Pernahkah aku berpaling darimu meskipun kau sering menyakiti berulang kali???
15 Juli 2019
Color Me Curious
The Bowery Presents

bliss lane

oozey mess

blake kathryn
No title available

Andulka
RMH
noise dept.
Mike Driver

ellievsbear
One Nice Bug Per Day

Origami Around
almost home

#extradirty

pixel skylines
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

gracie abrams
The Stonewall Inn
Interview Vampire Daily

seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands

seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Brazil

seen from Canada

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States
seen from Russia

seen from Kazakhstan
seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Indonesia

seen from Portugal

seen from United States
@dinidudul
Pernahkah aku berpaling darimu meskipun kau sering menyakiti berulang kali???
15 Juli 2019
Suatu hari nanti yang bukan hari ini, semoga aku sudah mampu melepaskanmu dengan tabah dan ikhlas sepenuh jiwa. Mengantarkanmu pada bahagia yang seutuhnya.
—wordhunter #wordhunterpost
Terima Kasih untuk Waktu-waktu Baikmu
Mas, terima kasih ya
Meski saat ini kita tidak lagi bisa bersama, meski langkah kita tidak lagi bisa melangkah beriringan, percayalah, tidak ada sesal dalam diriku karena telah menjumpaimu
Mas, terima kasih ya
Menemukanmu itu sama sekali tidak aku lintaskan dalam hidupku, semesta begitu saja menghadirkanmu, lantas rasa itu tumbuh dengan begitu suburnya. Ingatkah, seketika itu juga nalar kita sama-sama mati sebab dikalahkan nurani. Kita sama-sama menikmatinya hingga akhirnya semesta meminta kita untuk melepaskan semuanya
Mas, terima kasih ya
Ada banyak proses pendewasaan yang bisa aku petik dari apa yang kita jalani selama ini. Ternyata masa lalu dari masing-masing kita mampu mejadikan kita sehebat ini, setangguh ini, sekuat ini
Mas, terima kasih ya
Telah hadir dan menghidupkan jiwa-jiwa yang sempat takut untuk aku hadapi sendirian. Aku pernah hidup dalam ketidakpercayaan atas diriku hingga darimu aku belajar banyak hal. Tentang menemukan diriku yang sebenarnya, tentang menerima apa yang aku bawa sejak ibundaku membawaku melihat dunia
Mas, terima kasih ya
Mengenalmu itu menyenangkan. Setiap tawa yang aku ciptakan tidak pernah ada kebohongan, sebab kamupun membentuknya tanpa pernah dilebih-lebihkan. Mengenalmu itu kecukupan yang selalu aku syukuri
Mas, sebenarnya terlalu banyak terima kasih yang ingin aku ucap namun tak mampu terucap. Hingga detik ini, di antara kita tidak ada yang benar-benar meminta untuk dijauhkan satu sama lainnya. Namun nyatanya, waktu singgung kita sudah menemui ujungnya. Apa yang bisa kita paksa jika sudah seperti ini garisnya?
Mas, untuk perpisahan yang pasti menyakitkan, mari sama-sama kita relakan. Agar dada ini tidak lagi sesak sebab kecewa serta tidak lagi ada amarah karena rutukan yang tidak ada habis-habisnya. Mari sama-sama melepas pelan-pelan apa yang pernah kita lalui di belakang. Perasaan ini kupercaya tidak akan dengan mudah bisa hilang, namun terus menerus menaruh harap pada sesuatu yang memang harusnya dilepaskan akan membuat kita semakin berantakan.
Malam ini, hujan turun dengan deras di kotaku. Mungkin langit tahu, ada penduduk bumi yang tak ingin tangisnya diketahui siapa-siapa. Maka, bersama air langit yang menderu dengan nyaring di telingaku, kutitipkan pamit pada kita yang memang sudah tiba pada tangan yang tak bisa lagi saling menggenggam. Akan kubiarkan rasa ini hanyut bersama tetes demi tetes air hingga ia menemukan muaranya sebagai tempat pulang.
Sekali lagi, terima kasih sebab telah menjadi persinggahan yang begitu membaikkan. Tuhan menyayangi kita lebih dari apa yang kita tahu, bukan?
