Every city has its own story. This is the story about Melbourne. It is among the most liveable city in the world, where you can find that the government itself encourage the people's well being. It reflected on how they make strategic decisions about the city development through massive utilization of data--for example in building parking lot, pedestrian, disabled-friendly road, etc. They invest a lot for its people's startup that aims to make the city more accessible. In the second and third photos, they are the team behind smart city program in Melbourne City Townhall--the map and all. The fourth until seventh are when we visit LaunchVic (coworking space where 4 accelerator of different sectors work in the sama space) and Melbourne Accelerator Program (uni-based accelerator). The rest of the photos are just me strolling the city, from Eureka Skydeck, Evan Walker bridge near Yara River, and Victoria State Library. Despite of the uncertainty of the weather--you can experience 4 seasons in a day 😂--Melbourne is totally awesome. And, thanks to mbak-mbak in the last photo who made the day in Melb memorable 💙 #throwback #STAAwards4 #AustraliaAwardsID #OzAlum @flindersuniversity @AustraliaAwards @kedubesaustralia https://www.instagram.com/p/Bq9xYq3gy3DeMP8GHSNcbvUCM3Th_W81n5AP0Q0/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=13t8wx95m44fv
One of our mentor in the program, an entrepreneur and remarkable mentor for startups with a lot of experience in US and Australia, said it has been her concern to make the people she mentored to grow in a sustainable, non-artificial way. Emphasizing how ineffective startups that took too many shortcuts to grow the business can be, she suggested us to walk the path patiently. We don't have to run all the time. So here I am, enjoying the life to the fullest I can do. Believe me, it's not a holiday :p #STAAwards4 #AustraliaAwardsID #OzAlum @flindersuniversity @AustraliaAwards @kedubesaustralia (at Adelaide, South Australia) https://www.instagram.com/p/BqHcdpcgN8MBkHHUGa9pF0TnD620mCCzfVlnSE0/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=15a16er3cn87o
We do have high hopes for the children and youth. Seeing their curious eyes, ecstatic laughter, and imaginative guesses -- fun! Life haven't yet show its darkness to them, they said, but I don't think so. It is us who should show them that either light or darkness do teach us things to learn. It is us who have the responsibility to scaffold them to reach their full potentials. Not to ask them what to do, but provide them with many alternatives to choose. To ensure them that they can be anything they want to be, and to not bury their dreams by being skeptical. Join them in their learning journey and sure you will learn much as well. . 📷 diambil saat sedang live-in di Amed, Bali #lifeatPLUS https://www.instagram.com/p/BpHRg-CgWrTFygIREZR1Tx4DR4RHmxS6Br0kh40/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=gdoo8q3m64c8
Learn a whole lot from awesome startup ecosystem players in the past 3 days. Makes me more optimistic on this country's future. Really look forward for upcoming learning journey, glad to walk the path with you guys! ------- #STAAwards4 #AustraliaAwardsID #OzAlum @flindersuniversity @AustraliaAwards @kedubesaustralia #IndonesiaStartups (at Padma Hotel Bandung) https://www.instagram.com/p/Bo0EHrHlO4VpCjUf606w1wAtLPXDgG3rBOLesc0/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=9hadny4rbo3l
A little throwback won't hurt. 🏃 "Pus, ajakin ke Lampung dong" "Lampung is my land, Catul.. Susah kendaraannya di sini" "Hoo.. Padang gimana?" "Mau ke Padang mah. Ke kelok-kelok dan dataran tinggi itu kayaknya menarik" "Yaudah, yuk mau ga?" "Oke deh nanti siap-siap beli tiket ya!" 🏃 Senang kali lah perjalanan kemarin, ga banyak mikir langsung berangkat, hehe. Bukan ke Padang sih, tapi ke Payakumbuh & Bukittinggi. Dari dulu sepertinya perempuan dengan muka-judes-yang-terberi ini @ichapusss senang sekali dengan tantangan. Sekalinya dia bilang iya, tidak ada yang tidak selesai di tangannya. She is the one who get things done. 🏃 Sumatera Barat keren sekalii, semuanya masih bagus, ga bisa ditangkap dg kamera hpku haha. Orangnya ramah banget, suka senyum, contohnya @rahelfitriani 💙Banyak tempat-tempat cantik yang mulai dimaksimalkan sebagai tempat wisata dua tahun terakhir, katanya. Semoga tetap lestari yaa, dan para turis jangan dirusak plis buminya. 🏃 Sampai jumpa di momen jalanjalan berikutnyaa! 🏃
Sebelumnya aku belum pernah memikirkan tentang topik menjadi perempuan sekeras hari ini, hanya karena dua hal kecil. Namun kedua hal itu mengarahkan otakku untuk berpikir: apa sih yang harus dilakukan agar bisa dikatakan sebagai perempuan sejati?
Pertama. Tadi sore aku mengupas buah nanas, pepaya, dan semangka yang kutitip beli ke Mas Sugeng, pramubakti andalan kantor, dengan pisau kecil. Ternyata aku sudah salah sejak pemilihan pisau. Pisau yang kuambil lebih cocok untuk memotong roti atau keju. Susah sekali memotongnya. Kemudian tanganku juga terlihat canggung saat memegang buahnya, takut-takut akan tergores bagian tajam pisau.
