go home in grief. I am preparing myself so that I will be 100% ready for my homecoming.
Okay, I’ll talk again tomorrow. See ya!
Dormitory, 14 November 2018 [00:08]
Farewell lunch with Ps. David (+family) and Ps. Daniel (+family). We send them off back to the State in peace. We will miss you, Pastors, Samonims, Ara, Noa and Hajun! ❤
I never belong here. I feel trapped inside this mortal flesh. I always try to find the vision but it only leads me to the craving for resurrection. It is not the time to make the world a better place. It is time to make the world ready for its end.
Jurnal Tesa #16: Dua Hari di Korea dan Hampir Gabung CULT!
Ini foto terakhir yang gua ambil di Hongdae sebelum gua dibawa pergi hahaha
Selasa tanggal 20 Februari 2018 menjadi hari pertama gua menginjakkan kaki di Korea Selatan. Selama 8 jam di pesawat gua duduk di sebelah laki-laki India, tapi baru 20 menit sebelum mendarat kami ngobrol. Karena gua tidur sepanjang penerbangan. Ternyata dia mau ke Busan, buat ambil master tekniknya, dia ngasih tau sebenernya teknik apa, tapi gua belum terlalu sadar dari tidur pada saat itu jadi gua lupa. Gua pun turun dari pesawat dan nunggu bagasi keluar.
Jurnal Tesa #15: Perjalanan Mengejar Yonsei
Cara terbaik memulai tulisan ini adalah dengan kembali membaca Jurnal Tesa yang ini.
Setahun semenjak tulisan itu, perjuangan pun resmi dimulai. Tapi sebelum gua mulai bercerita, ada satu pernyataan yang harus jadi pembuka. Pernyataan ini sungguh penting, sebab pernyataan ini akan mengubah bagaimana gua dan kalian, yang membaca, memahami bagaimana terlewatinya satu tahun ini. Dan, pernyataan itu adalah…
Everything is only by HIS Grace.
Akhir Desember 2016, setelah tulisan itu diunggah, kehidupan gua berjalan kembali seperti biasa. Benar-benar seperti biasanya, bangun siang lagi, tidur larut malam lagi karena nonton Drama Korea (kebetulan pada waktu itu masih ada satu bulan sebelum semester baru dimulai), bertengkar lagi dengan Bu Flora, ibu saya, karena satu dan lain hal (pertengkaran yang sewajarnya terjadi jikalau anak gadis tinggal dalam frekuensi yang cukup lama dengan ibunya). Dan pada saat itu menggerutu jadi aktivitas harian yang gua lakukan karena almarhumah Opung masih dalam kondisi sakit dan tinggal di rumah gua. Jadi kondisi rumah sering kelam karena perang dingin antara gua dan Bu Flora, ataupun antara Bu Flora dan Opung gua, yang adalah ibunya.
Berawal dari Tes TOEFL
Jika dibuat linimasa, proses terdekat yang harus gua persiapkan dalam rangka memenuhi syarat daftar seleksi pertukaran pelajar adalah tes TOEFL. Gua awalnya optimis kalau di masa liburan gua akan dengan rajin melahap materi ujian TOEFL, ternyata gagal total. Materinya nggak tersentuh sampai H-1 minggu tanggal ujian. Jiwa deadliner sudah mendarah daging, jadi pas hari-hari menjelang hari H gua lumayan sering latihan-latihan. Seperti yang kita ketahui bersama, ada kesamaan antara Tes TOEFL dan Tes IQ, yaitu harus sama-sama dalam kondisi sehat dan fokus pas ngerjain ujiannya. Artinya, seharusnya H-1 gua tidur cukup, nggak usah ngerjain soal lagi dan makan-makan yang sehat.
Jurnal Tesa #14: Lihatlah Gajah di Pelupuk Mata
Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak. Peribahasa ini memang biasanya diartikan sebagai kecenderungan seseorang untuk melihat kesalahan orang lain, tanpa menyadari kesalahan dirinya sendiri. Tapi, saya izin untuk mengganti kata ‘kesalahan’ menjadi ‘kesempatan’, ya? Suatu kali pernah saya tergelitik oleh suatu percakapan singkat dengan seorang perempuan yang baru saya kenal. Perempuan ini adalah mahasiswa tingkat akhir di salah satu universitas negeri di Semarang. Kami dipertemukan di salah satu konferensi internasional. Ritual seperti biasa dilakukan, bersalaman, bertanya nama satu sama lain dan lanjut ke pertanyaan klise berikutnya. “Kuliah atau kerja?”, menjadi hal yang patut disyukuri ketika jawaban ‘kuliah’ yang terlontar. Setidaknya kami masih satu frekuensi dalam mencari topik percakapan. Pertukaran angkatan dan nama instansi berlangsung. Saya punya beragam koleksi ekspresi yang pernah saya lihat, ketika saya menyebutkan asal instansi saya. Universitas Indonesia. Ada yang biasa saja, bisa jadi orang-orang dengan ekspresi ini juga berasal dari UI atau sebangsanya. Ada yang kaget, biasanya dilanjutkan dengan kalimat “Aku dulu gagal masuk UI.” dan ada juga yang kagum, seperti melihat manusia berkasta lebih tinggi. Masih banyak ekspresi lain yang tidak saya sebutkan, tapi sebagian besar seperti itu.
