Setiap orang punya mental illness. Saya yakin itu. Hanya terlihat atau tidak. Diekspose atau tidak. Terdiagnosa atau tidak oleh pakarnya.
Apalagi era millenial seperti ini. Semua transparan, menuntut keterbukaan. Meski tak selamanya benar.
Kesulitan dalam menghadapi stress. Kebanyakan oleh karena ini. Ada yang bisa tapi perlahan. Ada yang cepat recoverynya. Ada pula yang masih terseok berusaha.
Anxiety. Depresi. Bipolar. Bukanlah hal yang asing saat ini. Asal gak halusinasi deh. Rasanya masih tahap wajar dan mungkin bs untuk self healing. Tentu lingkungan yang baik akan pengaruh semakin cepat pulih.
Kegagalan adaptasi pada stress. Atau ketidaktahuan cara menghadapinya.
Sesimple kita berada di lingkungan toxic yang sangat erat hubungannya. Gak mungkin langsung keluar dari lingkaran. Ada adab yang perlu dijaga (untuk saya sebagai seorang muslim). Tak seenanknya mengambil keputusan. Masih ada banyak pihak yang perlu dihargai, sesulit apapun kondisinya saat itu.
Setiap orang wajib punya mekanisme pertahanan jiwa yang benar-benar sesuai dengannya. Gak sekedar ikut-ikutan. Karena itu seni. Apa yang terjadi pada kita tak mungkin terjadi sebegitu mirip pada kejadian orang lain. Yang sulit adalah kita membiarkan hanya pada arus toxic, tanpa kita tahu bagaimana cara keluarnya. Kita belum bisa mengenali diri sendiri. Saat itulah, kita butuh untuk ditolong.
Alhamdulillah, selama 27 tahun ini saya menemukan pola yang efektif saat stress melanda. Saya tidak mungkin menghindari stressor itu. Tidak semudah itu. Frekuensi masih stabil, artinya tidak setiap hari datang. Saya masih bisa menghandlenya.
Dulu, MPJ saya adalah menolak disakiti. Karena saya begitu mencintai diri sendiri, saya menolak disakiti oleh orang lain, siapapun itu. Saya merasa harus bahagia. Itulah mindset yang salah. Saya tumbuh sebagai pribadi yang sulit menerima kritik, berego tinggi. Saat awal stressoor datang, saya tak segan untuk menyerang balik. Keras dilawan keras. Kalau perlu bernada tinggi agar terlihat saya kuat dan tak terkalahkan. Tak mau salah. Saya akan dengan lincah mencari celah agar lawan saya juga merasakan kesakitan yg sama. Setidaknya tidak sakit sendirian. Setidaknya saya sedikit lebih menang. Well, itu buruk sekali dan menjadi MPJ saya terutama saat fase-fase teenager.
Seiring perjalanan waktu, saya belajar banyak hal. Alhamdulillah lingkungan dan kehidupan mahasiswa sangat membantu saya adaptif. Saya mulai belajar pendekatan emosional secara spiritual. Lingkaran teman-teman dekat membuat saya belajar mengontrol. Pemberian amanah sebagai struktural membuat saya berbenah diri, sebagai wujud eksistensi dari diri terbaik saya. Perlahan, ego mulai dikendalikan. Saya mulai bisa menerima kritik dan saran, asal penyampaian baik. Saya mulai belajar muhasabah. Saya belajar untuk menghargai orang lain, terutama sisi adab dan akhlak. Tak seenak sendiri. Awal saat belajar, sungguh tidak mudah saar dikritik. Karena tidak boleh garang, saya mencoba merendah. Tapi jadinya apa? Rendah diri. sekali 'disalahkan', saya akan menjadi lemah dan berkubang di lobang penyesalan yang cukup lama. Jatuhnya minder, jadi merasa bersalah sampai tak percaya diri. Setelah itu saya akan diam dan menghindar beberapa hari, hingga kepercayaan diri saya muncul.
Masuk dunia paska kampus, ini menjadi pergolakan yg berat buat saya. Saya yg terbiasa dengan lingkungan yang begitu tinggi saling menghargai satu sama lain, kini harus adaptif dengan beban kerja dan gap usia di keluarga. Dinamisasi ini tentu mengubah pola saya. Tinggal bersama orang tua hingga rumah jadi, punya anak bayi, beban kerja sebagai dokter dan manajemen, istri seseorang yg kebetulan dokter jg, well itu arus stressor saya untuk saat ini.
Tapi, yang tidak berubah adalah caregiver yang setia. Yg selalu ada adalah Mbak. Saya beruntung punya kakak kandung yg begitu setia dan fast respond sedari dulu. Saya sadar, saya mampu melewati proses depresi dan segala kekacauan emosional saya karena beliau, terutama saat menjadi mahasiswa. Beliau mampu menjadi pihak yg menenangkan ketika ada beberapa hal yg saya ga mampu sampaikan dan ceritakan ke orangtua. Sebenarnya Bapak jg menjadi caregiver setia saya, tapi kadang karena gap usia saya lebih nyaman cerita ke Mbak.
Sesimpel, "mba, aku sedih."
Akan langsung direply saat itu jg. Biasanya pakai telfon jika memungkinkan. Mengalirlah apa adanya versi saya. Apapun kekacauan emosi saya, saya sampaikan.
Biasanya, beliau akan mendengarkan sambil menguatkan saya. "Yang sabar ya." Terkadang memang terkesan membela saya. Tapi, sisi objektif tak luntur. Jika saya salah, dengan perlahan dan halus beliau bicarakan.
Setelah menikah, alhamdulillah Allah berikan suami yang mampu menjadi caregiver dengan caranya. Tidak selalu halus seperti Mbak, tapi mampu mendidik saya untuk mendewasa. Memberikan kritik tapi tak lupa seduhan teh hangat dan pelukan untuk menguatkan. Saya mampu bercerita semua hal kepadanya dan dia mampu menjawab versinya yg buat saya solutif serta obyektif. Tidak melulu saya dibela, seringkali justru diarahkan. Mas jg yang memfilter pergaulan dan media sosial saya. Kalau saya lagi keluar 'galak'nya, dia akan segera mencari tahu darimana pencetusnya, terutama dari apa yang saya lihat dan dengar sebelumnya.
"Satu yg perlu kamu ingat, kondisimu berbeda dr sebelum menikah. Akuilah kamu akan lebih mudah emosional dan tak stabil, terutama mengenai dede A."
Artinya saya bs mudah dipengaruhi saat lagi labil-labilnya, filter logika saya ga jalan. Emosional saya bs meluap-luap tidak jelas karena gagal mengendalikan. Saat itu dede A demam 3 hari hingga ambil sampling darah. Stress sekali saya. Ditambah ada ini itu dari yangtinya. Era pandemi. Baru MPASI.
Untungnya, Mas berkata seperti itu sebelum hasil darahnya keluar. Jadi ketika hasil darah menunjukkan parathypoid 160, saya sudah menyiapkan diri.
Jangan sampai depresi, jangan sampai anxiety berkelanjutan. Jangan biarkan berkubang dg rasa bersalah terlalu dalam. Cari solusi. Move on.
Karena kebanyakan seorang ibu itu saking sedihnya ada yang sampai nyalahin diri sendiri, gamau ketemu atau pegang anaknya, saking rasa bersalah yg begitu tinggi. Tentu ini ga dibenarkan.
Semoga kita semua selalu sehat dan nyaman ya, jiwa-raganya😊