Apakah menjadi perempuan harus jago melakukan pekerjaan rumah tangga? Atau tidak? Yang jelas aku merasa sedih sekali karena menyadari aku sangat tidak terampil dalam hal pekerjaan rumah. Tidak tahu kenapa, padahal aku termasuk orang yang meyakini bahwa tidak ada pekerjaan yang maskulin maupun feminin, yang hanya ditujukan untuk satu gender saja.
Kedua, saat telepon ibu. Sore ini aku merasa kangen Ibu. Kuambillah ponsel untuk menghubungi beliau. Di akhir pembicaraan, seperti biasanya, beliau selalu bertanya mana orang yang mau dikenalkan pada mereka. Ku selalu jawab: tidak ada. Setelah itu Ibu pasti menasihati panjang lebar kalau aku harus lebih berani, lebih berusaha, kalau ada kecenderungan ya sudah bilang aja ke orangnya.
Batinku, kan ga semudah itu... Kan aku perempuan. Tapi apakah menjadi perempuan berarti wajar kalau aku tidak mengambil langkah? Atau tidak? Aku benar-benar tidak tahu. Tapi nasihat Ibu tidak berubah saat aku argue begitu. Kamu harus berani, kata beliau. Seperti saat kamu yakin mau merantau. Seperti saat kamu berani pergi ke mana-mana sendiri. Seperti saat kamu ga takut melakukan apapun untuk mendapatkan yang kamu mau.
But, still.. Kan beda ya bosh keberanian buat merantau sama mencari partner. Untuk isu ini aku beneran tidak tahu aku harus melakukan apa.
Selama ini aku berusaha untuk menjadi diriku sendiri saja, tak peduli apa yang orang-orang katakan mengenai perempuan itu baiknya begitu begini. Namun kadang, seperti sekarang, aku pikir akan baik untuk mengerti sedikit norma yang berlaku di luar sana.
Jadi apa sih yang harus dilakukan agar bisa dikatakan sebagai perempuan sejati? Share your thoughts to me.
Sudah lama sekali tidak menulis ataupun membuka tumblr. Sok sibuk aja nih kayaknya, padahal mah kalau didaftar, cuma dua kegiatan yang sedang ditekuni sekarang: kerja dan kegiatan sosial. Dan sedikit kegiatan pengembangan diri lainnya. Tapi karena ini merupakan kewajiban, jadi tidak temasuk dalam daftar kesibukan dong ya.
Tumblr bikin kangen, sih, memang. Cukup banyak inspirasi yang didapatkan, walaupun yang banyak berseliweran di timeline-ku masih mayoritas galau-optimis. Tumblr-ish feeling kalau kata mbak Afina. Terima kasih pada David Karp (sad that he is leaving tumblr) dan tim yang membuat platform yang membuatku bertahan, meski dengan dengan fluktuasi frekuensi posting selama 5 tahun ini.
Kalau nanti ada kesempatan buat duduk lama, lebih lama dari saat menulis post ini, sebenarnya banyak yang ingin kubagikan. Lebih karena ingin meluapkan yang ada di pikiran dengan media tulisan, bukan untuk menginspirasi, karena bukan kapasitasku untuk itu. Hahaha. Sekarang ini, di draft sudah mengantre beberapa judul. Baru judulnya aja hahahaha. Di antaranya:
Being a psy-baccalaureate is one of the things I treasure the most.
Since people often talk to me about themselves and their experience, and (theoretically) I am trained to listen reflectively, I may do not have to experience something by myself to (only) learn something. For example, I can tell why smart people can fall easily into a hoax, how could a man be so irrational when he's in love, how to choose which problem you have to put attention and which is not, what to do when you face a bad boss, or what values that are good enough to look at other people. Their stories taught it all.
Sometimes that leads to confusion and too much compromise, of course. But in many times especially when I don't have to give comments, reflective listening is very useful for myself--in terms of personal development. That leads to bigger consequence as well, to make sure that good lessons won't stop in me; or just floating in cognitive level, not behavioral ones.
Jadi sewaktu mengisi sedikit slot waktu di acara Musyawarah Tahunan, saya mengajak agar PPI Istanbul peduli terhadap kondisi bangsa terutama anak-anak di daerah pedalaman (saya tampilkan foto anak-anak Papua tahun 2017 yang sekolah masih tanpa sepatu) yang kesulitan akses perlengkapan sekolah yang baik. Saya bilang kita bisa berbuat sesuatu; paling tidak menggugah orang banyak agar peduli dan berbagi.
Saya sampaikan, kita bisa mengajak masyarakat Indonesia yang ada di Turki untuk menggalang dana. Kita bisa bikin kampanye untuk itu bersama-sama. Lalu, sebagai bentuk kepedulian pribadi, saya memberikan contoh sederhana. Kalau kita sekali makan di Baydoner, misalnya, menu paling murah 17TL atau sekitar 50.000IDR. Dengan uang segitu, kalau ada 100 orang, bisa terkumpul 5 juta IDR dan itu bisa membiayai paling tidak 30 anak untuk seragam, sepatu, tas, buku, dll. Sekali makan kita, bisa membantu anak-anak di pedalaman Papua belajar dengan nyaman.
