Membawa sistem
tidak semua hal akan berjalan rapi
kadang tugas kita bukan mencari sistem tapi membawa sedikit sistem ke dalamnya
seen from China

seen from Israel

seen from Kenya

seen from United States

seen from France

seen from United States
seen from Indonesia
seen from United States
seen from United States

seen from New Zealand
seen from New Zealand
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Netherlands
seen from Israel

seen from Israel

seen from Sweden
seen from United States

seen from United States
Membawa sistem
tidak semua hal akan berjalan rapi
kadang tugas kita bukan mencari sistem tapi membawa sedikit sistem ke dalamnya
Efisiensi
Dulu saya pikir efisiensi itu soal kecepatan.
Sekarang saya mulai melihat, tanpa pemahaman, kecepatan hanya memindahkan masalah lebih cepat.
Mungkin peran saya bukan untuk jadi yang paling cepat, tapi untuk tetap menjaga arah tetap benar.
Kondisi yang ada
Ada kondisi yang mengajarkan kita sistem. Ada kondisi yang menguji apakah kita benar-benar memahaminya.
Yang satu memberi kenyamanan. Yang satu lagi memaksa kedewasaan.
Kontra-Narasi
Dalam sejarah pemikiran, kritik yang paling tajam sering kali tidak dijawab secara langsung, melainkan dipindahkan maknanya. Bukan disanggah, tapi diredam. Bukan dibantah, tapi didefinisikan ulang agar tak lagi berbahaya.
Salah satu contoh menarik datang dari perdebatan Jean-Paul Sartre dan Albert Camus.
Camus, dalam L’Homme Révolté (Manusia Pemberontak), mengkritik revolusi yang menghalalkan kekerasan atas nama sejarah dan ideologi. Ia bukan menyerang orang, melainkan logika. Bahwa penderitaan hari ini dibenarkan demi janji esok hari. Kritik Camus halus, filosofis, dan tidak berteriak. Ia menolak absolutisme, bahkan yang mengatasnamakan keadilan.
Respons Sartre bukanlah buku tandingan yang setara secara argumentatif. Ia menulis ulasan panjang yang menggeser posisi Camus. Bukan sebagai pengkritik ideologi, melainkan sebagai intelektual yang “tidak berpihak”, “tak memahami realitas perjuangan”, bahkan “terlalu moral untuk dunia yang kotor”.
Di titik itu, perdebatan berhenti menjadi dialog gagasan. Kritik Camus tidak dijawab pada isinya, melainkan dibingkai ulang sebagai problem sikap.
Ini pola yang berulang hingga hari ini.
Ketika Kritik Dibaca sebagai Gangguan Emosional
Dalam ruang publik kontemporer, kontra-narasi jarang ditanggapi lewat karya tandingan. Yang lebih sering terjadi adalah psikologisasi kritik.
Alih-alih “Argumenmu keliru di sini,” yang muncul justru:
“Mungkin kamu sedang lelah.” “Jangan terlalu emosional.” “Itu kan cuma perasaanmu.”
Dengan cara ini, kritik tidak perlu dibantah—cukup dinetralkan. Diturunkan derajatnya dari argumen menjadi ekspresi batin. Dari wacana menjadi suasana hati.
Ini bukan dialog.
Padahal sejarah intelektual bergerak justru karena keberanian untuk menulis karya yang secara sadar berseberangan, dengan risiko disalahpahami, diserang, bahkan disingkirkan.
Masalahnya Bukan Kurang Pintar, Tapi Takut Berjejak
Mengapa kontra-narasi berbentuk karya semakin jarang?
Generasi hari ini bukan miskin kecerdasan, melainkan karena miskin keberanian untuk meninggalkan jejak.
Karena menulis karya tandingan berarti membuka diri pada kritik balik, membiarkan namamu melekat pada satu posisi, dan menerima kemungkinan salah secara publik.
