Sade Olutola
Claire Keane
🪼

ellievsbear
he wasn't even looking at me and he found me
Keni

Kiana Khansmith
art blog(derogatory)

Product Placement
Sweet Seals For You, Always

PR's Tumblrdome
trying on a metaphor
Cosimo Galluzzi
dirt enthusiast

Kaledo Art

oozey mess
Three Goblin Art

★
almost home

Andulka

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Hong Kong SAR China

seen from Singapore
seen from South Korea

seen from Netherlands
seen from United States
seen from Canada
seen from Malaysia

seen from Singapore

seen from United States

seen from Hong Kong SAR China
seen from Singapore
seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Panama

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
@didafantasyworld-blog
by duong quoc dinh
How beauty!
Dua Satu 1.2
Di kelas Medisha..
Gadis berambut hitam gelap sebahu itu memasuki kelasnya dengan tergesa. Beberapa teman sekelas Medisha yang sudah mulai berdatangan memandangi Medisha dengan sorot tanya. Baru kemarin siang ketika mereka mendapati gadis mungil bermata sipit itu pucat pasi dan nyaris pingsan setelah mendapati cicak hidup-- di kotak kado berpita biru muda yang diberikan oleh Mahannra-- meloncat ke pergelangan tangan gadis itu. Setelah berteriak kencang dan menjadikannya pusat perhatian, tubuh Medisha langsung lemas yang disusul dengan getaran di kedua bahunya, yang menandakan gadis itu benar ketakutan. Dan sekarang, hari masih terbilang pagi, gadis itu membuat kehebohan baru. Lagi.
Sageeta, atau yang biasa dipanggil Geeta menoel-noel pundak Medisha beberapa kali sebelum akhirnya gadis itu menatap Geeta dengan wajah masamnya. "Kenapa lo? Liat cicak lagi?" Tanya Geeta asal.
Bukannya menjawab, Medisha malah mengacak rambutnya frustasi. Sudah menjadi rahasia umum kalau Medisha Catlyna Disatya merupakan gadis ekspresif dengan sejuta tenaga yang rasanya tak pernah habis di tubuh mungilnya yang menggemaskan itu. Iya menggemaskan, karena tinggi Medisha hanya 155 cm saja, padahal umurnya akan menginjak 17 tahun dalam hitungan minggu lagi. Medisha bisa berteriak heboh ketika terlalu excited terhadap sesuatu, atau merengek manja atau bahkan mengamuk sambil menganiaya korbannya ketika marah. Iya, Medisha sebegitunya memang. Dan Geeta, sahabat sekaligus teman sebangku gadis itu sedari Kelas dua SMP sudah terbiasa dengan tingkah Medisha yang seringkali ajaib.
"Dis, lo kesambet apa gimana sih? Kayak orang kurang waras tau gak," ujar Geeta sambil menatap Medisha aneh, di mata Geeta sekarang Medisha seperti seorang pasien rumah sakit jiwa yang kehabisan obatnya.
Sambil memberengut, Medisha mengusap wajahnya frustasi kemudian mulai bercerita soal kejadian tadi pagi kepada Sahabatnya, Geeta. Dengan ekspresi yang berubah-ubah selama ia bercerita, Geeta mendengarkan dengan seksama sekaligus menahan tawa geli yang sedari awal ingin dia muntahkan. Bagaimana mungkin sahabatnya ini bisa salah membedakan antara Mahesa dan Mahannra? Oke, secara fisik mereka mirip, tapi style mereka berdua jelas beda jauh!
"Jadi gitu taaaaa," Medisha mengakhiri ceritanya dengan raut sedih bercampur sebal yang tercetak jelas di wajahnya. Kali ini, Geeta tidak bisa menahan lagi. Ia tertawa kencang-kencang. Dan kali ini dia yang menjadi pusat perhatian.
Menyadari hal itu, dia menghentikan tawanya sambil tersenyum sumir ke teman sekelilingnya yang mulai meledek dan menertawai kehebohan Geeta. "Duh malu gue ketularan gila lo," celetuk Geeta kepada Medisha. Mendengar itu, Medisha hanya memutar kedua bola matanya malas.
"Yah lo sih blo'on. Mahannra sama Mahesa kan dari style aja keliatan bedanya. Mahesa tuh rapi terus selalu pake bomber jaket tiap ke sekolah, kalau Mahannra ya kebalikannya, urakan, seragamnya gak pernah rapi, kadang malah gak dikancing tuh kemejanya, belum lagi telinga kirinya yang di piercing pakai anting hitam. Ya kali sih lo masih ketuker, dissss," jelas Geeta panjang lebar. Ia gemas banget sama Medisha yang suka bertindak tanpa pikir terlebih dahulu, jadinya sering malu sendiri kayak sekarang ini.