Rupanya, ada orang konsulat yang bicara tepat sesudah saya, menyanggah seruan saya itu. Dia bilang: 1) audiensnya salah tempat, karena mahasiswa tidak mungkin sanggup untuk sedekah seperti itu, 2) Mahasiswa itu fokusnya belajar saja, cukup itu saja tugasnya, 3) Sambil bilang, “Saya seorang ayah, saya punya anak yang juga sedang sekolah. Saya tidak akan mengizinkan anak saya untuk ikut begitu. Kalau dia punya 50TL untuk makan, lalu 25TL didonasikan lalu tidak makan dan sakit, biaya berobat itu lebih mahal. Perhatikan diri sendiri dulu.”
Saya terkesima dan takjub. Speechlees.
Saya berpikir membatin, bayangkan jika orang seperti ini—dengan kapasitas sebagai representasi pemerintah, seorang ayah, atau pribadi—bicara di depan mahasiswa, lalu mahasiswa-mahasiswa tadi menjadi seperti dia?
Padahal, sepanjang saya mendapatkan pendidikan dasar PMP atau PPKn, utamanya tentang pendidikan kepribadian Pancasila, saya tidak pernah menemukan dogma: “jangan menolong orang lain kalau itu mengurangi kebutuhanmu”, atau “urus dirimu sendiri, sekolah saja yang rajin, tak perlu ikut aksi sosial apalagi sampai mengeluarkan uang”. Apalagi logika si Bapak ini? Tidak ada sama sekali. Yang ada, jiwa Pancasila itu adalah semangat tolong-menolong, gotong-royong, bantu-membantu tanpa prasyarat. Kepribadian Pancasila itu yang menjadikan bangsa Indonesia terkenal keramahannya; suka membantu dan suka menolong. Bukankah ini dibangun susah-payah dari SD? Saya pun bangga mendapatkan dogma kepribadian Pancasila.
Logika si Bapak ini hanya ada di dalam panduan keselamatan pesawat ketika pakai masker oksigen. Yang artinya dalam kondisi terdesak atau darurat. Betul, selamatkan diri dulu, baru bantu orang lain. Tapi ini kasusnya bukan dalam kondisi darurat. Atau mungkin si Bapak ini orang miskin sehingga hidupnya penuh penghematan? Bahkan, orang miskin sekalipun, kadang rela berbagi untuk orang yang kesusahan. Tapi berimajinasi kelaparan—karena separuh uang makannya didonasikan—lalu jatuh sakit dan biayanya lebih mahal, ini semiskin-miskinnya mental.
Ketika dia bicara seperti itu, saya terngiang-ngiang di kepala, wajah anak-anak Papua; kenapa untuk sekadar mendapatkan sepatu yang didapatkan dari kepedulian mahasiswa cobaannya harus sebegitu dangkal? Alih-alih dia empati malah mengajari untuk tak peduli.
Semoga anak-anak muda mampu menghayati Pancasila dengan semangat dan kepribadian saling berbagi. Semoga.
Hubungan pertemanan manusia dengan manusia lainnya itu sangat lucu. Sedikitnya pasti ada puluhan variabel saat dua atau lebih manusia bertemu. Latar belakang, minat, kehendak, ekspektasi, sifat khas masing-masing, waktu, tempat, ruang pertemuan, tekanan dari sekitar merupakan beberapa contohnya. Prosesnya juga lucu dan terkadang membentuk siklus. Mulai dari tidak kenal – berkenalan – canggung – menemukan kesamaan – dekat – tidak bisa dipisahkan – berkonflik – sibuk - menghindar - tidak saling menyapa – kembali menjadi tidak saling kenal. Itu hanya satu contoh, beribu bentuk hubungan bisa tercipta antara manusia.
Dari berbagai hubungan yang telah manusia jalin, katanya hanya akan ada maksimal 148 teman (atau biasa dibulatkan menjadi 150) yang bisa dipertahankan manusia. Teman di media sosial atau yang sekadar kontak di ponsel atau mailing tentu berbeda lagi ya, most of them-I am sure-are just acquaintances. Aku sendiri merasa 150 adalah jumlah yang banyak. Temanku tidak sebanyak itu. Berapa banyak orang yang bisa aku telepon segera saat aku membutuhkan sesuatu? Hanya 24, semuanya ada di daftar kontak favoritku. Berapa banyak teman yang secara reguler bertemu denganku tiap hari? Hanya 4 orang rekan kerja, atau saat weekend sekitar 10 orang teman ngaji atau organisasi. Berapa banyak teman yang dengan mereka aku bisa menjadi diriku sendiri? Hanya 21. Berapa banyak teman yang bisa kumintai nasihatnya? 9. Terkadang orang-orang yang termasuk dalam daftarku ini pun beririsan, jadi.. yah.. angkanya tidak mencapai 150.
Aku – mungkin kamu juga – merasa menjaga hubungan dengan teman terkadang bisa menjadi sangat melelahkan. Mungkin karena aku cenderung introvert. Oh, tapi kali ini aku ingin bercerita mengenai teman-teman yang sangat berharga bagiku. Waktu SMA aku masuk ke kelas IPS, yang hanya ada 1 kelas di sekolah dan jumlah anaknya hanya 14 biji. Rasanya dulu kami dekat sekali. Bodoh bersama, bolos bersama, menggunakan privilege yang diberikan sekolah untuk melakukan kenakalan bersama, malas-malasan belajar untuk UN bersama (hmm kecuali beberapa anak baik, hihi), dan terakhir sebelum berpisah sempat memperjuangan perguruan tinggi idaman masing-masing bersama juga.
