Tulisan : Produktif
Kita dan sekitar kita sering keliru dalam memaknai “produktifitas” menjadi “rutinitas”. Ketika mungkin kita pernah dianggap tidak bekerja hanya karena kita tidak berangkat pagi dan berseragam seperti kebanyakan. Ketika kita dianggap pengangguran hanya karena kita terlihat santai-santai saja di rumah tanpa memiliki kantor. Ketika kita dianggap bekerja serabutan/tidak jelas hanya karena definisi pekerjaan kita tidak dimengerti oleh orang lain.
Kita tahu bahwa produktifitas itu berbeda dengan rutinitas. Dan kadang, meski kita tahu kita pun tetap mengejar “rutinitas” demi dianggap ada oleh orang lain. Padahal kita sendirilah yang paling memahami tentang apa yang kita kerjakan.
Segala aktivitas yang menjadi rutinitas belum tentu produktif, hanya dilakukan berulang-ulang menjadi sebuah ritme. Dan betapa kita menyaksikan masyarakat kita terjebak dalam rutinitas tanpa produktifitas. Ketika jam kerja yang begitu banyak tidak sebanding dengan karya-karya produktif yang dihasilkan. Tidak ada kebaruan, tidak ada inovasi. Hanya berkutat pada hal serupa.
Sebagai generasi milenial. Kita dihadapkan pada kondisi yang sangat dinamis, dimana “pekerjaan” baru bermunculan. Tidak pernah terbanyangkan dulu mungkin pekerjaan admin, bekerja dengan bermain handpohone, mengendalikan media sosial, dan sebagainya. Kita difasilitiasi oleh begitu banyak perkembangan teknologi yang membuat produktifitas kita berkali-kali lipat tanpa harus berpindah tempat.
Dan ditengah kesadaran itu, di sanubari terkecil kita seakan tidak tenang. Seolah rezeki hanya ada ditempat-tempat yang pasti. Dan kita mencari rutinitas, demi melampiaskan ketidaktenangan kita. Hanya saja, kemudian begitu banyak yang terjebak di dalamnya.
Kita akan dihadapkan pada keputusan tentang pekerjaan, tentang karir, tentang bagaimana kita mengais rezeki untuk keluarga kita nanti. Dan kita akan berhadapan pada kenyataan, impian, paradigma, dan pandangan orang-orang terdekat kita. Seolah-olah keputusan kita tidak lagi semata untuk hidup kita, tapi juga untuk menyenangkan orang lain. Dan kita semakin sulit untuk memenangkan apa yang hati kecil kita katakan.
Yogyakarta, 3 Maret 2017 | ©kurniawangunadi









