“Behind every strong person lies a broken child who had to learn to stand up and take no shit.”
— lonerwolf
d e v o n

No title available
sheepfilms
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
almost home

gracie abrams
h
No title available
todays bird
No title available
untitled
Claire Keane

Discoholic 🪩
EXPECTATIONS
NASA
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

No title available
Xuebing Du

★
$LAYYYTER
seen from Türkiye

seen from Brazil
seen from Venezuela
seen from Vietnam

seen from France
seen from Colombia
seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States
seen from Vietnam
seen from Germany

seen from India

seen from Germany
seen from Spain
seen from United States
seen from France
seen from France
seen from United Kingdom
seen from Argentina

seen from Oman
@dlsansantoso
“Behind every strong person lies a broken child who had to learn to stand up and take no shit.”
— lonerwolf
“I’m still learning to love the parts of me that no one claps for.”
— Rudy Francisco
0.
Kali ini aku merasa kalah dari diriku sendiri.
Aku terjerumus ke dalam pikiran yang kelam dan juga rasa sakit yang ku buat menjadi lebih dalam.
Rasa-rasanya, hidup jadi tak ada artinya lagi.
Sial, aku benci pikiran itu kembali lagi setelah sekian lamanya.
Tapi, lagi-lagi harus ku rasakan lagi perasaan kosong dan hampa itu.
Sial
Sial
Sial
Ingin kurutuki diriku lebih banyak sebelum orang lain merutuki diriku.
Cant let them find my tumblr account.
Hal paling buruk yang harus diterima korban pelecehan seksual adalah memori yang sangat jelas dan mendetail tentang kejadian buruk yang dialaminya. Suasana, bau, ekspresi pelaku akan selalu terekam jelas di ingatan. Ditambah perasaan merasa bersalah dan merasa bodoh terus-menerus karena tidak sanggup hanya untuk mengatakan tidak dan membela dirinya sendiri. Hidup makin diperburuk dengan bernafas di udara yang sama dengan pelaku yang tak pernah merasa menyesal sekalipun dengan yang diperbuat. Semudah itu pelaku lupa dengan perbuatan kejinya, sedangkan korban selamanya harus hidup dengan trauma dan kenangan yang menjijikan tersebut.
“Kapan nikah? Jangan ditunda lama-lama, keburu tua. Maksimal umur 23 ya, biar enak juga ntar buat momong anak” - sebuah pertanyaan dan pernyataan yang cukup menggelitik pikiran.
Jadi, dulu aku pernah mengira sepertinya menikah di umur muda akan memudahkan segala permasalahan. Nyatanya hidup akan dihadapkan dengan ujian baru setelah menikah.
Kalau ditanya sekarang, aku bimbang untuk menikah atau tidak. Kadang saat pikiran sesak, rasanya menikah bener-benar hanya membuat susah. Mikirin suami, anak, keluarga lain dan orang selain diri sendiri dan menomor duakan diri aku. Sebuah bentuk mengalah yang egois dengan diri sendiri. Ingin mencintai diri sendiri sebegitu sulitnya, ditambah beban mencintai orang lain. Untuk saat ini aku bilang beban. Namun saat sedang sendiri dan banyak permasalahan pikiran, rasanya akan terasa lebih mudah jika bisa berbagi dengan orang terdekat [:kekasih]. Lagi-lagi rasanya nggak adil juga sih, mencari orang hanya untuk berbagi permasalahan. Kasihan dia yang harusnya bisa bebas dengan pikirannya sendiri, aku masuki dengan masalah yang ku bagi.
Berhenti meminta bertemu