Setelah lulus, 6 dari kami diterima di universitas yang sama, bahkan aku dan 3 lainnya berada di fakultas yang sama. Di awal kuliah pertemanan kami masih erat karena kami berkuliah di kota lain dari kota asal sehingga kami mengandalkan satu sama lain untuk beradaptasi. Tapi semakin lama bukannya kami semakin sering bertemu, kami semakin jarang bertatap muka. Padahal kemungkinan kami sekelas di setiap semesternya adalah 18-25% (eeee, ga tau ding bener apa ga hitungannya, matematika-ku remed pas kelas 1 SMA).
Hasil dari tidak sering bertemu adalah banyaknya pertimbangan kalau mau meminta tolong atau bahkan sekadar menyapa. Kalau dulu aku terbiasa langsung mengatakan apa yang aku mau, sekarang aku harus berbasa-basi dengan berbelit-belit dulu untuk mengatakan, “Hei, aku kangen, kamu apa kabarnya sih? Masih hidup kan”. Kami berdiri di jalan yang kami pilih sendiri. Yang terkadang membelakangi punggung satu sama lain. Terkadang beberapa kesempatan kami berpapasan di jalan, yang hanya diisi dengan mengangkat topi pada yang lain lalu meneruskan perjalanan lagi. Berusaha bersinar di jalan masing-masing dan menemukan teman-teman lain.
Namun setidaknya, setelah dipikir-pikir, aku tidak pernah merasa benar-benar jauh dengan mereka. Mungkin kami memang tidak sering bertemu, namun saat kami bertemu tidak pernah ada canggung. Mereka ada di momen-momen pentingku. Kami tetap berani berkata kasar pada satu sama lain karena yakin tidak akan ada yang tersinggung (hmm sungguh ukuran yang aneh untuk menilai kedekatan). Kami menerima kekurangan masing-masing.
Akhir-akhir ini, kami menghangat lagi. Aku senang sekali. Menurutku, salah satunya karena semakin banyak teman sekelas yang ikut merantau ke kota rantauan kami. Mereka yang jauh lebih jarang bertemu kami ternyata malah memberikan warna dan bahasan baru.
Mungkin kami hanya membutuhkan bahasan baru. Mungkin kami terlalu bosan karena kesamaan kami terlalu banyak. Mungkin memang pertemanan kami harus melewati yang seperti itu dulu. Mungkin saat sedang tidak sering bersama beberapa saat lalu, kami sedang punya 150 teman yang harus dijaga dan sekarang sudah tidak sebanyak itu.
Atau mungkin aku saja yang merasa begitu. Aku juga tidak yakin. Yang aku yakin, mereka semua bertiga belas adalah teman yang ingin aku miliki selamanya.
Maafkan tulisan yang sangat personal ini. Aku hanya ingin mengenang mereka sekali lagi. Sebelum aku menulis tentang mereka ratusan kali lagi.
Sedihnya.. Sepatuku kena lumpur. Kalau sepatuku terlalu sering lembab begini nanti jadi tidak tahan lama dan konsekuensinya aku harus beli baru lagi.
Tapi apa boleh buat, kalau naik angkutan umum memang harus mau lewat jalanan kecil becek begini. Jalan tercepat yang harus aku lewati kalau mau sampai ke kos sekarang adalah terowongan gelap di mana kereta lewat setiap 5 menit sekali. Pejalan kaki harus banyak berdoa, karena di kolong itu jalan buat orang hanya berjarak satu meter dari jalan buat kereta.
Aku minggir sebentar. Dengan agak dongkol aku berusaha menghilangkan lumpur dari sepatu sambil mencari earphone di totebag-ku. Mungkin mendengarkan lagu akan mengembalikan mood-ku.
Dug!
Sikutku terkena suatu benda keras. Lumayan sakit juga. Aku menoleh dan aku melihatnya nyata di sampingku. Banci kolong.
Aku sering mendengar tentangnya dari tetangga kos namun baru kali ini aku menemuinya sendiri. Mereka sering berkumpul di kolong ini sebelum kemudian menyebar. Di tangannya ada suatu alat musik atau speaker (aku tidak terlalu paham) yang case-nya terbuat dari kayu, yang terkena tanganku tadi. Dia juga tampak sama kagetnya seperti aku.
“Maaf, saya tidak sengaja,” kataku.
“Gapapa say, situ yang sakit ya? Lekong-lekong ga? Aduh, mehong ini kalau kenapa-napa,”
“Lekong?”
“Luka-luka say,” jelasnya.
“Oh, gapapa kok, Teh,” Selama ini setahuku lekong itu laki, haha. Mungkin aku saja yang sok tahu bahasa mereka.
“Ya udin, capcus ya cin!” Dia pun beranjak.