"Ya gimana sih ta, gue kan udah terlanjur emosi," belanya sambil mengerucutkan bibir. Ingin rasanya Geeta menoyor kepala Medisha yang bebal itu.
"Ya mampus deh, malu kan lo. Main tampar anak orang aja, untung Mahesa gentle, jadi gak nampar lo balik," ucap Geeta gemas.
Medisha yang mendengar jawaban Geeta yang seakan membela Mahesa jadi kesal sekarang. Dia kan gak maksud tampar Mahesa, lagi juga siapa yang tau itu bukan Mahannra? Oke fine, cuma dia yang gak tau itu Mahesa. Tapi plis, kata-katanya Geeta itu lho.. menyebalkan!
"Ck, lo tuh sahabat gue apa sahabatnya si Mahe sih," Medisha hanya bisa mendumel mendapati respon Geeta yang menyebalkan itu. Sebelum mendengar Geeta mengoceh lebih panjang lagi, Medisha memutuskan untuk menyetel lagu keras-keras dan menyumpal kedua telinganya dengan headset.
Geeta yang melihat tingkah sahabatnya hanya bisa geleng kepala. "Gila ya ni anak, tadi dia yang curhat. Giliran dikasih tau malah begini. Minta ditabok apa gimana sih," sungut Geeta kesal. Sebelum dia ikutan kurang waras karena ulah Medisha yang seenak jidat, Geeta memutuskan untuk beranjak ke meja Putry cees untuk melanjutkan gosipnya yang tadi sempat terputus.
Dua Satu #1.1
Mahesa Barata Javier.
Lelaki itu memiliki perawakan yang tinggi, dengan tubuh atletis dan kulitnya yang kuning langsat. Belum lagi matanya yang setajam elang dengan iris coklat terang yang menyimpan kesan misterius, dan bibir merah merekahnya yang seakan selalu menerbitakan senyum mengejek terbingkai indah di wajah kokohnya, tidak mengherankan kalau banyak kaum hawa yang terpesona dengan segala keindahan yang terpahat di diri Mahesa. Namun lelaki ini memiliki kembaran yang secara fisik, nyaris serupa dengan dirinya. Hanya saja yang membedakan ia dengan Mahannra Batara Javiar terletak pada sorot mata Mahannra yang jail dan terlihat selalu hidup di balik iris abu abu pekatnya. Senyum manis dengan kesan jahil yang kentara di bibir tipis merah muda milik Mahannra juga membedakan dirinya dengan Mahesa. Ah, satu lagi. Kalau aura Mahesa yang terkesan dingin dan misterius, Mahannra justru sebaliknya. Lelaki itu sehangat matahari dibalik sikap jahil dan ajaibnya yang kalau kata Mommy, sudah mendarah daging!
Mahannra baru saja memasuki kelasnya ketika Mahesa, yang kerap dipanggil Barata oleh orang-orang terdekatnya, menghampiri Mahannra. Meskipun kembar dan terlihat akur-akur saja, namun Mahesa jarang sekali menghampiri Mahannra seperti sekarang, kecuali kalau ada urusan yang mengharuskan mereka berdua berinteraksi.
"Tadi ada cewek korban kejahilan lo nampar gue pagi-pagi," tukas Mahesa dengan nada malas yang terlalu kentara. Bukan sekali dua kali korban kejahilan Mahannra salah alamat seperti kejadian pagi tadi, sering kali Mahesa harus jadi korban salah alamat dari orang-orang yang ingin balas dendam ke Mahannra. Yah mau gimana, kadang mereka gak bisa bedain Mahesa dan Mahannra juga sih, jadi wajar saja. Tapi lama-lama Mahesa capek juga kalau harus kena tabok, pukul, cubit, dan tampar kayak tadi. Kalau cuma caci maki sih dia gak peduli, tapi kalu udah aniaya fisik itu menyebalkan!
Sambil mengernyit dan menahan senyum geli, Anra menjawab "Siapa? Medusa?"
"Ck! Namanya Medisha. Dan kalau lo mau tahu, tamparannya keras banget," ucapnya sambil mendecak kesal. Anra justru tertawa geli mendengar penuturan saudara kembarnya. Menurutnya sangat lucu ketika orang-orang itu salah alamat. Plis lah, dirinya dan Mahesa kan gak semirip itu!