Sudah saatnya untuk tidak memaksakan kehendak untuk minta bertemu. Baru-baru ini aku memahami perasaan orang-orang sekitarku yang selalu aku tagih janji untuk bertemu, dari alasan habis ini akan sulit untuk bertemu, sudah tidak lama berjumpa, dan sebagainya. Pasti sangat mengesalkan bagi mereka yang sebenarnya tidak begitu ingin bertemu denganku atau merasa diburu-buru hanya untuk sekadar ngopi. Hal ini baru aku sadari setelah ada seseorang yang selalu meminta waktu luangku untuk sekedar berbincang, tetapi dalam keadaan aku sudah menolaknya dan tetap saja meminta. Menyebalkan sekali. Saat aku memikirkannya aku baru sadar juga, bahwa aku tidak berbeda jauh dengan orang tersebut. Maaf ya, kadang aku suka egois dan seenak sendiri membuat jadwal temu yang belum tentu sama-sama kalian inginkan juga. Sekarang, saat kalian merasa tidak menginginkannya bilang saja, aku tidak akan marah atau kecewa. hehehehe
Lucunya, lagu yang kamu kirimkan saat itu sebagai tanda untuk mengakhiri hubungan menjadi sebuah lagu favorit yang akan aku dengarkan saat aku merasa senang.
Sayu
Aku harap, kau sudah mulai lelah dengan rasa sedumu.
Kau terlalu nyaman dengan rasa kehilanganmu.
Hingga kau lupa bagaimana cara berdamai.
Sejujurnya, aku mulai merasa lelah melihatmu rapuh.
Akupun sudah lelah mengikuti langkah kakimu, yang terlalu nyaman berkeliling dalam lara.
Namun, apa daya?
Meninggalkanmu adalah ketidakmampuanku.
Patah hanya untuk yang ditinggalkan!
Aku kira, dengan berjalannya waktu kau akan berdamai dengan rasa sakitmu. Nyatanya, aku keliru. Sampai saat ini pun, kau masih saja suka menuduhku sebagai penjahat karena telah pergi meninggalkanmu.
Kau kira, patah hati hanya untuk yang ditinggalkan? Aku yang meninggalkanmu juga mengalami rasa yang sama. Kau kira, aku bahagia meninggalkanmu? Tidak, sama sekali tidak. Kau harus tahu, aku juga merasa kehilangan yang sama dengan dirimu.
Kadang aku rasa,
menyerah bukanlah suatu hal yang selalu buruk.
Bukan karena sudah tidak ada lagi rasa
Bukan juga karena perbedaan yang terjadi
Karena, kitapun sudah berbeda dari awal
Tapi, karena tidak menemukan tujuan akhir
Hidup manusia memang penuh dengan ucapan selamat. Namun, diantara banyaknya kalimat selamat, kenapa hanya kalimat “Selamat Tinggal” yang menyebalkan dan sejujurnya menyedihkan bagiku.
Rise
I see a golden light rise, a sign that morning has come. Your smile makes me smile, but I know that never be mine. -dlsan
I’m very grateful to God for create human as good as you and I swear I never regret falling in love with u.
Pada akhirnya, kenangan-kenangan manis yang tertempel di dinding ini akan masuk ke album satu-persatu dan mungkin saja berakhir di dalam kerdus. Tahu-tahu, dibuka setelah beberapa tahun kemudian lamanya dan di saat kita sudah terlalu jauh dan menjadi orang asing.
Setiap orang butuh suatu tempat untuk menjadi pelarian. Entah itu karena hujan yang tiba-tiba turun atau pun dari sentimen-sentimen yang dipendam terlalu lama dan takut diungkap. Intinya adalah mendapatkan tempat untuk berlindung dan mendapatkan ketenangan walau sesaat.
Di satu sudut Kota Malang ini, tempat inilah yang ku pilih untuk berani jujur. Bermacam-macam kejujuran pernah terungkap di tempat ini. Mulai dari hal kecil seperti menyatakan perasaan ke seseorang, memutuskan untuk mulai bersikap biasa dengan perhatiannya, bahkan menangis diam-diam sendirian di depan meja barista. Bahkan yang paling lucunya adalah menjadi saksi kebodohanku yang panik takut kehilangan partner kerja karena takut kerja sendirian dan ya memang berakhir sendirian meskipun ada. Hahaha...
Yaudah, tulisan ini berakhir dengan aku yang ngebayangin bakal ngerasa kangen banget nantinya dengan tempat ini, apalagi dengan es kopi rindu dan browniesnya klo lagi ada masalah di kantor.
People may not tell you how they feel about you, but they always show you. Pay attention.