Sesaat sebelum dia pergi aku baru menyadari penampilannya. Dia cantik sekali. Wig berwarna brunette ditambah dandanan yang tidak terlalu berwarna-warni melainkan nude saja malah menambah kesan teduh di wajahnya. Mungkin itu sebabnya aku refleks memanggilnya ‘Teh’ tadi. Sekarang aku memperhatikannya dari belakang. Bahunya sama sekali tidak bidang dan tingginya melebihiku. Badannya ramping, kakinya jenjang, dan dengan pintarnya dia memilih baju yang cocok untuk bentuk tubuhnya itu. Sebagai perempuan aku merasa sedikit takjub melihat kemampuan bersoleknya. Dengan segera ia hilang dari jangkauan jarak pandangku. Aku meneruskan perjalanan pulang.
Tapi sepertinya aku memang sedang agak sial, tiba-tiba hujan turun deras tanpa ampun begitu aku sampai di mulut terowongan. Aku merogoh tas dan tidak kutemui payung di dalamnya. Hhhhhh. Apa mau dikata, aku akan menunggu agak reda sebelum berlari pulang.
Aku melipir ke sebuah warung minuman sekaligus counter pulsa milik Pak Haji–baru saja aku beri julukan karena dia pakai baju koko rapi.
“Pak Haji, numpang duduk yes!“ Kutarik kursi plastik merah menjadi menghadap jalan di depan warung.
“Duduk aja Neng, duduk!“
“Pak Haji, air gelas ini satu yak, bayarnya nanti sekalian.“ Kuambil segelas air mineral kemasan dari meja.
Kupasang earphone-ku dan musik mulai mengalun.
Remember me
Though I have to say good bye
Remember me
Don’t let it make you cry
For even if I am far away
I’ll hold you in my heart
I’ll sing a secret song to you
Each night we are apart
Kuteguk air mineral tadi. Sekejap kemudian air minumku sudah habis. Baru saja aku ingin mengulurkan tangan untuk gelas kedua, namun..
“Ini aja,“
Kuhentikan musik yang sedang kudengar lalu mendongak ke arah sumber suara. Laaah, si Teteh yang tadi.
“Eh, apa ini Teh?“
“Iya bener, ini teh, nih ambil aja,“ tangannya masih mengulurkan es teh dalam gelas plastik.
Wah ada apa nih. “Buat saya?“
“Iya buat lau lah, Neng! Masa buat yang punya warung, pan die udah jualan“ suaranya cempreng juga ternyata.
“Wah, ga usah, Teh. Makasih,” tolakku sehalus mungkin
“Kenapa? Ambil aja sih. Lau ga mau karena dari bencong ya?“
“Hah bukan gitu! Serius bukan gitu.“
“Terus kenapa?“ Si Teteh tampaknya menyerah, meletakkan gelas es teh di meja sampingku dan ikut menarik kursi ke sebelahku. Lah, kenapa dia jadi ikutan duduk…
“Hmm… Saya ga bisa minum itu.”
“Kok bisa? Lau ga bisa minum es teh? Lagi batuk ye?“
“Bukan, bukan. Saya sehat kok. Errr, saya cuma ga bisa minum yang kayak gitu.“
“Kayak gitu gimane maksud lau?”
Aku memelankan suaraku, “Hmm.. Yang dimasak di warung gitu, Teh.”
“Lau ga bisa minum yang ada di warung pegimane ceritanya dah??” Dia tampak begitu kaget.
Sudah kuduga reaksinya akan begitu. “Sssssh jangan keras-keras teh ntar yang punya warung-warung ini ngamuk,”
“Hooo iya iya oke gue pelan-pelan yak.” Haha, dia banci yang penurut rupanya.
“Iya, Teh, jadi sebenarnya saya suka sakit perut kalau minum atau makan yang dari warung atau gerobak makanan gitu.”
“Buseng dah, lau anak orang kaya ya?”
“Ya ga juga sih, Teh. Saya juga ga tau gimana ceritanya. Setelah saya makan yang saya beli di warteg biasanya perut saya langsung sakit, terus bolak-balik ke kamar mandi gitu. Kadang kalau habis makan mie instan juga gitu. Kadang.”
“Duh, padahal kan enak banget. Murah lagi.”
“Nah itu dia, Teh, saya juga ngerasa sayang sebenernya.” Entah mengapa aku malah bercerita ke banci satu ini. Yah sekalian nunggu hujan agak reda, ga ada salahnya.
”Kalau makan selain dari warteg atau gerobak ga sakit?”
“Alhamdulillah enggak sih Teh.”
“Lau makan sekali abis berapa kira-kira?”
Benar juga, aku tidak pernah memperhitungkan berapa pengeluaranku untuk makan, “30.000 kalau di kantin kantor,” jawabku akhirnya.
“Wah ni anak alergi makanan murah emang. Kalau di luar?”
“Macem-macem Teh, kadang 30.000, 50.000, kalau pas di mall bisa 150.000”
“Bujug! Sekali makan? Lau bo’ong kali ya, lau pasti orang kaya yang beli kopi harganya 60.000 segelas itu ya?”
“Errr…. Ada benernya ada engga-nya sih, Teh. Saya memang bukan orang kaya. Pekerja juga sama kayak Teteh, sering pulang pergi pakai Kopaja juga. Tapi kadang memang beli kopi atau teh di sana.”