“Hatimu boleh patah hingga remuk, namun cukup Allaah saja ya yang mengetahuinya. Cukup pada Allaah saja kamu mengakui segala ketidakmampuanmu dan mengadukan segala sesuatu yang menyesakkan dadamu.
Dan kumohon, senyum di wajahmu jangan hilang yaa. Tetaplah kuat di hadapan siapapun! Tetaplah bersinar dengan cantiknya hatimu.”
Menyapa Mentari 🌻❤
Kamu pernah menginginkan rumah untukmu pulang
Dan aku bersedia menjadi rumahmu. Tidakkah kau ingat? Aku yg tadinya tidak peduli sedikitpun padamu akhirnya luruh. Walaupun akhirnya kamu tidak sepenuhnya yakin kalau aku ini rumahmu tapi aku mencoba bersabar. Berharap kau tidak sekedar menetap tapi kau juga nyaman. Ini bukan lagi rumahku atau rumahmu tapi rumah kita.
Jika kamu masih merasa tidak nyaman, tolong jangan pergi. Tolong pikirkan sekali saja, bagaimana dulu aku pernah bersedia menjadi tempatmu pulang. Lapangkanlah hatimu, ikhlaskan hatimu seperti aku menerima kamu tanpa syarat. Aku hanya ingin menjadi tempatmu pulang, menjadi tempat yg paling nyaman untukmu walaupun aku tahu masih banyak kurangku. Tapi aku mohon menetaplah, jangan pergi. Jadi teman hidupku selamanya, sampai maut memisahkan kita.
Tolong redakan semua ketakutan-ketakutanku. Aku ingin menua bersamamu. Sungguh, aku ingin tetap berada di sampingmu apapun keadaanya. Tolong lapangkanlah hatimu, ikhlaskan hatimu. Jika memang itu masih berat untukmu, coba kau ingat-ingat lagi apa aku pernah meninggalkanmu? Jika kau masih ingin tetap pergi juga, aku mohon jangan lakukan ini pada perempuan lain. Cukup aku saja.
19 Feb 2019
“YaAllah. Pertemukanlah aku dengan dia yang berilmu, suka mendengarkan ilmu, semangat mempelajari ilmu, atau setidaknya mencintai orang-orang yang berilmu.”
—
RTM : Pasti Ragu
Sebelum sampai di hari H, meski kamu sudah bertemu dengan orang yang kamu rasa tepat, kamu akan tetap menemukan keraguan. Sesuatu yang menjadi keniscayaan bagi orang-orang yang akan menikah.
Kalau kamu mengalami, itu adalah hal yang biasa dan wajar, tidak perlu berlebih-lebihan. Apalagi membuatmu memperpanjang kekhawatiran tersebut menjadi asumsi, menjadi praduga, dan berkhayal yang terlalu jauh.
Karena memang itulah hakikatnya, menikah adalah sebuah keputusan besar, bernilai setengah agama. Karena nilainya yang sebesar itulah, setan akan menggodamu dari begitu banyak sisi agar kamu menjadi ragu-ragu, merusak keyakinanmu untuk menikah dengan orang yang telah kamu pilih sendiri.
Kalau setan gagal membuatmu ragu sebelum menikah, ia tak akan berhenti berusaha merusak pernikahanmu. Sebab, selepas menikah nanti, keraguan itu tidak akan hilang tiba-tiba. Kamu akan mendapati hal-hal buruk yang tadinya tak terlihat, menjadi terlihat dari pasanganmu. Kamu akan melihat, orang di luar sana terlihat lebih menarik dan lebih mengerti kamu daripada pasanganmu.
Kalau sudah sampai sana, kalian, berbicaralah satu sama lain. Ingat-ingat lagi mengapa dulu kalian mengambil keputusan untuk hidup bersama.
yogyakarta, 28 januari 2019 | ©kurniawangunadi
Jika bahagiamu bukan denganku, aku ikhlas melepasmu
02 Februari 2019
Ada saat di mana kau harus memilih pergi meninggalkan semua yang pernah kau percaya, yang pernah kau usahakan, dan yang pernah kau perjuangkan setulus hati.
Ada saat di mana kau harus memilih menjauh dari perasaan yang pernah kau beri nama. Memunggungi harapan yang pernah kau beri rasa.
Ada saat di mana kau harus memilih tak lagi peduli dari semua hal yang pernah kau anggap penting dari hidupmu.
Ada saat di mana kau harus memilih untuk berhenti berjuang. Bukan karena tidak ingin bertahan, namun keadaan yang melelahkan memaksamu beranjak dari ketidakpastian.
—ibnufir
Jika nanti tiba waktunya. Entah siapa yg akan paling menyesal? Yg jelas bukan kamu.
Semoga kita bisa saling bahagia setelah terus dan menerus kita saling menyakiti. Kamu menyakitiku dan aku menyakiti diriku sendiri.
