Berlatih Menerapkan Ilmu Parenting pada Jiwa-Jiwa Gen Z, dalam kehidupan sehari-hari
Dunia parenting saat ini bingung bagaimana mendidik Generasi Z (1995-2010) yang unik dan cenderung berfikir instan. Gen Z adalah generasi yang terkenal dengan celetukannya menemukan istilah-istilah baru seperti FOMO (Fear of Missing Out), FOPO (Fear of Other's People Opinion), YOLO (You Only Live Once), dll. Hal ini dikarenakan kehidupan sehari-hari mereka tidak lepas dari adanya teknologi informasi dan media sosial. Adanya Artificial intelegence membuat mereka menjadi person yang tumbuh dengan banyak kemudahan untuk mencapai atau mendapatkan sesuatu.
Banyak studi mengatakan bahwa kemampuan ekspresi komunikasi Gen Z juga dangkal, seringkali terjadi mispersepsi, ketersinggungan dan memunculkan stigma sendiri.
Ditambah lagi, Gen Z juga sering kali mempunyai masalah dengan krisis identitas dan tekanan sosial. Mereka juga banyak yang harus berjuang dengan stress dan kesehatan mental. Jika mereka sedang ada masalah, maka mereka cenderung menyalahkan keluar/keadaan dikarenakan kurang adanya introspeksi diri.
Tak diragukan lagi, Anak Gen Z sangat suka bersosial media. Sosial Media adalah wadah bagi mereka untuk pengakuan akan eksistensi dirinya pada publik. Semakin banyak follower semakin dipuji-lah dia di dunia pertemanan. Dengan adanya sosial media ini, secara tidak langsung membuat Gen Z sulit mencerna esensi hidup. Mereka lebih suka sesuatu yang viral dan praktis dengan menegasikan hakikat kehidupan. Oleh karena itu, tak jarang kita lihat banyak selebgram/youtuber yang jauh berbeda kehidupan realitanya dari dunia maya.
Dengan fenomena tersebut maka Interaksi orang tua dengan anak Generasi Z sangat perlu kita perhatikan, demi terciptanya hubungan baik antara orang tua dan anak. Sebagai orang tua, kita perlu menjadi Best Friend yang baik untuk mereka. Dalam berinteraksi dengan mereka, Orang tua sangat disarankan untuk senantiasa menghargai ide-ide mereka, dapat ber-empati terhadap kesulitan-kesulitannya, serta selalu siap mendengarkan segala keluh kesahnya. Tak lupa kita juga harus menurunkan ego kita sebagai orang yang lebih tua yang sering kali merasa lebih tau/lebih benar karena lebih berpengalaman.
Peran kita sebagai orang tua bisa dapat kita lakukan dengan cara mendukung mereka secara emosional, berkomunikasi positif, selalu mendukung bukan merendahkan. Sebagai contoh: kadang anak berkeluh kesah tentang tugas kuliahnya yang banyak. Kita sebagai orang tua kadang secara natural akan mengatakan "Yo Jenenge Kuliah yo ngono rek, nek gak akeh tugas kapan pintere". Pada generasi Y atau X bahkan Baby Bloomer akan mungkin otomatis berfikir seperti itu. Karena kita terbiasa pada zaman muda, bahwa sesuatu yang kita inginkan harus dilalui dengan pengorbanan. Gen Z yang bisa kita katakan adalah generasi yang berfikir instan tidak akan dapat berfikir jauh seperti itu, karena kurangnya pengalaman dalam menghadapi persoalan. Mereka cenderung kurang mandiri dan berfikir central hanya tentang dirinya sendiri, serta kurang bisa melihat dari banyak perspektif.
---------- analog dengan hal tersebut -----------
Ilmu parenting pada Gen Z yang notabene masih berumur anak-anak/remaja ini bisa kita analogikan dengan Umur Jiwa Manusia. Klasifikasi Jiwa Manusia dapat ditentukan dari sudah berapa lama evolusi sang Jiwa menjadi Manusia.
Terdapat 4 klasifikasi Jiwa manusia:
Jiwa anak-anak
Jiwa remaja
Jiwa dewasa
Jiwa tua.
Pernahkah kita melihat seorang kawan atau tetangga yang sudah tua, tetapi sikap dan sifatnya masih seperti anak-anak? Atau pernahkah kita melihat seorang anak umur dibawah 12 tahun tetapi bijak dalam bersikap layaknya orang dewasa?
Semua pertanyaan itu bisa kita jawab jika kita meyakini adanya evolusi jiwa.
Jiwa anak-anak dan remaja pada orang-orang di sekeliling kita bisa kita lihat kesamaannya dengan sifat generasi Z. Kita sebagai manungsa, perlu mencermati bagaimana peran dan interaksi kita pada para jiwa Gen Z (jiwa anak² maupun remaja) , agar menciptakan hubungan dan komunikasi yang baik dengan mereka. Jangan sampai kita tersulut Ego jiwa dewasa/jiwa tua kita yang terkesan memberi nasehat yang cenderung menggurui. Seringkali hal ini akan memicu para jiwa anak-anak dan remaja akan menjadi sangat sebal, terjadi mispersepsi dan letupan emosi.
Oleh karena itu, kebijaksanaan para Jiwa-Jiwa yang telah dewasa/tua sangat diperlukan agar para Jiwa Gen Z dapat lebih tercerahkan. Sejatinya jiwa dewasa/tua sudah lebih paham bahwa jiwa manusia yang masih bersifat anak²/remaja adalah suatu sunatullah. Kita semua tak bisa lepas dari proses evolusi jiwa. Sehingga, perlu bagi kita untuk lebih berlatih menerapkan ilmu parenting pada Sekolah Bhumi agar jiwa kita menjadi semakin bertumbuh serta bijak dalam berperan dan berinteraksi dengan sesama manusia. Dengan harapan, jiwa kita semua segera dapat kembali pulang bersatu dengan sang Cahaya,
"Nyawiji marang Gusti ingkang Murbeng Dumadi"
Amin ya rabbal 'alamiin.
ASw
Sekolah Bhumi, 5 Oktober 2024










