Aku Pernah Agnostik!
Sebagai manusia yang tumbuh besar di Indonesia dan beragama Islam, aku merasa sangat beruntung. Menjadi muslim di Indonesia adalah sebuah privillage. Sebagai contoh kecil privillege yang aku rasakan: aku sering kali diminta menjadi MC di beberapa komunitas/acara. MC tentu saja tugasnya adalah membuka/menutup sebuah acara. Teringat dahulu ada temanku non islam, yang diberi tugas memandu acara, dia tidak percaya diri karena memandu acara di komunitas yang plural. Saya pun bingung mengapa dia tidak PD, karena yang saya tahu dia adalah orang yang cukup percaya diri untuk tampil di depan umum.
Dia berbisik-bisik ke saya, "Ser, kamu aja ya yang jadi MC" saya balas.. "eh.. lha lapo kok aku... emoh..." usut punya usut, ternyata ini dikarenakan dia bingung dan kagok jika harus membuka dengan kalimat "Assalamualaikum Wr.Wb".
Dia pun melanjutkan perkataannya, "Nanti kalian nggak boleh menjawab salamku to..... karena aku non muslim".
Aku MAK DEG!. iya.. benar juga! kebenaran komunal umat muslim adalah jika ada non muslim yang memberikan salam Assalamualaikum Wr. Wb. maka tidak wajib dijawab atau dijawab dengan kalimat "waalaikum/waalaikumsalam" tidak dengan kalimat lengkap warrahmatullahi wabarakatuh.
Hal ini sontak membuatku berfikir, iya juga.. terlahir menjadi non muslim, hal simpel untuk membuka acara saja mereka harus berfikir 2x.
Pengalaman lain, sekitar tahun 2010/2011 ketika saya kuliah di luar negeri juga menggiringku ke situasi yang merangsang otak nalar logisku tentang ilmu islam itu sendiri. Berada pada lingkungan negara yang mayoritas non muslim bahkan atheis, memicu pengalaman-pengalaman unik.
Suatu ketika ada kawanku local student bertanya kepadaku, "Do all muslim women wear hijab?", aku membalas "No".
Wajahnya nampak bingung. Lalu dia menunjuk temanku yang muslim sebelahku yang kebetulan tidak berhijab. Dia kembali bertanya.. "how about you, are you muslim?", temanku menjawab "Yes". So why you are not like Asri wear the veil? is in not mandatory to wear hijab?". Temanku bingung menjawab. Aku mencoba mencairkan suasana dan menjawab dengan simple. "actually it's fashion style, however we must dress modestly and not too reveiling". (sebenarnya ini hijab adalah gaya fashion, akan tetapi dalam islam kita harus berpakaian sopan dan tidak terlalu terbuka). Kawanku local student terlihat bingung mencoba mencerna perkataanku.
Berada di negara orang dengan lingkungan yang bukan mayoritas muslim tentu saja ada orang-orang yang menyerukan bahwa kita tidak boleh berteman terlalu dekat dengan orang-orang "kafir", karena dilarang oleh agama. Mereka menambahkan ujarannya dengan dalil-dalil Al-Quran agar tidak berteman dengan orang yang bukan seagama/islam.
Kejadian ini sangat membuat nalar logikaku berkecamuk, mempertanyaan tentang "Siapa Tuhan". Apakah Islam agama yang benar?
Jika hanya orang yang ber-KTP islam yang masuk surga, maka hanya sejak zaman 500 M ketika Nabi Muhammad memulai syiar tentang islam saja yang masuk surga?
Tidak masuk akal, berarti dari manusia pertama - Nabi Muhammad tidak ada yang masuk surga? Tidak mungkin Allah adalah Tuhan yang tendensius seperti itu, lalu buat apa Sang Khalik menciptakan manusia dari awal jika hanya yang ber-identitas Agama Islam saja yang boleh bahagia di alam selanjutnya.
Sejak momen tersebut, aku berubah menjadi seorang Agnostik....Percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Esa tetapi Meragukan tentang eksistensi dan siapa sebenarnya Tuhan!
Situasi ini menghadapkanku pada keraguan tentang islam. Dan akhirnya memaksaku untuk mempelajari hakikat Islam dan Al-Quran lebih dalam. Aku membaca dengan teliti kitab dan terjemahan. Kata yang aku cari pertama kali adalah "KAFIR".
ASw 10 Oktober 2024