I am now living in doubt.
Jurnal Tesa #13: Mengapa Saya Gendut?
Ini foto pas saya masih singset. Kalau foto saya yang sekarang gabisa diupload, saking gendutnya size filenya sampe 1000 terabyte.
Saya sedang ada di masa dan di dunia yang ketika saya berkunjung ke rumah saudara, bukan lagi kabar, kesehatan dan sekolah yang ditanyakan. Masa dan dunia yang saya jalani saat ini membuat setiap orang yang kembali melihat saya, bukan hanya melontarkan pertanyaan, namun juga pernyataan.
“Gendutan ya?”
“Kamu gendut banget sekarang.”
“Naik banyak ya?”
“Astaga Tesa…..”
Saya nggak bisa menjawab kalimat yang sifatnya pertanyaan, saya juga nggak bisa merespon kalimat yang sifatnya pernyataan.
Mau jelasinnya juga udah bingung, harus mulai dari mana, harus bilang apa. Karena saya juga sesungguhnya bingung cara ngontrol nafsu makan saya gimana.
Sekarang aja saya nulis post ini sambil makan Tango dicelupin ke susu full cream. Ehem. Tesa, ini sudah jam 10.12 dan PM bukan AM!!!
Hah, rasanya dah menyerah aja yang bisa saya lakukan. Akhir tahun lalu, saya udah coba diet 13 hari untuk ke sekian kalinya. Turun 5 kg, tapi cuma bertahan 2 minggu. Abis itu naik maximal.
2012 berat saya 52 kg. (masuk SMA)
2015 berat saya 64 kg. (masuk kuliah)
2017 berat saya 81 kg. (kuliah semester 4)
Ya ngga bisa dipungkiri masalah penampilan yang muncul pertama ketika saya naik puluhan kilo itu. Kadang malah saya merasa orang akan berhenti dan menutup buku penilaian yang berisi penilaian mereka akan saya ketika mereka baru saja melihat penampilan saya. Begitulah, kalau kata kebanyakan orang kan standar kecantikan itu sudah dikonstruksi oleh media. Media bukan cuma sosmed ya, bisa jadi media itu nenek moyang yang dari dulu udah menetapkan standar kecantikan tertentu.
Tapi terlepas dari itu semua, saya merasa kesehatan saya mulai terganggu. Saya ngantuk setiap saat, sampai akhirnya saya harus meningkatkan jumlah kafein yang masuk ke dalam tubuh. Saya jadi gampang cape, saya ngga bisa lagi jongkok, sesekali suka tiba-tiba sesek napas.
Hal lainya, sekarang dari semua jumlah baju yang saya puya cuma 5% yang masih muat. Jadi jangan kaget kalau saya suka pake baju yang sama berulang-ulang, karena cuma itu yang muat. Atau kalau kalian liat saya pake baju baru, itu brarti baju mama saya, atau saya baru beli baju yang saya beli dengan ngasih syarat ke mbaknya, “Mbak dari semua baju yang ada di sini, yang ada ukuran XL ke atas yang mana aja?”.
Dan, yang paling menampar itu kemarin. Saya abis pulang magang, terus saya berdiri sambil nahan ngantuk, emang muka saya melas banget kayanya. Tiba-tiba ibu yang di depan saya kaya mau ngasih kursi gitu sambil nanya “Mba, lagi hamil ya?” Zzzzzzz…………..
Begitulah fakta-fakta yang ada. Gua masih nggak menyerah kok, masih optimis juga kalau ga selamanya gua akan bertahan di kegendutan ini. Tapi……….ya kita liat saja ya.