Melihat Mahesa yang menyipitkan matanya kesal, Anra berusaha menghentikan tawanya. Sambil mengatur napasnya yang terputus-putus akibat tawanya tadi, Anra merangkul Mahesa agar mendekat kepadanya. "Tuh cewek emang blo'on, ta. Maklumin aja. Padahal dia pernah sekelas bareng lo dan gue, masa gak bisa bedain kita sih?" setelah mengatakan itu Anra menggelengkan kepalanya dramatis lalu melepas rangkulannya dan menepuk bahu Mahesa beberapa kali.
Melihat respon Anra yang sudah ketebak banget itu, Mahesa hanya mendengus malas sambil berlalu menuju bangkunya sendiri. Namun baru dua langkah, ia kembali menghampiri Anra. "Besok-besok kalau abis isengin orang mending lo kasih tahu gue, biar gue gak usah dateng kepagian terus kena tampar kayak tadi. Bikin harga diri gue jatoh," kemudian Mahesa benar-benar berlalu dan menyisakan Mahannra yang tertawa di tempatnya.
Pemandangan Mahesa yang mengumpat, mengomel, maupun Mahesa yang tertawa hanya bisa dilihat teman-teman sekelasnya ketika Mahesa berinteraksi dengan Mahannra ataupun Satria. Karena selebihnya, Mahesa lebih mirip Arca patung di Candi Borobudur yang gak ada omongnya, sekalinya ngomong, kata-katanya bisa lebih pedes daripada cabe rawit lombok yang terkenal kepedasannya itu! Untung saja wajah Mahesa tampan. Mungkin kalau wajah Mahesa sebelas duabelas dengan wajah Deno, anak kelas 11 Ipa 3 yang udah dekil, tompelan, doyan cengengesan pula, waah dipastikan Mahesa bakal dibully rame-rame satu sekolahan.
Dua Satu #1
Mahesa baru saja memasuki ruang kelasnya ketika tidak sengaja menemukan seorang gadis duduk sambil melipat kedua tangannya di depan dada, tepat di atas bangkunya-- bangku Mahesa. Dengan kernyitan yang berlipat di keningnya, Mahesa berjalan menghampiri bangkunya-- dan gadis berambut hitam sebahu yang menatapnya tajam-- dengan langkah ragu. "Sorry, ini bangku gue," ujar Mahesa.
"Tau! Makanya gue duduk di sini! Nungguin lo!" Tukas gadis itu judes, dengan matanya yang semakin membulat saja, menandakan gadis itu menyimpan amarah kepada Mahesa. Namun bukannya takut atau merasa bersalah, Mahesa justru mengusap tengkuknya, ia bingung.
"Ya? emang lo ada urusan apa sama gue?" Tanyanya cuek.
Gadis yang tadi menatapnya galak, justru kini terlihat bingung. Mahesa yang melihat perubahan ekspresi gadis itu akhirnya hanya berdecak malas. Namun tiba-tiba gadis tidak jelas di hadapannya itu mengeluarkan secarik kertas dari saku depan seragam sekolahnya. "Ini baca! Lo yang nulis kan? Lo yang namanya Mahannra kan?!"
Mendengar ucapan gadis itu, spontan Mahesa tertawa. Ah, korban kejailan Anra ternyata, kembarannya, batinnya geli.
Sambil mengernyitkan dahi, gadis itu bertanya dengan judesnya, "Kenapa ketawa? Apa yang lucu?! Lo kan Mahannra!"
Diambilnya surat yang tadi gadis itu unjukkan kepadanya, ah surat ini..
Hey Medisha..
Duh nama kamu mirip kaya dewi mitologi yunani yah yang di rambutnya ada ularnya haha ga deng becanda. Manisan kamu daripada Medusa, tapi katanya kalo kamu marah mirip Medusa ya?
Ah gapapa, aku tetep suka kok. Btw, aku punya hadiah untuk kamu. Terima ya :)
Semoga kamu suka.
Mahannra.
"Gak ada yang aneh sama surat ini, um, selain lo yang dibilang mirip Medusa mungkin?" Mahesa berkomentar asal atas surat yang dibacanya tadi. Karena menurutnya tidak ada yang janggal, semestinya, kecuali...
Sambil memutar kedua matanya jengah, gadis itu, Medisha, menjawab dengan sinisnya, "Duh plis ya Mahannra. Gak usah sok polos! Di suratnya emang gak ada yang aneh, ya walaupun gua tetap kesel lo nyamain nama gue sama medusa!! Enak aja! Tapi kotak kado yang lo kasih ke gue! Brengsek banget sih lo!" PLAK! Suara tamparan yang baru saja dengan mulusnya mendarat di pipi Mahesa terdengar jelas. Untung saja ini masih pagi, jadi kelas Mahesa baru diisi sama dirinya, gadis dari antah beratah yang kata Mahannra mirip medusa dan Chiko, cowok culun yang teladan dan syukurnya bukan penggosip.
"LO?! Apaan sih!" Sambil memegangi pipinya yang panas karena baru saja terkena tamparan, Mahesa menatap Medisha nyalang.
