Beberapa dari kita mungkin sekali memiliki trauma. Trauma yang kemudian membuat sudut pandang hidup kita berbeda pada hal-hal tertentu. Hal-hal yang berlaku dalam pikiran dan hidup yang menurut kita benar dan mutlak, semacam tidak ada opsi lain selain itu. Meski ribuan manusia di luar sana, tidak sepakat dengan kita.
Trauma yang mendalam, yang menciptakan kubangan kelam di dalam hati. Mengalir melalui mimpi, melalui pandangan, ucapan, dan segala hal yang akhirnya membentuk kita menjadi sekarang.
Sayangnya, tanpa sadar. Padangan kita terhadap dunia di sama ratakan, bahwa orang lain pun harus memiliki cara pandang yang sama dengan kita. Menebar ketakutan bahwa jika tidak menjalani hidup dengan cara seperti itu, maka hidup akan sengsara. Tapi nyatanya, yang sengsara selama ini adalah diri kita sendiri.
Menyimpan semua trauma di dalam diri, membuatnya sebagai penentu keputusan-keputusan besar. Mendekapnya dengan erat, semua hal di dunia ini terasa membenarkan diri kita bahwa cara hidup kita adalah yang terbaik karena tak menyadari bahwa selama ini, karena trauma yang membekap mata dan hati kitalah yang terus menerus melihat dunia luar sebagai hal yang keliru. Tak seharusnya begitu.
Sampai-sampai, banyak sekali hal yang rusak karena kita tak menyadari bahwa diri kitalah yang merusaknya. Kepercayaan, ketulusan, dan segala hal yang bagi orang lain adalah sebuah mata uang yang berlaku di manapun. Kita menaruh rasa curiga dan memasang kewaspadaan yang tinggi saat ada orang lain yang mau percaya dan tulus pada kita.
Yang sakit adalah diri kita sendiri. Kalau orang-orang pergi meninggalkan kita itu bukan karena nilai yang kita yakini adalah yang paling benar, trauma yang tak selesai dalam dirilah yang membuat kita tak mampu mengendalikan diri dan pikiran dengan bijaksana.
Semua trauma itu semakin mengerak, karena kita yang membiarkannya sebagai cara pandang hidup. Hingga hidup berdampingan rasa curiga dan khawatir yang tak pernah terputus. Tak mampu tidur dengan tenang. Berpikir bahwa hidup kita yang sulit ini dan paling menderita, bahwa kita adalah korban.
Tidak pernah mau mengakui bahwa kita adalah pelaku, pelaku utama yang membuat hidup kita jadi seperti sekarang. Dan lebih parahnya, kita meneruskan keyakinan itu kepada generasi berikutnya. Bahwa mereka harus juga menjalani hidup dengan cara yang sudah kita rancang.
Tidakkah itu cukup berhenti di diri kita saja?
(c)kurniawangunadi