“Ya ampun lau tuh yaa, daripada beli teh 40.000 masih ga manis, mending gue bikinin dah, gue bonusin gula sekilo biar kalau kurang manis, lau bisa nambah lagi dah tuh sampe diabetes!” Si Teteh mulai emosi jiwa kayaknya ngomong sama aku. Lagian, siapa suruh nanya.
“Hahahaha. Ya abis gimana lagi teh, beneran sakit perut kalau jajan sembarangan.”
“Coba deh kapan terakhir kali lau sakit perut?”
Memoriku berusaha kuingat-ingat, “Oh! Sebulan lalu, pas di Bandung.”
“Makan apa?”
“Cilok sama es kelapa jeruk. Saya ga tau sih mana yang bikin sakit. Yang jelas saya lagi pengen banget cilok Bandung yang katanya juara, terus lihat temen beli es kelapa jadi beli juga.”
“Di mana belinya?”
“Di Alun-alun Bandung, di basement parkiran motor gitu deh, banyak yang jualan makanan.”
“Nah! Itu kayaknya masalahnya! Di tempat kayak gitu pasti banyak bakteri e.coli, yang banyak di makanan atau minuman yang ga dipanasin dulu. Jadi kayaknya itu dari es kelapa jeruk lau, kalau ciloknya kan pasti dipanasin dulu, jadi bakterinya udah ilang.”
Oh my… Aku dapat kuliah biologi dari banci satu ini. “…Oh, iya.. Teh,” jawabku, masih takjub.
“Nah jadi, asal lau pilih-pilih makan di tempat yang makanannya fresh atau dipanasin dulu sebelum dimakan, lau ga bakal diare-diare gitu, coy,”
“Berarti saya ga boleh minum teh ini dong?” Aku menunjuk es teh yang kami anggurin dari tadi.
“Oh, iya. Bener juga lau.” Dia lalu menarik tehnya lebih ke dekatnya. Haha.
“Makasih ya, Teh,” kataku.
“Iya.”
Hening sejenak. Hujan belum juga reda.
“Jadi lau sama sekali ga pernah makan di warung?”
“Beberapa warung aja Teh. Ada-lah dua warung yang bisa”
Dia tampak menahan tawa. Anjir diketawain. ”Di mana tuh?”
“Satu warung di deket kampus di Depok pas masih kuliah dulu. Satu lagi Warkop Aa’ Alif di deket kosan.”
“Salut gue, main ke warkop juga lau.”
“Aa’ Alif bisa diajak curhat Teh. Orangnya asik. Malem-malem kalau lagi butuh teman ngobrol, Aa’ Alif pas banget.”
“Jakarta emang keras, warkop bisa jadi tempat yang pas buat cerita emang.”
Hening lagi.
“Tapi gue masih heran aja dah sama lau. Kalau lau bukan orang kaya tapi pengeluaran lau sebanyak itu buat makan doang, emangnya cukup buat tinggal di Jakarta?”
“Dicukup-cukupin,” jawabku malas.
“Misal gaji lau 8 juta, 3 juta abis buat makan, 2 juta buat, 500.000 buat transport, 300.000 buat pulsa, 200.000 buat laundry, 1 juta kalau lau ada cicilan kartu kredit. Kalau ada temen kawinan atau ulang tahun bisa banyak juga keluarnya. Udah abis dah tu gaji, nabung dikit doang. Itu kalau sehari lau makan 100.000, tapi kayaknya kalau lau nurutin makanan fantastis lau itu, bisa lebih ye?”
Sekali lagi aku dibuat takjub olehnya. Hitung-hitungannya cepat juga. Aku terlalu meremehkan banci satu ini. Dia banci pintar.
“Ya nggak tiap hari 100.000 juga sih Teh makannya. Kadang kurang kok.”
Dia tidak menghiraukanku, “Lau mau beli mobil? Cicil rumah? Naik haji?”
Kampret juga. Nih orang tau aja keresahan gue. Sudah berhari-hari ini aku memang memikirkan hal itu. Bukan tentang materi untuk diriku sendiri—seperti yang dia sebutkan, tapi mirip. Keresahanku lebih ke bagaimana caranya aku bisa tidak merepotkan orang tua lagi. Sampai sekarang aku masih dikirimi uang bulanan meskipun aku menolak.
“Coba lau mulai kurangi deh pengeluaran yang buat heboh-hebohan doang”
“Ya gimana teh, saya emang ga bisa makan yang begitu..” Tapi sebenarnya dalam hatiku terbersit kesadaran bahwa Teteh ini benar. Sangat benar.
“Masak sendiri gih. Nih ya, gue bisa cuma habis 120.000 buat masak seminggu. Tapi lau harus mau repot. Kalau mau beli sayuran yang murah di….”
Cerocosnya tertelan oleh berisiknya otakku yang sedang berputar. Orang ini benar juga. Selama ini kalau aku ingat-ingat, pengeluaranku sama banyaknya dengan penghasilanku. Aku tidak pernah punya perhitungan yang benar mengenai ke mana uangku pergi. Tanggal 20 biasanya uangku sudah sangat menipis. Padahal aku masih punya tanggungan orang tua, malah mereka yang masih menanggungku. Memang kekayaan bukan segalanya, tapi aku bisa berbuat lebih banyak kebaikan dengan menjadi kaya. Kalau memang tidak diberi harta berlimpah pun tak apa, namun uang adalah bensinnya amalan-amalan yang dicontohkan oleh sahabat-sahabat Nabi. Yang sangat royal pada sesamanya namun sangat sederhana terhadap dirinya sendiri.