Peninsula, 19 Mei 2017 - 10.27
Jurnal Tesa #12: Surat dari Masa Lalu
Halo Theresa Septiani, Baca tulisan ini ketika kamu sudah dalam keadaan stabil ya. Ketika kamu sudah yakin sama apa yang kamu mau. Ketika kamu sudah sampai di tujuan kamu. Atau, semoga aja, ketika kamu sudah punya seseorang untuk diajak berbagi tulisan ini. Maret 2017. Harap diingat, di bulan ini kamu lagi galau luar biasa. Bukan. Bukan galauin laki-laki kok. Kamu bimbang karena kamu sudah masuk ke peminatan yang kamu pilih sendiri, tapi tiba-tiba kamu sadar apa yang kamu percaya sebagai 'panggilan' itu berubah begitu saja. Tiba-tiba hasrat ingin menjadi jurnalis yang kamu agungkan sejak SMP hilang entah kemana. Mendadak VOA, Metro TV dan media-media lain yang sudah menemani buku mimpimu selama bertahun-tahun menjadi tidak masuk akal. Tiba-tiba juga kamu benci sekali ketika dosen di setiap mata kuliah peminatanmu terus menerus menekankan tentang independensi dan verifikasi, atau ketika mereka mengatakan fakta dan data itu yang utama. Bahkan mereka menambahkan kalimat sarkas "Kalian Jurnalis, bukan Novelis.", yang entah mengapa membuat kamu tidak terima. Bahkan sampai kamu membuat tulisan ini, kamu masih tidak mengerti mengapa kamu merasa tidak terima. Ada satu malam, dimana kamu sudah tidak tahan lagi. Kamu rasa kamu harus memateraikan perubahan pikiranmu dengan memberitahukannya pada seseorang. Dan orang itu adalah teman sekamarmu, Kitta. Kamu mengirimkam barisan kalimat yang intinya menjelaskan seberapa kamu benci mimpi kamu yang dulu, dan seberapa kamu mencintai mimpimu yang baru. Kamu berkata bahwa hanya mimpi barumu yang kamu ingin lakukan selama kamu hidup, dan pekerjaan-pekerjaan lain nampak begitu membosankan. Kamu menceritakan kebencianmu akan menulis fakta, dan hilangnya bahagiamu hanya dengan berpikir tentang menjadi jurnalis. Mimpi barumu masih seputar menulis. Tapi kamu masih belum menemukkan fokusmu, aku berharap ketika kamu baca tulisan ini semuanya sudah menjadi jelas, kamu sudah mengikat hatimu pada pekerjaan yang kamu cintai, bukan pekerjaan yang hanya memberimu timbunan pundi-pundi. Ketidak nyamanan yang kamu rasakan sekarang memaksa kamu untuk segera mencari jalan keluar dan sesegera mungkin kamu melakukan riset sederhana. Kamu menemukan fakta bahwa kamu salah jurusan, tapi kamu menerima hal itu. Karena kamu sangat bahagia dengan tempat kamu belajar sekarang. Dengan jurusanmu sekarang kamu tidak bisa langsung mengambil gelar Master, alhasil kamu harus mengejar gelar sarjana lagi, tapi kamu juga sudah menerima hal itu. Kamu juga sudah mendapatkan universitas yang menjadi cita-citamu yang baru, aku berharap juga ketika kamu membaca tulisan ini, kamu sudah mendapatkan kesempatan untuk belajar di sana. Mungkin kamu bertanya-tanya lalu apa yang membuat aku dan kamu di masa lalu galau? Bukankah semuanya sudah jelas? Yap, semuanya sudah jelas. Akan tetapi kamu galau pada hal-hal yang bersifat teknis, seperti tidak banyak lapangan pekerjaan yang berhubungan dengan mimpi barumu. Hal yang paling membuatmu galau adalah bagaimana cara bertahan dan memaksimalkan waktu yang tersisa untuk menyelesaikan pendidikan 'salah-jurusan'-mu saat ini. Kamu takut ada semakin banyak lagi waktu dan kesempatan yang terbuang. Dan kamu masih berusaha keras mencari pembuktian, bahwa perubahan mimpi ini bukanlah tiupan angin semata. Semoga aku di masa depan, ketika membaca tulisan di atas, tertawa lepas atau menangis bahagia karena sudah melewati masa-masa tanpa arah ini, atau semoga saja aku membaca tulisan ini diselimuti dinginya suhu satu digit di suatu negara bagian berinisial IA :) P.S. This is one of our favorite songs and it always blesses us through the dark times :) Enjoy!
Perjalanan Menuju Bekasi, 24 Maret 2017 - 22.42
Jurnal Tesa #11: Ujian Menghafal
Jadi, seminggu ini ada dua lagu yang saya putar berulang-ulang, berulang-ulang, berulang-ulang. Iya, maaf, saya baru kenal sama Steven Universe dan Adventure Time. Ini dia lagunya, ada dua.
Dan juga ini.
Bisa satu malam penuh saya habisin cuma buat denger dua lagu ini aja.
