Anaphalis javanica.
seen from Russia
seen from Australia

seen from Serbia

seen from Malaysia
seen from Kuwait
seen from Australia
seen from Russia
seen from China

seen from Germany

seen from Serbia
seen from United States

seen from Australia
seen from China
seen from United States

seen from Australia
seen from China

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from Germany

seen from Malaysia
Anaphalis javanica.
Kau harus punya teman bicara yang tulus, yang mau mendengarkanmu dengan sungguh-sungguh, agar masalahmu terurai bagai benang yang kusut menjadi lurus.
31 Mei 2026
Pagi 31 Mei 2026, perjalanan dimulai dari Banjar, melewati Tasikmalaya, Ciamis, lalu menuju Garut. Jalan yang panjang terasa begitu ringan. Ada semangat yang mengalahkan kantuk, ada harapan yang diam-diam ikut duduk di samping sepanjang perjalanan.
Tujuan hari itu adalah Gunung Papandayan. Gunung yang menyambut dengan udara sejuk, hamparan edelweiss, dan pemandangan yang membuat hati sejenak lupa pada segala beban.
Di tengah langkah menuju puncak, aku merasa sangat bersyukur. Bersyukur masih diberi kesehatan, masih diberi kesempatan melihat keindahan ciptaan Tuhan dari ketinggian. Namun di sela rasa syukur itu, ada sedikit rasa galau yang tetap ikut mendaki. Tentang seseorang yang masih tinggal dalam doa, meski belum tentu menjadi bagian dari masa depan.
Anehnya, hari itu aku juga merasa bahagia. Karena gunung mengajarkan bahwa tidak semua perjalanan harus berakhir sesuai keinginan. Yang terpenting adalah menikmati setiap langkahnya.
Saat matahari mulai turun dan perjalanan kembali menanti, aku sadar bahwa 31 Mei bukan hanya tentang perjalanan dari Banjar, Tasikmalaya, Ciamis, hingga Garut. Ini juga tentang perjalanan hati—belajar bersyukur atas yang dimiliki, menerima yang belum bisa digenggam, dan tetap menyimpan cinta dengan cara yang paling sederhana: mendoakannya dalam diam. 🌹☺️
Pendakian Papandayan (25-26 Juli 2025)
Ini bukan fomo. Bukan juga perjalanan patah hati ataupun perjalanan karena stress dengan hidup, kesepian ataupun sebagainya dan sebagainya. Kalo fomo mah udah dari kemarin-kemarin naek gn ciremai yang dekat dengan rumah atau ke prau, gunung yang lagi hits sekarang. Tapi ini adalah perjalanan pembuktian diri. Bocah tengil kaya aku yang mageran, ga pernah olahraga sekalipun akhirnya bisa ikut hiking, naek-naek ke puncak bukit. Berarti ini perjalanan sombong dong. Hah? Hhhhhmmm bisa jadi sih. Hehehehehe...
Kenapa papandayan? Karena tracknya landai? Landai matamu.... Ga tau kenapa papandayan dirasa pas untuk aku sebagai pendaki pemula. Bukan karena landai, tapi karena tekad yang..... "hhhhmmm sepertinya papandayan bisa aku takhlukan deh." Begitu. Hehehehehehe...
Bersama OT Kares, kumulai perjalanan ini dengan Bismillah. Ada 17 peserta, 3 diantaranya sudah aku kenal ditempat kerjanya Wahyu. Sisanya masih kawan baru.
Start keberangkatan jam 10 malam dari Cirebon. Sampe parking area Papandayan sekitar 01.37. Karena start pendakian masih lama, akhirnya menyempatkan diri untuk pup, makan indomie, tidur bentar, maen games, sahur, dan sholat. Pendakian dimulai pukul 05.02, persis dimana alarm hape bangun pagiku berbunyi. Baru mulai saja tracknya sudah bikin napas naek turun alias ngos-ngosan. Harusnya kita bisa lihat sunrise dibukit sana, namun belum sempat kita sampe di bukit sunrisenya sepanjang perjalanannya saja sudah kelihat jelas sunrise-nya. Jadi yaaa sampe bukit sunrise 06.36 ✌️
Poto-poto bentar, selanjutnya posko 7. Sebenernya sempet ikut pacenya Kak Irna disini, tapi sumpah ga kuat. Akhirnya ditengah jalan kubiarkan Kak Irna berangkat sendiri. Dari posko 7, lanjut track paling gila karena udah pake nafas manual ke hutan mati. Kebanyakan orang dari posko 7 ke hutan mati itu cuma 40 menit ajah tapi kami 1 jam lebih. Bahahahahahaha. Capek gilaaaaaa...
Poto-poto bentar, selanjutnya taman edelweis di jam 08.59 sekaligus masuk ke posko 10 pondok saladah. Disini kami sempat makan cuanki dan tidur bentar. Nguantok poll. Jam 10.30 perjalanan kembali dilanjutkan, 11.11 sampai di orchid garden. Lanjut track turun lagi, kabut udah menyapa. Gila, padahal pagi cerah banget. Siang udah berkabut. Horror sih. Oia ini salah satu kenapa puncak papandayan ga dibuka. Karena lagi perubahan musim. Jam 12.27 sampai area parking papandayan lagi. Aku ngerasa turun menjadi waktu tempuh paling lamaku, karena ternyata tumpuan kaki saat turun bikin kaki semakin sakit. Beda sama naek.
Jam 13.20 saatnya pulang Cirebon. Jam 19.00 sampai Cirebon lagi. Demikian tektok pendakian papandayan yang bisa aku ceritakan pada kalian. Terima kasih, sudah setia membacanya. Dan berikut poto-poto yang aku lampirkan...
Papandayan volcano in West Java, Indonesia
Dutch vintage postcard
Menyelusuri Keindahan dan Keajaiban Gunung Papandayan
Gunung Papandayan, sebuah gunung berapi yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia, adalah salah satu destinasi alam yang paling menakjubkan di wilayah tersebut. Dengan ketinggian sekitar 2.665 meter di atas permukaan laut, Gunung Papandayan menawarkan pengalaman petualangan yang tak terlupakan bagi para pendaki dan pecinta alam. Lanskap yang Memukau Gunung Papandayan memiliki…
View On WordPress
Kereta Api Papandayan : Alternatif ke Stasiun Garut
Kabar gembira bagi kamu yang ingin ke naik kereta Kota Garut. Per tanggal 24 Januari 2024, telah beroperasi Kereta Api Papandayan dengan rute Garut - Gambir PP. Sebagai pengganti KA Argo Parahyangan, kini menjadi alternatif tambahan ke Stasiun KA Garut.
Selain Gambir, Bandung, dan Garut, Kereta Api Papandayan berhenti di stasiun Bekasi, Cimahi, Kiaracondong, dan Cibatu. Tambahan pemberhentian KA 7048 tujuan Garut di Wanaraja. Sedangkan untuk KA 7047 arah Gambir di Leles dan Nagreg