Perkara Perempuan, Pendidikan, dan Lain-Lain (2017)
Katanya, tuntutlah pendidikan yang tinggi Tapi, aku perempuan Katanya, kalau pendidikan terlalu tinggi, nanti tak ada yang mau menikahi
Katanya, pendidikan jangan terlalu tinggi Tapi, aku perempuan Aku juga punya hak yang sama untuk belajar dan berusaha
*
Katanya, aku harus bekerja karena untuk apa pendidikan jika tidak diamalkan? Tapi, katanya juga, perempuan mana yang tinggalkan anaknya untuk bekerja?
Lalu, aku harus apa? Katakan, sebenarnya aku harus apa?
*
Kami perempuan Jangan takut kami berpendidikan tinggi Jangan takut kami tinggalkan anak-anak kami
Peran kami dalam setiap keluarga akan berbeda-beda
Karena itu, jangan melihat kami hanya dari satu sisi
Masyarakat menuntut kami untuk menjadi dua hal yang berbeda
Ada yang bilang pendidikan kami akan sia-sia jika nantinya jadi ibu rumah tangga Tapi, bagaimana kami akan mengajari anak-anak kami jika kami tak berpendidikan?
Ada yang bilang kami tak tahu batasan perempuan jika nantinya meninggalkan anak dan bekerja Tapi, jika kami ditinggal mati atau suami menceraikan kami bagaimana kami bisa menafkahi diri dan anak-anak kami?
Biarkan kami mengamalkan pengetahuan kami tanpa meninggalkan keluarga kami
*
Biarkan kami menuntut ilmu setinggi-tingginya
Kami bukan ingin melebihi Kami hanya ingin mandiri dan kami ingin bisa mendidik anak-anak kami, penerus bangsa ini dengan pengetahuan yang kami miliki
Kami perempuan Biarkan kami mendapatkan pendidikan setinggi yang kami bisa
JAKARTA, 21 April 2017 16.18
Shaqina Said @kebun-pikiran
___________
Catatan: Menurut saya perempuan bekerja atau tidak bekerja itu urusan masing-masing keluarga, tergantung keadaan keluarga masing-masing. Bukan ranah siapapun untuk ikut campur.
Puisi ini tidak menyajikan sudut pandang bahwa perempuan harus banget bekerja, tapi perempuan harus banget berpendidikan.
Dan tolong, jangan jadikan perempuan sebagai pihak yang dilemahkan dengan ga punya sumber penghasilan lain selain dari suami. :( Kan bisa perempuan bisnis apa gitu biarpun di rumah sambil ngurus anak. Atau apa gitu sesuai keadaan keluarga masing-masing.
Ini berlaku untuk laki-laki maupun perempuan, yang melemahkan perempuan ga selalu laki-laki. Perempuan juga bisa melemahkan perempuan lain. Cara perempuan melemahkan perempuan lainnya? Banyak. I don’t even want to start. :“)
Oke segitu aja.
Selamat Hari Kartini!