Ohiya, saya lagi minggu UTS, tapi bagian ‘neraka’ (re: sit in) sudah lewat. Tinggal sisa dua take home, PTIK dan Teori Media. Tulisan ini saya tulis sebagai pemanasan sebelum mulai mengerjakan take home PTIK, tetep, sambil dengerin dua lagu di atas. Saya selalu benci ujian sit in, seriously. Ujian sit in itu super okay untuk ilmu-ilmu semacam matematika dan saudara-saudaranya (menurut saya). Tapi sepertinya kurang cocok untuk ilmu yang sedang saya tempuh. Yang jadi argumen saya adalah semua materi kuliah itu jauh lebih terinternalisasi dalam otak saya kalau saya langsung bisa cari contoh yang relevant dalam kehidupan sehari-hari. Dan, jawabannya ada di ujian take home, yang most of the time nggak dipergunakan dengan maksimal sama mahasiswa buat nyari ilmu lebih banyak dan lebih dalam lagi, termasuk saya, huft, tapi itu juga karena selama semester 3 (karena semester 1 dan 2 belum ada take home) otak saya udah kepenuhan buat ‘menghafal’ mata kuliah lain *tetap membela diri*. Ya, intinya I’ve learned a lot di Limitless Campus, jadi saya nggak mau lagi ‘menghafal’, it just doesn’t make sense. Ada kejadian lucu, yang terjadi di ruang ujian Etika Jurnalisme hari selasa kemarin. Saya melihat beberapa teman saya bergumam menghafal pasal-pasal KEJ buatan Dewan Pers, bahkan ada yang sengaja terlambat 30 menit supaya bisa ‘menghafal’ dulu di depan ruang ujian. Ada kejadian serupa di ruang ujian Dasar-dasar Penulisan, saya memilih tempat duduk paling depan, alasan pertama karena jauh dari AC, alasan yang kedua supaya dekat pintu untuk mempermudah ketika keluar ruang ujian lebih cepat. Saya cuma dengar suara dari belakang. Suara itu terdengar seperti ini “Ya, jadi langkah-langkah menulis itu apa? *disambut teman-temannya yang juga sedang ‘menghafal’ bareng: menghimpun fakta, pelajari bahan dan mulai menulis.” Oh Jesus, I rolled my eyes, c’mon, for example, when I was kid I ‘learned’ how to brush my teeth karena Ibu saya mempraktekan caranya ketika kami mandi bareng. She didn’t give me an hour of lecture explaining ‘how to brush teeth’ and then asked me to memorize it. Ayolah, memang sulit untuk fokus di kelas, karena harum wangi makanan di Takor, Takoru atau Gus yang menggoda, atau karena ketawa anak-anak Polay yang bikin geregetan pengen join, atau karena smartphone yang notifnya nggak berhenti bikin pengen scroll, scroll dan scroll, saya merasakannya juga kok. Tapi ayolah berusaha untuk dapetin ilmunya, bukan sekadar nilai, supaya tidak lagi hanya ‘menghafal’ ketika ujian sit in tiba for the sake of getting good grades. Karena saya yakin, sebagian besar orang yang ‘menghafal’ untuk ujian dengan giat pasti ingin mendapat nilai A++++++. Saya tahu ada beberapa dari orang-orang di sekitar saya yang masih menganggap nilai itu penting (saya baru ditertawakan seorang teman sejurusan karena IPK saya sudah tidak cum laude), saya setuju akan hal itu, tapi nilai bukan yang paling utama, toh. Saya juga tahu dan merasakan betapa sulit menghilangkan kebiasaan SKS (Sistem Kebut Semalam) selama SMA, betapa sulit menghilangkan kebiasaan mengerjakan soal pilihan ganda yang kalau nggak tau jawabannya tinggal tebak, atau tinggal bisik kanan atau kiri, dan saya juga tahu dan merasakan betapa sulitnya menghilangkan kebiasaan ‘gampang-dapat-nilai’ karena bantuan guru yang sangat mendalami ilmu fisika bab katrol hingga turut mengatrol nilai muridnya. Well, hal-hal itu yang akhirnya bikin saya nggak ‘srek’ sama ujian sit in, karena pola pikir dan mental saya (dan mungkin, kebanyakan pelajar seangkatan saya) udah terbentuk dari dulu untuk menghafal, menghafal dan menghafal. So, please stop giving us ujian sit in, karena sebaik apapun niat dibaliknya akan disalah artikan sebagai ujian ‘time-to-memorize-it-all’. Instead, start giving us challenges to explore the knowledge more, seperti yang dilakukan Mba Mila Day dan Mba Titut (atau mungkin ada dosen-dosen serupa lainnya yang saya belum pernah diajar oleh mereka).
Huft, maybe this post won’t change a thing, but at least it relieved the restlessness inside me. It’s just a midnight thought and I don’t have intention of forcing you to agree with me. Tapi saya teringat sama kata-kata Mba Febby Intan di salah satu kelas LC, dia bilang gini “Sadar atau tidak sadar, akhir-akhir ini kita itu cenderung membiarkan hal yang salah, sampai akhirnya hal yang salah itu menjadi sesuatu yang biasa.”
So, I’m trying not to ignore it :)
Udah ah kebelet pipis.
Depok, 23 Maret 2017 - 4:16