“Tidak ada seorang pun yang berencana untuk tidak bahagia, termasuk ibu”
Aku tidak percaya bahwa siang di minggu yang terik akan menjadi bagian terpenat bagi ibu. Aku tidak percaya bahwa siang yang semakin menyengat itu pun turut menyengat mata ibu hingga memerah.
“Ada apa Bu?” Tanyaku setelah kudapati ibu sibuk sesenggukan sambil meletakkan kedua tangannya pada wajah yang tidak muda lagi.
Aku menatapnya lekat-lekat. Kusingkirkan kedua tangannya meskipun ia sempat mengelak. Keningnya berkerut berulangkali. Meskipun tidak banyak, namun tampak jelas kerutannya. Matanya sembap, tapitidak banyak air mata yang keluar. Isak tangisnya masih jelas tergambar dari bibirnya yang berkeringat, namun hampir tak bersuara. Tampak benjolan sebesar empat kali biji anggur berwarna ungu kebiruan tepat berada di sudut pelipis kanannya. Aku terdiam.
Seketika aku ingin bernyanyi. Apa saja. Sebab ibu pun senang bernyanyi. Terutama lagu rohani. Kata ibu, nyanyian dapat meringankan hati meskipun masalah datang berkali-kali. Aku selalu dibuat jatuh cinta oleh suaranya yang manis dan menenangkan. Namun tidak saat ini, suaranya begitu pilu.
Sambil sesenggukan, ia berusaha menjawab pertanyaanku. Suaranya lirih sekali. Tidak seperti ketika ia menceritakan masa mudanya dulu. Aku jadi teringat cerita Ibu dikala ia masih aktif jadi penggiat di gereja, menjadi pendamping pastur saat kebaktian. Atau saat diminta merangkai bunga untuk kegiatan sosial. Suaranya sangat bersemangat bercerita tentang ini dan itu.
“Gapapa. Ibu udah kebal diginiin” jawabnya sambil menahan penat yang tercekat di dada. Seperti biasa, ibu selalu egois. Sama egoisnya ketika ia lebih merasa cukup dengan nasi semi-kering sisa kemarin ketika kami lahap menyantap lauk dan nasi yang baru saja tanak. "Nasinya sayang kak kalau ga dimakan. Kamu makan yang baru aja" Kata ibu setiap kali kudapati ibu makan nasi semi-kering.
“Nggak mungkin udah kebal kalau masih nangis. Ayo cerita”
“Biasa kak” sahutnya sambil terus berusaha menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Nalarku kemudian menangkap alasan dari air mata ibu. Aku menolak menerka-nerka sesuatu yang buruk. Terlebih setelah menyadari ada yang salah dari wajah ibu. Aku tidak berani bertanya. Hanya menggigit bibir, berusaha agar tetap terjaga.
“Barusan Ibu dicaci maki” Suaranya berubah parau. Aku semakin kuat menggigit bibir. Mengawasi kedua mataku yang terasa kian panas.
Tak ada jawaban. Ia kemudian membiarkan dirinya jatuh ke lantai. Menekuk lutut dan menopang kepalanya dengan lipatan tangan. Tatapannya menyorot hampa ke depan. Kuelusi pundak ibu yang padat sebab sering membantu bapak mengangkut besi dan karung.
“Ibu jangan sedih, hari ini Ibu lagi naik kelas ujian kesabaran” kataku merayu. Ia semakin sesenggukan luar biasa. Hatiku trenyuh mendapati ibu tersedu dan tak banyak yang dapat kuperbuat.
Dadaku bergetar. Aku semakin tegas mengelusi pundak ibu. Mengusap rambutnya yang telah lama beruban. Menatap matanya yang masih belum juga padam. Sambil berharap Tuhan mau memberi kebijaksanaan untuk menghilangkan separuh lelahnya.
Lebih dari 22 tahun kami hidup seatap, semeja makan, bahkan sekasur. Namun jarang kutemukan ibu mengaduh begitu. Ibu meyakinkan kami bahwa tidak ada masalah yang kekal dan menyakitkan. Semua akan lebur oleh waktu yang diciptakan Tuhan. Berulangkali ia dikecewakan, berulangkali pun ia memaafkan. Begitu cara ibu menanggapi hidup. Aku sampai heran dan bertanya “Ibu itu malaikat atau orang sih?” yang kemudian ia menimpalinya dengan candaan lepas “to the point aja sih kalau mau bilang ibu cantik”. Keningku berkerut dan lantas sadar bahwa bakat melucuku yang tidak lucu (sebut: garing) diturunkan sepenuhnya dari ibu.
Tapi di siang itu, Tuhan menunjukkan sisi lain untuk ku ketahui. Sehebat-hebatnya hati ibu, ia tetaplah hamba Tuhan yang berhak kecewa. Sekuat-kuatnya jiwa ibu, ada masa ia membutuhkan waktu untuk merintih dan bersedih. Barangkali dengan cara itulah Tuhan mengingatkan pada ibu bahwa ada segala-gala-Nya di atas segala-galanya.
Ibu menghapus air matanya dengan ujung baju yang sudah basah sejak tadi. Beranjak pergi menuju tempat cucian baju dan mengambil wudu. Wajah ibu yang murung membuatku rindu saat kami saling bercanda dulu. Saling mengomentari dan merasa bahwa diri kami-lah yang terbaik. Atau ketika kami saling memeperi upil yang diakhiri dengan tawa ibu yang terkikih-kikih.
“kehidupan tidak akan menjadi lurus hanya karena kamu rajin meratapi hidup. Kamu akan kehilangan banyak hal ketika kamu memperjuangkan satu hal” kata ibu suatu hari. “Tegarlah kak. Tidak ada ketegaran yang sia-sia, sebab di dalamnya pasti ada upaya dan doa” sambung ibu kemudian. Kejadian siang itu membuatku sempurna sadar, kesabaran ibu adalah cara agar keluarga kecilnya selalu baik-baik saja.
Tidak ada ketegaran yang sia-sia, tekanku berulangkali.
"Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com”