Sementara budaya media sosial kini mendorong hal sebaliknya. Tulis yang aman, tanpa perlu tanggung jawab jangka panjang. Kalau status, kan bisa dihapus. Kalau karya, akan tinggal dan berjejak.
Karena itu, banyak orang lebih nyaman “berkomentar tentang komentar”, ketimbang menulis sesuatu yang bisa dilawan.
Kontra-Narasi Bukan Soal Menang, Tapi Mnjaga Ruang Berpikir
Ibnu Rusyd tidak menulis Tahafut at-Tahafut untuk menjatuhkan Al-Ghazali sebagai pribadi. Camus tidak menulis Manusia Pemberontak untuk memenangi Sartre.
Mereka menulis karena ada cara berpikir yang perlu dijaga agar tidak disederhanakan.
Kontra-narasi sejati bukan ledakan emosi, bukan sindiran terselubung, bukan klarifikasi niat. Ia adalah karya yang berdiri sendiri, cukup kokoh untuk dibaca bahkan tanpa konteks konflik.
Dan justru karena itu, ia sering membuat resah.
Mungkin masalah terbesar hari ini bukan kurangnya hal-hal untuk kritik, tapi keengganan kita menanggapi kritik dengan level yang setara.
Kita cepat bereaksi, tapi lambat merumuskan. Cepat tersinggung, tapi enggan menulis.
Padahal sejarah tidak mengingat siapa yang paling cepat bereaksi, cepat menjawab, apalagi cepat tersinggung. Sejarah mengingat siapa yang meninggalkan argumen.
Amplop Nikahan
Beberapa waktu yang lalu, gw terlibat diskusi mengenai pesta pernikahan. Begini kira-kira pendapat gw:
Kalau bikin hajatan, jangan pernah ngarep balik modal dari amplopan. Jadi silahkan bikin pesta pernikahan sesuai dengan kemampuan saja. Amplop itu anggap saja bonus.
Banyak yang setuju, tapi ada satu komen yang menggelitik:
"Mak & bapak kan biasanya yang ngarep duit amplop?", celetuk seorang mas-mas
Hehehe gw cuma ketawa aja bacanya, karena setidaknya orang tua dan keluarga kami (saya dan pasangan) gak gitu. Jadi saya balas aja:
"oh itu tergantung kepribadian masing-masing orang" :P
Ya gimana ya, soalnya mostly biaya nikahan saya kemaren kan emang dari saya dan pasangan. Pun ada sumbangan biaya dari orang tua saya, orang tua saya bukan tipikal yang merasa perlu untuk ngambil amplop nikahan saya. Mereka merasa itu adalah hak saya dan pasangan, anggaplah modal buat kebutuhan pernikahan kami ke depan.
Kecuali mungkin yang 100% membiayai pesta adalah orang tua, ya sudah pasti amplop nikahan tersebut memang hak orang tua. Saya juga gak akan mempermasalahkan kalau amplop diambil oleh orang tua, tetapi saya sendiri juga percaya orang tua saya akan punya pemikiran yang sama bahwa tidak perlu mengharapkan balik modal dari amplopan.
Tapi memang tidak dipungkiri ada orang tua di luaran sana yang merasa amplop nikahan adalah hak mereka, padahal mungkin yang membiayai si anak sendiri dan para tamu memang sebenernya ingin memberikan pada pengantin, bukan orang tua. Atau pun kalau ada yang ngarep banget amplopan, bisa aja orang tuanya berhutang untuk mengadakan pesta pernikahan. Sehingga amplop pernikahan setidaknya akan membantu mereka untuk membayar kembali hutang tersebut.
Makanya seperti yang gw bilang, itu kembali ke pribadian masing-masing orang (tua). Yah duit emang bisa bikin masalah buat orang-orang yang punya masalah finansial sih. Oleh karenanya, usahakan untuk punya literasi keuangan yang baik dan diterapkan ya, juga mengerti batas cukup kita. Biar apa? Biar gak perlu berantem buat hal-hal kayak amplop dan hajatan nikahan ini. Sedihkan sesuatu yang harusnya membahagiakan malah jadi julid-julidan karena masalah duit.