22 Jan 2019
Itu Hanya Sementara
Bila aku pergi, itu hanya sementara; sampai aku yakin, bahwa satu-satunya cara untuk mencintaimu dengan utuh ialah melepaskan. Bahwa satu-satunya cara untuk tetap menyematkan namamu di dalam doa ialah dengan melupakan.
Suatu hari, ketika aku telah menemukan seseorang yang lain, aku ingin kamu tahu bahwa mengenalmu ialah caraku untuk belajar memaknai perasaan. Meskipun kamu tidak mengetahuinya.
Barangkali, kamu tidak pernah mencoba memaknai kehilangan. Kelak, ketika detik sudah enggan memberiku kesempatan lagi untuk menunggumu, akan kukatakan bahwa aku pernah mencintaimu; dan aku (masih) mencintaimu.
Sayangya, semesta terlalu muluk untuk ditanam harapan. Sayangnya, kamu terlalu jauh untuk dimiliki. Langkahku sampai di sini; penantianku berakhir di sini. Tidak ada penyesalan di sini; karena bagaimana pun juga, kamu tidak pernah tahu bahwa aku mencintaimu begitu lama.
Aku hanyalah seorang perempuan dimana hatinya sudah patah sepatah patahnya karena kamu. Aku cuman ingin katakan kepada kamu satu hal.
jangan patahkan hati perempuan yang lainnya yah,selain diriku.
16 Jan 2018
Jika memang pergi yg membuatmu bahagia, aku tidak akan menahanmu
Katamu belum waktunya. Aku rasa tidak perlu menunggu waktu.
08 Jan 2019
Aku menemukan kamu dgn 3 kepribadian yg berbeda
Aku paling bahagia saat si baik muncul. Kamu akan menceritakan apapun entah tentang masa kecilmu, mimpi-mimpimu, semua niat baikmu. Kamu seperti anak kecil yg merajuk. Kadang candamu yg menjadi candu bagiku.
Aku paling benci saat si nyinyir muncul. Kamu jadi orang yg paling menyebalkan. Kejujuranmu selalu saja menyakititkanku. Semua kamu utarakan tanpa sedikitpun menjaga perasaanku.
Dan yg lebih menyebalkan saat si acuh muncul. Kau bagai tembok Cina yg sulit sekali untuk aku tembus.
Tapi kamu bilang aku jangan terlalu sayang padamu. Kamu sudah siap berkemas-kemas untuk pergikah?
Ribuan doa aku lantunkan untukmu. Tapi tidak juga tersampaikan untukmu. Tulisan-tulisanku tidak menghangatkanmu-kah?
Aku ingin kamu tetap tinggal tapi kamu tidak bahagia. Haruskah aku mengikhlaskanmu?
17 Des 2018
Kepada diriku sendiri.
Aku ingin meminta maaf, sebab aku terus saja memaksamu melakukan sesuatu yang aku sendiri tidak menyukainya. Aku terus saja memintamu berjalan, meski aku pun tak tahu hendak ke mana arah dan tujuannya.
Aku ini memang pengecut. Sering kau kubohongi hanya agar aku dianggap normal seperti kebanyakan orang. Meski aku tak paham, hidup monoton semacam apa yang sedang aku lalui ini. Membosankan.
Maaf jika sudah membuatmu terlalu bersabar. Menahan diri agar lisanmu tak melukai orang lain, padahal kau sendiri yang sedang terluka. Maaf jika sudah memintamu diam. Menahan marahmu agar tak membuat orang lain menangis, padahal hatimu sendiri yang sedang menjerit.
Aku memang terlalu berbakat menyakitimu. Bahkan aku tak tahu lagi sudah berapa banyak keinginan dan mimpimu yang telah aku lupakan begitu saja. Aku terlalu banyak mendengar orang lain, sedang kau sendiri tak pernah aku dengarkan.
Aku ini pecundang yang terus saja menyalahkanmu, padahal kelakuanku sendiri saja yang sudah terlalu bodoh. Dan pantas jika sampai kau membenciku, sebab diriku sendiri yang terlampau sering memarahimu.
Seharusnya memang, aku tak membiarkan kamu datang, seharusnya aku memang tak menyambutmu dengan hati lapang, seharusnya aku tak menerimamu membiarkan ku hanyut pada ucap kata baikmu. Seharusnya kita tak usah saja bertemu, tapi apa dayaku yang tak kan bisa mengelak takdir yang sudah Allah ciptakan untukku? Sekarang aku sadar bahwa aku terlalu lemah menguatkan benteng perlindungan untuk hatiku. Tapi semoga saja mulai hari ini bentengku bisa lebih kuat lagi.
Ku harap kalian jangan merasakan apa yang aku rasakan
Cukup aku saja...
15 Des 2018