Beberapa hari yang lalu, di beranda facebook, saya melihat postingan seorang Ibu yang memberi kabar bahwa ia sudah resign dari abdi negara (baca:PNS) dengan salah satu pertimbangan, mengikuti suami yang berpindah-pindah lokasi kerja. Saya tahu, beliau adalah seorang yang sangat cinta pekerjaannya. Ia tuliskan pula pada postingan tersebut, ia tak mau membebani Ibunya dengan menitipkan anaknya saat ia bekerja.
Tulisan ini tak akan membahas pro-kontra stay at home mom vs working mom yang tak kan usai sampai Imam Mahdi muncul ke dunia. Dari salah satu contoh pilihan dari seorang Ibu tersebut, dapat diambil pelajaran bahwa memutuskan untuk menikah, lalu mendapat amanah menjadi seorang Ibu adalah tentang menomorduakan ego pribadi. Saya membayangkan, pada kasus tersebut, Ibu tersebut pasti telah melalui sebuah perjalanan panjang dalam lintasan pikirannya. Pertimbangan tentang keutuhan keluarga (dengan mengakhiri long distance marriage), karya apa yang akan ia dedikasikan setelah melepaskan diri dari status PNS, keinginan untuk membersamai tumbuh kembang anak sepenuhnya, dan seterusnya. (Saya berusaha membayangkan posisinya..)
Membahas tentang ego pribadi, saya adalah orang yang menempatkannya sebagai salah satu pertimbangan utama sebelum saya menikah. Dulu sebelum menikah, saya, yang rasa-rasanya selalu menjadi makhluk random menclok antar kota antar propinsi *dikata bis patas* :( ) ini, tak kuat rasanya membayangkan harus menyediakan diri (meliputi tenaga, waktu, pikiran, dan jiwa) tak terbatas untuk makhluk kecil yang baru saya kenal sejak saya mengandungnya. Berat pastinya untuk menjalani proses adaptasi sebagai seorang Ibu.
Barangkali rasa memang selalu sejalan dengan apa yang dicemaskan. Kenyataannya, saat saya menjadi Ibu, tidaklah mudah dalam menjalani masa penyesuaian sebagai seorang Ibu. Mengendalikan ego, barangkali menjadi salah satu kunci menjaga spirit seorang Ibu. Ego menggapai cita-cita pribadi, misalnya.
Tak bisa dipungkiri, kehadiran seorang anak (yang perlu dibimbing dan dijaga sesuai fitrahnya) membuat seorang Ibu harus mengerahkan energi (pada jiwa, raga, dan pikiran) untuk anaknya. Semisal mengutamakan porsi ngelmu tentang tumbuh kembang anak di atas ngelmu tentang kompetensi keilmuan saat kuliah. Kadang, hal-hal tersebut yang membuat pertanyaan semacam,”kapan saya punya waktu untuk diri saya sendiri, sementara 24 jam waktu yang saya miliki dalam sehari telah saya berikan untuk anak saya. Saya butuh ‘me time’.” Dalihnya demikian. Apalagi, jika seorang Ibu benar-benar harus menjalankan perannya tanpa dukungan lingkungan yang memadai (baca: sendirian merantau seperti saya, misalnya hahahaa :p)
Jujur, kadang-kadang, saya membayangkan kenikmatan memiliki akses supporting system yang lebih mudah jika berada di Indonesia kala melewati hari-hari penyesuaian ini (Bayi udah empat bulan, masih aje penyesuaian, hahahaa). Tapi mengingat nikmatnya menjadi orang tua yang independen (bebas intervensi :p) di sini, ngga jadi sedih deh. :p
Kembali ke topik mengendalikan ego. Saya membayangkan, jika seorang Ibu tak mampu mengendalikannya, salah satu hal paling berbahaya (menurut saya) yang mungkin terjadi adalah ketika ia menyalurkan ego yang belum terwujud melalui anaknya. Duh, sungguh seram membayangkannya. Anaknya akan tumbuh dengan ambisi Ibunya. Entahlah nanti berwujud mengikutkan anaknya les ini itu, sekolah terlalu dini, mengikutkan lomba di usia yang terlalu muda untuk mengenal kompetisi dsb.
Dalam usaha mengatasi hal tersebut, sebagai Ibu (kemarin sore banget), ada beberapa cara yang saya usahakan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi; agar ego saya dapat terkendali:
1. Mengapresiasi diri sendiri
Memberikan apresiasi pada diri sendiri adalah hal yang sangat penting untuk diingat dan (tentu saja) dilakukan. Bayangkan, jika seorang Ibu tak mendapat apresiasi (terutama dari dirinya sendiri) atas hal-hal (besar) yang sudah (berhasil) ia lalui sebagai Ibu baru; melahirkan, menyusui, mengurus anak, ia pasti akan merasa do nothing jika dibandingkan dengan apa-apa yang ia kerjakan sebelum mejadi Ibu (semisal: baca buku dengan leluasa, pergi kemana-mana tanpa teringat anak). Padahal kenyataannya, ia baru saja melakukan hal yang luar biasa; melahirkan dan merawat makhluk Tuhan, atau pada proses adaptasinya, seorang Ibu bisa membuktikan bahwa ia bisa makan ayam geprek super pedas di tengah kegelapan kamar karena nyambi nidurin bayi di gendongan (elaah, bilang aja mau pamer makan ayam geprek, Nin :p).