Seiring kembalinya aku dari subconscious, ceramahnya kembali terdengar, “…jadi enak tuh masaknya, ga perlu ribet-ribet pagi-pagi bangun buat potong ini itu… Eh, lau dengerin gak sih?”
“Teh, makasih ya! Saya jadi tahu saya harus bagaimana!”
“Ha? Eh, iya, sama-sama.”
“Ini Teh, aku bayar aja tehnya ya, makasih banyak, Teh! Pak Haji, ini ya aku bayar sama punya tetehnya. Kembalinya ambil aja Pak Haji!”
Hujan telah reda. Aku beranjak dari warung dan berjalan pulang. Senang. Meninggalkan si Teteh yang bengong saja.
Malamnya, aku membeli makan malam di gerobak nasi goreng sudah sering aku cium bau harumnya tapi tidak pernah berani aku beli karena takut sakit.
Aku makan dengan bahagia. Dompetku pun sepertinya bahagia, karena dengan 13.000 saja bisa kudapatkan makan malamku.
Sehabis makan, perutku melilit. Sakit sekali.
Banci kampret.
Foto dari Unsplash.
p.s. Cerita ini fiksi, tapi terinspirasi dari pengalaman nyata. Yang mana? Tebak saja sendiri.
p.p.s. Kita memang bisa belajar dari mana saja. Cuma, di-filter aja, jangan ekstrem-ekstrem lah. Kalau mau berubah juga pelan aja. Wkwk.
p.p.p.s Kata-kata kasar hanya dibubuhkan untuk memperkental suasana cerita. Don’t try this at home and especially in front of everyone you love.
At Festival Relawan 2017 today, as we also celebrate International Human Rights. This one is a campaign from deaf youth. They did a great job on advocating the right of the deaf. 2 of them will be sent to Argentina to join a camp, where they will learn together with other youth so that they can implement the lesson learned when they come back to Indonesia. Bunch of other campaign are also interesting. I spotted Daur Bunga, Sabang Merauke, Buku Berjalan, Taman Baca Innovator and several volunteerism fellows there. All the best for you, #orangbaik!
Untuk yang belum memahami bagaimana Jerusalem, ibu kota Palestina, dicaplok oleh Israel dan diaku-akui sebagai punya mereka, vidéo singkat ini bisa menjelaskan dengan sangat gamblang. Jerusalem atau Al-Quds adalah tanah umat Islam. Final dan garis merah.
Jika kita tidak bisa melindunginya dengan tangan-tangan kita, setidaknya berikan dukungan kepada pejuang di Palestina untuk menjaga Al-Quds agar tetap menjadi milik kita.
Do you want this video? Drop your email below in reply section (please use (at) rather than @ for your own security) and please reblog this by adding supporting words to the Palestinians.
Alarm dari iPhone model lamaku berbunyi. Pukul setengah empat. Kupaksa mata ini terbuka. Aku menoleh, mencarimu. Sebuah upaya yang sia-sia karena sudah barang tentu kamu tidak akan ada di tempat tidur ini. Kamu selalu mendahuluiku dalam hal waktu.
Aku bangkit menuju kamar mandi. Kulihat dia juga sedang bersiap hendak berwudhu. Tinggi, tegap, dan terlihat hangat. Begitu melihatku, kamu tersenyum, kemudian melirik ke arah pintu kamar mandi. Detik berikutnya kamu dan aku sudah berlari, berebut lebih dulu masuk ke kamar mandi. Siapa yang menang? Tentu saja kamu. Aku tidak akan pernah menang kalau tangan besarmu itu masih menghalangi pintu kecil itu.
”Lain kali bangun lebih pagi dong, Cinta,” wajahmu yang tengil muncul di balik pintu.
”Kamu yang selalu kepagian,” balasku pura-pura kesal.
Suara tawanya memenuhi ruangan.
Karena sudah keduluan, aku menunggu di lorong depan kamar mandi kami. Memandang lurus pada kaca hias pada dinding putih di sana. Di sebelahnya terpasang kalender yang harus disobek untuk mengganti angkanya. 21, angka yang tertulis di situ. Sudah sampai ke kelipatan 3 lagi rupanya. Aku tersenyum. Sudah waktunya bertanya lagi padamu, partnerku yang baru kukenal 3 bulan lalu ini. Aku menyukai usahamu, memberikan kesempatan unik untuk bertanya tentang dirimu yang masih begitu asing bagiku. Katamu, di setiap tanggal kelipatan 3, aku boleh bertanya sesuka hatiku dan kamu akan menjawab sejujur-jujurnya.
Hari ini aku belum punya pertanyaan.
Kupandang sosok perempuan yang kini kulihat di cermin. Tanpa diminta, otakku memberi penilaian. Sungguh tidak ada istimewanya wajahku ini bahkan jika dibandingkan dengan martabak istimewa. Satu-satunya yang paling kusukai dari wajahku hanyalah alis dan bulu mataku. Panjang dan melengkung hampir sempurna. Tapi selain itu sungguh sangat biasa. Dengan segera, pertanyaan-pertanyaan memenuhi lamunanku.
