| Edisi #Latepost biar Gaul |
4 januari 2015, 22:58 waktu Gazebo Masjid.
Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa melepasakan dari seorang muslim satu kesusahan dari sebagian kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepasakan kesusahannya dari sebagian kesusahan hari kiamat; dan barangsiapa memberi kelonggaran dari orang yang susah, niscaya Allah akan memberi kelonggaran baginya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aib dia dunia dan akhirat; Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selam hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR Muslim)
1 januari 2015, Disaat sebagian orang sedang bergembira, berkumpul ria, dan sebagian berhura-hura atau masih lupa terjaga karena menghabiskan malam merayakan pergantian tahun. Meskipun sebenarnya kita sedang berduka (doa kita untuk Air Asia QZ8501). Sekelompok orang hari itu, berkumpul pukul 06.30 pagi, memulai tahunnya dengan cara yang berbeda, mengabdikan dirinya untuk setidaknya membantu sedikit kendala yang dihadapi bangsa. iya, mereka memberikan pengabdian, pengabdian kepada masyarakat melalui bakti sosial, Pengobatan gratis, penyuluhan kesehatan, dan sunatan massal untuk masyarakat Pesisir pantai (belum tersentuh kartu) yang merupakan salah satu subjek pencapaian tujuan bangsa 5 tahun ke depan, Indonesia Maritim, Indonesia berjaya di lautan, Jalesveva jayamahe!.
Iya itu tadi cerita tentang mereka, Sang Relawan!
sekarang kita beralih ke cerita lain dengan latar, waktu dan suasana yang masih sama. Namun kali ini hanya berecerita tentang sebuah pengalaman, pengalaman baru dari sudut pandang yang berbeda.
Ditengah kesibukan Relawan , datang pasien ibu-ibu muda dengan vulnus laceratum et causa terkena pecahan WC karena menyelamatkan kaki anaknya yang terpleset ke lubang WC. Kasih ibu tak terhingga sepanjang masa ! (doa kita untuk ibu kita dimana pun berada).
Pasien langsung diterima oleh dokter yang juga seorang Relawan, aku menghampiri karena penasaran melihat ruangan yang cukup ramai. Lalu dengan penuh percaya dirinya,
han : “Butuh asisten, kak”
tanyaku pada dokter relawan
dokter: “Oke, ambil syringe, lidokain, minnor set, kassa dll…”
han : “ini kak, alat-alatnya”
dokter: “handschoen kamu mana”
han : “saya juga pake handschoen kak?”
kurang dari 1 menit kemudian.
dokter: “oke, bersihkan lukanya ya, kakak cek anak ibu ini disebelah dulu”
oh iya, anak pasien tadi juga ada terluka, ditangani di ruang sebelah.
Lukanya sudah dibersihkan.
dokter: “ anestesi disekitar lukanya, suntik lidokain dikedua sisi luka, disepanjang sini, juga disini (mengarahkan)”
menunggu sesaat untuk memastikan obat anestesi lokal sudah bekerja, kemudian mengubek-ubek luka tadi untuk memastikan masih ada atau tidak pecahan keramik yang tersisa.
dokter: “ambil jarum dan benang jahit, jahit yang rapi ya”
han : “saya yang jahit kak? saya belum pernah kak, pernahnya jahit sirkumsisi”
dokter: “iya kamu, lebih gampang dari jahit sirkumsisi kok. gak mau?”
dokter: “bapak, ini adik kelas saya, dia sudah belajar , dan tenang saja, ini dalam pengawasan saya kok”. begitu dokternya menjelaskan kepada pasien dan keluarganya,  dan pasien pun mengangguk setuju.
jahit luka selesai, 4 jahitan, kemudian dilanjutkan dengan suntik subkutan untuk uji obat  dan suntik intramuskular tetanus yang pastinya saya juga yang melakukan. kemudian dengan senyum menyungging saya berkata.
“Sudah selesai bu, terima kasih”.
(terima kasih telah bersedia menjadi pasien jahit pertama saya)
ibu itu pun membalas senyum Ikhlas (sepertinya) meskipun masih sakit kakinya.
Pengalaman hari itu mungkin biasa saja (menurut orang), namun kukatakan bahwa aku menuliskannya disini karena itu salah satu pengalaman luar biasa dalam hidupku. aku mengingat setiap detil yang terjadi diruangan itu, saat medengar arahan dokter dan saat berlagak laksana seorang dokter didepan pasien dan saat sesekali mengeluarkan pertanyaan yang mungkin tidak seharusnya lagi oleh ditanya mahasiswa semeseter 5 sepertiku. Ah, tapi tak apalh, aku sedang (senang) belajar., kukatakan sekali lagi, bahwa hari itu aku banyak belajar, tentang medis, tentang kehidupan, tentang keikhlasan dan tentang kasih seorang ibu.
terima kasih untuk semuanya, untuk BSMI cabang padang, untuk ibu pasien, kakak dokter, arya (pemilik preputium pertama yang kupotong) dan kamu (pemilik senyum pembangkit semangat itu) dan tentu saja Allah SWT sang pemilik kehidupan dan pemilik semua Skenario dalam hidupku.
kukatakan, sekali lagi, pengalaman hari itu begitu berharga (sama seperti aku menganggap berharganya keberadaanmu dalam hidupku. iya, kamu.)