Apresiasi setinggi-tingginya untuk dirimu sendiri, wahai Ibu. Kelak, melalui didikan Ibu (dan tentu saja Ayah), seorang anak akan belajar banyak hal dalam hidupnya. Ibu yang bisa mengapresiasi dirinya, akan tumbuh menjadi Ibu yang percaya diri dalam membimbing anak-anaknya.
2. Sering ngobrol dengan orang-orang terdekat, bincangkan saja tentang mimpi diri sendiri di masa depan.
Dengan sering merencanakan dan memvisualisasikan mimpi di masa depan dengan orang-orang terdekat (terutama suami), seorang Ibu bisa mendapat dukungan yang berarti, seperti saran dan strategi (yang pastinya tricky) untuk mewujudkan mimpinya dengan kondisi harus menyeimbangkan peran utamanya sebagai Ibu dan peran lainnya yang ingin dicapai. Ngobrol dengan suami juga bisa digunakan untuk sarana memikirkan pembagian tanggung jawab pengasuhan anak. Jadi, ngga ada ceritanya seorang Ibu menjadikan perubahan statusnya sebagai penghambat cita-citanya. Ia punya partner hebat, yakni suaminya! Jadi, jangan segan untuk meminta tolong suamikarena menjaga, merawat, dan mendidik anak itu tanggung jawab bersama Ayah dan Ibu.
Dengan berbincang pula, ia juga bisa meminta tolong orang-orang terdekat untuk senantiasa mengingatkannya untuk terus berjuang menggapai mimpinya. Urusan nanti ada perubahan mimpi, ngga papa! Toh hidup manusia sangatlah dinamis.
3. Jangan kebanyakan alasan
Dengan dalih anak rewel, jadi malas ngapa-ngapain. Malas belajar padahal katanya mau sekolah lagi, malas jalan sama teman-teman (karena malas ngurus printilan bayi, belom lagi kalo bayi rewel di jalan) padahal katanya kangen ngobrol, malas baca buat upgrade ilmu (baca buku, ikut kuliah online misalnya) padahal katanya merasa ilmunya ngga berkembang, dan malas-malas yang lain. JIka memang masih banyak ‘malas’ nya, please ngga usah kaitkan perubahan status sebagai Ibu dengan kemunduran kualitas diri yang dikeluhkan.
Intinya kalau memang sudah ada keinginan yang ingin dicapai, kemudian menjadi lebih menantang dengan tanggung jawab sebagai Ibu, mungkin sudah saatnya kita jadi lebih sabar dengan segala tantangan yang ada, makin kreatif memanfaatkan peluang, memaksimalkan waktu yang ada, walaupun satu hal yang ngga mungkin dihindari; jam tidur berkurang.
4. Pandangi wajah anak di kala tidur
Cara ini adalah cara terampuh, Ibu-Ibu. Coba pandangi wajah anakmu yang polos tanpa dosa itu. Siapa sih yang bisa memilih dari rahim siapa ia dilahirkan? Ia telah ditakdirkan lahir dari rahim seorang Ibu yang mungkin belum cukup ilmu untuk membimbingnya. Tidakkah kita yang seharusnya mengucapkan terima kasih padanya yang memiliki kelapangan hati, kemampuan memaafkan yang besar, dan rasa sabar yang luas atas semua ketidaksempurnaan kita menjadi Ibu untuknya?
Dengan melihat syahdunya wajah polos anak-anak kita, seorang Ibu akan lebih bisa mengendalikan ego pribadinya. Paling tidak, ia tak akan menjadikan anaknya sebagai alasan (dalam konotasi yang tidak baik) penunda cita-citanya.
5. Doa (Dan upaya lain untuk jiwa, yang sebisa mungkin diusahakan untuk bisa ngobrol dan curhat sama Allah)
Jika ada satu kekuatan utama yang dimiliki seorang Ibu agar bisa mengantarkan anak-anaknya selamat dunia akhirat, bisa dipastikan hal itu adalah doa. Sebagaimana sifat makhluk Allah yang lain, Ibu pun memiliki banyak kelemahan yang hanya bisa dikuatkan dengan doa.
Di zaman yang penuh perdebatan tiada kunjung usai seperti sekarang, maka salah satu upaya terbaik agar tetap terbimbing Allah adalah meminta petunjuk, bimbingan, dan ‘penglihatan’ kepada Allah, agar kita tak salah arah.
Sekian curhat dari seorang Ibu yesterday afternoon (aka kemaren sore) hahaha. Sejujurnya cuma lagi kangen jalan-jalan tanpa riweuh atau deg-deg-an mikir anak yang rewel kalau diajak aja. Tapi lagi-lagi, pada momen-momen yang kita anggap sebagai ‘tantangan hidup’, terlalu banyak hal yang bisa disyukuri. Seperti hal-hal sederhana sebagai rutinitas sebelum tidur; memperhatikan wajah polos anak ketika tidur, atau ketika ia tersenyum saat bangun tidur dan mendapati wajah saya. :)
Selamat 4 bulan anakku. Terima kasih atas segala kesabaran selama 4 bulan terakhir, atas senyum yang sering terukir tanpa alasan.
I would not trade your smile for anything in the world, Alivia. :)