Bayangan inikah yang kamu lihat padaku? Lebih jauh lagi, sebenarnya aku benar-benar ingin bertanya padamu. Bagaimana kamu memandang perempuan? Maksudku, bukan hanya aku, tapi semua perempuan pada umumnya.
Aku sering berada dalam satu kelompok dengan laki-laki. Mulai dari yang berisi laki-laki 'liberal' sehingga tidak karuan bahasan kami biasanya, sampai ke yang berisi laki-laki lurus dengan pemahaman agama tingkat advance. Sejak umurku masih 21 tahun dulu bahasan tentang menikah atau jodoh sudah menjadi bahasan yang lazim sekitarku. Di grup-grup messenger, seringkali bahasan ini mendapat respon paling banyak dan paling cepat dibandingkan yang lainnya.
Dulu, para lelaki sering mempromosikan teman-temannya yang lain, contohnya "Radi, 22 tahun, bos Bank UOB, Single.Silakan sister-sister, dipilih", atau "Mantap, sudah siap sih ini Kang Hesa. Segerakan, Kang", atau "Buat yang cewek-cewek nih. Vitro idolaku, pengamat kebijakan pemerintah berhati selembut kapas. Ya kali disia-siakan!" Kadang dengan foto atau meme mereka. Di hadapan kami para perempuan ini. Biasanya sih kami diam. Atau jika kami benar-benar kenal dengan laki-laki objek bercandaan ini, kami akan ikut menimpali. Namun kebanyakan kami akan diam.
Lama-lama aku jengah. Seakan-akan mereka berlomba mencitrakan diri di depan perempuan. Dan perempuan adalah trofi yang mereka perebutkan untuk kalian miliki selamanya.
Entah, atau hanya aku saja yang berpikir begini?
Tapi mungkin tidak. Seorang teman perempuan suatu kali pernah bercerita. Temanku ini pandai memasak, salihah, jago bermain musik, cerdas, cantik, dan aku yakin banyak yang mengantre mendapatkan hatinya. Tapi apa yang dia ceritakan padaku tidak kusangka. Ia sungguh risih dengan tingkah laki-laki--yang kerapkali memandanginya dari atas sampai bawah. Laki-laki itu tidak mengganggunya, tapi cara laki-laki itu memandang membuat temanku ini merasa sedih, lalu berubah menjadi jijik.
Seandainya bisa, dia lebih memilih tidak dilahirkan cantik daripada harus dinilai hanya dari kecantikannya. Seakan-akan kecantikan adalah tameng yang membuat kelebihannya yang lain tidak diperhatikan, tidak penting. Ia ingin diterima karena lakunya, ibadahnya, agamanya terlebih dahulu. Sebaik apapun laki-laki itu di mata orang lain, menurut dia, ada saja yang membuatnya malas berhubungan dengan laki-laki macam begini. Painful beauty, dia menyebutnya.
Apakah kamu--dan para laki-laki pada umumnya--memandang perempuan dari bagaimana dia berpenampilan? Katakan padaku, pada pertemuan pertama, apakah kamu akan lebih menanggapi perempuan cantik dibandingkan perempuan yang menurutmu biasa saja? Dulu sebelum bertemu denganmu aku pernah mengenal seorang teman dekat laki-laki yang mengatakan dia percaya pada cinta pada pandangan pertama. Pada saat itu apa yang laki-laki lihat dari kami?
Pertanyaan ini mungkin saja sebenarnya tidak perlu kutanyakan karena pada kesempatan mengenalmu lebih dalam, lakumu akan menunjukkannya. Dan aku sepertinya akan lebih mempercayai itu daripada perkataanmu. Tapi, aku juga ingin mengetahuinya dari ucapanmu. Sebelum aku melihatnya dari bagaimana kamu memperlakukanku, ibumu, saudara perempuanmu, dan anak perempuan kita nantinya, jika kita diberi amanah oleh-Nya.
Dan lalu, aku tidak cantik, mungkin tidak akan menjadi pilihan dalam benak para laki-laki. Jadi apa yang membuatmu memilihku?
Tapi sungguh, meskipun ini pertanyaan yang begitu ingin aku tanyakan, aku tidak pernah berani menanyakannya.
“Hai, Cantik, ini hari ke-21 kita, apa yang akan kamu tanyakan hari ini?“ Sapaanmu membuat lamunanku buyar.
Cantik? Kamu ini bisa baca pikiran ya?
Aku tidak punya pilihan lain selain tertawa, “Sayang, hari ini aku tidak punya pertanyaan. Sebagai gantinya kita ke taman, ya. Tunggu aku, kita salat berjamaah dulu.”
Hari ke-21 ini kuputuskan untuk menunda lagi tanyaku yang ini. Karena bagiku, bersamamu tanpa tahu kenapa saja sudah menyenangkan. Jadi aku akan menikmati dulu saja momen ini.
===================
Cawang, 6 November 2017. Diceritakan kembali dari pengalaman milik seorang teman, berasal dari kisah nyata.
"Another turning point, a fork stuck in the road Time grabs you by the wrist, directs you where to go So make the best of this test, and don't ask why It's not a question, but a lesson learned in time It's something unpredictable, but in the end it's right I hope you had the time of your life." (Good Riddance - Greenday) Selamat wisuda, Mbak!