Gadis itu bukannya takut, justru semakin nyolot. "Apa lo! Lo yang salah kok nyolot! Lagi tau dari mana juga kalo gue phobia sama cicak! Brengsek lo ya emang jadi cowo!!" Sebelum tangan mungil Medisha menyentuh dada Mahesa dan membuat lelaki itu babak belur, Mahesa lebih dahulu mengunci pergelangan tangan gadis beriris hitam kelam tersebut.
"Lo salah orang. Gue bukan Mahannra." Ujar Mahesa kalem. Dilihatnya gadis tersebut membisu dengan lipatan di dahi yang semakin dalam, gadis itu bingung sekaligus merasa dipermainkan. Sambil menghela napas, Mahesa melanjutkan "Gua kembaran Anra. Dia duduk di situ," ditunjuknya bangku di pojok kiri belakang yang berjarak dua meja dengan posisi meja Mahesa sekarang, "Jadi.. Lo salah orang. Masih mau aniaya gue?" Diangkatnya kedua alis tebal miliknya. Senyum tipis namun sarat cercaan terbit di wajah kokoh kuning langsat yang memabukkan milik Mahesa Barata. Sedangkan Medisha hanya bisa menelan susah payah air liurnya yang tersangkut ditenggorokan sambil berusaha mengatur kembali dirinya yang sejenak terhipnotis oleh pemandangan nyaris tanpa jarak di hadapannya.
"Kok diem? Malu?" Ekspresi luar biasa meledek dari Mahesa tercetak dengan jelas, tangan lelaki itu juga masih mengunci kedua pergelangan gadis di hadapannya. Namun sial bagi Medisha, karena baginya, bukan hanya tangannya yang terkunci, indera penglihatannya juga. Nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan? Duhh.. batin Medisha meringis melihat ketampanan Mahesa dari jarak sedekat ini. Syukur suara dari arah pintu mengembalikkan kewarasannya yang sempat hilang.
"Bar, masih pagi udah mau mesum lo? Haha ngalahin rekor Anra apa gimana nih?" Dilihatnya Satria, sahabatnya dari jaman ia masih berseragam putih merah sampai dirinya beranjak remaja yang mengenakan seragam putih abu-abu. "Jangan ngaco. Kalo gue sama Anra sepak terjangnya sama nanti banyak yang ketuker," diliriknya sejenak gadis yang kini tertunduk malu dihadapannya, "Gue beda sama Anra aja masih ada yang salah."
Kemudian dilepasnya kedua pergelangan gadis itu sebelum dirinya membungkuk dan mengatakan kata perpisahan, "Lain kali kalau mau marah-marah, lebih pagi, biar gak ada saksi mata." Senyum mengejek itu bukan terbit di bibir merah merekah milik Mahesa, melainkan di kedua bola mata beriris coklat lelaki tersebut.
Medisha bersumpah, ini hari paling memalukan sepanjang hidupnya. Dengan langkah tergesa, ia berlalu dari hadapan Mahesa dan Satria, yang masih memandanginya.
"Siapa sih, bar? Khidmat amat liatinnya," ejek Satria begitu dirinya sudah menghempaskan diri di sebelah Mahesa.
Sambil menaikkan sebelah alisnya, Mahesa hanya mengedikkan kedua bahunya. "Gak jelas. Korban kejahilan Mahannra yang salah alamat."
Hanya selang beberapa detik sebelum tawa Satria pecah dan memenuhi ruang kelas tersebut.
Bagaimana, jika..
Bagaimana jika akhirnya rasaku jatuh padamu?
Sedangkan kamu masih kelabu
Dan aku masih di batas menunggu,
namun waktu kian maju
Bagaimana jika akhirnya cinta ini memilihmu?
Lagi lagi bergulir ke arahmu,
entah untuk yang keberapa.
Tapi ku tahu, cuma kamu yang mampu buat detak jantung bergemuruh
Bagaimana jika akhirnya aku menginginkanmu?
Lalu kamu menjadi bingung dengan simpang di depanmu,
memilih tinggal atau mulai berjalan ke arahku
Kali ini aku tak bisa terserah lagi padamu, aku lelah untuk berjuta alasan..
Bagaimana jika akhirnya kamu cinta dan aku telah lupa?
Gerakan mu selambat siput, namun lebih meragu dari pencopet pemula di pasar baru.
Pelan dan terlihat malu-malu
Tapi nyatanya tidak menggemaskan sedikit pun,
justru menbuatku muak dan ingin berlalu
Bagaimana jika akhirnya aku tetap memilihmu?
Apakah seberani itu kamu untuk melaju?
Atau tetap meragu dan biarkan aku pergi menjauh?
“I have someone who always said that he is the twilight. Beautiful at the moment, but after that, he leaves you in the dark.”