Oia, beberapa waktu yang lalu gw juga bikin artikel tentang pernikahan gw di sini. Bisa cek scroll-scroll ke bawah aja ya kalau mau baca.
Di waktu-waktu ketika perut makin membesar, siap release, dengan berbagai macam problematika ketidak nyamanannya. Salah satu hal yang membuat ibu hamil ini senang adalah:
"Pakai fashion yang chantik pas keluar rumah"
Seneng aja gitu masih bisa dandan cantik dan rapi, pakai tas & sepatu yang cantik, walau badan rasanya hadeuh hadeuh.
Soalnya mikir nanti kalau udah lauching, tas-tas dan sepatu-sepatu itu mungkin harus mendekam di lemari selama maksimal 2 tahun karena mungkin keluar rumah harus bawa tas yang muat gembolan keperluan bayi. Ya syukur-syukur kalau tas cantiknya bisa dipakai di bulan ke4 ketika mulai kerja lagi. Tapi entahlah
Apapun itu, pokoknya cari hal yang bikin ibu hamil happy di tengah badan yang makin hadeuh hadeuh
Skincare Import lebih Gacor?!
Ada orang yang mau mendebat gw tentang hal ini..
Well, belum tau dia gw itu udah trial eror aneka merk skincare dimuka gw dari sebelum pandemi melanda, dimana pasar skincare belum semasif sekarang..
Dari tahun 2018 gw udah nyobain produk import harga 500rban ~ jutaan buat kulit berjerawat gw. Berat dikantong iya, tapi hasilnya masih kurang memuaskan. Baru klik justru kulit lebih bagus pas pakai produk lokal dengan harga 200rban yang stylenya sama persis kayak produk import harga di atas 500rban itu. Note: masalah jerawat teratasi sampai sekarang.
Kemudian setelah tau brand-brand lokal yang bagus, mulai coba-coba dengan aktif ingredientsnya yang kira-kira sesuai dengan kebutuhan pribadi.
Jadi ini bukan tentang skincare import atau lokal yang lebih gacor, tapi tentang aktif ingredients apa yang cocok sama kamu dan sekaligus membuktikan bahwa produk lokal juga ada yang bagus.
Kemudian dibalas kalau skincare yang benar akan membuat kamu terlihat glowing dan awet muda. Yes!! Gw pakai produk lokal dan masih dikira umur 20an gak cuma sama orang yang baru kenal di Indonesia, tapi juga pas lagi traveling di luar negri. Suka dikira masih mahasiswa S1 ceunaaah atau baru lulus kuliah S1, padahal udah pertengahan 30an.
So yap, produk lokal banyak kok yang bagus dan sangat ngaruh ke kesehatan kulit kamu. Asal apaaa? Asal tidak pakai yang abal-abal. Cara taunya gimanaaa? minimal dia tercatat di BPOM dan kamu tau apa yang dibutuhin sama kulit kamu.
Meniti Jalan Perubahan
Langkah hari terasa berat dipikul,
Bayangan kelam sering datang memukul.
Namun di dada, api janji terukir,
Bahwa esok 'kan kujadikan lebih jujur.
Kugenggam erat asa yang tak pernah pudar,
Mengakui lelah, tapi takkan menyerah, kawan.
Setiap salah, bukanlah akhir cerita,
Melainkan guru yang membuka mata.
Batu sandungan jadi pijakan teguh,
Membangun diri dari serpihan rapuh.
Kuolah diri, dari keluh jadi syukur,
Meski perlahan, jalanku terus teratur.
Teruslah berjuang, jiwaku yang gigih,
Sebab usaha ini, takkan pernah sia-sia.
Nikmati proses, walau terkadang letih,
Kau adalah pemahat bagi dirimu sendiri.
Terima kasih pada diri yang tak berhenti,
Mencoba menjadi yang terbaik, hari demi hari.